Dongeng Catur

15
points

---------------------Dongeng Catur------------------------

Suatu malam di salah satu sudut kota itu, terdengar hingar-bingar. Lamat-lamat dari kejauhan, siapa pun akan menduga kalau hingar bingar itu terdengar semacam pesta perayaan. Suara musik yang tadinya hingar bingar, kini iramanya menjadi lirih. Lebih lirih dari suara sepoi angin yang menyelimuti kota Catur, kota di mana pion-pion catur hidup.

“ Kenapa kita begitu bahagia merayakan suatu kekalahan ?” tanya salah satu Bidak kepada Kuda
“Entahlah. Segalanya sudah terjadi. Kita hidup dalam sebuah dunia permainan. Life is game. ”
“So?”
“So, harus ada yang menang dan yang kalah bukan?”

Keduanya lalu diam. Suasana makin lengang dalam mabuk. Gelas-gelas jungkir balik jadi satu dengan tumpahan minuman dan piring-piring kotor. Malam sudah kelewat tengah. Dalam cahaya kota Catur yang remang-remang, bidak-bidak saling berpelukan dalam dingin kabut yang hampir membuat beku seluruh kota Catur. Pion-pion tumpah ruah teler di pinggir-pinggir jalan seperti gembel-gembel terlantar. Beberapa ada yang tiduran sambil menghadap langit. Sebagian ada yang menyanyi tapi tidak jelas lagu apa yang dinyanyikan.

“Sampai kapan kita hidup dalam permainan seperti ini?”
“ Kau mengeluh?”

“Tidak. Aku hanya menginginkan sebuah permainan yang lebih fair.” Ujar Bidak hitam seperti membayangkan sesuatu. Membayangkan sebuah dunia yang jauh dari kota Catur. Sebuah kehidupan yang tidak lagi dipenuhi hitam dan putih, kehidupan yang tidak dipenuhi dengan intrik permainan. Sementara kota Catur tetap diam dan lesu dalam warnanya yang masih seperti dulu. Rumah-rumah dan ruko-ruko semua masih berwarna hitam dan putih. Jalanan dan telepon umum berwarna sama, berpetak hitam dan putih. Bahkan rembulan pun tidak bercahaya kuning di langit kota Catur.

Suara musik berhenti. Sebagian pion ada yang terlihat pulang dengan membopong pion lain yang mabuk. Sementara kuda masih tiduran di tengah jalan sepi sambil memandang langit. Matanya sayu tubuhnya lemas. Kuda yang seharusnya bertenaga kuat dan tangguh kini nampak loyo. Mulanya Kuda punya kemampuan yang luar biasa, kakinya panjang dan kokoh sehingga mampu berlari kencang dengan jarak yang jauh tanpa kenal lelah. Kuda banyak membantu dalam perkembangan peradaban bangsa catur. Bahkan konon Istana Catur tidak akan sanggup berdiri tanpa bantuan Kuda. Seluruh bangsa catur sangat bangga pada Kuda.

Kota catur dulunya amat megah. Pion-pion hidup tenang dan berdampingan satu sama lain. Entahlah, semenjak terjerumus dalam dunia permainan, seluruh pion di kota catur seperti mabuk. Mereka mabuk dalam permaianan yang membuat mereka lupa tentang siapa mereka sebenarnya. Bangsa catur yang terkenal sebagai bangsa yang rukun dan makmur, telah tercerai berai menjadi dua. Kawan dan lawan. Hitam adalah lawan putih dan putih tidak lain musuh dari pion hitam. Mereka larut dalam permainan saling mengalahkan dan menjatuhkan.

“Hahaha, lihatlah kita berhasil melumpuhkan satu pion.”

“Mampus, bagaimana kalau lain kali kita patahkan saja kakinya. Biar pincang.”

“Hahaha!”

Kegembiraan telah membuat permainan, yang awalnya hanya main-main, menjadi kebiasaan yang tanpa disadari telah menjadi kekejian bagi bangsa catur itu sendiri. Kemudian kekejian lambat laun menjadi keasyikan tersendiri, karena kekejian sudah dibungkus dalam sebuah permainan yang rapi. Banyak kelicikan yang dilakukan diam-diam dan tidak ketahuan karena dibungkus melalui permainan. Bidak memakan Kuda. Kuda melahap Menteri. Raja minta dilindungi. Benteng punya seribu siasat untuk mengkhianati. Semua sudah menjadi bagian dari permainan. Dari permainan itulah awalnya bangsa catur menjadi bangsa yang menderita.

Selamat Datang di Kota Permainan. Kalimat itu terpampang besar-besar di pintu masuk kota Catur. Haha, permainan apakah yang diagung-agungkan sebagai simbol kota itu?

“Konyol. Ini betul-betul permainan yang konyol.” seru bidak yang sebetulnya ingin tertawa.

“Harusnya kita segera mengakhiri kekonyolan ini,.” kuda seperti punya rencana lain.

Siapa pun yang pernah ikut masuk dalam permainan di kota Catur akan berkomentar sama. Konyol, konyol, dan konyol. Pion-pion sudah bosan mendengar kata itu Mereka sadar bahwa mereka telah hidup dalam permainan yang konyol. Seperti malam ini, seusai pesta pion-pion merasa konyol telah merayakan kekalahan mereka sendiri. Setelah satu per satu pulang dan mabuk hilang, pion-pion sadar bahwa mereka seolah-olah menertawakan dirinya sendiri yang sekian lama dipermainkan.

“Kita tidak bisa selamanya hidup dalam permainan seperti ini.” Kata kuda. Berjingkat.

“Kau mau ke mana?”
“Ssst…aku akan mencuri kitab itu malam ini.”

Sama seperti yang sudah dilakukan oleh pion-pion lain sebelumnya. Semua menginginkan permainan itu segera diakhiri saja. Semua ingin pergi dan masuk ke dalam Istana Catur, mencuri Kitab Permainan yang tersembunyi di dalam istana catur yang selalu dijaga ketat oleh prajurit istana, oleh para centeng-centeng catur. Hanya melalui kitab itulah, konon permainan dikendalikan. Banyak yang menginginkan Kitab Permainan itu. Hampir semua bangsa catur berusaha memperebutkan Kitab Permainan. Banyak yang rela mati demi mendapatkan rahasia Kitab Permainan. Mereka percaya, jika kitab itu bisa didapat maka kemenangan berada di tangan. Segala rahasia permainan akan terbongkar dan permainan pastinya akan segera berakhir pula.

Sekumpulan pion pernah baramai-ramai masuk ke istana secara serentak. Dengan menjebol gerbang istana dengan kekuatan besar, sekumpulan pion yang berjumlah ribuan akhirnya berhasil masuk dan mendapatkan kitab permainan tidak kurang dari satu jam. Jasa mereka bahkan masih dicatat dalam sejarah Revolusi Catur. Sejarah mencatat keberanian mereka, mengabadikannya dalam cerita-cerita kepahlawanan. Ketika itu di mana-mana dengung revolusi catur di kabarkan dari mulut ke mulut. Namun dengung itu kian lama kian surut di telan waktu. Sejarah permainan belum juga berakhir. Sampai sekarang permainan masih tetap berlangsung. Kitab berpindah tangan dari satu penguasa ke penguasa lain. Dari masa ke masa selanjutnya. Dari permainan satu ke permainan berikutnya.

Setelah pesta usai dan pemain musik pulang, pion-pion nampak kelelahan menahan kantuk dan pusing karena kepala mereka yang berat akibat mabuk. Kesempatan ini digunakan Kuda yang diam-diam tetap bersikeras ingin masuk ke istana. Kuda sudah tahu itu sangat berbahaya, semua pion yang berusaha masuk ke istana pasti mati. Centeng-centeng istana dengan mudah mencium kedatangan penyusup yang menembus masuk ke istana. Namun karena kelihaiannya sebagai mantan centeng istana, memudahkan Kuda untuk mengetahui cara-cara melumpuhkan penjaga Bersama dengan salah satu Bidak, Kuda akhirnya sampai di depan istana catur. Kegelapan malam yang menyelimuti bayang-bayang mereka, memudahkan kuda untuk menyusup dan menebas lehernya dengan sekali sabetan. Bidak dengan sigap membantu Kuda menyeret mayat centeng ke dalam istana dan menukar bajunya dengan seragam centeng yang baru saja dibunuhnya untuk memudahkanannya masuk ke dalam istana dan mengelabuhi para penjaga.

Sudah lama Kuda menunggu kesempatan ini. Sekian lama seluruh pion menunggu kesempatan agar bisa masuk ke istana dengan leluasa.

Kuda tahu kalau Kitab itu disimpan di sebuah lorong istana. Dengan cepat dan mudah Kuda menemukan ruang yang terdapat di lorong bawah tanah. Langkahnya seketika berhenti saat terdengar suara sepatu penjaga menuju ke arahnya. Kemudian melanjutkan menuruni tangga menuju lorong setelah tahu penjaga itu hanya sekedar lewat mengantarkan makanan untuk Raja.

“Dari mana kau tahu kitab itu di simpan di sini?” Bidak bertanya dengan suara yang nyaris terdengar seperti berbisik
“Segala yang ada di istana ini aku tahu. Termasuk segala yang ada dalam perut Raja sekalipun .”

***

“ Kosong! Tidak ada isinya !” seru Kuda yang terperangah nyaris tidak percaya setelah membolak-balik kitab tebal itu. Semua halaman kosong dan tidak berisi. Tidak ada keterangan atau tulisan mengenai apa pun. Ini mustahil, sergah kuda membantah pendapat Bidak yang menyangka kuda salah mengambil kitab yang dimaksud. Sial ! gerutu Kuda lebih terdengar semacam kesal dan rasa curiga dengan dibarengi gerakan menarik leher Bidak yang sejak tadi hanya berdiri membelakangi Kuda.

“ Di mana kau simpan kitab itu !” gertak Kuda.

Bidak merasa lehernya tercekik. Kuda mencengkramnya dengan kuat, lalu menyurungnya ke dinding. Bidak tidak punya kekuatan sedikitpun, sekalipun untuk mengatakan ‘tidak’ dan menggeleng. Kekuatan Kuda yang semula lemah seketika bangkit kembali. Kakinya yang kokoh dengan cepat menyambar kepala Bidak. Menghujamnya dengan tendangan yang bertubi-tubi ke dada, ke bagian kepala, dan terakhir tepat menerjang ke bagian perut. Persis saat terdengar kata-kata terakhir yang sudah berkali-kali coba diucapkan oleh Bidak, “Aku tidak tahu.”, sebelum akhirnya roboh. Sama seperti kata-kata yang sering terdengar setelah tersebar kabar ke seluruh penjuru kota catur bahwa mitos mengenai kitab permainan itu bohong. Sama seperti jawaban yang kerap disampaikan dari mulut ke mulut oleh para pion yang menanyakan: apakah betul permainan ini akan berakhir?

“ Aku tidak tahu.”

Kata-kata itu masih terus berdengung hampir di seluruh Kota Catur sampai sekarang. Dan mungkin akan kembali terdengar sampai seseorang yang duduk sambil bermain catur di sebuah teras rumah bertanya,” Apakah kisah tentang kota catur itu betul-betul ada? ”
***

Your rating: None Average: 5 (3 votes)
dikirim An Fana 21 minggu 6 hari yang lalu
Tag: