Anne tergantung di dahan pohon elm yang cukup besar, pakaiannya compang-camping seperti bekas sayatan dan cakaran, disertai luka-luka goresan yang kasar dan dalam. Rambut coklat kemerahannya yang semula terikat, kini terurai menutupi wajah manisnya. Tubuh gemulai gadis itu tlah berlumuran darah, tampak amat menyakitkan sekaligus mengerikan. Dibawah bayang-bayang hutan yang kelabu, tak ada satupun makhluk yang menolongnya. Azziz masih tertegun melihatnya, Apakah Anne telah meninggal? Tak ada satupun yang tahu.
Read more (3619 words)
Aku telah menemukan siapa yang kucari, tapi bukan begini seharusnya... pikir Azziz yang sekarang gemetar dan sama sekali tak mampu mengalihkan pandangannya, meskipun ia sebenarnya tak sanggup melihat keadaan adiknya. Ia harus segera menyelamatkan Anne, maka ia berjalan perlahan mendekat.
Suara dedaunan kering yang rapuh ketika terinjak menyertai setiap langkahnya. Meskipun itu musim semi, tapi tampak banyak sekali daun yang berguguran, mungkin suatu pertanda yang kurang baik.
Dengan berkonsentrasi dan berpikir hal positif, Azziz mencabut sebilah pisau dari sabuk di pinggangnya. Tangannya bahkan masih bergetar hebat saat tengah mencengkram pisau kecil itu.
“Anne...”, suaranya lirih dan bergetar. Ia terus mendekatinya hingga jarak terdekat, dan mulai memanggil lagi dengan suara lirih, namun tak terdengar satu jawaban pun.
“Kenapa jadi seperti ini?” bisiknya perlahan dari balik rambut panjang Anne. Namun tetap tak ada jawaban yang terdengar. Air matanya menetes, tak tertahankan. Tak ada lagi rasa malu dalam diri pemuda itu bahwa ia tak boleh menangis. Lalu diantara tetes-tetes air matanya itu, ia mengucap kecil perlahan, dan terdengar suatu alunan melodi yang lirih disertai bait puisi darinya.
Pernahkah kau menatap langit,
Putih suci saat fajar terbit,
Seperti saat ku menatapmu...
...Anne
Ia terisak saat teringat akan segala kenangan bersama adik perempuannya itu, meskipun tidak dilahirkan dari rahim dan benih yang sama, namun bagi Azziz, dialah orang yang paling berarti. Tak ada kata lagi yang mampu Azziz utarakan, namun bait puisi berikutnya tetap dilanjutkan...
Pernahkah kau menatap langit,
Gemerlap bintang temani purnama,
Tak dapat kulihat tanpa dirimu,
...karna kaulah bintang itu...
...Anne
Larik terakhirnya berubah jadi teriakan yang memekakkan telinga, hatinya begitu kacau dan tak terkendali begitu tersadar bahwa sang adik tak lagi menghembuskan nafas. Ia memeluk Anne erat-erat, terasa olehnya tubuh sang adik yang begitu dingin dan beku seperti es. Lalu diakhirinya teriakkannya, dan ia mulai memotong ikatan tangan Anne di dahan yang cukup tinggi dengan sebilah pisau yang sejak tadi dipegangnya.
Matahari telah berada di atas kepala, dalam posisi terbaik untuk memanaskan, namun tidak juga menyurutkan air mata seorang pria, dibawah pepohonan elm untuk sang adik tercinta yang kini hanya sebatas kenangan. Tetes demi tetes air mata terus membasahi tanah, menyerap dan mengalir diantara bebatuan kecil yang abu kecoklatan. Dan diantara tanah yang kini tercabik-cabik oleh sebilah pisau akibat amarah. Beberapa tetes yang bercahaya tampak seperti kristal, yang memantulkan cahayanya melalui sebilah pisau yang tertancap tegak di tanah. Membiaskan sinar mentari dan menciptakan bayang pelangi di tanah. Matanya yang tertutup masih terus memancarkan air mata seakan takkan pernah berhenti.
Aku telah kehilangan orangtuaku, sahabat, semua orang dan segalanya, apakah pantas jika aku harus kehilangan Anne?
Sementara itu, di sekitar pepohonan suara gemerisik daun terdengar menyertai langkah langkah di tanah yang kini tandus. Juga diiringi desisan kejam yang tertawa dibalik kesedihan, suara-suara yang juga menggema di kedua telinga Azziz dan menyadarkannya dari segala kesedihan. Suara terus bergema dari semua arah, tapi tak dapat ditemukan meski telah melepas pandangan ke semua arah. Ada makhluk lain disana, makhluk yang tidak wajar. Instingnya berkata demikian, ia lalu memeluk Anne erat-erat untuk melindunginya, meski mungkin Anne telah tiada. Azziz berputar kesana kemari mencari arah dari mana ia harus menghadapi makhluk itu. Tapi suara desisan dan kuku-kuku tajam yang mengkikis kayu-kayu tua terdengar di semua arah dan membuatnya berputar berkali-kali tak tentu arah. Ya, Azziz telah dikepung, sebagaimana ia menyadarinya.
Diamatinya bayangan hutan dengan tatapan matanya yang lebih tajam dari biasanya, tapi bayangan yang selalu bergerak itu membuat Azziz kewalahan. Belum lagi bahu kanannya yang terasa seperti ditusuk-tusuk jarum, semakin lama semakin kuat, membuatnya berkeringat dingin dan nyaris tak sadarkan diri.
Dan saat semua pandangannya samar-samar, ia mencoba menatap Anne yang berada dalam pelukannya, membuatnya teringat kembali akan semua tekadnya yang telah bulat. Dengan mengumpulkan segenap tenaganya yang tersisa, pemuda itu mencabut pisau yang tertancap di tanah lalu berdiri dan menggendong Anne.
Tangan dan bahu kirinya memikul Anne yang tak berdaya, dan tangan kanannya mencengkram pisau kecil bening dengan amat keras, yakni saat ia sadar bahwa Ghouls telah menampakkan diri di hadapannya.
**********
Sesosok makhluk muncul dihadapan Azziz. Matanya bulat besar tidak wajar, dan begitu kotor hingga putihnya tak lebih baik dari hitamnya. Tak ada rambut di kepala mereka, biar hanya sehelai. Tubuhnya hanyalah tulang belulang yang dibungkus kulit, bahkan diantara engsel lengannya tampak bentuk tulang yang amat nyata ~(entah bagaimana ia dapat bergerak tanpa memiliki otot)~. Tulang punggungnya bungkuk dan terlihat ruas-ruas kasar yang dibungkus kulit hingga ia tampak seperti seekor udang. Ia berjalan merangkak karena tubuh bungkuknya, dan keluar sepenuhnya dari persembunyiannya seraya menunjukkan gigi-gigi taringnya yang panjang dan hitam, tak beda dengan kukunya.
Dua yang lain muncul di belakang Azziz bersamaan dengan yang satu itu, membuatnya berpaling dan mundur beberapa langkah saat berhenti untuk terpaku pada sesuatu yang ia lihat. Dan kedua makhluk itu masih tak lebih baik dari yang sebelumnya. Matanya agak lebih besar hingga mendominasi wajahnya yang kempot, tetapi pupilnya jauh lebih kecil. Terlihat retakan yang besar di bagian tengkorak yang satu, dan luka kering yang membusuk di dahi yang satunya lagi. Mulut keduanya tak pernah terkatup, terus menganga dan mengalirkan air liur yang bau bangkai, menetes diantara gigi-gigi yang telah rusak. Tak ada pakaian yang membungkus tubuh kurus kering mereka selain beberapa helai kain yang dibalut dan diikatkan untuk menutupi kemaluannya. Desisan mereka terdengar begitu menjijikan hingga membuat Azziz berpaling ke arah lain.
Dua makhluk lagi muncul bersamaan ketika Azziz memalingkan mukanya, masing-masing satu di kiri dan kanannya. Tapi Azziz sudah tak berselera untuk melihat mereka, lebih kotor, menjijikan dan bau amis darah.
Kelima makhluk itu mengelilingi Azziz, berjalan ~(atau merangkak)~ perlahan, selangkah demi selangkah bersama suara mendengus. Azziz yakin makhluk-makhluk itu adalah Ghouls, meski ini pertama kali ia melihatnya.
Azziz menatap tajam ke satu celah di mana ia tampak leluasa untuk berlari menerobos pepohonan. Sejenak terpikir di benaknya untuk berlari, meski mungkin takkan tahu arah dan Anne akan menambah beban untuk mengurangi kecepatannya. Dan akhirnya ia putuskan untuk bertahan juga membalaskan dendamnya.
Ujung pisaunya ditunjukkan pada salah satu Ghouls yang terus mendesis. “Aku berjanji itu akan jadi desisan terakhirmu!”.
Tapi angin tak berbisik di telinga Azziz untuk menyerangnya, melainkan memberi kabar sesuatu dari celah tempat ia berpikir untuk lari.
Secepat kilat mata dan kepalanya berpaling, dan dari balik pepohonan itu muncullah seseorang yang ia kenali sebagai Grucx, pelayan Chief Argo.
“Grucx...”, kata Azziz ragu, sangat terkesima melihat bahwa banyak sekali luka cakaran dan darah yang masih segar di seluruh tubuh pria setengah baya itu. “Apa yang―”
“Lari, bodoh...”, katanya terengah, kelihatan tak sanggup lagi berdiri, “Lari...”, katanya lagi, diikuti kata-kata yang sulit dimengerti diucapkannya terbata-bata, “―Chief―Argo...Axerapht... ―ia...pe―dang―itu―”
Dan dari balik pepohonan Grucx berdiri, munculah sesosok bayangan hitam legam. Tampak lebih tinggi dan kekar dari Ghouls. Ia mendekati Grucx yang ekspresinya berubah ketakutan. Grucx mencoba berjalan, tapi jatuh dihadapan Azziz dengan sangat keras, membuat Azziz mengernyit. Azziz melihat punggung pria setengah baya itu kelihatan seperti dikoyak oleh makhluk ganas, tulang belakngnya terlihat dibalik daging dan kulit yang terkelupas. Seluruh pangkal pah dan betisnya juga dipenuhi luka yang tampak seperti luka bakar. Hati Azziz bergejolak tak keruan, ia melihat lebih dekat wajah Grucx, yang kini tampak tak bernyawa. Dan memang benar, matanya menatap penuh rasa takut tanpa berkedip, mulutnya menganga lebar, dan tak ada hembusan nafas.
“bodohnya aku...”, gumamnya sendiri seraya menelan liur dan mengalihkan pandangan pada bayangan hitam legam yang tadi muncul di belakang Grucx. Perlahan makhluk itu mulai mendekati Azziz. Membuat jantungnya berdegup kencang. Nafasnya sesak karena bau busuk bayangan hitam itu, juga karena dadanya yang tiba-tiba terasa terhimpit sesuatu yang tak kasat mata. Tubuhnya semakin lama semakin melemas, hingga membuatnya berlutut dan membaringkan Anne dipangkuannya. Tanda tengkorak di bahu kanan Azziz kembali jadi hitam legam bahkan terasa amat menyakitkan. Rasanya seperti racun yang melumat seluruh tubuh. Beban yang ditimbulkannya membuat ia merasa tak sanggup untuk tetap terjaga. Inderanya kacau. Pandangannya samar, begitu pula telinganya. Tak ada suara yang terdengar dari mulut Azziz yang sejak tadi mengucap tak keruan. Dan setiap hembusan angin yang bertiup terasa seperti pisau yang menyayat.
Bayangan hitam legam itu berputar mengitari Azziz dan Anne searah jarum jam, setiap langkahnya menabur butiran kegelapan yang mewarnai setiap benda di sekelilingnya. Semakin gelap, dan semakin membuat rasa sakit yang dialami Azziz menjadi-jadi.
Ia mencoba untuk berteriak, mengerang dan mengamuk melawan rasa sakit, tapi tubuhnya tak kuasa mengijinkan. Hanya terdiam menahan siksaan kepedihan.
Para Ghouls tertawa terkekeh-kekeh melihat mangsa mereka tersiksa dan terus menerus ditarik dalam kegelapan. Terlihat jelas dalam mata mereka yang bulat besar dan dipenuhi rasa dengki.
Azziz sadar apa yang sedang dilakukan Ghouls. Ya, mereka sedang memakan jiwaku perlahan, dan tatkala jiwa itu habis aku akan menjadi salah satu dari mereka. Setidaknya itulah yang diketahui Azziz dari Gauzzle.
Tapi itu takkan terjadi!
Azziz berteriak kepada hatinya sendiri, membulatkan tekadnya. Dengan segenap tenaga ia memejamkan mata dan melenyapkan semua bayang-bayang iblis dalam pikirannya. Ia bangkitkan semua ingatan akan kenangan-kenangan indah dalam hidupnya.
Aku tak ingin berakhir disini!
Semua kebencian yang tadi bergelora dan menjadi benteng hati, telah ia tekan dan telah ia runtunhkan. Dibangunnya kembali kepingan-kepingan kebahagiaan yang pernah terbentuk menjadi suatu istana terindah. Dan semuanya berhasil. Rasa sakit itu lenyap, semua hanyalah tipu daya Ghouls.
Hingga terbukalah kedua mata Azziz seperti sedia kala, tak ada bayangan kegelapan yang pekat seperti barusan, semuanya tampak seperti mimpi buruk yang barusaja berakhir.
Ia menatap sekeliling, tampak olehnya Ghouls yang beku karena keheranan. Mata mereka begitu jelas mencerminkan rasa ketidaktahuan akan apa yang baru saja terjadi, sama dengan mulut mereka yang menganga lebar. Kenapa ia dapat mengalahkan sihir kami? Mungkin itulah yang ada dalam benak mereka.
Untuk sejenak semuanya sunyi, tanpa suara dan tanpa gerakan. Tapi lalu alis mata Azziz mengerut, mencari-cari sesuatu yang hilang. Bayangan hitam legam itu!
**********
Kini seluruh indera pemuda itu telah pulih dengan ajaib dan ia mengangkat pisaunya setinggi dada. Mewaspadai sekelilingnya yang berisi Ghouls yang tengah terbakar amarah. Juga berwaspada terhadap bayangan hitam legam yang kini tak terlihat dimanapun. Setiap hembusan angin diperhatikannya, setiap suara yang terdengar terus menambah kewaspadaannya.
Tetapi Ghouls tampak masih berdiri kaku dengan tangan dan kaki mereka yang kurus tidak wajar. Matanya membelalak ke setiap kawannya dari kepala mereka yang sebagian besar tidak berambut. Tulang belakang mereka yang memang amatlah bungkuk kini semakin bungkuk seperti udang goreng, mungkin karena takut pada tatapan tajam Azziz. Cakar-cakarnya yang kotor terus mengeruk tanah dengan kasar dan perlahan. Dan untuk beberapa saat mereka menegakkan badan ~(meski masih tetap bungkuk)~ dan kepala mereka seraya mengendus dan mendesis untuk menunggu kesempatan menyerang.
Dan Azziz pun masih tetap bersiaga bersama pisau di lengan kanannya. Tapi ia menyadari ada sesuatu yang aneh, dan itu bukan dari dalam diri Ghouls! Terasa olehnya bahwa Anne mulai bergerak di pangkuannya, dan ditatapnya wajah gadis itu seraya menyingkapkan rambut dari wajahnya.
Dengan cepat matanya terbuka, tapi bukan mata coklat Anne! Bola mata yang menyala merah menyala, memancarkan hawa panas di setiap sorotannya. Dan disaat yang sama, bahu kanan Azziz terasa dicabik ribuan pedang meski tak ada apapun disana. Karena rasa sakit itu genggamannya melemah dan terjatuhlah sebilah pisau yang dipegangnya sejak tadi. Lalu dengan segera ia merangkak mundur dan meninggalkan gadis yang ia sadari bukanlah Anne, adiknya.
Ia terus merangkak mundur hingga akhirnya membentur sebatang pohon elm yang mengalihkannya selama beberapa detik. Dan saat ia mulai kembali terjaga, Anne berada tepat dihadapannya dengan mata yang merah menyala.
Dia bukan Anne! Azziz bergumam pada hatinya sendiri dengan sangat yakin.
Dan wajah manis Anne beserta seluruh tubuhnya berubah menjadi amat mengerikan. Seluruh tubuhnya hitam legam sama dengan jubah panjang yang dikenakannya. Begitu pula sebagian besar wajahnya kecuali lingkar mata dan bibirnya yang putih dingin, sedingin salju. Wajahnya panjang menakutkan, dengan dagu yang menjorok ke depan, dan pipi yang kempot. Dari atas alis matanya yang kosong, terukir relief di kulit membentuk suatu corak khusus hingga ke pipi. Dan terdapat semacam tanduk kecil putih pucat di dagunya, dan yang sedikit lebih besar dan agak melengkung keluar dari kedua sisi kepalanya. Rambutnya berwarna putih, panjang, dan berkibar karena tertiup angin yang tiba-tiba menjadi sekencang badai. Matanya merah menyala dan membakar mental Azziz yang di setiap waktu yang ia gunakan untuk melihatnya. Sorot mata makhluk itu membuat ‘tanda Ghouls’ seakan mencengkramnya dan tak membiarkannya bergerak sedikitpun. Bahkan untuk memalingkan muka, karena saat ini, wajah keduanya amat berdekatan satu sama lain.
Dari bau busuk yang dikeluarkan makhluk itu, Azziz yakin ia adalah bayangan hitam legam yang barusan, dan sempat menghilang. Mungkin makhluk itu telah mengelabui Azziz dengan semacam ilusi yang sangat nyata. Tapi kini makhluk itu sungguh-sungguh nyata dan berada amat dekat dihadapannya! Keringat dingin terus mengalir deras hingga ke leher, dan tangannya yang gemetar ingin melawan, namun tetap dibatasi oleh bayangan yang mengikat.
Tersadar akan mangsanya yang tak berdaya, mulut makhluk hitam itu menyeringai dan menunjukkan taring putih panjang yang runcing. Salah satu tangannya bergerak membelai wajah Azziz. Namun belaiannya amatlah mengiris menyakitkan, meninggalkan bekas luka bakar dari kuku-kukunya yang semerah bara api. Lalu diulanginya lagi belaian itu dengan perlahan, rasanya? Tak perlu ditanyakan lagi. Setelah puas melihat sang mangsa mengerang dalam kesakitan yang bisu, makhluk itu lalu membuka sedikit bibir putihnya. Dan dari dalam mulutnya menjulur lidah yang juga hitam legam, berduri kehijauan dan berkelok-kelok mendekati wajah Azziz.
Sebelum Azziz sempat berdoa memohon ampunan dan keselamatan, tampak sesuatu memaksanya mengedipkan mata, dan suara keras menyerang telinganya, suara yang rasanya ia kenal.
--Duakkk!--
**********
Pemandangan gelap sesaat bagi Azziz, dan tubuhnya pun merasa sedikit lega. Dengan perlahan ia buka matanya, dan berharap bukan hal buruklah yang akan dilihatnya.
“Kau dapat diberi hukuman gantung karena berani menyentuh cucuku, makhluk terkutuk!”
Tampak olehnya Gauzzle tengah berdiri agak bungkuk dihadapannya, bertumpu pada tongkat hitam tua yang cukup besar dan agak zig-zag di bagian atas. Matanya mengernyit ke makhluk hitam legam yang kini terkapar di tanah seraya memegangi dahinya yang terluka. Mengalirkan darah yang warnanya tak beda dengan kulitnya, nyaris tak terlihat.
Ditengadahkannya tangan hitam yang kurus dengan jari-jarinya yang panjang, dilihatnya, dan matanya terbelalak kaget memancarkan ekspresi mengerikan, disertai jeritan iblis yang memekakkan telinga, “A―aargh!”.
Azziz tak mempedulikan suara iblis yang satu itu, ia tersenyum riang, dan untuk pertama kalinya merasa bahagia melihat sang kakek yang menolongnya. Disertai lonjakkan dari tempanya tersungkur, “Kakek!”, serunya seraya berdiri di sebelah sang kakek.
“Ada apa, bocah ceroboh!?”, ucapnya sinis. Tangannya memutar-mutar tongkat hitam tua dan kakinya memasang kuda-kuda yang kuat. Ia menghadap ke arah makhluk hitam legam itu, yang kini dikerumuni para Ghouls bungkuk, kurus dan menjijikan. Dan untuk beberapa saat, ia melirik Azziz, “Dimana Anne? Kau menyelamatkannya?”
Kata-kata yang seperti panah itu menembus jantung Azziz. Ia tertunduk diam seakan malu dan menyesali kesalahannya, “Tidak. Hanya tipu daya mereka.”
Gauzzle menengok perlahan, berkata dengan penu rasa iba, “jangan kuatir, Anne pasti baik-baik saja.”
Azziz tak menghiraukannya, ia beranjak dari tempatnya terdiam. Melangkah cepat dan menunduk mengambil pisau yang ia jatuhkan, sebelum Gauzzle menghentikannya dengan sebuah raungan, “Sreїnder Ghozĕrn!”
Azziz tersentak kaget dan dengan cepat menghunuskan pisaunya. Terlihat oleh kedua matanya seekor Ghouls yang hendak menyerangnya terlempar dan terseret jauh ke dalam hutan. Dengan reflek, matanya beralih pada Gauzzle, Apa yang baru saja ia katakan? Apa yang baru saja ia lakukan?
Tapi semua pertanyaan itu buyar. Ia melihat keempat makhluk lainnya menyerang Gauzzle. Dan dengan cepat ia berlari untuk melindunginya, tapi apa yang dilakukan Gauzzle sungguh mengejutkan. Pria tua itu tidak berlari, tidak juga menyerang atau bertahan dengan tongkat hitam-tuanya, ia justru menjulurkan tongkat itu ke kaki Azziz. Dan membuat pemuda itu jatuh tersungkur dibelakangnya.
Apa yang dilakukan kakek tua itu? Seharusnya ia yang aku lindungi, bukan sebaliknya.
Azziz lalu mencoba untuk kembali bangkit, ia sungguh tak tega melihat kakeknya dicabik-cabik Ghouls, seburuk apapun ia. Tapi semua sudah terlambat, saat ia belum sepenuhnya berdiri, Ghouls telah terlalu dekat dengan Gauzzle.
Waktu seakan berhenti, dalam pandangannya Ghouls itu berhenti di udara, menunjukkan cakar-cakar tajam dan wajah bengis mereka pada Gauzzle. Azziz menatap diam tanpa mampu berbuat apapun.
Matahari yang hampir senja, memantulkan cahayanya ke setiap batang pepohonan elm. Dan langit yang berubah mendung membuat waktu terasa berhenti lebih lama lagi. Tapi tetap tak ada gunanya, Azziz sama sekali tak dapat bergerak, terbatas ruang dan waktu. Ia ingin segera berteriak dan menyungkurkan kakeknya, sebelum ia mendengar beberapa patah kata dengan suara yang halus dari mulut kakeknya.
“Hїe Glaze ele Phöenix,”
Sementara Azziz masih bingung dengan maksud kata-kata itu, waktu mulai terasa kembali bergerak dan lidah-lidah api terlihat menjulur dari ujung teratas tongkat kakeknya. Membakar Ghouls yang berada di posisi terdepan. Azziz membelalakkan mata seakan tidak mempercayainya, tapi masih memandang seksama. Lidah-lidah api itu bercabang, dan membentuk sesuatu. Sesuatu yang besar. Seekor burung raksasa jingga kemerahan dengan sayap yang membentang hingga puluhan meter. Burung api Phöenix.
Luar biasa! Azziz sempat kagum, tapi alisnya mengerung saat ia mulai menyadari sesuatu. Sementara Phöenix itu terbang mendatar hingga ber mil-mil, membakar semua yang dilaluinya. Membantai habis hutan hijau dan menyisakan tanah kering yang hitam terbakar dan abu Ghouls.
Beberapa saat yang menyesakkan bagi Azziz, dan mematikan bagi Ghouls, kini telah selesai. Dan kobaran api itu telah lenyap, namun tetap terbias cahayanya di balik mentari yang jingga. Semua iblis itu terbakar, tanpa terlihat pengecualian. Api neraka tersebut hampir sempurna, jika saja tak ikut meluluh-lantahkan hutan.
Azziz masih tercengang, sebelum akhirnya ia sadar ketika mendengar suara di belakangnya. Gauzzle berbalik, kini berhadapan dengan Azziz seraya mengacungkan tongkat hitamnya. Azziz tahu apa yang harus dilakukannya, ia bergerak ke samping tepat saat sebuah bola api melesat seperti peluru dari tongkat itu, nyaris mengenainya. Azziz tahu apa yang dibidik Gauzzle, ia berbalik dan melihat si makhluk hitam legam yang semula ada dibelakangnya kini telah terlempar dan terseret sekitar 100 meter. Lalu matanya berpaling pada Gauzzle yang berdiri dengan tongkat, ujungnya menyala lagi, dan sebuah tembakan api bertubi-tubi mencuat dari sana. Dan si makhluk hitam legam berdiri dengan sigap, mengacungkan tangannya seraya mengucap mantra yang tidak jelas, lalu tampaklah sebuah perisai hitam berbentuk setengah bola yang menyelubungi tubuhnya, memantulkan semua peluru api yang ditembakkan Gauzzle. Azziz berlari dan berguling menghindari peluru api yang kini berbalik menyerang Gauzzle dan dirinya, tapi lalu Gauzzle bergerak ke hadapan Azziz dan mengucap satu mantra lagi yang tak sempat terdengar oleh Azziz. Sebuah lingkaran api muncul mengitari mereka berdua, dan semua peluru api yang terarah pada mereka lenyap begitu melewati batas itu. Azziz diam tak berkutik melihat apa yang dilakukan kakeknya, Ia benar-benar profesional, pikirnya dalam hati. Dan Gauzzle mengacungkan tongkatnya,
”Supernova!”, lalu lingkaran api itu menyelubungi mereka, dan meledak begitu dahsyatnya, menghancurkan semuanya kecuali apa yang diselubungi oleh lingkaran itu. Terlihat makhluk hitam legam itu tak berkutik di balik ledakan yang begitu dahsyat. Dan sekali lagi, Azziz hanya tercengang.
Hancur? Hancur!? Hancur!
Azziz berdebat dengan dirinya sendiri.
Mustahil! Gauzzle bukan penyihir! Paling tidak... sejak kulahir belum pernah kulihat ia sebagai penyihir. Tapi api Phöenix yang barusan itu... nyata! Belum lagi ledakan maha dahsyat itu!
Mengeluarkan semacam api dari tongkat bukan berarti penyihir! Mungkin ia menggunakan semacam alat.
Tapi tak akan membentuk Phöenix! Ia juga membacakan semacam mantera! Dan lagi, ia bergerak selayaknya penyihir, melawan makhluk yang bisa melakukan sihir pula!
Baiklah , mungkin ia memang penyihir, tapi apa salahnya!? Kenapa jadi aku yang...
Ia berjalan mundur dan menjauh dari Gauzzle, tapi masih tetap memperdebatkan pikirannya sendiri.
Ini memang harus diperdebatkan! Bukan masalah bagi sebagian orang memiliki keluarga penyihir, karena memang begitulah Shyne! Tapi bagimu...
Ya..., masalah! Ini masalah! Jubah hitam dengan tudung kepala. Tongkat hitam tua yang ujungnya memancarkan bara api merah.
Dia...
Ekspresi pemuda itu berubah marah, dahinya mengerut, urat-urat lengannya saling berkontraksi. Tangannya mengepal dan gemetar karena tenaga yang ditahannya meluap-luap. Dicobanya menarik nafas panjang dan dibuangnya perlahan untuk menenangkan diri. Dan ia terus berjalan mundur perlahan hingga mendapat jarak yang cukup renggang.
Sementara itu, terukir sedikit senyuman di wajah Gauzzle, yang tampak bangga pada dirinya sendiri. Mengetukkan tongkatnya ke tanah dan tertawa kecil, lalu berbalik seraya mengibaskan jubah hitamnya dan berkata, “Tak ada hari yang lebih baik selain hari dimana kita dapat membakar iblis, bukan?”
Gauzzle tersenyum gembira pada cucunya, tapi lalu berhenti dan mulai memperhatikan cucunya yang tengah menghunuskan pisau dihadapannya. Tanpa rasa takut ia melanjutkan perkataannya, “Kenapa wajahmu mengerikan begitu?”
Azziz hanya diam dan tetap menghunuskan pisaunya.
Baiklah ada masalah disini. Gauzzle bergumam pelan. Lalu menggeram seraya menggertakkan tongkatnya ke batu, “Aku yakin kau masih memiliki lidah untuk menjawab pertanyaanku.”, membuat sedikit retakan pada batu itu.
Suara keras itu tak cukup unuk menggertak Azziz, ia maju selangkah demi selangkah. Matanya masih menatap tajam, dan pisau yang terhunus, seakan berbicara mengikuti mulutnya, “Kalau begitu katakan apa yang sebenarnya terjadi!”
Sebelum Gauzzle sempat menjawab, Azziz melanjutkan pertanyaannya dengan dipenuhi dendam dan amarah.
“Kau penyihir! Kau bukan kakekku! Dan kau yang membunuh Ayahku!”
Pria tua itu menyipitkan matanya, mencoba mencerna apa yang dikatakan Azziz. Lalu berdiri dengan bertumpu pada tongkatnya dan menerawang jauh dalam ingatan. Pikirannya sedang menyusun kata-kata untuk menjelaskan dengan tepat, dan perlahan mulutnya terbuka, terdengar beberapa patah kata menjadi suatu bait puisi.
Kala mata menipu, mulut ‘kan meraung
Dan telinga ‘kan dibatasi tembok kelabu
Setiap desah nafas menjadi sesak
Mengacaukan pikiran dalam ingatan
Mengindahkan kata-kata indah terakhir
Melupakan malaikat-malaikat bercahaya
Hingga menyisakan iblis-iblis penipu
Mengiringinya, tubuh mengamuk
tanpa kendali
Tanpa menghiraukan kata-kata itu, Azziz berteriak dengan nada penuh ancaman, “Cukup jawab pertanyaanku dengan Ya! Atau Tidak!”
**********
ceritanya seru banget! cuma menurut aku agak janggal aja pas si Azziz malah baca puisi pas dia lihat Anne mati. (hehe..)
trus tolong diperhatikan penulisannya. suka ada yang salah ketik. pokoknya cerita kamu keren dan pasti saya tunggu kelanjutannya.
Banyak kalimat rancu dan membingungkan, seperti tulisanku, SOTD juga terdapat kalimat panjang-panjang,
"Ia terisak saat teringat akan segala kenangan bersama adik perempuannya itu"
akan akan lebih baik dihilangkan.
"ia mencoba untuk berteriak"
untuk hilangkan saja"
ok
lumayan bagus, tapi lebih bagus lagi klo ceritanya kamu bagi dua..., soalnya agak kepanjangan untuk satu cerita di situs ini (iya gag?)
yah... Lebih tua mungkin... tapi kan pengalaman aku mungkin masih kalah...
anyway, -bukannya mau protes-
akhirnya ada adegan battle. T_T
aku sungguh terharu... hikz...hikz...hikz...
Senior memang jagoannya bikin adegan battle...
Tapi...
rasanya ada yang kurang. Terasa berbeda dengan biasanya. Well... bagus sih iya, tapi yang di rohriant lebih bagus...
Aku copas ya
Bwahahahahahaha
*kabuuuuuuur*
lagi, lagi! tambah battlenya lagi! go go go! hehehe
(sekedar bocoran)
nantikanlah kejutan dari gue, jebolan kemudian.com ini...