Menyengirlah... dan Bagikan, kurang lebih begitulah terjemahan dari judul ini. Ga usah dikurang-kurangi dan Ga usah dilebih-lebihkan.
Terkadang aku berpikir bahwa Soleh, adalah lebih manusia daripada aku. Dia menyengir setiap saat, tak pernah mengeluh. Seolah dunia ini adalah kebahagiaan baginya. Sementara banyak berkeliaran manusia merasa sial telah terlahir di dunia.
Perhatikanlah Soleh, sahabatku ini. Tidur di emperan-emperan jalan, tak menetap. Bangun pagi dan hal yang pertama kalinya ia lakukan adalah mengejar-ngejar kucing yang memipisi dirinya, menganggap bahwa dia adalah kucing jantan yang bisa digoda, karena memang bau badan Soleh tak lebih harum daripada kucing jalanan itu.
"Miauwww!!" jerit kucing itu.
"Grrrhhh!!" balasnya segera.
Untung saja mereka tak sampai bercinta. Jika itu terjadi, maka aku sepakat dengan semua orang yang menganggap dia GILA.
Setiap lonceng istirahat berbunyi, aku dan kawan-kawanku pasti melihat dia di gerbang sekolah. Kami semua sudah hapal betul dengan jadwal aktifitasnya dan dia sudah tahu betul dengan jadwal sekolahan kami. Saat ini... waktunya kami bermain bersama. Permainan yang dia suka adalah gobak sodor. Aghh... kami berlagak jadi orang gila dan dia berlagak jadi orang waras. Menyenangkan sekali, masing-masing berekspresi bebas.
Namun pagi itu kami tak mendapatkannya di gerbang sekolah, begitu juga keesokan harinya, dua hari kemudian, bahkan sampai sebulan. Di manakah Soleh? yang mengajarkan kami sesuatu yang sangat menyenangkan, sesuatu yang sangat melapangkan dada, sesuatu yang bisa menjadi obat ketika hati ini nelangsa... Di mana?
Ada isu tersebar, Soleh mati tertabrak mobil ketika mengejar kucing betina. Agh... Mengapa mereka menggunakan kata 'mati' untuknya. Aku malah berpikir bahwa ia layak untuk mendapatkan minimal kata 'wafat' atau 'mendiang'.
Ada juga isu bahwa dirinya telah ditangkap petugas sosial, dibawa ke RSJ Palembang. Aku dan kawan-kawan mencoba mengunjunginya ke sana, mau bertanya dia sakit apa hingga harus masuk Rumah Sakit (Jiwa). Kami tak percaya dia sakit karena kami tahu betul bahwa tawa dan cengiran adalah obat terampuh untuk menyembuhkan segala macam apa pun penyakit. Tapi dia tak berada di sana, begitulah pengakuan penjaga gerbang RSJ itu.
Entah kalau Soleh memang telah wafat atau pun tidak, bagi kami dia adalah sahabat. Dan dia adalah guru, yang mengajarkan betapa berartinya senyum dan cengiran untuk peradaban manusia ini.
Menyengirlah... dan Bagikanlah... dan mulai sekarang... ajaklah kawan-kawan Anda untuk menyengir, seperti yang Soleh ajarkan kepada kami.
*** Kenangan semasa di SD Muhammadiyah-6, tahun 1988-1990.
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
aku tak tertawa
tersenyum pun tidak
maaf, mungkin karena aku lagi sedih
jadi ingat si rondang...
cewek gila yang disayang satu lorong rumah
hehe, cerita pendek ini berhasil bikin nyengir. Kelucuan dan kejenakaannya dibangun dengan mulus dan nggak berlebihan... bagus....
benar, senyuman dan cengiran itu bisa menjadi obat paling mujarab di saat2 seperti ini. btw, bener tuh taun 1988? saya baru lahir tuh ;p
Ini bukan cerita komedi kok. Jadi ga perlu merasa bersalah jika tidak tersenyum, hehe.
wah...
bkin terharu...
feelnya dapet pak! entah kenapa saya jadi ikutan membayangkan
nice art work, kisanak.
Bung, semakin berkembang saja rasanya dirimu akhir akhir ini ya?
Mulai sekarang, satu orang memberi cengiran pada satu orang baru di tiap hari.
Well, meski tampangnya sederhana, perasaannya dalam. Based on the true strory pula.
mari nyengir sama-sama
ahak..hak...hak...
tapi yg ini kurang gokil akh...
ga ngerasa ini tulisanna Om Amri
kabbbooorrr...