Sebuah kegiatan yang mampu membuat hatiku gembira sekaligus mampu mengirisnya adalah memandang punggung pria itu. Memandang punggungnya mampu membuat hatiku kebat-kebit dan senyum merekah di bibirku tapi sekaligus hal itu membuatku sadar bahwa aku hanya mampu menatapnya dari belakang.
Aku adalah orang yang frontal dalam banyak hal, tapi dalam hal ini aku menjadi ciut. Meski aku mengenalnya, tetap saja tak ada keberanian untuk menatap wajahnya dan berteriak “Hei, aku mencintaimu!”Aku lebih suka menatap punggungnya secara sembunyi-sembunyi. Aku sangat menikmati menatap punggung tegaknya yang legam oleh sinar matahari.
Siapa yang tak mengenalnya, lelaki yang selalu berada di garda depan di setiap aksi turun ke jalan, lelaki yang bersahaja dengan segala kerendahanhatinya, dan lelaki yang banyak menorehkan nama di kampusku dengan berbagai prestasi. Semua hal itulah yang menyebabkan diriku berpikir bahwa aku hanyalah gumpalan debu yang bahkan tak mampu membuatnya berkedip.
“Kenapa tak kau katakan?” Ujar salah seorang temanku. “Toh, kamu mengenalnya.”
Tak mengertikah ia, “Lidahku kelu, hanya memandang wajahnya saja aku sudah mau kabur!”
Maka sampai hari ini pun aku tak berani menatap wajahnya langsung, hanya berani memandangi punggungnya dari jauh. Padahal orang-orang dengan semangat menyalaminya dan memberi selamat. Sedang aku, belum berani menampakkan diriku, hanya berdiri di ujung ruangan sambil memperhatikan punggungnya yang gagah di balut baju adat Jawa di atas pelaminan.
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
baca judulnya td kirain bakal mirip salah satu crita dlm novelx tamara geraldine
Eh pas baca ternyata bukan..
critanya biasa aja.awal2nya c lumayan
btw sukses tyus nulis yh!
Wah, lagi meggunjingkan lelaki nich?
Aku rasa deskripsi tentang lelaki yang dipaparkan di sini suadh cukup baik. Tetapi alangkah lebih baik selain punggungnya, digambarkan pula sisi yang lain, misalnya kalo kata Ayu Utami, bau keringatnya hehehe
menyeh menyeh deh aku
jangan malu2 makanya Ra ... hehhee
terus terang saya nggak begitu suka cerita yang terlalu pendek. saya suka cerita yang penuh misteri dan runtut tapi masuk akal.
tapi walaupun begitu akhir ceritanya bagus. coba kalo dikembangin lagi, bisa jadi cerita yang bagus dan bahkan bisa dijadiin novel tuh,
salam kenal
wuih singkat padatdan jelas...
kaget bgt endingnya gt ra,,,,
hm...jgn ampe gt deh klau jadi ce ya..hehehe
wahai para ce,,,if u like just say it!!hehe..dont keep it,,hehehe
sukses trus ya ra,,,salam kenal..
haah, Arra .
bagus .. cerita singkat, dengan deskripsi yang pas!
Kalimat ke-dua sepertinya bisa dipotong, lebih enak bacanya. "..kerendahanhatinya," - lupa dikasih spasi tu bu'.
"Tak mengertikah ia,.." - kayanya nggak perlu deh. Jadi langsung aja dialognya gitu. Kalimat terakhir juga, sepertinya bisa dipotong jadi dua kalimat aja.
Selebihnya nice bu'.. ^_^
Cerita yang menarik. Tapi beberapa pemilihan diksi yang berulang, seperti kata 'memandang' dalam dua kalimat berurutan agak menganggu, serta beberapa kesalahan dalam awalan dan akhiran. Setuju dengan saran Benz juga.
masih punggung ja deg-degan nya setengah mampus! gimana liat mukenye bu...?!
arra bisa ja kalau bikin cerita, tapi bener kata benz, ada yang lupa di beri spasi kerendahanhatinya
selebihnya, nikmat untuk di baca!
terus menulis ya arra!
kenapa enggak di kasih tau aja mbak..
atau mau aku yang ngasih tau??
*mak comblang mode on*
melihat punggungnya di pelaminan?
lha bukannya pelaminan biasanya di ujung ruangan dan pengantin menghadap pengunjung, gimana ngelihatnya yak? ah bingung... hehe...
tapi emosi ceritanya dapet. bagus, arra.
ada rasa manis2 gmn gt baca tulisan km.tp tetep diksi dan latar harus diperhatikan. feelnya lumayan dapet kok! bikin aku deg2an juga ihik2 ^_^.
oh iya klo cm sekedar punggung, di k.com banyak kok yg punya hahaha.awas jgn pilih yg ketombean ya!
*kabuuurrrr
by
tukang odong2