Paladin itu duduk disisi kudanya. Dengan tangan meraba-raba hawa api unggun, ia tampak agak kedinginan.
Begitulah adanya gurun: ia dapat membakarmu kala siang datang, lalu kembali membekukanmu saat malam menghapus terik mentari.
Masih kuperhatikan mata sang Paladin. Sepasang mata yang indah, anggun dan menawan. Hingga mata itu kembali menyorotku, dan kualihkan mataku sendiri dengan segera. Lalu seakan kutatap langit berbintang, dan mencoba melepaskan kedua lenganku yang diikatnya di balik batu besar berongga.
Read more (1762 words)
“Apa yang kau pikirkan?” ujar sang Paladin.
Tak kuacuhkan. Ku tetap bersikap seolah tak mendengarnya.
“Tak ada gunanya kau mencoba kabur dariku saat ini..., lukamu belum sembuh betul.” Lanjutnya dingin, dan kulihat ia kembali merapikan barang bawaannya dengan sudut mataku.
Tak kukira ia dapat begitu dingin berhadapan denganku. Tak ada rasa takut. Bahkan ia justru mengobati lukaku dengan cara yang –tentu – hanya diketahui para Paladin. Mungkin membacakan semacam doa ataupun mantera, juga dengan obat-obatan alami; tapi itu tetap membuatku heran mengapa ia harus menolongku. Aku yang merupakan pembunuh Kelas II seantero Al-Castran ini.
“Sayang sekali, Razya... aku kemari bukan untuk kepala mu, tapi untuk kepala ku sendiri...” hal itulah yang terakhir dikatakannya sebelum ia menyembuhakanku lalu mengikatku kedua lenganku seperti sekarang ini. Dan itu juga tetaplah suatu yang tidak kumengerti.
Berkali-kali kutanyakan pada diri sendiri apa yang sebenarnya ia inginkan dariku. Jika ia mau, tentu ia telah membelah kepalaku dan menukarnya dengan 500 keping emas sebagaimana harga yang dikatakan Raja Zavier ke seluruh Al-Castran. Tapi ia tidak melakukannya. Ia justru menjadikanku seolah tawanan perang yang tak boleh dilukai. Kusadari, ia pasti memiliki tujuan lain tentang diriku.
Kembali kuperhatikan Paladin yang satu ini. Ia berbeda dari kebanyakan. Ia tidak minum, tidak mabuk seperti para Paladin yang biasa kulihat di Istana Al-Castran. Benda-benda yang dibawa dalam muatan kudanya hanyalah buku-buku tua yang tampak tidak layak lagi, bahkan jika benda itu hanya dipakai sebagai bantal. Benda yang tak mungkin berguna bagi seorang Paladin. Juga senjata yang ia pakai, sebuah Pedang dengan bilah selebar bahu, memang senjata khas para Paladin kelas Istana Kerajaan... tapi biasanya benda seperti itu tidak berukirkan huruf kuno. Kecuali itu adalah artifak dari Piramida.
Ia adalah Paladin yang berbeda..., tentu.
“Apa yang kau lihat?” kembali ia bertanya dingin padaku. Kini seraya beranjak dari tempatnya terduduk, lalu menghampiriku yang terikat beberapa meter dari sana.
“Tidak ada.”
“Belakangan ini aku mudah sekali marah, tolong jangan bangkitkan emosiku.” Lanjutnya singkat.
“Kalau begitu jangan ikat lenganku ini, atau aku akan terus menggerutu dan mengganggu emosimu,” balasku.
Kembali sorot mata itu menyiratkan senyuman yang hambar. Aku membalas pandangannya. Dan dapat kurasakan kekuatan jiwa Paladin yang satu ini dari matanya. Dia suci. Bahkan darah yang tumpah tak menodai jiwanya.
“O, ya!?” hentaknya, “kalau begitu lakukanlah, pedangku juga tengah menunggu darah baru. Toh, kehilangan lengan takkan membuatmu tewas...” dan ia berbalik seraya kembali berjalan ke api unggunnya.
Kucoba mencerna kata-katanya itu, yang lagi-lagi sulit bagi otakku.
“Hei!” seruku akhirnya, “Maksudmu kau akan memotong lenganku kalau aku bicara lagi, ha!? Kalau begitu lakukanlah, dan itu akan buktikan betapa pengecut dirimu!”
Tubuh itu melayang cepat, kembali bergerak ke hadapanku diirigi hentak suara pedang yang membelah batuan di sisi bahuku. Sang Paladin, menunjukkan kecepatan gerakannya lagi, dan kini kulihat ia kembali ke hadapanku dengan sorot mata yang begitu kuat.
“Jangan pernah katakan apa itu pengecut jika kau sendiri tak tahu apa artinya..., pengecut!” hentaknya datar, namun melebur dalam dinginnya malam di gurun ini, suara itu pun merayap ke telingaku dan menjadikannya bagai terror tanpa henti.
Cukup lama, kami hanya saling bertatapan dan menunjukkan keberanian satu sama lain. Dan akhirnya, seakan membaca pikiranku, ia menambahkan, “...dan jangan berpikir bahwa aku takut berhadapan satu lawan satu dengan pria sepertimu, Razya...”
Ia mengayunkan pedangnya dengan cepat dan mustahil terasa, membelah bebatuan disisiku dan turut memotong tali yang melilit lengan ini. Aku terdiam tak percaya sementara ia kembali berbalik ke api unggunnya untuk mengambil sebilah pedang lagi. Pedangku. Lalu ia melayangkan pedang itu, berputar ke arahku yang lalu kutangkap dengan cepat.
“Itu pedangmu,” ujarnya... “sekarang hadapi aku dan akan kubiarkan kau pergi sesuka hatimu,” katanya lantang. Lalu menggerakkan pedangnya sendiri dengan lincah oleh kedua genggam tangannya. Di akhir gerakan, ia menambahkan, “...itupun jika kau bisa membunuhku.”
***
Angin malam berhembus, tertutup oleh kabut kelabu dari pekatnya malam di setiap penjuru kerajaan Al-Castran. Saat ini, aku berada di luar wilayah kerajaan itu, tapi rupanya angin itu tetap menjamahku. Tidurku pun tak tenang lagi seperti beberapa malam sebelumnya. Saat aku masih dapat menikmati empuknya ranjang istana kerajaan. Saat orang-orang masih memanggilku sahabat Pangeran Alfa.
Hingga prahara itu datang,
Al-Castran Castle,
2 Days ago
“Piramida hitam, itulah yang kau inginkan bukan?” ujar pria tua itu dengan suara serak parau, wajahnya tertutup bayang-bayang lorong kastil. Tak dapat kulihat jelas sosok asli dirinya. “Aku dapat mengantarmu ke sana, bocah...”
“Tidak perlu.” Jawabku, “Aku sudah menemukan kehidupanku disini...” kupandang langit malam yang berbintang dari jendela kastil itu, “...ya, kehidupan yang kuinginkan,”
“Tapi takdirmu adalah ke piramida hitam, ingat...”
Aku terkesima, ia tahu tentang takdirku yang telah diramalkan dahulu sekali... kala ayahku masih hidup. Tentang dendam dan kematian ayahku yang harus kubayar, tentang pembunuh yang telah merenggut nyawa ayahku. Tentang seseorang di piramida hitam disana... yang menungguku, untuk segera bertarung dan membalaskan dendam ayahku.
“Ha? ...bagaimana, Razya? Kau ingat?” ujarnya lagi, masih dengan suara yang serak parau.
Aku terdiam. Terpaku pada bintang-bintang, kuharap menemukan bayangan ayahku disana. Kuharap ia tenang setelah kematiannya. Ya, kematian yang membuatku berjalan seorang diri di gurun pasir untuk memenuhi takdirku sebagai ‘si pembalas dendam’. Dan itulah yang membuatku berada di istana Al-Castran ini, sebagai sahabat pangeran Alfa. Dan kematian itu telah kulupakan, sirna bersama dendam itu pula, tak ada lagi pembalasan atas kematian... semuanya telah ku ikhlas kan. Tapi tiba-tiba pria tua ini datang dan mengajkku ke piramida hitam, seakan ia mengerti tentang segala kehidupanku dahulu... tapi tak mengerti apa yang kuinginkan kini.
“TIDAK!” jawabku tegas, setengah berteriak. “Aku akan tetap disini..., mungkin menjadi paladin, mungkin guru ilmu pedang, ataupun prajurit kerajaan... tapi aku akn tetap disini,”
“Dan membiarkan ayahmu menangis di Alam baka? Begitukah?” potongnya.
Aku berpikir sejenak. Dan kuyakin bahwa perkataan terakhirnya ternyata sungguh menggetarkan hatiku..., aku tak tahu harus berbuat apa. Tapi bagaimanapun, aku telah bertekad... Ya, paling tidak, untuk saat ini.
“TIDAK.” Jawabku untuk terakhir kalinya. Lalu aku berbalik dan melangkah menelusuri lorong kastil. Tak ingin kulihat lagi sosok pria tua itu, kubiarkan ia –mungkin –akan berkelana sendirian di tengah kastil, dan –kuharap –para penjaga akan menangkapnya dan menjatuhi hukuman mati.
“Tidak, Razya...?” masih kudengar suaranya yang perlahan menjauh, kali ini setengah tetawa. “Sayangnya, takdir akan tetap berjalan Razya..., kau akan kehilangan kehidupanmu lagi dan pada akhirnya kau akan menuju Piramida Hitam untuk membalas dendam!”
Nafasku mulai menggebu, aku bosan mendengar ocehan parau pria tua itu. Aku pun berbalik kembali. Dan disana, kudapati bahwa pria tua itu telah tiada di tempatnya : lenyap bagai asap. Kupandang seisi lorong yang hanya dicahayai obor di setiap sisi tembok, juga sinar bulan dari beberapa jendela kosong persegi, tapi tak ada apapun yang kudapat. Sama sekali tak ada tanda bagaimana cara pria tua itu menghilang dari lorong. Terus kupandangi segala keanehan itu.
Hingga langkah berderap di ujung lorong, bersama segumpal cahaya remang-remang dari lampu pijar yang menyala-nyala. Tampaklah sesosok pemuda tampan, dengan jubah perak dan rambut panjang yang agak ikal berwarna gelap. Memegang pangkal sebilah pedang di lengan kirinya –yang masih terbalut sarung pedang- ia berjalan dengan tenang dan kokoh. Dialah pangeran Alfa, yang juga seorang Paladin terkuat kerajaan.
Aku berusaha mengelak karena tengah tak ingin berdebat dengannya, tapi ia menyorot mataku lebih dulu, membuatku merasa enggan bergerak. Akhirnya ku putuskan untuk diam di tempat. Dan –mungkin –aku akan ceritakan semuanya. Tentang pria tuan bersuara parau, tentang masa laluku, dan tentang ramalan takdirku, juga berharap ia akan mengerti semua ini.
Langkahnya berderap semakin dekat, kini ia telh tiba di hadapanku.
“Razya, ...apa yang kau lakukan disini−“
“Ceritanya terlalu panjang,” potongku. “Tak bisa ku ceritakan disini, sebaiknya kita ke−“
Dan kurasakan cipratan darah membasahi wajahku, mengaliri pakaian dan permukaan kulitku. Darah hangat yang segar, masih baru. Tapi bukan darahku, melainkan darah Pangeran Alfa yang –entah kenapa –kini telah berlumuran darah.
Ku berteriak, tapi tak ada yang keluar dengan sempurna dari pita suaraku... aku syok luar biasa. Kutahan tubuh sang pangeran yang mulai merebah tak berdaya, dan kulihat pula sebilah tombak telah menancap serta menembus dada kirinya. Lalu sebilah tombak lagi, terlihat menghujam perutnya. Hanya dia, aku tidak terluka sama sekali... tapi kenapa?
“Sudah kubilang, pada akhirnya... takdir yang akan membawamu, Razya.”
Pria tua itu, dia... tengah berdiri dengan santainya di ujung lorong. Dan memegang sebilah tombak lagi, yang lalu dilemparkannya mengarah pada Pangeran Alfa.
Aku segera bergerak cepat. Kurebahkan tubuh pangeran, dan ku segera melompat serta menangkap tombak yang melayang itu dengan tanganku.
Tapi pria tua itu telah tak berada di tempatnya lagi. Menghilang lagi seperti asap.
Kini, terdengar suara derap langkah puluhan prajurit yang datang dari setiap ujung lorong. Menghunus senjata, serta meraung kala melihatku menggenggam tombak, “APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA PANGERAN!!!”
Ku tertuduh.
***
“Jadi..., bukan kau yang membunuh pangeran!?” tanya sang Paladin. Baru kali ini kami sungguh-sungguh mengobrol, walau dengan senjata terhunus.
“Tentu saja bukan!” raungku, “Ia sahabatku...,” lalu ku bergumam lirih.
“Tapi aku tetap tak peduli, karena tugasku adalah membawamu ke tempat tuanku, apapun yang terjadi sesungguhnya,” lalu ia berbalik dan menyimpan kembali senjatanya.
Kusadari ia mengabaikan aku –yang mungkin saja –akan memenggal kepalanya selagi ia berbalik seperti ini. Aku melaju satu langkah dan mengarahkan senjataku padanya.
“Kalau begitu siapa tuanmu!? Apa yang dia inginkan dariku!?” raungku lagi.
Dia berbalik, dan menatap kedua mataku. Lagi-lagi, tatapan suci yang memancarkan kekuatan jiwanya, yang seakan mematahkan segala kekuatan dan tekadku. Lalu ia berkata dengan mulut dibalik kain penutupnya, “...kau tak perlu tahu, Razya! Dan tanganmu masih terluka, kau takkan bisa menghadapiku!”
“Lagipula, Razya...” lanjutnya, “...kau masih punya beberapa hari karena tempat yang akan kutempuh berjarak cukup jauh,”
Aku terdiam sejenak, memikirkan sejuta kemungkinan yang ada. Lalu –pada akhirnya –kulempar pedangku ke hadapannya dan ku berkata, “Terserah padamu, tapi saat ku telah sembuh total... aku akan lari darimu dan menempuh jalanku sendiri. Ingatlah, saat itu kita akan berhadapan...”
Senyum tipis terpancar dari tatapannya.
“Dan predikatku adalah pembunuh kelas II seantero Al-Castran,” lanjutku. “Kuharap kau bersiap dan takkan melupakan itu!”
“Jangan kuatir.” Katanya. “karena kau tahu, akulah pembunuh kelas I seantero Al-Castran...”
Lalu ia melompat ke kudanya, dan tampaklah seekor kuda lagi berlari menghampiriku. Berharap ia akan kutunggangi. Dalam hati ku berpikir... pembunuh kelas I seantero Al-Castran...
***
To be continued (2 of 5)
lama2 pada balapan, paladin mana yang muncul duluan, yang lain musti minggiiirrrr!!!
Wuh-wuh. Yang saya suka (bahkan iri) adalah gaya penulisan kamu yang pasti menggelitik saya. Benar-benar berasa kita nyemplung ke padang pasir Al-Gastran itu.
(Sintingnya, saya sendiri ga tau harus ngomong apa untuk menjelaskan maksud saya sendiri.)
Cuman, well... apalah karena nama paladin udah keseringan dipake makanya malah dapet figur yang agak hambar.
Keep moving!