Everlasting Arms Episode 2; Chapter1 : Past and Future

13
points
"

Bwahahahahahaha

Maap episode dua baru nongol sekarang.... Sibuk daftar Universitas...

Mohon komentarnya

"

Chapter I: Past and Future

15 Januari 3504. Sektor Leondis

“KEGAGALAN SISTEM… KEGAGALAN SISTEM… SEGERA KELUAR DARI MFU!...”

Suara animasi komputer terus-menerus berulang dalam kokpit kecil MFU-ku. Namun aku tidak perduli dengan peringatan komputer. Aku terus saja mengutak-atik panel kontrol di depan wajahku.

Keringat dingin mulai menjalari wajahku. Armor yang aku kenakan semakin menambah penderitaan yang aku rasakan. Terus saja ku gerakan jemariku. Menari-nari di atas panel kontrol.

“Komputer, alihkan tenaga life support ke roket pendorong.” Kataku dengan suara bergetar.

“NEGATIF. OTORITASI GAGAL.”

Jawaban komputer makin menambah kekesalan-kekesalanku. Dasar komputer bobrok.

Tak ingin menyerah, aku kembali mencoba. Hasilnya, makin mengesalkan.

“BAHAYA! BAHAYA! PENDORONG 2 DAN 3 AKAN MELEDAK. SEGERA KELUAR DARI PESAWAT!”

Peringatan komputer kali ini mau tidak mau membuatku tercengang. “Sial! Kalau seperti ini, mau tidak mau aku harus ejecting. Tapi, ejecting di tempat tidak jelas seperti ini sama saja bunuh diri.” Batinku kesal.

DUAR!!! Sebuah ledakan dan percikan api memaksaku menarik tuas untuk melepaskan kokpit dari mesin MFU. Meski aku sadar kalau tidak ada harapan untuk diselamatkan dalam kondisinya sekarang.

***

15 Januari 3529. Time Force HQ

“Bagaimana persiapannya?” Seorang pemuda melangkah masuk ruang penelitian. Dilihat dari perawakannya, dia berumur sekitar 21 tahun. Di dadanya melekat sebuah tanda pangkat dan lambang armada. Lambang Armada 13. Tangannya menggenggam sebuah diginote1.

“Energi masih belum cukup.” Seorang gadis menjawab sambil terus memainkan panel kontrol di hadapannya.

“Hmmm… Santai saja, kita masih punya banyak waktu.” Pemuda itu berbalik. “Dina!”

Seorang gadis lain dengan tergesa-gesa berlari masuk. Rambutnya hitam panjang dan dia mengenakan seragam mekanik berwarna biru muda. Wajah gadis itu tergolong cantik. Hanya sedikit kotor oleh oli.

“Ada apa Kolonel!?”

“Huh… Bersihkan dulu wajahmu!” Pemuda itu menyodorkan sapu tangan. “Bagaimana dengan perbaikan MAU itu?”

Sambil membersihkan wajahnya, Dina menyerahkan sebuah diginote. “Pengerjaannya baru 25%.”

“Hah…” pemuda itu menghela nafas. “Kenapa lama sekali?”

“Itu karena…”

Perkataan Dina terpotong oleh laporan yang masuk ke diginote-nya. Gambar seorang pemuda yang lebih berantakan dari Dina saat masuk tadi muncul.

“Kolonel… sepertinya perbaikan akan makan waktu lebih lama.”

“Hah? Ada apa lagi?”

“Makhluk bodoh ini baru saja meledakkan setengah dari MAU itu.”

“Apa!!!” Suara pemuda itu naik beberapa oktaf. “Dasar Mekanik bodoh!!!”

“He…he…he… terima kasih atas pujiannya Kolonel.” Seorang pemuda lain muncul di layar dengan wajah berlumuran oli.

Belum sempat pemuda itu memaki-maki, koneksi telah diputuskan dari seberang.

“Kolonel. Itu alasan kenapa perbaikan mengambil waktu lama.” Kata Dina sambil melangkah pergi.

“Hah…” Pemuda itu menghela nafas panjang. “Proyek ini pasti akan memakan waktu lebih lama dari target.”

***

16 Januari 3504

Kucoba untuk membuka mataku. Rasa sakit menjalar dari seluruh sendi tubuhku. Rasanya semua sendi-sendi di tubuhku terlepas dan berserakan begitu saja.

“BAHAYA! BAHAYA! BAHAYA! BAHAYA! PENDORONG 2 DAN 3 AKAN MELEDAK. SEGERA KELUAR DARI PESAWAT!...”

Suara animasi komputer rusak makin menambah kekesalanku. Dengan sekali pukul, kuhancurkan komputer bobrok itu.

Kutarik tuas merah di sampingku. Dengan sisa tenaga, aku merangkak keluar dari reruntuhan kokpit MFU-ku. Meski aku keluar hanya untuk menambah rasa sakit yang sedari tadi mendera.

***

16 Januari 3529. Time Force HQ

Pemuda itu menimang-nimang liontin yang selalu setia menemaninya. Benda paling berharga baginya. Benda pemberian ibunya sebelum meninggal.

Dia menekan kristal bercahaya di tengah-tengah liontin itu. Cahaya kekuningan memancar. Menciptakan sebuah gambar hologram tiga dimensi.

Gambar Ibunya yang cantik dengan seragam Armada 13. Rambutnya yang merah muda, senada dengan matanya yang indah. Tepat di samping gambar ibunya, seorang gadis lain. Gadis berambut biru panjang dan mata biru jernih. Dan berdiri paling depan, seorang pria gagah. Ayahnya.

“Ran, lagi-lagi kamu melamun di tempat ini.” Seorang gadis berwajah hampir mirip dengan orang dalam gambar hologram itu masuk.

“Oh, Rin.” Pemuda yang dipanggil Ran kembali mengalungkan liontin itu dan bangkit dari pembaringan. “Ada apa?”

“Huh, ada apa katamu?” Rin memasang tampang kecut. “Mekanikmu baru saja menghancurkan hasil kerja kerasku selama berbulan-bulan. Hanya dalam lima menit.”

“Ha…ha…ha…” Ran mengusap kepala saudari kembarnya dengan lembut. “Jadi kamu ingin mengadu?”

“Yah, bisa dibilang begitu sih.” Rin tersenyum manis. “Memangnya, kenapa sih mekanik bodoh itu masih di sini? Aku gak suka dia. Orang brengsek gak simetris sok tahu” Rin kembali cemberut begitu membayangkan musuhnya sedang tersenyum usil.

“Memangnya kenapa kalau aku gak simetris.”

Rin berbalik begitu mendengar suara paling dibencinya. Suara yang dilontarkan dengan nada menyebalkan dan usil.

“Mau apa kamu di sini!!?” Rin membentuk marah.

“Wakakakakak… Tentu saja nyari kamu.” Pemuda itu melemparkan sebuah diginote.

Dengan heran Rin menangkap diginote itu dan membaca data di dalamnya. Agak kaget, Rin menatap pemuda itu dalam-dalam. Sekali lagi Rin membaca data diginote itu.

“Rudy, ini kan…”

“Yup. Seperti yang kamu duga. Itu data hasil penelitianmu.”

“Tapi, aku pikir…”Perkataan Rin terputus saat sebuah tulisan berwarna merah muncul. Rin membaca tulisan itu lalu terdiam lama. Wajahnya memerah menahan marah.

“Oh iya. Aku lupa bilang. Aku baru saja menaruh virus terbaruku dalam diginote itu. Kalau virus itu aktif, datanya bakal hilang semua.”

Pada saat yang sama, diginote di tangan Rin mengeluarkan asap tipis. Melihat itu, Rudy langsung berlari keluar.

“Rudy!!!” Rin mengeluarkan sebuah Shockgun lalu berlari mengejar. “Akan kubunuh kau!!!”

Dari kejauhan, terdengar tawa usil Rudy penuh kemenangan.

***

17 Januari 3504

Sinar mentari menyapa wajahku. Hangat. Tunggu dulu, bagaimana bisa?

Kucoba bangkit. Rasa sakit menjalar dari kakiku. Tapi aku tak perduli. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Ini… Ini tidak mungkin.

Di hadapanku menghampar rerumputan hijau. Bunga-bunga beraneka warna bermekaran. Bunga alami. Berbeda dengan bunga yang ada di taman Orbital Station Seven.

Angin membelai wajahku dengan lembut. Aku menoleh. Tepat disampingku mengalir sungai kecil. Tapi… bagaimana bisa.

Ku coba merangkai ingatanku dua hari terakhir. Kepalaku berfikir keras. Bukankah aku terdampar setelah ejecting. Memang, emergency warp dirancang untuk mencari tempat dengan tanda kehidupan terdekat. Tapi… Tetap saja aneh. Setahuku, tidak ada planet yang dihuni dalam sektor ini.

Aku bangkit perlahan. Kukeluarkan survival kit2 yang sempat aku ambil dari MFU. Paling tidak, aku harus mengisi perut. Kukeluarkan sebuah tablet makanan dan langsung kutelan. Tidak enak memang. Tapi bisa membuatku kenyang untuk 24 jam ke depan.

Angin kembali memainkan wajahku. Pikiranku kembali fokus pada masalah utama. Di mana ini?

***

Your rating: None Average: 4.3 (3 votes)
dikirim addang13 15 minggu 4 hari yang lalu
Tag: