Anima/Moonless Orchestra - Kepingan III

Malam tiba. Dengan angkuh kegelapan menyelimuti kota.

Keranjang di skuter Arkhan telah dipenuhi oleh barang belanjaan. Rasanya hari ini ia akan masak kare. Di belakangnya seorang lelaki duduk dengan dua buah kotak kerdus kecil di pangkuannya, ikan kalengan dan mie instant.

"Jadi... kenapa aku harus menemanimu berbelanja?"

"Hmm seseorang terlambat menyampaikan pesan yang dititipkan padanya, dan seingatku orang itu adalah dirimu."

"Kau seharusnya membeli telepon genggam"

"Aku pernah punya, tapi wanita itu mengirim pesan tiap sepuluh menit..."

Arkhan tak ingin mengingat kejadian saat itu, ia lebih tak ingin mengingat isi dari pesan-pesan itu.

"Sebegitu burukkah?"

Jalanan tampak jauh lebih lengang. Lampu skuter Arkhan yang tak begitu terang sedikit banyak membantunya, bukan untuk melihat kondisi jalan yang gelap tapi setidaknya kendaraan dari arah berlawanan akan menyadari keberadan skuter itu.

Rarisa mungkin sudah tergeletak tak berdaya di ruang tamu, merintih, dan mengeluh. Arkhan menghapus bayang-bayang itu dari kepalanya, sesekali ada baiknya wanita itu kelaparan. Sampai di depan perpustakaan Arkhan menghentikan skuternya, mengabaikan pertanyaan sang teman--"Jaga skuterku !!"-- dia berjalan seorang diri menuju gedung perpustakaan.

Jam enam tiga puluh, biasanya perpustakaan sudah tutup tapi hari ini lampu di bagian administrasi masih menyala. Ia beruntung, setidaknya ia tak perlu menunggu sampai esok pagi untuk mengambil benda itu.

"Permisi..."

Pintu depan tidak di kunci.

"Permisi..."

Tidak ada jawaban. Samar-samar terdengar langkah kaki.

"Per... HUAAAA!!!"

Sesosok bayangan muncul dari ujung lorong. Melihat wajah terkejut Arkhan, bayangan itu pun menjerit, bahkan lebih kencang.

Kembali terdengar langkah kaki. Dari pintu depan sang teman muncul terengah-engah. Lampu lorong menyala, seorang wanita gemuk tergopoh-gopoh menghampiri Loka.

"..."

"..."

"Kau... sejak kapan kau menjadi penjahat kelam..."

Dengan sigap, Arkhan menutup mulut sang kawan.

(...Kau tidak sayang nyawa ya?...)

Jika seseorang sudah berteman cukup lama, kadang tak perlu kata-kata untuk bisa saling berkomunikasi.

(...Hu hu hu dulu kukira karena kau hidup lama dengan Rarisa kau sudah kehilangan minat dengan wanita...)

(...Hmmm Rupanya Nyawamu yang cuma satu-satunya itu sudah tak lagi berarti ya?...)

"Anu, tuan Arkhan..."

Loka mencoba menarik perhatian Arkhan. Namun di saat seperti ini, ketika dua laki-laki mempertaruhkan nyawanya, hal itu biasanya sia-sia saja

(...Nyawaku tak kan semudah itu kuserahkan padamu...)

"Tuan Arkhan..."

(...Hooo jadi kau mau mencobanya?...)

(...Aku siap kapan saja...)

"Tuan Ar..."

"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN DISINI !!!"

***

Malam sudah larut ketika mereka berdua berjalan, sang kawan menuntun skuter listrik Arkhan, mengantarkan Loka kembali ke rumahnya. Tapi setidaknya itu berarti akhirnya mereka berdua bisa bebas dari wanita gemuk itu. Beberapa jam lalu adalah neraka, setelah menceramahi mereka berdua wanita gemuk itu membuat mereka membantu Loka merapikan buku di ruang utama yang entah kenapa bisa berserakan di mana-mana.

"Maaf kalian jadi kerepotan..."

"Tidak masalah, untuk gadis semanis...OWWW"

Sementara sang kawan memegangi perutnya, Arkhan menghela napas panjang, ia hanya berharap saat ini Rarisa masih hidup. Mungkin terlalu berlebihan, tapi untuk wanita rakus itu hal tersebut mungkin saja terjadi.

"Maafkan aku..."

"Eh... ah... tidak masalah, kami yang salah datang malam-malam ke perpustakaan."

Ini buruk. Selain dengan Rarisa, Arkhan tak pernah merasa nyaman berdekatan dengan seorang wanita, bukan karena ia tak tertarik--menurutnya Loka adalah gadis yang sangat manis, hanya saja menurutnya tidak pada tempatnya seorang wanita berakrab-akrab dengan seorang pria yang bukan keluarganya. Untuk kasus Anima, jangankan unsur 'feminim' gadis itu bahkan kekurangan faktor 'kemanusiaan'.

"Namaku Johan, aku dan Arkhan kuliah di universitas yang sama."

Benar-benar orang yang menyebalkan, tapi setidaknya Arkhan tak perlu repot-repot mencari bahan pembicaraan atau berbicara panjang lebar dengan Loka. Loka sendiri, tampaknya juga setengah hati menanggapi ocehan Johan.

Tempat tinggal Loka ternyata tak begitu jauh dari tempat tinggal Johan--kira-kira beberapa blok sebelum rumah Arkhan. Namun sementara Johan nyaris melompat kegirangan, Loka menghela napas panjang dengan senyuman yang dipaksakan.

"Uh terima kasih sudah mengantarkanku pulang, jika kalian tidak datang mungkin aku akan menginap di perpustakaan."

"Lalu bagaimana dengan si Nenek ?"

"Maksudmu Ibu Anna? beliau mengatakan masih ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan. Banyak buku baru tiba hari ini, sebenarnya hal itu bisa dikerjakan sedikit demi sedikit tapi begitulah beliau. Mungkin beliau akan menginap di sana."

Sekilas ada sedikit penyesalan di wajah Loka, mungkin ia tak tega meninggalkan wanita tua itu seorang diri.

"Tapi bagaimanapun juga terima kasih telah mengantarkanku."

Entah mengapa Arkhan merasa kalimat itu ditujukan lebih kepadanya seorang.

"Baiklah kami juga harus kembali."

Arkhan dan Johan mengucapkan salam dan setelah Loka menutup pintu depan rumahnya, mereka berdua kembali menaiki skuter dan melanjutkan perjalanan.

***

Lampu teras sudah menyala ketika Arkhan tiba di rumahnya. Syukurlah, kelihatannya Rarisa masih hidup.

"Selamat Datang."

"Kau tidak pergi malam ini?"

"Um aku baru saja kembali."

"Tunggu aku di dalam, aku akan segera menyiapkan makan malam."

Tidak seperti biasanya, Anima tampak sedikit tertekan hari ini. Sesuatu mungkin telah terjadi.

Di ruang tamu, Rarisa tertidur diantara beberapa bungkus kosong roti yang berserakan. Apakah ia membeli roti-roti itu ? Sepertinya tidak, wanita itu mungkin lebih memilih mati kelaparan daripada harus melangkahkan kaki keluar rumah seorang diri.

"Anima, kemarilah! Makan siang sudah siap."

"Uwawaa, tunggu aku !!!" setengah terisak Rarisa berlari menuju ruang makan.

Setelah makan malam, Anima kembali duduk di pagar beranda kamar Arkhan.

"Kau mau teh ? Udara cukup dingin malam ini."

"Umm"

Beberapa saat lamanya mereka berdua hanya diam. Sementara Anima memandangi kota dengan tatapan kosong Arkhan mengarahkan pandangannya ke angkasa. Di langit bulan sabit bersinar temaram, mungkin besok ia akan menghilang.

"Uhh apa kau yang membelikan roti untuk Rarisa?"

Anima menganggukkan kepalanya.

"Aku tak tahu kau punya uang."

"Aku punya."

"Katakan, tentang world eater yang kau sebutkan kemarin, makhluk apakah itu?"

Anima tampak tak berminat menjawabnya, ia kembali menyeruput teh hangat yang disediakan oleh Arkhan.

"Kau bertemu dengannya hari ini?"

Wajah Anima berubah tegang, namun hanya untuk sesaat, ia menganggukkan kepalanya.

"Selamat malam... err pintunya tak kukunci, kalau-kalau udara semakin dingin."

"Berhati-hatilah..."

"Eh?"

"Makhluk itu sekarang berdiam di perpustakaan."

Read previous post:  
16
points
(1158 words) posted by 145 11 years 10 weeks ago
53.3333
Tags: Cerita | lain - lain | 145 | anima
Read next post:  
Be the first person to continue this post

rarisa (maaf) lemah mental ya?

80

145, terus terang aku bingung dengan dialognya. Berbaris-baris dialog tanpa keterangan siapa yang ngomong udah jelas bikin bingung, dan kebingungan itu berimbas ke keseluruhan cerita. Yeah, okay… mungkin ini gaya yang sengaja dipasang di cerita ini, tapi tetap saja… kasihanilah pembaca sedikit. Hehe…

80

Overall, ide ceritanya bagus banget dan pendeskripsiannya cukup menarik, ya walaupun ada sedikit pendeskripsian yang masih kurang bisa dimengerti (Atau saya masih belum punya daya imaginasi yang mumpuni kali yah, hehe?..)

Btw, soal tanda kurung pada dialog, maksudnya itu suara menggema yah??..

80

Kupikir ada sebagian koma yang lebih baik jadi titik. Kupikir di sebagian kalimat juga masih perlu ditambahkan koma.

Jadi, wanita gemuk itu satpam ya? Kurasa bagian situ masih perlu sedikit diperjelas karena masih ada kesan tak wajar.

Selebihnya, kurasa secara keseluruhan bab yang ini masih perlu editan ulang untuk memenuhi potensi optimalnya. Terutama menyangkut hubungan Arkhan dengan orang-orang di sekelilingnya.

Tapi aku suka kok.

90

Karena aku langsung baca kepingan III jadi agak sedikit bingung mengenal tokoh dalam cerita Arkhan, Rarisa dan Johan.

Menurut hematku, ceritamu cukup apik dengan gaya bercerita seperti ini. Aku suka aja, mengundang penasaran...