Aku Ingin Melihat Minnesota

Matahari telah tinggi di langit. Udara terasa panas dan lembab. Langit yang bersih dan rumput-rumput hijau serta bunga-bunga berbagai warna yang bertebaran di sana-sini menandakan musim panas telah kembali di Minnesota setelah musim dingin yang dinginnya sudah tidak lucu lagi.

Di halaman belakang kampus, James sedang duduk di bawah pohon yang rindang, menghindari sinar matahari yang terasa membakar. Sesekali ia menguap dan melihat jam tangannya. Tetapi, selama ia duduk di bawah pohon itu, pandangannya selalu tertuju kepada satu orang : Lia.

Lia sedang duduk di meja di dekatnya dengan sebuah buku. Raut wajahnya yang serius tidak mengurangi kecantikan wajahnya. Sebaliknya, menurut James, kecantikan wajahnya bertambah. Dengan rambut lembut yang panjang dan proporsi tubuh yang ideal, ia dapat merebut perhatian pria manapun.

James melihat jam tangannya sekali lagi. Sudah satu jam ia duduk di tempat itu. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah Lia.

“Bagaimana tugasnya?” tanya James kepada Lia.

“Maaf?” tanya Lia. Halaman belakang saat itu sedikit ramai dan berisik oleh orang-orang yang antusias menyambut musim panas dengan berteriak-teriak dan bermain bola.

“Bagaimana tugasnya?” ulang James. Namun, alis Lia yang terangkat menunjukkan raut wajahnya yang bingung siapa pria tampan yang ada di depannya itu.

“Oh, aku James,” kata James. “Kamu Lia bukan? Mahasiswa pertukaran pelajar itu? Aku sekelas denganmu. Kalkulus? Jam delapan pagi?”

“Oh, benar,” kata Lia. “Mengapa aku jarang melihatmu di kelas?”

“Aku bosan. Aku sudah mengerti semua bahan yang diajarkan oleh dosen. Jadi lebih baik aku bolos saja. Bagaimana tugasnya?” tanya James lagi.

“Tugas ini sangat sulit. Kalau kamu sudah mengerti, bagaimana kalau kamu ajari aku?” pinta Lia.

“Baik.”

**********

Biasanya, hari Minggu bagi James tidaklah membosankan seperti hari itu. Teman-teman wanitanya semua menolak diajaknya jalan dengan berbagai alasan. Padahal, James selalu dapat dengan mudah berduaan dengan wanita manapun di hari Minggu.

Pikirannya teralih ke buku teks kalkulus di depannya dan ia teringat akan Lia. Mungkin Lia mau kuajak pergi, pikirnya. Lagipula, perempuan itu cukup cantik baginya. Dan ia pun menelepon Lia.

“Lia, bolehkah aku datang ke rumahmu?” tanya James di telepon.

“Hari ini?” kata Lia terkejut. “Maaf. Hari ini aku harus mengikuti acara kebaktian.”

“Bagaimana kalau nanti malam? Kamu akan kutraktir makan. Aku jamin kamu pasti belum pernah mencoba restoran yang kupilih.”

“Baiklah. Sampai nanti malam,” kata Lia mengakhiri pembicaraan.

James juga menutup telepon genggamnya. Ia tersenyum. Malam ini harus berhasil, pikirnya.

***********

“Terima kasih sudah mau mengajakku, James. Makanan tadi benar-benar lezat,” kata Lia.

“Kembali,” jawab James. Mereka sedang berada di dalam mobil James dan menuju ke tempat tinggal Lia. “Bagaimana dengan kebaktianmu hari ini?” tanya James.

“Baik. Beruntunglah ada Gereja di dekat tempatku tinggal,” jawab Lia. “Mulai sekarang aku harus rajin pergi ke Gereja kembali.”

Keduanya terus mengobrol hingga mereka sampai di depan gedung apartemen Lia. James memarkir mobilnya dan mematikan mesin mobil. Namun, mereka tidak juga keluar. James menoleh ke arah Lia.

“Lia, sudahkah kuberitahu? Anting dan kalungmu bagus sekali,” kata James.

“Oh betulkah? Terima kasih,” balas Lia.

“Kamu terlihat cantik malam ini,” lanjut James. Lia tampak tersipu malu. Dalam cahaya remang-remang itu, wajahnya terlihat semakin cantik. Keduanya terdiam sebentar.

Tiba-tiba, tangan kiri James menyentuh wajah Lia. Tangan kanannya membelai rambut Lia yang lembut, kemudian turun ke lengannya. Ia dapat merasakan jantungnya dan jantung Lia berdegup kencang.

“James, apa…”

“Sshhh…” kata James menenangkan Lia. Kemudian ia membawa wajah Lia mendekat. Mata mereka saling bertatapan. Kedua wajah mereka saling mendekat… mendekat…

“TIDAK!!!” teriak Lia. Ia mendorong tubuh James. “ Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu sedang bermain-main dengan aku?”

“Lia, maaf… Aku…”

“Tidak,” kata Lia. Ia membuka pintu mobil dan beranjak keluar.

“Lia!” kata James ia meraih tangan Lia dan menariknya kembali ke dalam mobil. Panik, Lia menampar wajah James dengan sekuat tenaga. Pegangan James melonggar dan Lia berhasil melepaskan diri.

“Lia!!!” panggil James. Namun Lia tidak berhenti dan terus berjalan ke dalam gedung apartemennya.

Keesokan harinya, James datang sebelum kuliah dimulai, di luar dari kebiasaannya yang selalu datang terlambat. Ia merasa kesal. Belum pernah ada perempuan yang menolak ia cium. Belasan perempuan bahkan telah berbuat lebih jauh dan tidur bersamanya. Namun perempuan yang satu ini benar-benar kurang ajar. Tamparannya masih terasa sakit di pipinya. Perempuan ini harus diberi pelajaran, pikirnya.

Lia tidak juga datang. Padahal James tahu bahwa Lia selalu datang lebih awal untuk berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Lima menit setelah kelas dimulai, Lia tampak di ujung lorong, berjalan cepat-cepat.

“Lia…” James memulai. Namun, Lia tidak mengindahkan James dan terus saja berjalan masuk ke dalam ruang kelas. James terpaksa mengikutinya ke dalam kelas. Sayangnya, di ruang kuliah yang besar itu, Lia sengaja mengambil tempat duduk di antara dua orang lainnya daripada tempat lain yang lebih kosong sehingga James terpaksa mengambil tempat di belakang ruangan yang cenderung lebih kosong.

Setelah kelas selesai, James segera lari ke pintu untuk mencegat Lia.

“Lia…” kata James.

“Tidak, James,” kata Lia.

“Tapi…”

“James, kamu baik dan tampan. Tetapi itu semua tidak cukup,” kata Lia.

“Apa maksudmu?” tanya James.

“Baik. Kalau kamu serius, kamu harus membawaku melihat-lihat lebih banyak hal-hal menarik di Minnesota ini terlebih dahulu. Baru nanti kuizinkan,” kata Lia.

“Hal-hal baru?”, ulang James. “Banyak sekali maumu. Baiklah. Bersiap-siaplah mulai besok.” Kemudian James berbalik pergi. Jika Lia memintanya berkeliling Minnesota dan menyenangkannya, ia adalah ahlinya.

********

Ia adalah ahlinya? James tidak yakin lagi bahwa ia adalah ahli menyenangkan perempuan. Setidaknya, tidak untuk Lia. Hari Senin setelah kelas Lia selesai, ia mengajaknya ke tepi sungai Mississippi. Dari cerita Lia, ia tidak yakin Lia dapat melihat pemandangan matahari terbenam di tepi pantai yang begitu indah.

Sayangnya, di tempat andalan para pria itu, rayuan-rayuan James tidak mempan terhadap Lia. “Apa bagusnya? Tempat seperti ini bisa saya lihat di gambar-gambar di internet,” katanya.

Hari Selasa malam, gemerlapnya daerah Uptown yang penuh dengan bar-bar dan tempat makan pinggir jalan juga ditolak mentah-mentah oleh Lia. “Aku tidak suka orang mabuk. Apalagi banyak perokok di sini. Bau!” umpatnya.

Hari Rabu dan Kamis ia menolak pergi karena ada tugas kuliah. Hari Jumat ia tertidur ketika sedang menonton pertunjukan drama terkenal oleh grup Shakespeare and Company. Akhirnya, hari Sabtu dan Minggu ia menolak pergi lagi.

“Jadi sebenarnya apa yang kamu suka?” tanya James kehabisan kesabaran pada hari Senin setelahnya.

“Kamu tidak memperlihatkanku sesuatu yang spesial. Sungai dan pusat makanan dan bar adalah sesuatu yang biasa. Aku juga dapat menonton drama di mana saja, kapan saja,” kata Lia. “Aku ingin melihat Minnesota, James. Minnesota yang sebenarnya.”

Seketika itu juga, James sadar. Tentu saja Lia tidak menyukai matahari terbenam di tepi sungai karena matahari terbenam dapat dilihat setiap hari. Tentu saja Lia tidak menyukai daerah bar dan tempat makanan karena ia tidak suka minum-minum dan perempuan harus menjaga pola makannya. Tentu saja ia tidak menyukai drama karena… Yah, sudah dapat ditebak. Yang ia inginkan adalah sesuatu yang hanya terdapat di Minnesota seperti yang Windry inginkan.

“Baiklah. Besok aku akan membawamu ke tempat yang sama sekali berbeda,” kata James. “Bersiap-siaplah.”

Keesokan harinya, James memaksa Lia untuk membolos dari kuliah untuk pergi ke tempat spesial yang dijanjikannya. Mereka akan pergi memancing di danau White Bear, atau danau Beruang Putih.

“Kau yakin tidak apa-apa?” kata Lia.

“Tentu saja. Katamu kau belum pernah memancing di… Di mana negara asalmu? Malaysia?” tanya James.

“Indonesia…”

“Ya, India, apapun itu. Pokoknya, kamu harus mencobanya musim panas ini. Ini adalah kegiatan outdoor yang paling populer di Minnesota,” kata James.

“Tapi kita kan ada kelas sebentar lagi,” kata Lia masih kurang yakin.

“Aku tidak peduli. Lagipula kita hanya akan mengulang pelajaran kemarin,” kata James lagi.

James berjalan ke atas dermaga di tepi danau menuju sebuah perahu motor. “Perahumu?” tanya Lia.

“Bukan.”

“Kita akan mencuri perahu?”

“Bukan mencuri. Hanya meminjam saja kok,” lanjut James enteng.

“Tapi itu adalah dosa…”

“Sudahlah. Pemilik perahu ini tidak akan tahu. Ini hari Selasa. Mereka pasti sedang bekerja. Lagipula mereka juga tidak pernah memakai perahu ini. Orang-orang membeli perahu hanya karena potongan harganya terlihat menggiurkan. Mereka bahkan tidak memikirkan terlebih dahulu di mana mereka akan menaruhnya, atau apakah mereka bahkan akan memakainya. Tetapi, mereka tetap saja membelinya,” jelas James.

“Tapi kita tidak punya kunci mesin…” Namun, sebelum Lia selesai bicara, james mengeluarkan pisau lipatnya dan membuka kotak mesin di bawah setir.

“Hei, bukan kebetulan nilaiku selalu A di kelas mekanika mesin,” kata James. Tak lama, mesin perahu motor tersebut berhasil dinyalakan dan mereka segera berangkat ke tengah danau.

Belum dua puluh menit mereka memancing, Lia sudah gelisah. Umpan pancingnya berulangkali ditarik dan dilemparkan kembali. Ia berulang kali menjulurkan kepalanya ke atas air untuk memastikan keberadaan ikan-ikan. Bersamaan dengan itu semua, Telinga James penuh dengan “Mengapa ikannya tidak tertangkap juga James?”, atau “Kau yakin di danau ini ada ikan?” dan “Bosan, bosan, bosaaaan!!!!”

“Lia, jangan terlalu banyak bergerak dan bicara. Nanti ikan-ikannya pada takut semua,” kata James mencoba menenangkannya.

“Tetapi aku bosan. Danau ini tidak lebih menarik dari tempat-tempat lain yang kamu perlihatkan,” kata Lia.

“Baiklah. Kalau begitu, bagaimana kuceritakan sebuah cerita? Cerita ini yang akan membuat kunjungan ke danau ini menjadi berbeda dari kunjungan-kunjungan lainnya,” kata James menawarkan.

“Hmm… Boleh saja. Cerita apa?”

“Ehem, ehem,” James bersiap-siap. “Aku akan menceritakan kisah mengapa danau ini disebut danau Beruang Putih. Pada zaman dahulu, daerah ini dikuasai oleh suku-suku Indian. Alkisah terdapat seorang prajurit Indian yang jatuh cinta kepada putri kepala sukunya. Wanita itu pun juga menyukainya.”

“Sayangnya…” kata James berhenti sejenak.

“Sayangnya kenapa?” tanya Lia.

“Sayangnya ada ikan yang baru saja memakan umpanmu barusan. Jadi lebih baik kau tarik dahulu pancingmu, baru kulanjutkan ceritanya,” kata James tersenyum lebar.

Setelah lima menit berusaha menarik ikan yang berat ke atas perahu, yang kemudian jatuh kembali ke dalam air karena Lia yang merasa jijik dengan licinnya kulit ikan tersebut, dan sepasang sandal melayang ke arah muka James yang tertawa terbahak-bahak, James melanjutkan ceritanya.

“Sayangnya, sang kepala suku tidak memperbolehkan prajurit tersebut meminang putrinya dengan alasan prajurit itu belum membuktikan keberaniannya sehingga tidak pantas meminang putrinya. Namun, keduanya telah terlanjur jatuh cinta.”

“Setiap malam, mereka bertemu di pulau di tengah danau ini tanpa diketahui anggota-anggota suku mereka. Hingga pada suatu malam di musim dingin, datanglah seekor beruang putih besar yang sedang mencari makanan. Sang putri terkejut melihat beruang tersebut dan terjatuh dari dahan pohon tempat ia dan kekasihnya sedang duduk bermesraan, tepat di atas beruang itu. Teriakannya memecah keheningan malam dan memanggil anggota suku lainnya ke pulau tersebut.”

“Sang prajurit dengan segera melompat ke arah beruang putih tersebut untuk mencoba melepaskan pujaan hatinya. Namun, beruang itu terlalu besar dan dengan satu pukulan, ia terjerembab ke tanah. Ia melihat pisaunya di kaki pohon di sampingnya, mengambilnya, dan berlari kembali ke arah sang beruang.”

“Dengan sigap, ia berhasil menancapkan pisau tersebut ke perut beruang. Di depan anggota suku yang telah berdatangan, beruang itu roboh dan sang putri terselamatkan. Keesokan harinya, sang kepala suku menikahkan mereka berdua. Dan sejak saat itu, para Indian menyebut danau ini danau Beruang Putih untuk mengenang tantangan yang telah dihadapi sang prajurit dengan berani”

“Kedua kekasih itu pada akhirnya hidup bahagia,” kata James menyelesaikan ceritanya.

“Wah, bagus sekali ceritanya,” kata Lia.
“Ya. Aku juga terkagum-kagum ketika menemukan cerita ini,” kata James. Kemudian, keduanya kembali terdiam lagi. Tampaknya Lia puas dengan kunjungan ke danau yang memiliki legendanya tersendiri ini.

“Lia,” kata James memecah keheningan,”menurutmu, kira-kira apa yang prajurit dan putri kepala suku itu lakukan setiap kali mereka bertemu di malam hari?” Ia menatap penuh ke wajah Lia. Begitupun Lia, pandangannya bertemu dengan tatapan James. Mereka berdua masih terdiam. Tiba-tiba, James mengangkat tangan kanannya dan meraih pipi Lia. Kali ini tidak ada tanda penolakan. Wajah mereka berdua semakin dekat dan…

“Memancing?” kata Lia.

“Apa?” James yang terkejut memundurkan kembali wajahnya.

“Memancing. Mungkin mereka berdua memancing setiap malam? Suku Indian hidup dari berburu dan memancing bukan?” kata Lia.

Hening. Yang terdengar hanya suara deburan ombak dan kicau burung di langit.

“Hahahaahahahah!!!!” James tertawa terbahak-bahak. “kamu memang lucu, Lia. Itulah mengapa aku menyukaimu.” Kemudian ia meraih wajah Lia lagi dan mendorongnya ke dasar perahu.

“James! Jangan!” cegah Lia.

“Jangan? Kenapa jangan?” kata James mulai naik darah. “Aku sudah membawamu ke tujuan-tujuan menarik di Minnesota. Dan kamu juga suka dengan danau ini. Katamu aku boleh menciummu jika aku telah mengajakmu ke tempat yang menarik.”

“Menciummu? Kupikir kau hanya ingin melihat anting yang malam itu kupakai,” kata Lia dengan wajah terkejut.

Keduanya kembali terdiam. Namun, James malah semakin naik darah. Melihat antingnya? Perempuan ini bercanda!! Untuk apa aku ingin melihat antingnya??? Pikir James.

Tepat ketika ia membuka mulutnya untuk meneriakkan pikirannya itu, Lia terkikik. Tangannya menutupi mulutnya dan badannya bergetar-getar menahan tawa. Pada akhirnya, ia tertawa lepas dan keras.

“Coba kau lihat wajahmu tadi. Benar-benar wajah terkejut yang orisinalitas!” kata Lia. Dan ia tertawa beberapa lama lagi. “Aku hanya bercanda James,” kata Lia setelah ia menenangkan dirinya.

“Kemarilah,” kata Lia. Dan mereka berdua saling berpelukan, berciuman, dan bermesraan di dalam kapal motor itu di tengah danau yang sepi.

WeHa
Juni 29, 2008
00:21

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Arra
Arra at Aku Ingin Melihat Minnesota (6 years 16 weeks ago)
80

ok... cerita ini khas orang luar memang... tapi benar komen sebelumnya heheh.. kurang eksplor konlflik dan alurnya jadi gampang ditebak.

Writer Tedjo
Tedjo at Aku Ingin Melihat Minnesota (6 years 16 weeks ago)
80

well, tepuk tangan dulu buat weha :), waktu singkat bisa juga menjadikan theme seperti ini menjadi bangunan cerita, saya kira musakan dari teman teman yang lain sudah cukup banyak..dan sepertinya memang begitu..(apa ini maksudnya? heheh)...

okey memang saya pribadi sih berpendapat bangunan cerita udah komplete, hanya itu cobalah lebih variatif dalam penggunaan kata, deskripsi setting, dan kuatkan karakter lagi..kasih ajah sesuatu yang unik..yang inherent hanya pada lia misalnya..sehingga ia bisa jadi begitu..karena biasanya tokoh tokoh seperti itu yang enak di baca...

ya tapi cerita ini..happy ending..and I love it..meski rada klise..*halah protes lagi...

okelah, selamat weha

gruß

Writer Villam
Villam at Aku Ingin Melihat Minnesota (6 years 16 weeks ago)
80

Wehahaha, hmm… terus terang aku agak terkejut dengan temanya. ‘Mengajak tidur ’? dan akhirnya ‘berhasil’? Duh… Oke deh… mungkin ini ciri lokalitas dalam ceritamu ini (terus terang aku lebih nyaman dengan ‘lokalitas’ di ceritamu yang lain tentang kehidupan imigran pengeruk salju itu. Aku lebih suka pesannya).

Mungkin, bisa saja sih cerita ini menjadi lebih lembut dan nyaman, jika saja proses ‘merayu’nya tidak terlalu gampang dan polos. Masukkan ‘cinta’ dalam cerita. Tapi, yeah… mungkin memang bukan itu tema yang penting di sini. Atau… come on… kamu bisa membuat james menjadi playboy yang lebih canggih daripada ini. Hehehe…

Dua hal lainnya saja yang ingin kukomentari. Pertama soal sudut pandang, ada baiknya konsisten di sudut pandang James. Di beberapa tempat kamu banyak terpeleset masuk ke sudut pandang Lia, seperti saat dia bercerita tentang windry (lha? Kok kamu sendiri malah jadi keluar jalur dan melukai keseriusan ceritamu?). Kalau sudut pandang tetap di James, cerita bisa terasa lebih jujur.

Yang kedua, soal karakter Lia. Terus terang, ‘perubahan’nya mengejutkan. Ah, enggak kayaknya, Itu bukan perubahan, aku merasa kamu memang sengaja menyembunyikan itu dari pembaca. Padahal kamu sempat masuk ke sudut pandang Lia… lalu kenapa disembunyikan?

Writer fortherose
fortherose at Aku Ingin Melihat Minnesota (6 years 16 weeks ago)
60

... ada Windry nyelip di tengah-tengah cerita^^

saya sependapat dengan seluruh pendapat noir :). Pun kisah ini tidak akan mengalami perubahan apabila setting Minnesota diganti.

Saya tahu kisahnya bukan terjadi di Indonesia, tapi tetap saja dialogmu masih terasa kaku.

Dan kenapa dimulai dengan 'matahari'? :p

Writer noir
noir at Aku Ingin Melihat Minnesota (6 years 16 weeks ago)
60

OOT:
Hahahaha...Windry kebawa-bawa nih dalam cerita :p Hati-hati dalam editingnya, Bung William ^^

First of all, salut kepada penulis yang berhasil menyelesaikan tantangan dengan waktu terbatas dan tema yang ditentukan. Keep writing!

Tantangan(Saya ikut nimbrung tantangan ini ah):

1. Kesesuaian dengan tema tantangan.
Saya tidak melihat konflik pertentangan antara si tokoh perempuan yang menolak berhubungan seks. Taat beragama di sini hanya digambarkan dalam kebaktian di gereja, tapi tidak pada perilaku dan sikap. Penolakannya pun terkesan tidak beralasan, karena pada akhirnya si tokoh mendapatkan apa yang diinginkannya dengan klise. Di sini penulis masih 'tell', belum 'show'.

2. Lokalitas. Setting menjadi lokalitas utama di sini. Tapi berhenti sampai di situ saja. Tidak terlihat kekhasan Minnesota di sini, yang terbaurkan dalam cerita.

3. Humor. Cukup lucu dan konyol, cuma masih dalam standar biasa. Walaupun saya suka dengan joke Lia di akhir cerita^^

4. Alur. Penulis kurang berani mempermainkan alur. Awal cerita yang terkesan lambat, dibawa dengan terburu-buru pada pertengahan, dan ditutup dengan ending klise. Coba diberi penekanan lagi pada emosi si tokoh, bukan pemaparan semata.

Jika saja ini bukan cerpen tantangan, pasti saya akan menilai tinggi. Hana saja berhubung ini tantangan, jadi harus saya sesuaikan lagi dengan tantangan yang diminta.

Yang lainnya saya serahkan kepada penantang asli saja hehehehe...

Writer cassle
cassle at Aku Ingin Melihat Minnesota (6 years 17 weeks ago)
80

*lho.. kok ada 'Windry' di ceritanya, sampe kaget.. ha ha ha...

*salah satu saat terlihat 'lokalitas' yang menurutku paling baik adalah saat James mengenalkan diri. Terlihat gaya bahasa yang tidak biasa.

*good luck yaa!!

Writer deft_4
deft_4 at Aku Ingin Melihat Minnesota (6 years 17 weeks ago)
70

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Aku Ingin Melihat Minnesota (6 years 17 weeks ago)
90

Cerita ini lumayan asyik untuk dinikmati. Namun barangkali ada bagian yang terasa begitu panjang (di tengah cerita), walaupun demikian penulis mampu membawa pembaca untuk menuntaskan cerita, justru inti dari cerita ada di bagian akhir.

Toh, akhirnya Lia mau juga bermesraan dengan James, walaupun Lia sempat menampar pipi James.

Cerita yang asyik.