Pengumuman seputar migrasi kemudian.com klik pengumuman. Bagi yang ingin melanjutkan chatting, silahkan klik chatting
Matahari telah tinggi di langit. Udara terasa panas dan lembab. Langit yang bersih dan rumput-rumput hijau serta bunga-bunga berbagai warna yang bertebaran di sana-sini menandakan musim panas telah kembali di Minnesota setelah musim dingin yang dinginnya sudah tidak lucu lagi.
Di halaman belakang kampus, James sedang duduk di bawah pohon yang rindang, menghindari sinar matahari yang terasa membakar. Sesekali ia menguap dan melihat jam tangannya. Tetapi, selama ia duduk di bawah pohon itu, pandangannya selalu tertuju kepada satu orang : Lia.
Cerita ini lumayan asyik untuk dinikmati. Namun barangkali ada bagian yang terasa begitu panjang (di tengah cerita), walaupun demikian penulis mampu membawa pembaca untuk menuntaskan cerita, justru inti dari cerita ada di bagian akhir.
Toh, akhirnya Lia mau juga bermesraan dengan James, walaupun Lia sempat menampar pipi James.
OOT:
Hahahaha...Windry kebawa-bawa nih dalam cerita Hati-hati dalam editingnya, Bung William ^^
First of all, salut kepada penulis yang berhasil menyelesaikan tantangan dengan waktu terbatas dan tema yang ditentukan. Keep writing!
Tantangan(Saya ikut nimbrung tantangan ini ah):
1. Kesesuaian dengan tema tantangan.
Saya tidak melihat konflik pertentangan antara si tokoh perempuan yang menolak berhubungan seks. Taat beragama di sini hanya digambarkan dalam kebaktian di gereja, tapi tidak pada perilaku dan sikap. Penolakannya pun terkesan tidak beralasan, karena pada akhirnya si tokoh mendapatkan apa yang diinginkannya dengan klise. Di sini penulis masih 'tell', belum 'show'.
2. Lokalitas. Setting menjadi lokalitas utama di sini. Tapi berhenti sampai di situ saja. Tidak terlihat kekhasan Minnesota di sini, yang terbaurkan dalam cerita.
3. Humor. Cukup lucu dan konyol, cuma masih dalam standar biasa. Walaupun saya suka dengan joke Lia di akhir cerita^^
4. Alur. Penulis kurang berani mempermainkan alur. Awal cerita yang terkesan lambat, dibawa dengan terburu-buru pada pertengahan, dan ditutup dengan ending klise. Coba diberi penekanan lagi pada emosi si tokoh, bukan pemaparan semata.
Jika saja ini bukan cerpen tantangan, pasti saya akan menilai tinggi. Hana saja berhubung ini tantangan, jadi harus saya sesuaikan lagi dengan tantangan yang diminta.
Yang lainnya saya serahkan kepada penantang asli saja hehehehe...
Wehahaha, hmm… terus terang aku agak terkejut dengan temanya. ‘Mengajak tidur ’? dan akhirnya ‘berhasil’? Duh… Oke deh… mungkin ini ciri lokalitas dalam ceritamu ini (terus terang aku lebih nyaman dengan ‘lokalitas’ di ceritamu yang lain tentang kehidupan imigran pengeruk salju itu. Aku lebih suka pesannya).
Mungkin, bisa saja sih cerita ini menjadi lebih lembut dan nyaman, jika saja proses ‘merayu’nya tidak terlalu gampang dan polos. Masukkan ‘cinta’ dalam cerita. Tapi, yeah… mungkin memang bukan itu tema yang penting di sini. Atau… come on… kamu bisa membuat james menjadi playboy yang lebih canggih daripada ini. Hehehe…
Dua hal lainnya saja yang ingin kukomentari. Pertama soal sudut pandang, ada baiknya konsisten di sudut pandang James. Di beberapa tempat kamu banyak terpeleset masuk ke sudut pandang Lia, seperti saat dia bercerita tentang windry (lha? Kok kamu sendiri malah jadi keluar jalur dan melukai keseriusan ceritamu?). Kalau sudut pandang tetap di James, cerita bisa terasa lebih jujur.
Yang kedua, soal karakter Lia. Terus terang, ‘perubahan’nya mengejutkan. Ah, enggak kayaknya, Itu bukan perubahan, aku merasa kamu memang sengaja menyembunyikan itu dari pembaca. Padahal kamu sempat masuk ke sudut pandang Lia… lalu kenapa disembunyikan?
well, tepuk tangan dulu buat weha , waktu singkat bisa juga menjadikan theme seperti ini menjadi bangunan cerita, saya kira musakan dari teman teman yang lain sudah cukup banyak..dan sepertinya memang begitu..(apa ini maksudnya? heheh)...
okey memang saya pribadi sih berpendapat bangunan cerita udah komplete, hanya itu cobalah lebih variatif dalam penggunaan kata, deskripsi setting, dan kuatkan karakter lagi..kasih ajah sesuatu yang unik..yang inherent hanya pada lia misalnya..sehingga ia bisa jadi begitu..karena biasanya tokoh tokoh seperti itu yang enak di baca...
ya tapi cerita ini..happy ending..and I love it..meski rada klise..*halah protes lagi...
Wah, miss, kamu benar2 telah tepat sasaran menebak kelemahan saya dalam menulis : show not tell. Tapi kini mata saya telah terbuka (cie elah). Semoga cerita ini cukup 'lokal' untuk anda. Masalah EYD, entahlah. Saya rasa saya akan selamanya bodoh akan masalah EYD. Lebih lagi, mungkin saya belum berani mengeksplor tema lebih jauh atau belum mengerti benar kemauanmu tapi sok tahu. Tetapi, semoga cerita ini menarik dan menghibur.
Oh come all ye
and look what goddess hath come
The earth shook
and choruses sing
as God created her
with the beauty of the world
How should i ... lanjut baca
In my kingdom, beneath the roof
the air rang, clear to the heart
while the infant waited
the coming of July
In the sea, the stormy sea
sailed a ... lanjut baca
Hai teman
Ada apa?
Mengapa kamu menangis?
Di manakah wajah indahmu
yang dulu hijau
lembut di kulitku?
Kulihat dirimu
kian hari kian menguning
... lanjut baca
........
I’ll be there as soon as I can
But I’m busy mending broken
Pieces of the life I had before
Before you
...
Tepuk tangan terdengar. S ... lanjut baca
Kata Kak Anwar
Aku binatang jalang
dari kumpulannya yang terbuang
Namun kini kubertanya
Siapakah engkau
yang sama-sama memiliki
dua telinga sepe ... lanjut baca
ada seekor burung
burung ingin terbang
burung tak punya sayap
apa burung dapat terbang?
burung ingin pergi dari sarang
tapi sarang tinggi sekali
... lanjut baca
hitam
bulat dan kotak
empuk
ke kiri
ke kanan
ke atas
buka
tutup
serambi berteriak
bilik menjerit
cerebrum gedebum
mencari tempat
mengira-i ... lanjut baca
Ada kala
aku ingin memilikimu
Ada masa
engkau aib bagiku
Namun hatiku terus berdetak
tanpa tahu
apa yang ada di pikiranmu
Seperti awan
yang te ... lanjut baca
Seminggu Bertanya
Minggu
Tik… tik…. Tik….
Titik-titik air satu per satu turun dan membasahi bumi dengan anugerah kehidupan. Pepohonan m ... lanjut baca
Krieeet…. Srak… Duk…. “ADUH!”
Keheningan fajar dipecah oleh suara benturan. Koor jangkrik yang mengiringi tidurnya seolah terhenti. Dan p ... lanjut baca
“Aku ingin matiiii!!!” Teriaknya memekakan telinga. Asrama mahasiswa berlantai 4 itu dibuat geger oleh teriakan yang berasal dari atap dek gedung ... lanjut baca
Alamatku pada bundaku yang kucinta lebih dari segala cinta pada manusia manapun …
Bunda …,
Izinkan aku berkata – mengungkapkan cinta. Dan d ... lanjut baca
mati tak cukup ketukkan hati ini
karena hati ini sudah mati
tahun bertambah dalam jalan kehidupan
sementara kehidupan-kehidupan tersebut membusuk ... lanjut baca
aku ingin mencintaimu dengan sempura
seperti goresan tanda tangan sang pelukis mengakhiri karyanya.
aku ingin mencintaimu tiada lelah
seperti mat ... lanjut baca
20 Maret 2007
Sebuah kiriman menghampiriku. Kubuka dan kulihat isinya, sebuah surat dan sebuah kartu undangan …
Kubaca surat itu …
Assa ... lanjut baca
Aku ingin berlari
dengan kedua kakiku yang tak mampu tuk berdiri
Aku ingin melihat
dengan kedua mataku yang tak mampu bedakan siang ataupun pagi
A ... lanjut baca
aku ingin menggambar wajahmu dan jurang-jurang di dalamnya. menjelajah mencari dasar dan mata airnya. menguak rahasia di setiap semak dan retak dindin ... lanjut baca
“Bunda...bintang itu kayak gimana sih?” tanya gadis kecil bernama Melody itu.
“Bintang itu bentuknya kecil...bersinar terang dan ada banyak.. ... lanjut baca
Aku masih ingat, siang begitu terik ketika mengantri di depan kasir dengan sekeranjang belanjaan. Memang teriknya sinar matahari tak menyentuhku s ... lanjut baca
Cerita ini lumayan asyik untuk dinikmati. Namun barangkali ada bagian yang terasa begitu panjang (di tengah cerita), walaupun demikian penulis mampu membawa pembaca untuk menuntaskan cerita, justru inti dari cerita ada di bagian akhir.
Toh, akhirnya Lia mau juga bermesraan dengan James, walaupun Lia sempat menampar pipi James.
Cerita yang asyik.
*lho.. kok ada 'Windry' di ceritanya, sampe kaget.. ha ha ha...
*salah satu saat terlihat 'lokalitas' yang menurutku paling baik adalah saat James mengenalkan diri. Terlihat gaya bahasa yang tidak biasa.
*good luck yaa!!
OOT:
Hati-hati dalam editingnya, Bung William ^^
Hahahaha...Windry kebawa-bawa nih dalam cerita
First of all, salut kepada penulis yang berhasil menyelesaikan tantangan dengan waktu terbatas dan tema yang ditentukan. Keep writing!
Tantangan(Saya ikut nimbrung tantangan ini ah):
1. Kesesuaian dengan tema tantangan.
Saya tidak melihat konflik pertentangan antara si tokoh perempuan yang menolak berhubungan seks. Taat beragama di sini hanya digambarkan dalam kebaktian di gereja, tapi tidak pada perilaku dan sikap. Penolakannya pun terkesan tidak beralasan, karena pada akhirnya si tokoh mendapatkan apa yang diinginkannya dengan klise. Di sini penulis masih 'tell', belum 'show'.
2. Lokalitas. Setting menjadi lokalitas utama di sini. Tapi berhenti sampai di situ saja. Tidak terlihat kekhasan Minnesota di sini, yang terbaurkan dalam cerita.
3. Humor. Cukup lucu dan konyol, cuma masih dalam standar biasa. Walaupun saya suka dengan joke Lia di akhir cerita^^
4. Alur. Penulis kurang berani mempermainkan alur. Awal cerita yang terkesan lambat, dibawa dengan terburu-buru pada pertengahan, dan ditutup dengan ending klise. Coba diberi penekanan lagi pada emosi si tokoh, bukan pemaparan semata.
Jika saja ini bukan cerpen tantangan, pasti saya akan menilai tinggi. Hana saja berhubung ini tantangan, jadi harus saya sesuaikan lagi dengan tantangan yang diminta.
Yang lainnya saya serahkan kepada penantang asli saja hehehehe...
... ada Windry nyelip di tengah-tengah cerita^^
saya sependapat dengan seluruh pendapat noir
. Pun kisah ini tidak akan mengalami perubahan apabila setting Minnesota diganti.
Saya tahu kisahnya bukan terjadi di Indonesia, tapi tetap saja dialogmu masih terasa kaku.
Dan kenapa dimulai dengan 'matahari'?
Wehahaha, hmm… terus terang aku agak terkejut dengan temanya. ‘Mengajak tidur ’? dan akhirnya ‘berhasil’? Duh… Oke deh… mungkin ini ciri lokalitas dalam ceritamu ini (terus terang aku lebih nyaman dengan ‘lokalitas’ di ceritamu yang lain tentang kehidupan imigran pengeruk salju itu. Aku lebih suka pesannya).
Mungkin, bisa saja sih cerita ini menjadi lebih lembut dan nyaman, jika saja proses ‘merayu’nya tidak terlalu gampang dan polos. Masukkan ‘cinta’ dalam cerita. Tapi, yeah… mungkin memang bukan itu tema yang penting di sini. Atau… come on… kamu bisa membuat james menjadi playboy yang lebih canggih daripada ini. Hehehe…
Dua hal lainnya saja yang ingin kukomentari. Pertama soal sudut pandang, ada baiknya konsisten di sudut pandang James. Di beberapa tempat kamu banyak terpeleset masuk ke sudut pandang Lia, seperti saat dia bercerita tentang windry (lha? Kok kamu sendiri malah jadi keluar jalur dan melukai keseriusan ceritamu?). Kalau sudut pandang tetap di James, cerita bisa terasa lebih jujur.
Yang kedua, soal karakter Lia. Terus terang, ‘perubahan’nya mengejutkan. Ah, enggak kayaknya, Itu bukan perubahan, aku merasa kamu memang sengaja menyembunyikan itu dari pembaca. Padahal kamu sempat masuk ke sudut pandang Lia… lalu kenapa disembunyikan?
well, tepuk tangan dulu buat weha
, waktu singkat bisa juga menjadikan theme seperti ini menjadi bangunan cerita, saya kira musakan dari teman teman yang lain sudah cukup banyak..dan sepertinya memang begitu..(apa ini maksudnya? heheh)...
okey memang saya pribadi sih berpendapat bangunan cerita udah komplete, hanya itu cobalah lebih variatif dalam penggunaan kata, deskripsi setting, dan kuatkan karakter lagi..kasih ajah sesuatu yang unik..yang inherent hanya pada lia misalnya..sehingga ia bisa jadi begitu..karena biasanya tokoh tokoh seperti itu yang enak di baca...
ya tapi cerita ini..happy ending..and I love it..meski rada klise..*halah protes lagi...
okelah, selamat weha
gruß
ok... cerita ini khas orang luar memang... tapi benar komen sebelumnya heheh.. kurang eksplor konlflik dan alurnya jadi gampang ditebak.