Aku Ingin Melihat Minnesota

Pengumuman seputar migrasi kemudian.com klik pengumuman. Bagi yang ingin melanjutkan chatting, silahkan klik chatting

Matahari telah tinggi di langit. Udara terasa panas dan lembab. Langit yang bersih dan rumput-rumput hijau serta bunga-bunga berbagai warna yang bertebaran di sana-sini menandakan musim panas telah kembali di Minnesota setelah musim dingin yang dinginnya sudah tidak lucu lagi.

Di halaman belakang kampus, James sedang duduk di bawah pohon yang rindang, menghindari sinar matahari yang terasa membakar. Sesekali ia menguap dan melihat jam tangannya. Tetapi, selama ia duduk di bawah pohon itu, pandangannya selalu tertuju kepada satu orang : Lia.

Rating

60
points
Views: 3 reads
Comments: 0
Rating:
66.6667

Favorites

You have to login to access this feature click here

Flag

You have to login to access this feature click here
Bamby Cahyadi's picture
Bamby Cahyadi at Asyik (22 weeks 4 days yang lalu)

Cerita ini lumayan asyik untuk dinikmati. Namun barangkali ada bagian yang terasa begitu panjang (di tengah cerita), walaupun demikian penulis mampu membawa pembaca untuk menuntaskan cerita, justru inti dari cerita ada di bagian akhir.

Toh, akhirnya Lia mau juga bermesraan dengan James, walaupun Lia sempat menampar pipi James.

Cerita yang asyik.

deft_4's picture
deft_4 at (22 weeks 4 days yang lalu)

cassle's picture
cassle at (22 weeks 4 days yang lalu)

*lho.. kok ada 'Windry' di ceritanya, sampe kaget.. ha ha ha...

*salah satu saat terlihat 'lokalitas' yang menurutku paling baik adalah saat James mengenalkan diri. Terlihat gaya bahasa yang tidak biasa.

*good luck yaa!!

noir's picture
noir at Weits (22 weeks 3 days yang lalu)

OOT:
Hahahaha...Windry kebawa-bawa nih dalam cerita Tongue Hati-hati dalam editingnya, Bung William ^^

First of all, salut kepada penulis yang berhasil menyelesaikan tantangan dengan waktu terbatas dan tema yang ditentukan. Keep writing!

Tantangan(Saya ikut nimbrung tantangan ini ah):

1. Kesesuaian dengan tema tantangan.
Saya tidak melihat konflik pertentangan antara si tokoh perempuan yang menolak berhubungan seks. Taat beragama di sini hanya digambarkan dalam kebaktian di gereja, tapi tidak pada perilaku dan sikap. Penolakannya pun terkesan tidak beralasan, karena pada akhirnya si tokoh mendapatkan apa yang diinginkannya dengan klise. Di sini penulis masih 'tell', belum 'show'.

2. Lokalitas. Setting menjadi lokalitas utama di sini. Tapi berhenti sampai di situ saja. Tidak terlihat kekhasan Minnesota di sini, yang terbaurkan dalam cerita.

3. Humor. Cukup lucu dan konyol, cuma masih dalam standar biasa. Walaupun saya suka dengan joke Lia di akhir cerita^^

4. Alur. Penulis kurang berani mempermainkan alur. Awal cerita yang terkesan lambat, dibawa dengan terburu-buru pada pertengahan, dan ditutup dengan ending klise. Coba diberi penekanan lagi pada emosi si tokoh, bukan pemaparan semata.

Jika saja ini bukan cerpen tantangan, pasti saya akan menilai tinggi. Hana saja berhubung ini tantangan, jadi harus saya sesuaikan lagi dengan tantangan yang diminta.

Yang lainnya saya serahkan kepada penantang asli saja hehehehe...

fortherose's picture
fortherose at eh... (22 weeks 3 days yang lalu)

... ada Windry nyelip di tengah-tengah cerita^^

saya sependapat dengan seluruh pendapat noir Smile. Pun kisah ini tidak akan mengalami perubahan apabila setting Minnesota diganti.

Saya tahu kisahnya bukan terjadi di Indonesia, tapi tetap saja dialogmu masih terasa kaku.

Dan kenapa dimulai dengan 'matahari'? Tongue

Villam's picture
Villam at villam says, (22 weeks 3 days yang lalu)

Wehahaha, hmm… terus terang aku agak terkejut dengan temanya. ‘Mengajak tidur ’? dan akhirnya ‘berhasil’? Duh… Oke deh… mungkin ini ciri lokalitas dalam ceritamu ini (terus terang aku lebih nyaman dengan ‘lokalitas’ di ceritamu yang lain tentang kehidupan imigran pengeruk salju itu. Aku lebih suka pesannya).

Mungkin, bisa saja sih cerita ini menjadi lebih lembut dan nyaman, jika saja proses ‘merayu’nya tidak terlalu gampang dan polos. Masukkan ‘cinta’ dalam cerita. Tapi, yeah… mungkin memang bukan itu tema yang penting di sini. Atau… come on… kamu bisa membuat james menjadi playboy yang lebih canggih daripada ini. Hehehe…

Dua hal lainnya saja yang ingin kukomentari. Pertama soal sudut pandang, ada baiknya konsisten di sudut pandang James. Di beberapa tempat kamu banyak terpeleset masuk ke sudut pandang Lia, seperti saat dia bercerita tentang windry (lha? Kok kamu sendiri malah jadi keluar jalur dan melukai keseriusan ceritamu?). Kalau sudut pandang tetap di James, cerita bisa terasa lebih jujur.

Yang kedua, soal karakter Lia. Terus terang, ‘perubahan’nya mengejutkan. Ah, enggak kayaknya, Itu bukan perubahan, aku merasa kamu memang sengaja menyembunyikan itu dari pembaca. Padahal kamu sempat masuk ke sudut pandang Lia… lalu kenapa disembunyikan?

Tedjo's picture
Tedjo at :) (22 weeks 3 days yang lalu)

well, tepuk tangan dulu buat weha Smile, waktu singkat bisa juga menjadikan theme seperti ini menjadi bangunan cerita, saya kira musakan dari teman teman yang lain sudah cukup banyak..dan sepertinya memang begitu..(apa ini maksudnya? heheh)...

okey memang saya pribadi sih berpendapat bangunan cerita udah komplete, hanya itu cobalah lebih variatif dalam penggunaan kata, deskripsi setting, dan kuatkan karakter lagi..kasih ajah sesuatu yang unik..yang inherent hanya pada lia misalnya..sehingga ia bisa jadi begitu..karena biasanya tokoh tokoh seperti itu yang enak di baca...

ya tapi cerita ini..happy ending..and I love it..meski rada klise..*halah protes lagi...

okelah, selamat weha

gruß

Arra's picture
Arra at (22 weeks 2 days yang lalu)

ok... cerita ini khas orang luar memang... tapi benar komen sebelumnya heheh.. kurang eksplor konlflik dan alurnya jadi gampang ditebak.