Matahari telah tinggi di langit. Udara terasa panas dan lembab. Langit yang bersih dan rumput-rumput hijau serta bunga-bunga berbagai warna yang bertebaran di sana-sini menandakan musim panas telah kembali di Minnesota setelah musim dingin yang dinginnya sudah tidak lucu lagi.
Di halaman belakang kampus, James sedang duduk di bawah pohon yang rindang, menghindari sinar matahari yang terasa membakar. Sesekali ia menguap dan melihat jam tangannya. Tetapi, selama ia duduk di bawah pohon itu, pandangannya selalu tertuju kepada satu orang : Lia.
well, tepuk tangan dulu buat weha :), waktu singkat bisa juga menjadikan theme seperti ini menjadi bangunan cerita, saya kira musakan dari teman teman yang lain sudah cukup banyak..dan sepertinya memang begitu..(apa ini maksudnya? heheh)...
okey memang saya pribadi sih berpendapat bangunan cerita udah komplete, hanya itu cobalah lebih variatif dalam penggunaan kata, deskripsi setting, dan kuatkan karakter lagi..kasih ajah sesuatu yang unik..yang inherent hanya pada lia misalnya..sehingga ia bisa jadi begitu..karena biasanya tokoh tokoh seperti itu yang enak di baca...
ya tapi cerita ini..happy ending..and I love it..meski rada klise..*halah protes lagi...
Wehahaha, hmm… terus terang aku agak terkejut dengan temanya. ‘Mengajak tidur ’? dan akhirnya ‘berhasil’? Duh… Oke deh… mungkin ini ciri lokalitas dalam ceritamu ini (terus terang aku lebih nyaman dengan ‘lokalitas’ di ceritamu yang lain tentang kehidupan imigran pengeruk salju itu. Aku lebih suka pesannya).
Mungkin, bisa saja sih cerita ini menjadi lebih lembut dan nyaman, jika saja proses ‘merayu’nya tidak terlalu gampang dan polos. Masukkan ‘cinta’ dalam cerita. Tapi, yeah… mungkin memang bukan itu tema yang penting di sini. Atau… come on… kamu bisa membuat james menjadi playboy yang lebih canggih daripada ini. Hehehe…
Dua hal lainnya saja yang ingin kukomentari. Pertama soal sudut pandang, ada baiknya konsisten di sudut pandang James. Di beberapa tempat kamu banyak terpeleset masuk ke sudut pandang Lia, seperti saat dia bercerita tentang windry (lha? Kok kamu sendiri malah jadi keluar jalur dan melukai keseriusan ceritamu?). Kalau sudut pandang tetap di James, cerita bisa terasa lebih jujur.
Yang kedua, soal karakter Lia. Terus terang, ‘perubahan’nya mengejutkan. Ah, enggak kayaknya, Itu bukan perubahan, aku merasa kamu memang sengaja menyembunyikan itu dari pembaca. Padahal kamu sempat masuk ke sudut pandang Lia… lalu kenapa disembunyikan?
OOT:
Hahahaha...Windry kebawa-bawa nih dalam cerita :p Hati-hati dalam editingnya, Bung William ^^
First of all, salut kepada penulis yang berhasil menyelesaikan tantangan dengan waktu terbatas dan tema yang ditentukan. Keep writing!
Tantangan(Saya ikut nimbrung tantangan ini ah):
1. Kesesuaian dengan tema tantangan.
Saya tidak melihat konflik pertentangan antara si tokoh perempuan yang menolak berhubungan seks. Taat beragama di sini hanya digambarkan dalam kebaktian di gereja, tapi tidak pada perilaku dan sikap. Penolakannya pun terkesan tidak beralasan, karena pada akhirnya si tokoh mendapatkan apa yang diinginkannya dengan klise. Di sini penulis masih 'tell', belum 'show'.
2. Lokalitas. Setting menjadi lokalitas utama di sini. Tapi berhenti sampai di situ saja. Tidak terlihat kekhasan Minnesota di sini, yang terbaurkan dalam cerita.
3. Humor. Cukup lucu dan konyol, cuma masih dalam standar biasa. Walaupun saya suka dengan joke Lia di akhir cerita^^
4. Alur. Penulis kurang berani mempermainkan alur. Awal cerita yang terkesan lambat, dibawa dengan terburu-buru pada pertengahan, dan ditutup dengan ending klise. Coba diberi penekanan lagi pada emosi si tokoh, bukan pemaparan semata.
Jika saja ini bukan cerpen tantangan, pasti saya akan menilai tinggi. Hana saja berhubung ini tantangan, jadi harus saya sesuaikan lagi dengan tantangan yang diminta.
Yang lainnya saya serahkan kepada penantang asli saja hehehehe...
Cerita ini lumayan asyik untuk dinikmati. Namun barangkali ada bagian yang terasa begitu panjang (di tengah cerita), walaupun demikian penulis mampu membawa pembaca untuk menuntaskan cerita, justru inti dari cerita ada di bagian akhir.
Toh, akhirnya Lia mau juga bermesraan dengan James, walaupun Lia sempat menampar pipi James.
Wah, miss, kamu benar2 telah tepat sasaran menebak kelemahan saya dalam menulis : show not tell. Tapi kini mata saya telah terbuka (cie elah). Semoga cerita ini cukup 'lokal' untuk anda. Masalah EYD, entahlah. Saya rasa saya akan selamanya bodoh akan masalah EYD. Lebih lagi, mungkin saya belum berani mengeksplor tema lebih jauh atau belum mengerti benar kemauanmu tapi sok tahu. Tetapi, semoga cerita ini menarik dan menghibur.
Kami di sini
Teman bersama, teman selalu
Tiada yang akan pernah berubah
Meski raga hilang digerogoti waktu
Kami di sini
Membagi senang dan sedi ... lanjut baca
Pada suatu akhir minggu
terdengarlah sebuah lagu sendu
dialunkan dengan nada-nada yang merdu
Alunannya membawa diri ini
mengenang masa yang tela ... lanjut baca
The air rushed through her
long waving hair
at the last plunge of the
roller coaster of life
The camera flashed
and she arrived where she
had ... lanjut baca
Tujuh puluh pena dan enam puluh batang pensil
berserakan bersama lima ratus lembar kertas
Empat ratus ribu kata hilang dimakan waktu
Pada akhirnya, ... lanjut baca
Kubuka mataku dan
kucari dirimu karena aku
membutuhkanmu
Di langit, di atas awan
Kucari dirimu, namun
tak kutemukan juga
Hingga putus asaku
... lanjut baca
Ingatkan aku lagi, kumohon
Ingatkan aku lagi mengapa aku di sini
Ingatkan aku lagi mengapa aku tidak di sana
bersamamu
Apakah senyummu masih sep ... lanjut baca
“Karto… Sakit… Rasanya sakit sekali…”
Napas Supri terdengar semakin berat. Tangannya mulai bergetar dan genggamannya mulai lemah. Darah t ... lanjut baca
Bu Kartika adalah seorang guru SD kelas 2. Ia adalah model guru teladan. Cara pendidikannya yang santai namun serius selalu membawa murid-muridnya mem ... lanjut baca
“Ibu pergi, Nak,” jawab ayahku. Namun begitu, wajahnya terlihat sangat lelah. Ayah memang pekarja keras. Tetapi ketika ia dan ibu pulang, mereka s ... lanjut baca
Ketika salju telah mencair seluruhnya, pucuk-pucuk daun mulai bermunculan di ujung dahan pohon, dan anak-anak kecil mulai banyak berlari-lari di halam ... lanjut baca
ok... cerita ini khas orang luar memang... tapi benar komen sebelumnya heheh.. kurang eksplor konlflik dan alurnya jadi gampang ditebak.
well, tepuk tangan dulu buat weha :), waktu singkat bisa juga menjadikan theme seperti ini menjadi bangunan cerita, saya kira musakan dari teman teman yang lain sudah cukup banyak..dan sepertinya memang begitu..(apa ini maksudnya? heheh)...
okey memang saya pribadi sih berpendapat bangunan cerita udah komplete, hanya itu cobalah lebih variatif dalam penggunaan kata, deskripsi setting, dan kuatkan karakter lagi..kasih ajah sesuatu yang unik..yang inherent hanya pada lia misalnya..sehingga ia bisa jadi begitu..karena biasanya tokoh tokoh seperti itu yang enak di baca...
ya tapi cerita ini..happy ending..and I love it..meski rada klise..*halah protes lagi...
okelah, selamat weha
gruß
Wehahaha, hmm… terus terang aku agak terkejut dengan temanya. ‘Mengajak tidur ’? dan akhirnya ‘berhasil’? Duh… Oke deh… mungkin ini ciri lokalitas dalam ceritamu ini (terus terang aku lebih nyaman dengan ‘lokalitas’ di ceritamu yang lain tentang kehidupan imigran pengeruk salju itu. Aku lebih suka pesannya).
Mungkin, bisa saja sih cerita ini menjadi lebih lembut dan nyaman, jika saja proses ‘merayu’nya tidak terlalu gampang dan polos. Masukkan ‘cinta’ dalam cerita. Tapi, yeah… mungkin memang bukan itu tema yang penting di sini. Atau… come on… kamu bisa membuat james menjadi playboy yang lebih canggih daripada ini. Hehehe…
Dua hal lainnya saja yang ingin kukomentari. Pertama soal sudut pandang, ada baiknya konsisten di sudut pandang James. Di beberapa tempat kamu banyak terpeleset masuk ke sudut pandang Lia, seperti saat dia bercerita tentang windry (lha? Kok kamu sendiri malah jadi keluar jalur dan melukai keseriusan ceritamu?). Kalau sudut pandang tetap di James, cerita bisa terasa lebih jujur.
Yang kedua, soal karakter Lia. Terus terang, ‘perubahan’nya mengejutkan. Ah, enggak kayaknya, Itu bukan perubahan, aku merasa kamu memang sengaja menyembunyikan itu dari pembaca. Padahal kamu sempat masuk ke sudut pandang Lia… lalu kenapa disembunyikan?
... ada Windry nyelip di tengah-tengah cerita^^
saya sependapat dengan seluruh pendapat noir :). Pun kisah ini tidak akan mengalami perubahan apabila setting Minnesota diganti.
Saya tahu kisahnya bukan terjadi di Indonesia, tapi tetap saja dialogmu masih terasa kaku.
Dan kenapa dimulai dengan 'matahari'? :p
OOT:
Hahahaha...Windry kebawa-bawa nih dalam cerita :p Hati-hati dalam editingnya, Bung William ^^
First of all, salut kepada penulis yang berhasil menyelesaikan tantangan dengan waktu terbatas dan tema yang ditentukan. Keep writing!
Tantangan(Saya ikut nimbrung tantangan ini ah):
1. Kesesuaian dengan tema tantangan.
Saya tidak melihat konflik pertentangan antara si tokoh perempuan yang menolak berhubungan seks. Taat beragama di sini hanya digambarkan dalam kebaktian di gereja, tapi tidak pada perilaku dan sikap. Penolakannya pun terkesan tidak beralasan, karena pada akhirnya si tokoh mendapatkan apa yang diinginkannya dengan klise. Di sini penulis masih 'tell', belum 'show'.
2. Lokalitas. Setting menjadi lokalitas utama di sini. Tapi berhenti sampai di situ saja. Tidak terlihat kekhasan Minnesota di sini, yang terbaurkan dalam cerita.
3. Humor. Cukup lucu dan konyol, cuma masih dalam standar biasa. Walaupun saya suka dengan joke Lia di akhir cerita^^
4. Alur. Penulis kurang berani mempermainkan alur. Awal cerita yang terkesan lambat, dibawa dengan terburu-buru pada pertengahan, dan ditutup dengan ending klise. Coba diberi penekanan lagi pada emosi si tokoh, bukan pemaparan semata.
Jika saja ini bukan cerpen tantangan, pasti saya akan menilai tinggi. Hana saja berhubung ini tantangan, jadi harus saya sesuaikan lagi dengan tantangan yang diminta.
Yang lainnya saya serahkan kepada penantang asli saja hehehehe...
*lho.. kok ada 'Windry' di ceritanya, sampe kaget.. ha ha ha...
*salah satu saat terlihat 'lokalitas' yang menurutku paling baik adalah saat James mengenalkan diri. Terlihat gaya bahasa yang tidak biasa.
*good luck yaa!!
Cerita ini lumayan asyik untuk dinikmati. Namun barangkali ada bagian yang terasa begitu panjang (di tengah cerita), walaupun demikian penulis mampu membawa pembaca untuk menuntaskan cerita, justru inti dari cerita ada di bagian akhir.
Toh, akhirnya Lia mau juga bermesraan dengan James, walaupun Lia sempat menampar pipi James.
Cerita yang asyik.