Pengumuman seputar migrasi kemudian.com klik pengumuman. Bagi yang ingin melanjutkan chatting, silahkan klik chatting
..
Selama beberapa menit ranjang Roweena melayang-layang di depan matanya sendiri. Selama itu pula ia hanya bisa terpaku menyaksikan kejadian tidak masuk akal itu. Suara-suara yang menggebrak tadi sekarang berubah, jadi bercicit di kepalanya. Seperti suara kuku-kuku kucing yang mengais dinding.
Roweena seketika memejamkan mata seraya menutup telinganya. Suara itu tiba-tiba memekik bak suara penyanyi opera yang meletakkan mulutnya satu senti dari telinga Roweena. Menusuk hingga ke gendang telinga. Membuatnya menekan lubang telinga dengan ujung jari.
Masih tetep bagus seperti bagian pertama. Tapi mungkin Roweena mestinya tampak lebih panik lagi setelah menyaksikan fenomena aneh itu, nggak perlu reaksi berlebihan, tapi cukup dideskripsikan aja oleh penulis. Adegan Roweena kesurupan sambil megang gunting bagus juga tuh!
narasinyaa sih sudah cukup mengantar ke suasana seramnya. harusnya bisa digambar secara utuh mungkin dari pertemuan dengan prof Warren. Tapi, digantung ya...
Hai, ternyata sudah ada lanjutannya nich.
Makin membuat penasaran dan cukup seram paling kalau ada kritik di bagian pemilihan kata saja, contoh pada "ponsel itu menghantam dinding dan jatuh berderai"
Seperti air mata kesannya hehehe.
Oya, thanks Benz untuk comment di "Rejim Ibu." Memang cerpen itu dibuat dengan maksud untuk bersenang-senang, membuat pembaca "kecele" dengan ending cerita. Karena sekali lagi aku punya prinsip, saat membaca karya orang janganlah membaca isi pikiran penulisnya tetapi ikuti saja alur tulisannya (karena tulisan itu "rasa" seperti saat kita melihat sebuah lukisan, terkadang kita berpikir ngapain pelukisnya buat gambar seperti itu, sementara si pelukis berpikiran berbeda dengan yang melihat lukisannya, karena ia melukis sebuah "rasa").
Begitu kira-kira filosofinya.
Mengenai dialog juga sama, banyak penulis beken melakukan hal itu. Terutama saat pembaca memasuki daerah penat.
Konsep dialogpun tidak harus standar. Perhatikan novel-novel Putu Wijaya, Pram, Romo Mangun dan Ayu Utami. Konsep penulisan dialognya sering "nyeleneh" namun tetap dapat dimengerti pembaca.
Tetapi aku salut kepadamu yang begitu teliti membaca ceritaku. Thanks ya.
Kata orang,
Bagi mereka
Kau bagaikan matahari yang menerangi hari
Kau seperti pelangi yang memberi warna
Kau seolah angin yang menenangkan ... lanjut baca
Kupunya hati,
tak kurasa pernah ada yang memiliki,,
Kupunya langkah,
tak kudengar pernah ada yang mengikuti,,
Kuikuti pikiran,
tak kuli ... lanjut baca
Satu demi satu tumbang
Mati..
di bawah tekanan kewajiban institusi
"..menghabis nyawa anak orang dengan tangan kosong,
tanpa lawan..
betapa ... lanjut baca
Tidak pernah menjadi mudah
...meredam petir menumpah ruah
Harapku kau tak pernah lelah
menarik awan...
..memikul beban
Sanjunganku pada ... lanjut baca
Betapa mentari pagi indah tersentum menatap
Bila ku bangkit tinggalkan jejak menapak keluar sangkar
Hawa udara yang begitu bersahabat
Menyusu ... lanjut baca
Pena biru ku terus bergerak
Kurang indah meskipun,
Ujungnya tak henti menggores kertas ini
Sesekali jalan, berkelok-kelok, kemudian terhenti
... lanjut baca
BRUAKK!!
“Argh! Brengsek, apa lagi sih itu?!”
Roweena menghempaskan pulpennya dengan kesal. Sudah beberapa hari belakangan ia selalu tidak b ... lanjut baca
Stelah peperagan pertama berakhir peperangan ke dua pun di mulai~
di pusat kota Resen....
"Gate ini Senjata untuk robot mu kuberi nama senjata i ... lanjut baca
Prologue--II
Centurion Dalam Genggaman dan Visi-visi Malam
Saat itu senja mulai luntur oleh gelapnya malam. Bintang-bintang berkilauan di atas, ko ... lanjut baca
Damien duduk di dekat ranjang, mengamati wajah Ari yang masih belum sadar. Ia kembali berpikir betapa waktu begitu berharga. Hanya butuh lima menit sa ... lanjut baca
“ Hari yang membosankan. “ keluh Corn beberapa jam kemudian ketika dirinya dan Raquel sedang menyingkirkan sarang laba – laba dan menyusun bara ... lanjut baca
FIRASAT
-4-
Kabar miring mengenai Adhelpo tengah ramai digunjingkan di seantero Rochelar. Para wanita yang kebanyakan adalah istri dari para peda ... lanjut baca
"kaulah yang membunuh kedua orangtuaku. tapi kenapa kau datang mencariku?" tanya Ryan pada Ling yang terlihat menikmati kemarahan Ryan.
"aku ingin ... lanjut baca
Matahari bersinar cerah, seperti biasanya di Dunfall, membuat seluruh penduduknya bersemangat untuk beraktivitas hari itu. Beberapa orang mulai menyus ... lanjut baca
wich ... mengerikan, serem banget !
Masih tetep bagus seperti bagian pertama. Tapi mungkin Roweena mestinya tampak lebih panik lagi setelah menyaksikan fenomena aneh itu, nggak perlu reaksi berlebihan, tapi cukup dideskripsikan aja oleh penulis. Adegan Roweena kesurupan sambil megang gunting bagus juga tuh!
DUH...
bersambungnya kok disitu sih??
bkin penasaran...
sebenanrnya diriku tak suka cerita horor,secara diriku penakut sangat,,tapi ga tau knp klo abang yg buat jd ga takut,heheheheh
keep writing kuchay ^^
seep
apa memang begitu orang kesurupan??
tapi kenapa juga nuansa seremnya ga bisa wie tangkap yak??? (ada yg salah dengan sarafku kah??? ).hehehe...........lanjut benz.......
yups, benz..
lumayan, secara katanya masih eksperimen..
bener kata wie, kurang spooky..
(tapi kalo wie, emang sarafnya da yg kurang beres..hehehe..)
narasinyaa sih sudah cukup mengantar ke suasana seramnya. harusnya bisa digambar secara utuh mungkin dari pertemuan dengan prof Warren. Tapi, digantung ya...
Salut, secara gitu!
ah bens,, horror nya bernuansa luar ya? bukan lokal. ;p
iya, aq setuju, caramu 'berhoror' tidak belerbihan, dan kamu biarkan ceritamu ini mengaliirr..
nice, bens.
Hai, ternyata sudah ada lanjutannya nich.
Makin membuat penasaran dan cukup seram paling kalau ada kritik di bagian pemilihan kata saja, contoh pada "ponsel itu menghantam dinding dan jatuh berderai"
Seperti air mata kesannya hehehe.
Oya, thanks Benz untuk comment di "Rejim Ibu." Memang cerpen itu dibuat dengan maksud untuk bersenang-senang, membuat pembaca "kecele" dengan ending cerita. Karena sekali lagi aku punya prinsip, saat membaca karya orang janganlah membaca isi pikiran penulisnya tetapi ikuti saja alur tulisannya (karena tulisan itu "rasa" seperti saat kita melihat sebuah lukisan, terkadang kita berpikir ngapain pelukisnya buat gambar seperti itu, sementara si pelukis berpikiran berbeda dengan yang melihat lukisannya, karena ia melukis sebuah "rasa").
Begitu kira-kira filosofinya.
Mengenai dialog juga sama, banyak penulis beken melakukan hal itu. Terutama saat pembaca memasuki daerah penat.
Konsep dialogpun tidak harus standar. Perhatikan novel-novel Putu Wijaya, Pram, Romo Mangun dan Ayu Utami. Konsep penulisan dialognya sering "nyeleneh" namun tetap dapat dimengerti pembaca.
Tetapi aku salut kepadamu yang begitu teliti membaca ceritaku. Thanks ya.
waah. ngalir banget.
haa, kamu harus ngajarin saia bercerita horor nii :9
semua porsinya pas, lanjut deh!
sip benz...
porsi nya pas,, tau blum aja nih horornya?
masalah puisi saya memang awam!
LaNjut,,,,,,,,,,,,,,,,,
Hmmm Ben?? Kalau misteri di part ininya okelah, aku tidak akan singgung....
Cuma mau melihat kelanjutannya nanti ^o^
Apakah ceritamu ini bertwist, horror, atau tipe-tipe mencekam......
Assalamualaikum?
Untuk alur ceritanya cukup bagus, dan saya sangat bisa menikmati karya kamu ini.
tetap semangat ya.
bagus..bagus.. enak dibacanya, tenang, hhmmmm nice...
Salam,
k benz gawaaaaaaat ! keren ! weiitss 9 - 8 - 9 - 8 smuaaah ... oke bgt lah y k benz !
Bagus benz.
Mampir2 ke jangan tolak cinta gw yup. Tapi itu judul kayaknya bakal aku ganti,tapi masih kupikirkan.hehe