Apa yang ditulis Stephen King dalam bukunya yang berjudul On Writing: A Memoir of the Craft memberi inspirasi kepada banyak orang. Saya berhenti membaca setiap beberapa halaman, sekadar mengingatkan diri bahwa buku yang sangat bergizi itu bisa saya nikmati kembali pada keesokan harinya. Sejak saya membelinya pada tanggal 18 Agustus 2007 lalu, saya baru menginjak halaman ke-39 hari ini. Entah halaman berapa menurut versi tercetaknya, Anda akan menemukan sebuah kalimat pada akhir bagian delapan yang berbunyi demikian “Four stories. A quarter apiece. That was the first buck I made in this business.”
Sejak umur berapa Anda menyadari bahwa uang itu penting? Saya baru sangat menyadarinya ketika duduk di kelas enam. Semenjak seorang anak mendapat uang jajan, maka kebutuhan ekonominya dirasa tidak terlalu penting, apalagi kalau uang jajannya tergolong berkelebihan. Kebiasaan merengek untuk setiap barang yang diinginkan juga berkurang karena sudah dilimpahkan tanggung jawab untuk bijaksana dalam berbelanja dan bisa membelinya dengan uang jajan sendiri. Untuk sekadar keperluan kecil seperti jajan dan membeli makanan atau minuman, seorang anak dapat mengatasinya sendiri, namun jika memerlukan uang dalam jumlah yang banyak partisipasi orang tua tetaplah dibutuhkan. Mereka mulai merengek (lagi). Setiap orang tua pasti akrab dengan situasi ini, namun sebenarnya situasi ini bisa dimanfaatkan lho!
Pelajaran dari Stephen King menunjukkan ketika ia menulis tanpa menyalin dan membuat ibunya bangga maka ia akan mendapat uang dari setiap cerita yang ditulisnya. Setiap anak pasti lebih menginginkan untuk dapat memenuhi setiap kebutuhannya sendiri, tidak perlu repot-repot merengek, dan tidak perlu merasakan pahit ketika permintaannya ditolak. Ada baiknya teknik yang digunakan ibu Stephen dalam memicu perkembangan anak, karena anak pun butuh uang! Setelah saya menyadari betapa pentingnya uang itu, saya mulai mencoba untuk berusaha mendapatkan uang sendiri. Mulai dari menjual prakarya, membuatkan tugas teman, hingga menjual konten dari hp dengan persetujuan konten tersebut tidak boleh dibagi-bagikan kepada teman-teman yang lain dan mengurangi pendapatan saya. Di dalam pikiran saya waktu itu hanyalah begini: saya cukup mengerjakan prakarya yang mudah, mengerjakan tugas, dan mendownload konten gratis dari internet maka cepat atau lambat saya dapat membeli buku apa pun yang saya inginkan waktu itu. Selanjutnya saya juga mencoba usaha penjualan kue yang gagal total karena saya peralatan dapur saya sama sekali tidak mendukung, usaha percetakan yang gagal total karena mesin cetak yang sudah tua dan tidak memiliki modal pribadi untuk membeli mesin baru, usaha pengemasan yang juga gagal total karena lokasi mesin yang berada satu setengah jam lebih jika ditempuh dengan mobil belum lagi persyaratan sertifikat uji kelayakan pabrik yang diperlukan untuk kemasan makanan, dan tentunya saya masih harus memikirkan tanggung jawab utama saya sebagai pelajar SMP. Saat itu penjualan jasa prakarya juga menurun sebab tugas-tugas sudah semakin sedikit, digantikan dengan ulangan-ulangan, dan penjualan konten juga nyaris berada di titik jenuh. Di detik-detik yang membingungkan itu, orang tua saya secara tiba-tiba menghadirkan peluang baru dalam menghasilkan uang. Dengan buku-buku baru masih berada lekat di angan-angan, saya mencoba menelusuri peluang itu. Tentunya saya masih belum berani mengungkapkan semua keinginan-keinginan saya, mereka dipendam di lubuk hati terdalam sebagai tantangan tersendiri yang harus dipenuhi.
Ternyata peluang tersebut cukup menggiurkan, membantu pekerjaan orang tua. Saya kurang berbakat dan cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, maka membantu mengerjakan tuntutan profesi merekalah yang saya maksud. Dengan upah lima ribu rupiah per tugas kecil, saya memulai dengan semangat menggebu-gebu. Waktu yang berjalan juga membasuh semangat saya, alhasil dalam beberapa bulan semangat tergantikan dengan prospek yang lebih menghasilkan. Ya, saya tahu, saya bukanlah tipikal mereka yang mudah puas. Pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan upah dalam jumlah banyak hadir di saat-saat tertentu, salah satu yang terbesar adalah yang membuat saya bisa membeli hp baru pada kelas SMP 1 (walaupun sedikit banyak turut dibantu oleh orang tua). Tergiur dengan pekerjaan-pekerjaan situasional yang demikian, saya memutuskan untuk mencampakkan tugas kecil yang malang. Pemikiran saya mengatakan, saya harus lebih fokus dalam memperdalam bidang ini agar dapat mendapat hasil yang lebih banyak! Pada akhirnya saya malah terlarut dalam pendalaman bidang dan tidak terus berusaha melihat segala celah yang ada. Hingga sekarang, saya masih belum berani melihat celah sekecil apa pun. Sejak mendalami bidang, saya menjadi tahu bahwa apa yang telah saya ketahui ternyata belum seberapa dibanding apa yang saya perlu tahu.
Dari cerita perjalanan hidup saya di atas, apa yang dapat Anda simpulkan? Saya rasa, jika seandainya Anda ingin mencoba untuk menerapkan trik yang sama dengan ibu Stephen atau orang tua saya maka ada beberapa hal yang perlu Anda ingat. Pertama, berikan dorongan secara konstan. Jangan biarkan fokus anak terbelah-belah sehingga tujuan utama Anda menjadi tidak tercapai. Kedua, temukan minat anak. Salah satu buku mengatakan bahwa kesalahan orang tua yang terbesar adalah jika mereka tidak menemukan minat atau bakat pada anaknya. Jangan memaksakan bidang yang Anda pilih bagi mereka namun biarkan mereka yang memilih. Ketiga, upah yang diberikan harus sesuai dengan keadaan anak. Sang anak harus diajarkan untuk bijaksana dalam menggunakan uangnya dan Anda harus tahu upah tersebut digunakan untuk apa. Uang dapat memicu minat dengan cepat dan dapat menjatuhkan anak Anda ke hal-hal yang tidak diinginkan dengan cepat juga. Akhir kata, semoga tulisan di atas dapat memberikan manfaat bagi Anda dan anak Anda sehingga mereka dapat mendapat hiburan sekaligus bekal awal dalam bidangnya melalui permainan upah yang Anda berikan.
Tag:
saya? seorang anak salah asuhan

papa, mama...maap...
mereka mendidik dengan konsisten memang. tapi minat saya sedikit sekali terlihat dan dihiraukan mereka...
konsekuensi logisnya, saya jadi seniman miskin yang membaptis diri jadi penulis di blog dan web kerjaan saya dan teman2 berjuang biar bisa menang dalam perang industri alias penerbitan.
gimana sy bisa hidup?
yah, kayak kata di esay mbak ayu utami. saya single parasite alias parasit jalang yang mengajar bahasa inggris di kursus turun temurun keluarga sejak opa (kakek).
tak membayar rekening tapi bisa tidur dan makan tanpa bayar...
waduh, ini namanya curcol. curhat colongan
dengan begini bisa menelorkan bibit-bibit anak yang kaya kreatif. mulai dari pendidikan yang banyak orang tua tidak menyadari, sebagaimana kamu tulis di alenia terakhir.
maka dengan di mulai dari situ justru akan membawa bangsa yang maju.
terima kasih
anda telah menyumbangkan ini untuk kelanjutan generasi yang akan datang
"SUBBANUL YAUM RIJAALI GHOD'
pemuda hari in adalah pemimpin di masa mendatang
Fuuuh... Tak tahunya ke post dua kali, tulisanku yang 'konsistensi'. Sudah kuganti dengan tulisanku yang sebelumnya. Semoga berkenan di benak kawan-kawan.. ^^