Pengumuman seputar migrasi kemudian.com klik pengumuman. Bagi yang ingin melanjutkan chatting, silahkan klik chatting
“Hei…! Apakah kamu sudah berbakti terhadap Ibumu?” tanya suara dalam mimpiku.
Aku terbangun, mengucek mataku dengan punggung tanganku. Menyingkapkan sarung yang masih membelit kakiku dan segera terduduk dipinggiran tempat tidurku, seraya berpikir mimpi apa aku tadi?
Aku lihat Ibu sedang memasak, mungkin nasi. Ayah pasti sudah ke Langgar untuk sembahyang. Masih subuh matahari belum bersinar. Aku kembali rebahan, mataku sayup kembali tertidur.
Karena tema yang diangkat berawal dari mimpi si tokoh utama, rasanya deskripsi tentang keseharian sang tokoh lumayan melebar, sehingga di tengah cerita jadi lebih dominan, atau mungkin juga sebaliknya paparan tentang mimpinya yang kurang.
Lalu untuk ending, rasanya cukup mengecilkan arti bakti kepada orang tua.
Di awal-awal, ceritanya begitu menggugah (apakah aku berlebihan menggunakan kata itu?)
Di tengah-tengah, aku seperti balik lagi ke masa sepuluh tahun lalu. Gaya bahasanya khas cerpen anak!
Di akhir-akhir. Manyun. Weleh, endingnya....
Bagus, hanya ada kesan kalau penceritaannya tidak alami. Kalau didiskusi, menurutku bisa ada semacam jarak antara cara berpikir tokoh dengan kenyataan yang dihadapinya.
Aduh, kok aku jadi nggak enak gitu ya begitu sampai di endingnya.. "Hahaha.." nya anak itu malah mengurangi rasa simpatiku terhadapnya (yang telah dibangun dengan baik oleh penulis). Dan memang kurasa suasana yg ingin digambarkan adalah itu. Tapi kenapa malah anak itu jadi terkesan sombong dan angkuh begitu ya. Jadinya kurang sinkron aja gitu dengan deskripsi dan pembangunan karakter di awal-awalnya. Pun jadinya tujuan dari cerita ini kurang jelas.
Peralihan - dari si tokoh utama dipilih untuk mengikuti lomba cerpen, ke-saat dia menang, nggak enak banget. Bukan karena tiba-tiba dia udah menang aja gitu, tapi kalimat penghubungnya yg kurasa nggak pas.
Dialog juga - menyedihkan (maaf ya mas Bam), tapi untuk seorang penulis seperti mas Bam (yg kuanggap sudah mengerti trik-trik penulisan cerita), menulis dialog yang 'standar percakapan manusia seharusnya' begitu sungguh mengecewakan. Untuk apa menuliskan dialog yang pembaca sudah ketahui akan seperti apa (lontaran kata- dan jawaban si orang yang diajak bicara). "Yang itu apa lagi?" ; "Amplop." ; "Amplop apa?" ; "Aku nggak tahu, Bu." ; "Belum kamu buka?" ; "Belum." ; "Coba kamu buka!" ; "Ibu saja yang buka."
Terima kasih buat sidang pembaca yang terhormat (hehehe bahasanya kayak generasi Balai Pustaka banget ya?) atas kritik, saran dan waktunya untuk membaca cerita ini.
Judulnya diganti dengan yang lebih "sejuk" agar nuansa di Judulnya (semula: rejim Ibu) yang "provokatif" tidak mempengaruhi isi cerita ini.
Cerita yang sederhana tapi bermakna, mengalir secara alami..
Tapi kayaknya iklan delivery service restoran cepat saji kurang pas di masukin ke situ kang.. hehe.. punteun yah protes dikit
Semula judul cerita ini adalah "Rejim Ibu" karena menceritakan seorang anak yang lebih dominan di bawah asuhan ibunya dengan mimpi ingin berbakti kepada ibunya.
Berdasarkan kritik dan saran sidang pembaca yang terhormat judulnya diganti hehehe...
MALAM berselimut kabut. Udara diluar flat sangat dingin, angin menghembus membuat orang-orang mengetatkan jaket dan sweter mereka. Beberapa orang ya ... lanjut baca
AYAH seorang tukang jahit. Beliau sangat bersahaja. Kesehariannya selalu dihabiskan di sebuah kios kecil tepat di depan pintu rumah. Apabila order l ... lanjut baca
Ternyata aku bukan seekor babi kecil. Heran aku, setiap ada yang memandangku, pandangan mereka seperti memandang seekor babi kecil.
***
"Kenalka ... lanjut baca
Aplus tepuk tangan membahana diseluruh ruangan pengambilan gambar untuk acara Kick Andy. Bahkan, Andy F. Noya sebagai pembawa acara berkali-kali menya ... lanjut baca
AKU baru saja diturunkan di sebuah restoran cepat saji di kawasan Senen, hari ini hari kamis, biasanya memang aku dan beberapa temanku selalu diturun ... lanjut baca
BRAMANTO SETIAWAN
Suasana di kantor beberapa hari terakhir ini semakin tidak kondusif. Pagi ini saja beberapa meja divisi Purchasing sudah ditingga ... lanjut baca
Judul itu adalah tulisan pertamaku di kemudian.com, diposting di rubrik forum (belajar menulis), karena saat itu saya belum bisa posting cerita.
Pa ... lanjut baca
“Ayo dong nyanyi,” kata seorang anak kecil gendut yang sedang berdiri persis di depanku.
“Jangan, mending joget aja!” teriak anak kecil lai ... lanjut baca
Bongkor terdiam di depan sebuah toko. Wajahnya pucat, keragu-raguan menyelimuti perasaannya. Kenapa aku harus berada di sini, batinnya sambil tetap te ... lanjut baca
: ibuku
Biasanya bulan-bulan pertengahan tahun seperti sekarang, panas yang menyengat kulit adalah teman karib bagiku. Bisa dibilang jarang seka ... lanjut baca
Sore ingin terasa melambat, jarum jam seperti enggan beranjak dari angka empat. Masih dua jam kita akan bertemu.
" di tempat biasa ya! " katamu ... lanjut baca
Bestik Untuk Ibu
Ruangan 4x3 di belakang rumah selalu penuh, sesak, panas. Setiap malam kami harus berebut tempat untuk sekedar mengatupkan kelopa ... lanjut baca
apakah kamu perawan?
seketika siang menjadi malam
seketika hati serasa tercerabut dari tenang
seketika keraguan berkecamuk
apakah kamu perawan?
... lanjut baca
Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu ... lanjut baca
Di sana, masih dapat kulihat
tatap bayang yang mulai tersekat
dalam pikir, ingatan masih lekat
setiap masa yang pernah terlewat
Perlahan bayang ... lanjut baca
Untuk Ibu
Kadang disimpan ibu pedih-pedih untuk bapak
dalam relung terdalam
tanpa menyisakan
Kadang ditunggu ibu segar angin jelang
di pena ... lanjut baca
Dulu mengubur diri dalam ketakutan, menyiram badan dengan lumpur merah yang bau mati. Menyebut nama satu penguasa diantara seribu Tuhan buatan manusia ... lanjut baca
hari itu aku berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga
yang akan aku paketkan pada sang ibu yang tinggal jauh 215 km dariku.
begitu ... lanjut baca
Kenanglah ... waktu kecil, kau dibuai oleh ibu...
Kenanglah hangat kasih sayang sang ibu...
Kala sedih menerpa...maka dia ada di sisimu...
Ka ... lanjut baca
wach ... inspiratif sekali
impian jadi kenyataan
sip sip !
Karena tema yang diangkat berawal dari mimpi si tokoh utama, rasanya deskripsi tentang keseharian sang tokoh lumayan melebar, sehingga di tengah cerita jadi lebih dominan, atau mungkin juga sebaliknya paparan tentang mimpinya yang kurang.
Lalu untuk ending, rasanya cukup mengecilkan arti bakti kepada orang tua.
Di awal-awal, ceritanya begitu menggugah (apakah aku berlebihan menggunakan kata itu?)
Di tengah-tengah, aku seperti balik lagi ke masa sepuluh tahun lalu. Gaya bahasanya khas cerpen anak!
Di akhir-akhir. Manyun. Weleh, endingnya....
Tapi, BAGUS!!!
BAGUS!!!
Bagus, hanya ada kesan kalau penceritaannya tidak alami. Kalau didiskusi, menurutku bisa ada semacam jarak antara cara berpikir tokoh dengan kenyataan yang dihadapinya.
Dan betul. Tamatnya enggak ngeh.
Aduh, kok aku jadi nggak enak gitu ya begitu sampai di endingnya.. "Hahaha.." nya anak itu malah mengurangi rasa simpatiku terhadapnya (yang telah dibangun dengan baik oleh penulis). Dan memang kurasa suasana yg ingin digambarkan adalah itu. Tapi kenapa malah anak itu jadi terkesan sombong dan angkuh begitu ya. Jadinya kurang sinkron aja gitu dengan deskripsi dan pembangunan karakter di awal-awalnya. Pun jadinya tujuan dari cerita ini kurang jelas.
Peralihan - dari si tokoh utama dipilih untuk mengikuti lomba cerpen, ke-saat dia menang, nggak enak banget. Bukan karena tiba-tiba dia udah menang aja gitu, tapi kalimat penghubungnya yg kurasa nggak pas.
Dialog juga - menyedihkan (maaf ya mas Bam), tapi untuk seorang penulis seperti mas Bam (yg kuanggap sudah mengerti trik-trik penulisan cerita), menulis dialog yang 'standar percakapan manusia seharusnya' begitu sungguh mengecewakan. Untuk apa menuliskan dialog yang pembaca sudah ketahui akan seperti apa (lontaran kata- dan jawaban si orang yang diajak bicara). "Yang itu apa lagi?" ; "Amplop." ; "Amplop apa?" ; "Aku nggak tahu, Bu." ; "Belum kamu buka?" ; "Belum." ; "Coba kamu buka!" ; "Ibu saja yang buka."
Maaf ya mas kalau saya sok tau.. ^_^
Wah..bener2 bener terharu membaca cerita ini...
Sebuah potret kehidupan...
cerita yg bagus Mas Bamby.. ^_*
haa, bagus banget Om.
endingnya bikin aku ikutan ketawa.. jadi mengaburkan inti ceritanya. yang lainnya udah sangat bagus dan pas!
cuma ingin bilang bahwa ide itu datangnya bisa darimana saja.....terus menulis ya Om apa Mas bamby...secara kamu adalah Idola wie.....
mas.. otakmu banyak banget idenya.. salut!!,,, tapi yang bagian akhir,, kurang greget nih mas...
tapi judulnya kayaknya kok kurang pas ya?
Banyak yang masalahin ending ya??
Tapi aku cukup sreg kok sama endingnya.... ^O^
Still, great job Bang Bamby....
Terima kasih buat sidang pembaca yang terhormat (hehehe bahasanya kayak generasi Balai Pustaka banget ya?) atas kritik, saran dan waktunya untuk membaca cerita ini.
Judulnya diganti dengan yang lebih "sejuk" agar nuansa di Judulnya (semula: rejim Ibu) yang "provokatif" tidak mempengaruhi isi cerita ini.
enyak mas baca ceritanya, ngalir banget, mas Bam bangeeet...
(jadi inget bulan ini belum transfer untuk ibu.. ;D)
Oh... i miss my mom...
sosok ibu emang sangat berarti buat kita mudah-mudahan saya bisa memberikan yang terbaik buat ibu saya thanks ya.......
mengharukan, lembut mencerna jalan ini, kalimat yang ditawarkan khas banget mas, sederhana, bersahaja, dan bermakna
seneng bc ceritamu mas..
ini keren Mas Surip.. upf Mas Bam, sumpeh deh...
akhir2 ini gw suka sama kisah kehidupan, apalagi masa lalu..
Emaa.......k
hakhakhakhak mas bam.
ekspressi terakhir bikin ngakak ni.
keren ceritanya.
kereeennnn....
siip...
baca lagi ah...
Cerita yang sederhana tapi bermakna, mengalir secara alami..
Tapi kayaknya iklan delivery service restoran cepat saji kurang pas di masukin ke situ kang.. hehe.. punteun yah protes dikit