One Shot story dari Red Cloud universe...
"Langit dipenuhi awan kemerahan. Petir menyambar bersahutan, menciptakan permainan cahaya yang begitu menakjubkan. Bumi adalah sebuah kapasitor raksasa dan tampaknya sekarang ia nyaris penuh. Ori memicingkan matanya memandangi partikel-partikel elektron yang berloncatan.
"Hei Ori, jangan melamun saja!"
Terdengar gemerisik, suara seoarang lelaki tua dari sebuah transmiter yang terpasang di dalam pakaian pelindung yang di kenakan Ori. Pertama kali ia mengenakannya ia terlihat seperti seorang penyelam kuno dari abad pertengahan, hanya saja pakaiannya sedikit lebih canggih.
"Sudahlah Daka, ini baru kali ketiga ia menyelam, seingatku aku dulu juga seperti itu."
"Kau terlalu memanjakannya Hasdak!"
"Maafkan aku."
Tak ingin perdebatan itu terus berlangsung, setelah meminta maaf Ori kembali pada pekerjaannya. Dengan Light Cutter di tangannya ia dengan sabar memotong-motong bangkai mobil--sejenis alat transportasi yang dulu digunakan manusia--menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian dimasukkannnya ke dalam container. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tiga orang yang mengenakan pakaian serupa dengannya melakukan hal yang sama.
"Berapa waktu yang tersisa?"
"Tiga puluh menit."
Yang menjawab pertanyaan Daka adalah Kyu. Ia sebaya dengan Ori, namun ia sudah masuk ke dalam tim lebih lama daripada Ori. Ori kembali berdiri diam, namun kali ini ia memandang bagaimana Kyu melakukan pekerjaannya dengan begitu terampil.
"Hei jangan melamun."
"Maaf... maaf..."
Teguran Hasdak menyadarkan Ori dari lamunannya. Lelaki itu kemudian terkekeh. Ori bersyukur Hasdak menggunakan saluran yang berbeda untuk mengingatkannya, ia sudah mendapat lebih dari cukup bentakan Daka hari ini. Sepuluh menit kemudian terdengar perintah Daka untuk kembali ke lift.
Berjalan dengan pakaian pelindung itu sangat melelahkan, dan meskipun Ori sering menggunakannya ketika latihan ia tetap saja berkeringat. Sambil mengeluh ia terus berjalan sambil menarik container yang melayang beberapa cm di atas permukaan tanah.
"Kau baik-baik saja ?"
Suara Kyu terdengar begitu lirih. Meskipun menggunakan saluran private, ia tampaknya masih khawatir suaranya terdengar oleh yang lain. Ori menolehkan kepalanya. Beberapa meter di sampingnya, Kyu yang berjalan dengan containernya bahkan tidak sedikitpun melirik kepadanya. Kyu selalu seperti itu.
Lift yang mereka naiki perlahan mulai bergerak. Metode yang sama pernah digunakan pada semacam kapal selam kuno, sebuah kapsul diikatkan menggunakan tali kemudian di turunkan secara vertikal ke dalam lautan. Begitu juga lift itu, saat ini pun sebuah motor listrik berputar perlahan mengangkat mereka dari daratan menuju ke Flying Fortress.
Semuanya begitu tenang. Ori memandangi orang-orang yang duduk di dekatnya. Ia tak dapat melihat ekspressi mereka di balik kaca depan helm yang mereka gunakan. Mungkin juga saat ini mereka sedang berbincang-bincang menggunakan saluran private. Entah kenapa rasanya sedikit kesepian, tapi Ori terlalu segan untuk memulai percakapan.
"Hari ini kita beruntung sekali."
Hasdaklah yang memulai percakapan menggunakan saluran umum. Suaranya terdengar riang.
"Entah apa kita bisa menemukan tempat seperti ini lagi he he he."
Tidak seperti biasanya, Daka pun terdengar cukup gembira. Sementara Kyu, seperti biasanya hanya diam mendengarkan.
Meskipun Ori baru menyelam tiga kali, ia mengakui bahwa ia tak pernah merasa pekerjaan mereka bisa semudah ini. Bangkai mobil--juga berbagai benda lain--bertebaran dimana-mana bertumpuk satu sama lain, menunggu di potong-potong lalu siap di masukkan ke dalam container. Mungkin tempat seperti ini yang oleh para diver di sebut kuburan logam.
"Kenapa begitu?"
Ori memberanikan diri bertanya, paling tidak sekedar menunjukkan bahwa ia mengikuti pembicaraan tersebut.
"Bukankah itu sudah jelas?"
Daka kembali menyentaknya.
"Red Cloud bergerak, mengalir dari satu tempat ke tempat lainnya dan Flying Fortress pun sedikit banyak akan turut bergerak mengikutinya."
Kyu memberi penjelasan sesingkat mungkin, mendahului penjelasan panjang lebar --diseratai bentakan-bentakan --yang mungkin akan diberikan oleh Daka.
"Humph begitulah."
"Tapi hari ini, bisa dibilang kita betul-betul beruntung."
Nada suara Hasdak terdengar sedikit muram.
"Ini pelajaran berharga buatmu nak... berhati-hatilah jika memasuki kuburan logam."
Kenapa? Ori menahan diri untuk tidak menanyakannya.
"Jumlah logam yang sangat besar... kadang memancing timbulnya badai..."
Spontan Ori memandang ke arah Kyu. Ia sedikit kecewa karena Kyu sama sekali tak memandang ke arahnya. Sisa perjalanan pulang itu mereka lalui dalam diam.
***
Saat mereka tiba di Flying Fortress hari sudah menjelang senja. Langit dan lautan awan sama-sama berwarna merah, begitu juga dengan matahari. Arubil, jam merah, adalah kata yang biasa digunakan untuk menyebut saat seperti ini.
Ori melepaskan pakaian pelindungnya di ruang ganti. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat, ia betul-betul kelelahan. Mungkin benar kata-kata Daka dulu, bahwa pekerjaan ini terlalu berat untuknya.
Di pintu lokernya ada gambar seekor hiu tertempel, kusam dan mengelupas di beberapa tempat. Loker yang sama yang dulu di gunakan oleh ayahnya.
"Hei cepatlah!!!"
Daka berseru sambil menggedor pintu. Sesaat Ori terkejut, ia kemudian bergegas mengganti pakaiannya.
Ketika pintu kembali tertutup ia bisa mendengar suara tawa Daka dan Hasdak. Apa yang mereka tertawakan? Beberapa ide bermunculan di kepala Ori. Tidak... mereka tidak seperti itu...
"Kau baik-baik saja?"
Berdiri tak jauh darinya, Kyu menghabiskan air minum di dalam gelasnya. Laki-laki itu masih mengenakan pakaian pelindungnya. Rambutnya yang kebiruan terkulai basah oleh keringat. Dan seperti biasa tak sekalipun, ia memandang ke arah Ori.
"Uh terima kasih... untuk mengkhawatirkanku..."
Ori jauh lebih pendek dari Kyu sehingga ia harus sedikit mendongak untuk memandang wajah Kyu. Ia berharap menemukan suatu ekspressi di wajah Kyu tapi rupanya sia-sia saja.
"Kau rekanku, wajar kalau aku peduli."
"Eh.."
Ori tak percaya Kyu menyebut dirinya rekan. Namun sebelum ia kembali mengucapkan terima kasih, lelaki itu sudah masuk ke dalam ruang ganti.
Sementara itu di dekat pintu utama markas Shark-- nama kelompok Diver tempat Ori bergabung --seorang gadis berambut pirang tampak telah menanti kedatangan Ori.
***
GLOSSARY
Red Cloud:
Awan merah bermuatan listrik yang menutupi 89% dari seluruh permukaan bumi. Merupakan hasil dari apa yang disebut Jupiter Effect.
Diver:
Penyelam. Sebuah profesi yang umum ditemui di era setelah Red Cloud Phnomenon. Bertugas menyelam masuk ke permukaan bumi lalu mengumpulkan material yang diperlukan (pada umumnya logam-logaman).
Flying Fortress:
Kota melayang yang diciptakan manusia untuk bertahan hidup setelah adanya Red Cloud Phnomenon. Menggunakan energi yang didapat dari Red Cloud, Flying Fortress dapat terus melayang di udara. Sedikit Ironis karena yang menyebabkan manusia harus hidup di Flying Fortress adalah Red Cloud itu juga. Saat ini ada ratusan Flying Fortress tersebar di seluruh dunia.
Light Cutter:
Pisau Laser. Salah satu instrumen utama yang dimiliki para diver. Sangat berguna untuk memotong material yang ditemukan menjadi kepingan-kepingan kecil.
Container:
Wadah pengangkut. Didesain sedemikian rupa sehingga dapat melayang beberapa cm diatas permukaan tanah. Fungsi ini hanya dapat digunakan di dalam Red Zone (area di antara daratan dan lapisan Red Cloud).
Lift:
Kapsul yang digunakan untuk membawa Diver turun ke dalam Red Zone, juga untuk mengangkat mereka kembali.
Tag:













