Untuk Dirinya yang Tak Pernah Menyemai Dukaku
Betinaku hilang
saat aku berada di ketinggian nelangsa
saat aku berdiri di atas menara ini
saat aku merambah peluh merinduku
Cinta ini hanya mengeksploitasi hati
hanya memeras kerutan dahi
hanya menguras samudra air mata
Cinta ini tiada berpikir
tiada pernah berucap janji
tiada pernah membaca tangis
tiada pernah meruyak benci
Saat aku tak bernyawa
cinta hanya tertawa
takdir hanya menyinyir
hati hanya mencibir
Saat aku kehilangan cinta
Mereka mencoba menghiburku
dengan senandung sindiran
Karena aku tertikam perasaan
Rating
47
points
Views: 2 reads
Comments: 0
Rating:
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
tapi itu semua bukanlah petaka ciptaan manusia tapi hakekatnya adalah sebuah asmara di eposide petualangan cinta yang menghujam di kopolosan jiwa anak manusia.. berbenam diri dalam perasaan adalah simbul ketidak berdayaan
gw suka kalimat awalnya, bikin org pengen baca terus : betinaku hilang.
salam kenal.
Gimana yak, Menara. Hmm, saia aja binun bilangkanna sama kamu. BEgini loh, ini yg saia tangkep dari makna puisi kamu ini.
Kamu membawa diksi dan balutan kata di atas makna. Maksudna, saia ngerasa kamu lebih mengutamakan diksi artian sebuah puisi secara umum.
Eksplor deh! Kamu bakal menemukan sesuatu dalam menulis puisi yang selama ini belum kamu temukan. Rasanya asyik banget...
Keep read
rasa terasa dirasakan
berasa merasakan
rasanya rasa !
penggambaran kesedihan cinta yang bagus...!