this story is the sequel of Sepak Bola & Sahabat Part 1..
please, give a comment for me...
enjoy it...
Read more (3106 words)
Hari ini seperti biasanya mereka sibuk latihan. Dua hari lagi mereka akan menghadapi sebuah pertandingan. Tapi sayangnya Dava nggak akan bisa bermain. Kakinya belum cukup kuat untuk menghadapi suatu pertandingan. Dan sampai saat ini Rafka masih belum mengizinkannya bermain. Yang anehnya Dava nurut dengan perkataan Rafka. Tapi sedih rasanya kalau harus melihat teman-temannya berlatih sedangkan dia hanya disuruh duduk manis. Dan Naya bisa melihat kesedihan itu.
***
Sekarang SMU Giza menghadapi babak empat besar. Tapi mereka harus bertanding tanpa kapten kesayangan mereka. Dava hanya boleh melihat mereka bertanding. Tapi dia optimis timnya bisa menang dan masuk babak semifinal. Semua anggota tim juga ingin memberi Dava kesempatan untuk bertanding lagi. Untungnya, tentunya setelah menghadapi kesulitan di pertandingan, akhirnya mereka bisa memenangkan pertandingan ini. Nggak mudah untuk mereka menghadapi babak empat besar tanpa kapten mereka. Tapi dengan kemenangan ini, Dava akan bertanding besok.
Malamnya, seusai pertandingan, mereka semua pergi ke rumah Naya. Di sana Naya sudah menyiapkan pesta barberque untuk mereka sebagai perayaan kecil karena mereka berhasil masuk semifinal. Ini adalah yang pertama kalinya mereka bisa sampai babak semifinal. Jadi harus ada perayaan kecil-kecilan untuk ini. Dan saat ini mereka sedang bakar-bakaran di taman belakang pinggir kolam renang. Tapi Dava kelihatannya kehilangan seseorang. Naya tiba-tiba menghilang!
“Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday. Happy birthday. Happy birthday to you.” Orang yang dicari Dava tiba-tiba datang dengan sebuah nyanyian dan kue ulang tahun. Dia berhenti tepat di depan Dava. “Selamat ulang tahun Dava.” Ucap Naya. Tapi Dava masih bingung dengan semua itu. Dia hanya diam tanpa komentar apa-apa. “Lo pasti bingung. Kita sengaja ngadain pesta ini buat lo… supaya hari ini nggak akan pernah lo lupain.” Alasan lain karena Naya nggak mau Dava sedih dengan keadaan kakinya. Tapi Dava nggak perlu tahu.
“Gue ulang taun ya? Kok gue lupa ya?” Dava menertawai dirinya sendiri. “Makasih banyak.”
Kemudian semua teman-temannya, Naya dan Rafka menyanyikan lagu Happy Birthday To You. Dan Dava meniup lilin ke-18nya. Kue yang Naya beli sangat lucu. Ukurannya lumayan besar dan sengaja dibentuk menyerupai lapangan bola. Ada juga sebelas pemain beserta gawang dan bolanya. Di tempat kick off ditarulah lilin berbentuk angka 1 dan 8. Dava terkesan sekali dengan semua ini. Dia tahu pasti Naya yang merencanakan semua kejutan ini. Dan sebagai tanda terima kasihnya Dava memberikan first cake untuk Naya, lalu menyuapinya. Alhasil teman-temannya menyoraki Dava dan menggoda mereka berdua. Biarlah mereka seperti itu, yang pasti ada hal tak ternilai malam ini.
“Ini kado dari kita.” Naya memberikan dua buah kado.
“Itu kado dari Naya doang. Dia yang beli. Bukan kita.” Riza tiba-tiba nyeletuk.
“Bener dari lo?” Dava kelihatan sangat senang. Dan Naya hanya menjawabnya dengan dua kali anggukan. Kemudian Dava membukanya. Isinya sebuah foto ukuran 10R lengkap dengan bingkainya. Foto itu adalah foto semua anak bola lengkap dengan Rafka sang pelatih dan Naya sang manajer.
“Thank’s.” Kalau Dava perempuan, mungkin dia sudah menangis karena terharu.
Lalu Dava membuka kado yang lainnya. Kali ini isinya sepatu bola. Sudah lama sekali Dava menginginkan sepatu ini. Dan Naya dengan sangat pintar memilih kado yang tepat. “Gue nggak tahu harus ngomong apa lagi… yang jelas gue seneng banget. Dan makasih buat kadonya.”
“Ada satu lagi.” Rafka memberikan sebuah kotak besar.
Dava membukanya. Lalu mengeluarkan isinya. Menatapnya. Dan tersenyum bahagia. Isinya adalah sebuah bola sepak yang penuh dengan tanda tangan teman-temannya beserta ucapan selamat ulang tahun. Ini adalah kado terindah buat Dava. Dan dia benar-benar nggak bisa menahan diri untuk memeluk Naya karena dia begitu gembira dengan kejutan ini dan kado-kado yang sengaja Naya berikan. “Gue nggak akan make bola ini buat main supaya tanda tangannya nggak ilang. Thank’s banget, Nay.” Diantara semua ulang tahunnya, ulang tahun kali ini adalah yang paling bermakna, karena dia sangat bahagia, dan dia menemukan hal yang selama ini tidak diyakininya.
Ketika sudah malam sekali, Dava sengaja mengajak Naya ngobrol. Teman-temannya sengaja menyingkir dan berkumpul di dalam rumah supaya tidak mengganggu mereka. Mereka duduk di tepi kolam renang. Suasana malam ini begitu menyenangkan. Bintang dan bulan tampak bersahabat dengan langit yang indah. Sinar lampu di taman ini menyatu dengan terangnya sinar purnama, yang menambah nyamannya suasana malam ini. Nice place. Nice time. Nice feel.
“Lo suka bulan purnama nggak?” Tanya Dava yang sedang memandangi indahnya langit.
“Suka banget.” Malam ini juga cukup spesial karena bisa memandangi bulan bersama Dava.
“Makasih ya, Nay. Gue bener-bener seneng malam ini. Seumur hidup gue baru elo cewek yang ngasih gue kejutan kayak gini. Jujur ya gue terharu banget. Lo tuh baik banget sama gue.” Mungkin jika bisa, Dava ingin mengucapkan terima kasih setiap saat karena ulang tahunnya sangat berarti. “Pertama kali kita ketemu… gue pikir lo tuh cewek yang rese dan sok tahu. Sok-sok mau jadi manajerlah. Tapi… setelah gue kenal lo… ternyata lo tuh baik banget. Ternyata penilaian gue tentang lo salah. Kesan pertama emang nggak bisa jadi tolak ukur ya?” Dava memang sudah salah menilai. Mungkin sekarang dia kena karma.
“Kesan pertama gue tentang lo juga jelek kok. Lo tuh cowok angkuh. Nggak mau dengerin orang lain. Dan nggak mau ngasih kesempatan. Tapi… dibalik itu semua ternyata lo tuh bijaksana.”
“Mungkin. Dan ternyata seorang cewek kayak lo ngasih perubahan yang besar banget ya? Mulai dari lo tiba-tiba dateng. Trus lo bawa kakak lo untuk ngelatih kita. Dan perubahan di tim gue. Lo tahu… sejak kakak lo ngelatih, kita jadi tambah semangat. Dan gue baru nemuin arti kebersaam sejak ada lo dan Rafka. Kerasa banget bedanya. Sekarang kita semua kayak keluarga. Gue jadi ngerasa sayang banget sama semua temen-temen gue.” Dava berterima kasih pada Naya.
“Kita kan emang satu keluarga.” Naya tersenyum sangat manis padanya.
“Nay…” Dava memegang satu tangan Naya. Jantung Naya berdetak sangat cepat. “Lo mau nggak...” Perkataan itu berhenti di tengah jalan. Dava seakan nggak punya keberanian untuk mengatakannya. Tapi jantung Naya berdetak lebih cepat. “…terus jadi manajer kita?” Sejujurnya pertanyaannya ini bukan pertanyaan yang ingin ditanyakannya. Dan tentunya Naya mengiyakan.
***
Malam ini seusai latihan, mereka makan bersama di sebuah restoran langganan Dava. Letaknya di depan komplek rumah Rafka dan Naya. Kebetulan mereka semua nggak keberatan untuk makan bareng. Malah kelihatannya mereka sangat senang karena bisa berkumpul seperti ini. Apalagi Dava, dari tadi dia selalu duduk berdekatan dengan Naya. Kelihatannya mereka asik dengan dunia mereka sendiri. Sedangkan Andre dan kawan-kawan malah menggoda dan menyuruh mereka pacaran aja.
“Rafka…” Naya memanggil Rafka yang baru datang. Tapi ternyata dia menggandeng seseorang.
“Hai semua…” Sapanya. Dan dibalas oleh semua temannya. Tapi mereka terlihat sama bingungnya dengan Naya. “Nay, kenalin… ini Kania. Cewek gue.” Cewek itu tersenyum manis sambil menjulurkan tangannya. Tapi Naya hanya diam sambil terus menatapnya. Udah menjadi kebiasaan Naya kalau setiap Rafka punya cewek, Naya harus setuju dengan cewek pilihannya. Dan biasanya Rafka selalu menanyakan pendapat Naya tentang cewek-cewek yang dekat dengannya. Tapi kali ini Rafka tiba-tiba membawa seorang cewek tanpa memberitahukan dia terlebih dahulu. Naya berpikir.
Dan ternyata… “Naya.” Naya menyalaminya setelah beberapa menit memikirkan kenapa abangnya tidak menanyakan pendapatnya. Itu artinya dia menerima Kania.
Setelah itu suasananya jadi mencair. Sejujurnya Naya menyukai Kania. Ketika sesaat Naya melihat Rafka, dia mengucapkan terima kasih karena sudah menerima pacarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Saatnya mereka harus pulang. Tadinya Naya ingin ikut kakaknya pulang sambil mengantarkan Kania. Tapi ternyata Dava malah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Kebetulan komplek mereka dekat dari restoran ini. Bahkan tadi Dava sempat pulang dan kembali dengan sepedanya. Kini dia menawarkan untuk mengantar Naya pulang menaiki sepedanya. Dan Naya menerima tawarannya. Lalu Dava mengantar Naya pulang dengan sepeda kesayangannya itu. Pokoknya romantis banget naik sepede berdua. Tapi Dava memberhentikan sepedanya di taman komplek yang penuh bunga. Dia ingin ngobrol-ngobrol dulu sebelum mengantar Naya pulang. Mereka duduk di kursi taman. Tapi saat mereka sedang ngobrol-ngobrol asik, handphone Naya tiba-tiba berbunyi.
Nino!
Dava tahu maksud Nino menelepon Naya. Tapi Naya kelihatannya kurang mengerti. Walaupun begitu, Naya menyudahi pembicaraan mereka dengan cepat karena nggak enak juga sama Dava. Kelihatannya air muka Dava mulai berubah.
“Lo suka sama Nino ya?” Tanya Dava begitu Naya mematikan teleponnya.
“Hah?” Naya kaget dengan pertanyaan ini. Dava hanya mengangguk tanda pertanyaannya bukan bercanda. “Nggaklah.” Tegas sekali ucapannya. “Gue emang deket sama dia, tapi cuma sebatas temen. Nggak ada feeling apa-apa.”
“Tapi Nino kan keren. Jago. Hebat. Kapten, lagi. Masa lo nggak suka?” Kelihatan sekali kalau Dava nggak suka dengan ucapannya sendiri. Dan dia nggak bisa menutupinya. Naya tahu itu.
“Lo lebih hebat kok. Diantara semua kapten bola, elo yang paling hebat. Nino mah kalah. Kalo masalah suka, bisa aja gue suka sama dia, tapi… gue tuh bener-bener nggak ada feeling. Mau dia terus deketin gue kayak apapun, kalo gue nggak ada feeling, ya gue nggak bakalan suka.”
“Oke, kalo emang gue hebat, suatu hari nanti gue bakal ngasih hat trick buat lo. Gimana?” Dava ingin memberikan sesuatu pada cewek yang telah menganggapnya hebat. Dan Naya mengiyakannya. “Gue anter pulang sekarang ya? Udah malem nih.” Ajak Dava, dengan tersenyum.
Kali ini Dava benar-benar mengantar Naya sampai rumahnya. Dia memarkirkan sepedanya sebentar setelah Naya turun. Kemudian ia mendekati Naya. Lalu… dengan sangat lembut dia memberikan satu kecupan di kening Naya. Dan Naya menerimanya begitu saja. “Good night!”
Dengan hati yang sangat bahagia, Naya mengucapkan selamat malam juga. Lalu dia membuka pintu rumahnya. Memasukinya. Melambaikan tangan ke Dava. Menutup pintunya. Lalu menyender di pintu sambil tersenyum malu-malu sampai mukanya memerah. Dia merasa sangat bahagia malam ini. Cinta… cinta… selalu datang nggak diduga. Dan terasa begitu manis.
“Cie yang baru dicium.” Rafka tiba-tiba mengagetkannya. Ternyata dia melihat kejadian tadi.
***
Hari ini akan menjadi hari yang berat untuk tim SMU Giza. Kenapa? Karena mereka akan menghadapi babak semifinal dengan lawan yang sangat berat yaitu SMU Haza. Kali ini Dava dan Nino akan bertanding dan memimpin timnya masing-masing. Tapi dibalik semua itu, kelihatannya ada masalah pribadi yang membuat mereka lebih bersemangat untuk saling mengalahkan. Apalagi sebelum pertandingan, Nino sempat menemui Naya. Dan sayangnya Dava melihat mereka berdua.
Pertandingan kali ini benar-benar seru. Masing-masing tim tidak mau memberi kesempatan tim lawannya untuk mencetak angka. Kedua tim ini kelihatannya sudah berlatih keras dan sekarang mereka berusaha untuk nggak kebobolan. Andre selalu siap menjaga gawangnya. Sedangkan semua pemain SMU Giza selalu menjaga lawannya. Alhasil pertandingan ini memang kelihatan seru, tapi agak membosankan karena tidak satu gol pun terjadi. Meskipun begitu, terlihat sekali kalau mereka sangat lelah menghadapi lawannya. Beberapa kali Giza mencoba mencetak angka, tapi selalu berhasil ditangkis dan tidak bisa membuat gol. Akhirnya pertandingan babak pertama harus berakhir dengan skor 0-0. Giza agak kecewa.
Babak kedua dimulai. Kick off pertama dimulai. Mereka saling mengejar bola. Bola berhasil diambil alih oleh Riza, tapi nggak lama setelah itu salah satu gelandang Haza berhasil merebutnya. Pertandingan semakin seru setelah 5 menit pertama. Lalu 10 menit kemudian, terlihat ada yang aneh. SMU Haza sepertinya tahu strategi SMU Giza dalam permainan ini. Mereka kelihatannya bisa membaca permainan Giza, sehingga mereka selalu bisa merebut bola. Setelah 20 menit berakhir, pertandingan ini kelihatannya mulai dikuasai oleh Haza. Makin lama mereka makin tahu strategi dan trik-trik yang Giza gunakan, padahal hanya anggota merekalah yang tahu strategi ini. Konsentrasi tim Giza mulai terpecah. Mereka semua bertanya-tanya kenapa Haza bisa mengetahuinya. Mereka mulai terbawa emosi. Tapi karena hal itulah mereka harus merelakan satu tendangan pinalti untuk tim Haza. Dan… Gol! Skor sekarang jadi 1-0 untuk kemenangan SMU Haza. Dan pertandingan ini harus berakhir dengan skor 1-0 untuk kekalahan tim Giza.
Sekarang mereka semua tengah berkumpul di ruang khusus tim SMU Giza. Naya datang.
“Guys… it’s just a game. Kekalahan itu kan bukan akhir dari segalanya. Kalian jangan sedih dong. Kan kalian masih bisa ngerebut juara ketiga.” Naya mencoba menyuport mereka.
“Keluar dari tim kita.” Perintah Victor. Kata-katanya sangat tegas dan menyakitkan.
Naya syok. “Maksudnya apa?” Naya tahu Victor nggak main-main dengan kata-katanya.
“Lo tahu kenapa kita bisa sape kalah? Itu karena permainan kita kebaca. Mereka tahu strategi yang akan kita lakuin dalam pertandingan hari ini. Dan mereka udah nyiapin diri untuk ngalahin kita.” Victor kelihatan marah. Tapi yang lain hanya diam. Begitupun Dava.
“Tapi apa salah gue?” Naya masih bingung, padahal dia tidak merasa bersalah sama sekali.
“Karena lo ngasih tahu semua strategi kita ke Nino. Nino sendiri yang bilang kalo dia tahu dari lo.”
“Enggak.” Naya menggelengkan kepalanya. “Gue nggak ngelakuin itu… dan nggak akan pernah ngelakuin itu. Lo semua sahabat gue, dan gue nggak akan ngianatin kalian.” Hatinya sakit sekali.
“Tapi ini yang terjadi. Dan kita semua kecewa sama lo. Jadi mendingan sekarang lo keluar dari tim ini.” Berat rasanya mengatakan hal ini.
“Oke. Kalo emang gue ngecewain lo, maafin gue. Tapi sekali lagi gue nggak pernah ngasih tahu apapun ke Nino. Apapun yang lo denger dari dia itu omong kosong. Sekarang terserah lo mau percaya sama siapa.” Naya sangat sedih. “Tapi gue sayang sama kalian semua. Dan gue harap kalian sukses di pertandingan terakhir.” Naya tak kuasa menahan air matanya. Dia begitu kecewa karena tak ada satupun yang mempercayainya. Semuanya hanya diam. Entah apa yang mereka pikirkan. Mungkin diantara mereka ada yang percaya padanya. Andre kelihatannya masih percaya.
Naya berjalan mendekati Dava yang tengah menyender pada sebuah meja. “Lo juga nggak percaya sama gue?” Tanya Naya. Dia berharap Dava mempercayainya dan tidak menghakiminya.
Dava mengeluarkan bola kesayangannya dari tas. “Ini.” Memberikannya ke Naya. Diterima oleh Naya dengan kebingungan yang besar. “Gue udah nggak butuh.” Jahat sekali. Kado ulang tahun yang sangat disayanginya kini dikembalikan karena kemarahannya yang sangat besar.
Air mata Naya bertambah seiring dengan sakit hatinya akan kata-kata Dava. Bahkan dia tidak menatap Naya. “Trus yang kemaren itu maksudnya apa?” Naya kecewa sekali dengan Dava.
“Nothing.” Jawaban yang menyakitkan. Karena terlalu marah, Naya membuang bola itu ke lantai. Lalu pergi sampai menangis.
***
Naya duduk di taman belakang rumahnya. Air matanya turun begitu banyak karena dia tidak mampu lagi menahan semua kemarahan, kekecewaan, dan kesedihannya. Ini sangat menyakitkan untuknya. Terlebih lagi karena Dava menyakitinya. Tapi satu pelukan dari Rafka kelihatannya sedikit meredakan kesedihannya. Bebannya sedikit berkurang karena dukungan dan kepercayaannya.
Setelah hari itu Naya nggak pernah lagi menampakkan batang-hidungnya di lapangan bola. Dia sering melihat teman-temannya dari jauh. Tapi mereka nggak pernah tahu. Mereka hanya merasa kehilangan. Sama seperti Naya yang sangat kehilangan.
***
Naya terus saja melihat jam dinding di kamarnya. Dari tadi dia hanya mondar-mandir sambil memikirkan pertandingan ini dan perkataan Rafka yang menyuruhnya datang karena tim mereka sangat membutuhkannya. Baru kali ini Naya nggak hadir di pertandingan penting, dan rasanya emang ada yang kurang. Keinginannya untuk datang semakin besar ketika dia tahu pertandingan sudah dimulai sejak 10 menit yang lalu. Entah mengapa perasaannya sangat nggak tenang. Kemudian dia menyalakan handphonenya yang ternyata mati.
Nay, gw bner2 minta maaf. Gw ngerasa khilangan lo. Qta semua khilangan lo. Pliz bgt lo ksini. Qta tunggu.
- Dava -
Naya langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi ke tempat pertandingan. Sms ini meluluhkan kesakithatiannya. Tapi sayangnya ketika Naya sampai di sana, pertandingan babak pertama sudah berakhir dengan skor yang mengecewakan. 2-0! Kini mereka semua tengah beristirahat sebelum babak kedua. Semuanya kelihatan kecewa. Ternyata mereka memang sangat membutuhkan Naya.
“Ha-i…” Naya kelihatan takut menemui mereka. Apalagi melihat air muka mereka yang agak dingin. Tapi setelah mereka melihat Naya, mereka jadi tersenyum dan mendekatinya.
“Naya… gue minta maaf. Gue bener-bener minta maaf.” Pinta Victor. Dia yang paling jahat dalam menghakiminya. Tapi Naya memaafkannya. Victor langsung memeluknya. Yang lainpun ikut memeluknya dengan perasaan bersalah, permintaan maaf, dan bahagia karena orang yang mereka inginkan kini datang dan seperti memberi semangat baru.
Naya sangat bahagia bisa berada di sini lagi, bersama kawan-kawannya. Tapi kemudian Naya melihat Dava dengan tampang menyesal. Dia berdiri sendirian di depan kursi. Lalu Naya melepaskan pelukannya. Dia mendekati Dava.
“Kalo lo nggak mau maafin gue juga nggak pa-pa kok. Gue emang jahat banget sama lo. Dan gue udah cukup seneng lo bisa dateng ke sini. Kedatangan lo ngasih pengaruh yang besar banget.”
“Mana hat trick yang lo janjiin?” Dava langsung kaget. “Masa mau kalah dengan 2-0?” Naya sepertinya menantang. “Kalo lo bisa bikin hat trick hari ini dan menangin pertandingan… gue bakalan maafin lo. Gimana?” Tawaran yang cukup menarik.
“Pasti.” Respon Dava yakin. Misi dia sekarang adalah hat trick dan menang. Dia harus mendapatkan kata maaf dari Naya.
Lalu mereka semua bersiap-siap untuk babak kedua. Tapi sebelum Naya keluar, dia melihat ada sesuatu yang menarik. Bola berisi tanda tangan pemberiannya kini ada di tas Dava. Artinya…
Pertandingan ini semakin seru di babak kedua. Kelihatan sekali perbedaannya dibanding babak pertama. Bahkan lawannya pun bingung kenapa tim Giza bisa sampai begitu semangat dan bahkan menguasai pertandingan. Satu gol pemula berhasil ditembakkan oleh Dava. Lalu gol kedua, dia juga yang mencetak. Tinggal satu gol lagi, dan ini akan menjadi penentu kemenangan dan permohonan maafnya. Pada saat additional time, lebih tepatnya pada 1 menit terakhir, Dava menembakkan bolanya ke gawang lawan. Dan… GOOOL! Dava tersenyum ke Naya, dan dibalas dengan senyuman juga. Dava berhasil melakukan hat trick. Dia menang. Dan dia akan mendapatkan kata maaf dari Naya. Atau bahkan lebih dari itu. Kali ini dia harus berhasil melakukan misi terakhirnya.
Seluruh anggota tim berkumpul di tengah. Mereka saling berpelukan saking senangnya. Pertandingan ini berakhir dengan sangat memuaskan. Mereka sangat bahagia walau hanya dapat juara ketiga. Jadi, seorang Naya memang bisa membuat tim ini menang secara nggak langsung.
“Hebat.” Naya mengucapkannya saat Dava mendekat. Lalu Dava langsung memeluknya.
Setelah beberapa lama memeluk Naya, dia baru melepaskan pelukannya. “Jadi gue dimaafin?”
“Iya.” Cukup singkat, tapi bermakna. “Thank’s hat tricknya.” Naya merasa sangat istimewa.
Dava memegang kedua tangan Naya. “Apa lo mau jadi cewek gue?” Akhirnya Dava berhasil mengatakannya. Inilah misi terakhirnya. Dan teman-temannya cukup senang melihat adegan ini. Akhirnya teman mereka yang satu ini mengatakannya juga. Meskipun banyak yang melihat, tapi Dava nggak peduli. Dia cuma butuh jawaban yang menyenangkan. “Gue selalu cemburu liat lo sama Nino. Dan karena itu kemaren gue marah besar. Tapi… gue pengen tahu perasaan lo yang sebenernya, karena gue… sayang banget sama lo.
Naya menatap Dava lama sekali. Dia berpikir. Tembakan ini terlalu cepat. Tapi kalau gol, berarti hati mereka akan menyatu. Sepak bola dan cinta. Sepertinya keduanya akan menyatu. Mungkin ini memang terlalu cepat, tapi Naya pasti punya jawaban yang terbaik. “Emmm… gue mau deh jadi pacar lo.” Ucapannya agak main-main.Tapi percayalah… Naya sangat menyukai Dava.
Dava kelihatan sangat bahagia. “WOY, GUE DITERIMA!” Dia sampai berteriak karena terlalu senang. Lalu semua temannya datang dan memeluk mereka berdua. Dan minta ditraktir.
The End ya...
he he...
saya udah lama juga tunggu kelanjutanya..
akhirnya di tulis juga...
bener2 nice ending...