pagi
mengapakah engkau harus datang?
seperti penyusup yang meneriakkan maling di rumaku
megusir semua keluguanku
tertawa meratapi ragaku, dalam pasti
merenggut mimpi yang t'lah lama kurajut
pagi
kau memberikan embun bagi mereka
kau memberikan mentari baginya
tapi tidak bagiku
namun,
aku tidak meminta cahaya darimu
walau itu adalah hidupku
pagi
aku menari² di atas kegembiraanmu
dan aku mati di dalam kesedihanmu
walau dalam kehampaan semesta
ku tetap duduk disini
pagi
aku ingin menyesali kedatanganmu
tapi ku tak mampu
kau terlalu indah untuk diabaikan
terangmu terlalu menyejukkan untuk di elakkan
oleh karena itu pagi,
derita ini akan menjadi bahagiaku
untuk selalu melihatmu
Rating
67
points
Views: 3 reads
Comments: 0
Rating:
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
Pagi? seperti menceritakan masa kanak-kanak
sambut pagi, walau dalam nyata kadang mimpi tertunda mencapai ujungnya.
sambut pagi, karena dengan cahaya
yang ntah darimana, tetaplah yang baru
sambut pagi...
hal baru dalam hal mencapai kaji
salam
Aku koment apa yak, black?
DAh kesalurkan aja sama seseorang.
Hehehe. Awas!
huh pagi saya jarang sekali bertemu denganya,,,hahaha
kenapa ada dikotomi suka-duka dalam puisimu?. aku cuma bisa mengira bahwa ada keinginan dalam dirimu untuk tak lagi melihat pagi sebagai lambang berlanjutnya hidupmu,tapi disisi lain kamu memang ga bisa menyangkal keindahan pagi hari..tpi itu cuma perkiraan. btw,tentang pertanyaanmu tentang hruf 'a' yg aku tulis kecil dalam puisiku,hal itu memang sengaja.
mungkin kita harus memulai hari dari senja nih...seperti SGA yang mengagumi senja.
wich ampuh men
pagi-pagi dah kembali !
waw..aromanya...musim semi
judulnya aja yang ga banget