Darkness to Fear, Fear to Madness...
""Menurutmu apa yang membedakan manusia dari binatang?"
Aru mengangkat bahunya, ia sedang tak berminat dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang diajukan pria disampingnya. Dan jika seandaianya bukan karena perintah Pak Johan, walikelasnya, ia takkan mau menghabiskan waktunya berdua dengan Varna, siswa pendiam yang setahunya tak punya banyak teman di kelasnya.
"Aku juga tidak tahu."
Tapi entah kenapa Varna tampaknya menganggap Aru sahabatnya, begitu pula guru dan teman-teman kelasnya yang lain. Akibatnya mereka tidak segan-segan meminta perantaraan Aru jika kebetulan mereka ada urusan dengan Varna.
"Ouch"
Aru spontan menoleh ketika melihat pekikan Varna. Rupanya, ketika mengangkat buku-buku lama yang harus diletakkan di gudang tanpa sengaja lengan anak itu tergores, mungkin oleh paku yang banyak mencuat dari meja dan kursi rusak di sana.
"Kemarikan tanganmu!"
Sedikit gusar Aru menarik lengan Varna. Lukanya tidak dalam, tapi tetap saja darah mengucur dari sana. Setengah berlari Aru kemudian menyeret Varna yang sepertinya hanya diam terpana, ke pancuran air di dekat lapangan olahraga. Ia lalu membersihkan kemudian membalut luka di lengan Varna dengan sapu tangan yang kebetulan ia bawa.
Apa yang kulakukan ?
Dalam hati Aru mengutuki dirinya sendiri. Saat itu masih ada banyak anak yang beraktivitas di lapangan olahraga, entah apa yang akan mereka pikirkan jika melihatnya bersama Varna. Padahal selama ini ia berusaha sebisa mungkin menyangkal bahwa ia adalah sahabat Varna.
"Uhh terima kasih."
"Sudahlah..." Aru menarik napas panjang, "Ayo segera kita selesaikan, aku harus pulang sebelum pukul lima."
Tapi pekerjaan mereka berdua--memindahkan buku-buku bekas dari ruang guru ke gudang--ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari yang mereka perkirakan sehingga baru pada pukul 17.30 mereka bisa menyelesaikannya. Selama tiga puluh menit terakhir, Varna berkali-kali menawarkan pada Aru untuk meninggalkannya seorang diri, mungkin karena ia merasa bahwa hal ini terjadi karena kesalahannya.
Dan sebetulnya ini memang terjadi karena kesalahan Varna, mungkin juga karena kebodohan Aru. Pagi tadi, ketika ia berangkat ke sekolah, beberapa meter sebelum pintu gerbang sekolah, Aru berpapasan dengan Varna yang sedang terengah-engah berlari keluar dari area sekolah. Anak itu rupanya lupa membawa tugas yang seharusnya di kumpulkan hari ini, lalu entah kenapa ia mendapati dirinya, yang kebetulan mengendarai sepeda, menawarkan pada Varna untuk mengantarkannya kembali ke rumah. Tentu saja mereka terlambat, dan karenanya tugas membereskan buku-buku bekas yang seharusnya dikerjakan oleh penjaga sekolah dialihkan pada mereka berdua.
Selesai mencuci tangan, Aru berjalan ke tempat parkir sepeda di samping gedung olahraga, meninggalkan Varna yang memaksanya membiarkan dirinya menutup pintu gudang lalu mengembalikan kunci ruangan pada penjaga sekolah.
Langit tampak begitu merah seakan-akan darah baru saja tertumpah disana.
"Uh kau belum pulang?"
Varna tampak terkejut saat menemukan Aru masih menunggunya di pintu gerbang. Sekilas wajahnya terlihat gembira namun segera berubah menjadi murung.
"Naiklah!"
"Naik?"
"Aku akan mengantarmu pulang."
Aru baru beberapa bulan ini pindah ke kota ini, dan karena alasan itulah ia juga baru masuk ke sekolah pada pertengahan semester. Tapi itu sama sekali tak menghalanginya untuk segera akrab dengan teman-teman sekelasnya, dengan mudah ia membaur dengan orang-orang sekelilingnya dan dalam waktu singkat kebanyakan orang yang mengenalnya akan setuju bahwa ia adalah seorang anak yang periang.
Beberapa ekskul menawarkan pada Aru untuk menjadi anggota, yang dengan sangat menyesal harus ditolaknya--ia harus membantu pamannya membuka kedai pada sore hari. Lebih tinggi dari kebanyakan siswa laki-laki di sekolah, juga postur tubuh yang cukup atletis menjadikannya incaran bukan hanya ekskul olahraga, tapi juga siswi-siswi di sana.
Sebaliknya Varna selalu terlihat canggung, dan mungkin karena tubuhnya, yang menurut Aru lebih mungil dari kebanyakan, Varna sama sekali tak menonjol pada bidang olahraga apapun. Sementara kesan pendiam yang melekat padanya sama sekali bukan karena ia tak suka berbincang-bincang tapi lebih karena tak banyak yang mau bicara padanya.
"Terima kasih..."
Setelah beberapa saat, Varna mencoba memecahkan kesunyian diantara mereka. Ia merasa tak nyaman hanya mendengarkan desiran suara rantai yang bergesekan dengan gir sepeda.
"Lenganmu. Apakah baik-baik saja?"
"Uhh aku akan mencucikan sapu tanganmu."
Varna sedikit ragu apakah noda darah bisa hilang.
"Tak perlu."
Dengan itu percakapan mereka berakhir. Mungkin cuma perasaan Varna saja tapi rasanya Aru sama sekali menjadi sosok yang berbeda. Setahunya hanya kepadanya Aru bersikap ketus dan dingin, tapi ia tak sedikitpun merasa bahwa hal itu karena Aru membencinya.
"Kau langsung pulang?"
Aru menurunkan Varna tepat di depan tempat tinggalnya, sebuah rumah yang terlihat sepi dan kosong. Selama ini ia tak sekalipun bertemu dengan orang tua Varna. Dan kali ini seperti biasa, Varna secara implisit menawarkan padanya untuk mampir terlebih dahulu.
"Mungkin lain kali."
"Kalau begitu, selamat malam."
Varna baru saja berbalik ketika Aru memanggilnya.
"Hei! Katakan padaku apakah rumor itu benar?"
Wajah Varna seketika pucat pasi. Ia berusaha menghindari tatapan serius Aru. Sedikit ragu-ragu akhirnya ia mengumpulkan keberaniannya lalu menganggukkan kepalanya.
"Begitukah?"
Hanya itu yang diucapkan Aru sebelum ia kembali mengayuh sepedanya. Di halaman rumahnya, Varna berdiri dalam diam. Semuanya sudah berakhir.
***
Sembilan tahun sebelumnya...
Bocah itu terikat pada sebuah kursi. Di sekelilingnya terdapat potongan-potongan tubuh. Jari, telinga, kepala, tangan dan kaki, semuanya milik anak-anak. Lantai di penuhi genangan darah.
Di hadapannya sesosok bayangan dengan tenang memotong-motong satu persatu bagian tubuh seorang gadis. Gadis itu menjerit, menjerit dan terus menjerit setiap kali pisau yang digunakan sang bayang-bayang memisahkan satu bagian tubuhnya.
Namun sang bocah sama sekali tak menjerit, bukan hanya karena mulutnya diplester, ia bahkan tidak bergidik sedikitpun. Dengan penuh perhatian ia terus memperhatikan ekspresi sang gadis, menanamkan tiap detailnya pada memori di kepalanya. Rasa takutkah itu? Rasa sakitkah?
Sementara sang bayang-bayang dengan sabar melanjutkan kegiatannya. Seringkali sang gadis pingsan akibat perlakuan yang diterimanya, dan sang bayang-bayang pun memberikan semacam suntikan di leher sang gadis, menunggu sang gadis sadar lalu melanjutkan kegiatannya. Hingga pada akhirnya sang gadis tak lagi bisa bangun dari pingsannya.
Bayang-bayang itu untuk sesaat tampak kecewa. Ia lalu berpaling pada sang bocah lalu tersenyum. Namun tak lama...
"Apa-apaan ini?"
Sang bayang-bayang membuang pisau ditangannya.
"Menjeritlah! Menangislah!"
Sang bocah memandang sang bayang-bayang dengan tatapan kosong.
"Aaah! Aaaahhh! Aaaahhh!!!"
Bayang-bayang itu entah kenapa mulai menjerit. Tergopoh-gopoh ia berlari meninggalkan sang bocah seorang diri.
"Hei, katakan padaku..."
Bocah itu berjalan menghampiri tubuh sang gadis. Lalu mengangkatnya hingga ia bisa menatap wajah sang gadis dengan jelas.
"Katakan padaku... Apa yang kau rasakan?"
dikirim 145 9 minggu 5 hari yang laluTag:









