Chapter 3 : Kakek tua
“Maaf pak, tak seorangpun yang berani membuka mulut mereka. mereka semua ketakutan. Mungkin…”
“Diam!!! Ancam mereka, bilang jika tidak memberikan kesaksian akan dibunuh,” jawabnya cepat.
“Baiklah,” kata salah satu robot yang menjadi assistant Tn. Kiilloer (sebagai detectif).
“K908, gimana keadaannya?” tanya salah satu rekannya.
“Em..em,” sambil mengelengkan kepalanya. Setelah itu K908 dan rekannya K903 melihat seorang kakek yang dari tadi duduk dengan tenangnya di atas runtuhan rumahnya.
“Apa dia sudah mati?” tanya K908.
“Moga saja belum. Coba kita tanyakan padanya saja.”
Mereka berdua pun berjalan ke arah kakek itu. “Permisi kek, sebenarnya apa yang terjadi kek?”
Tak ada jawaban dari kakek itu. Ia masih saja menutup matanya. 1 menit, 2 menit. Dan saat K908 dan K903 merasa putus asa menunggu jawaban dari kakek itu. Saat K903 berdiri kakek itu membuka matanya. K908 yang sedari tadi menatap kakek itu mengurungkan niatnya untuk pergi.
Ia masih menunggu jawaban dari semuanya. K903 kembali duduk di depan kakek itu.
“Kalian ini semuanya robot?”
“Iya kek?”
“Kalian tidak akan mengerti apa yang akan aku katakan,” jawab kakek itu.
“Tenang saja kek. Aku akan merekam semua yang kakek katakan.” Sambil menekan beberapa tombol yang ada di telapak tangan kirinya.
“Baiklah akan aku ceritakan apa yang aku ketahui,” ujar kakek itu memmulai ceritanya.
To be continued……
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
wuch ...
ga sabar nech
terusin benner yach !