Pengumuman seputar migrasi kemudian.com klik pengumuman. Bagi yang ingin melanjutkan chatting, silahkan klik chatting
Di tepi sebuah jalan setapak, di tengah sebuah hutan, Janis pernah dalam diam melewatkan suatu siang hari yang sepi. Sesekali, terdengar burung-burung berkicau. Kicauan yang berasal dari balik berkas-berkas cahaya yang memancar melalui dedaunan. Sesekali, terasa ada gemerisik bantal-bantal sesemakan. Semak-semak tinggi yang tumbuh di sekelilingnya dari dalam tanah yang kecoklatan, merintangi langkahnya.
Lalu kemudian, Janis melihatnya datang: apa yang tampak sebagai gumpalan cahaya kecil dengan sepasang sayap mengepak-ngepak.
Sebuah cerita fantasi yang sangat bagus dan menarik. Sudah lama tidak membaca cerita kolaborasi manusia dan peri atau makhluk imajinasi lainnya. Dan Alfare menyajikan cerita ini dengan alur yang enak dibaca dengan pikiran yang berfantasi untuk menanti kelanjutan di kota industri falekenfa.
nih cerita fantasis, bikin penasaran, ada apa gerangan dibalik tapi konfliknya mana? kok gak ada seh! inih mah bukan cerpen namanya! tapi dongeng anak sebelum tidur! donT worry be happy! cerita kamu kern habis! di tunggu lagi karyanya ya!
walah... ternyata flash back ya? hmmm... oke, ini adalah adegan perkenalan mereka berdua. sekarang, cepat kasih aku lanjutan cerita utamanya! wakakakakak...
Janis memang sepertinya akan menjadi pahlawan. Tapi, mungkin lebih baik jika Janis bukan seorang fighter (yang menaiki Prajurit Prana), tetapi memiliki keinginan yang tinggi untuk melindungi teman-temannya (eh, kok, jadi mirip Ueki?).
Aku menunggu sisi romantis cerita ini.
Mau menghibur diri karena terus memikirkan cerita yang penuh kekompleksan? Baca Maaf, Elena tak Tertolong. Dijamin menangis.
Nyaris bingung karena tiba-tiba saja flashback... atau justru ini permulaan ceritanya? Uwaah dan ternyata setelah dibaca tetap bingung... kemunculan hamarut di hutan? kukira makhluk itu mencari dan menyerang manusia? dan tokoh Ruru... kayaknya di bab sebelumnya gak ada.... ah entahlah
Bab Pendahuluan
Jangan memejamkan mata.
Kalimat itu yang dikatakan Iwan berulangkali dalam hati sampai makna kata-kata tersebut menggema di dala ... lanjut baca
Bab 1: Gadis itu…
Iwan pernah dengar cerita; saat upacara penerimaan murid baru di SMA, tatkala Hania melintasi lapangan, pandangan semua orang s ... lanjut baca
Elwin
“Aku kagum sama orang yang berani jual croissant kosong, dia punya keyakinan kalau croissant yang dijualnya bakal laku. Artinya, dengan kat ... lanjut baca
Almaida
“Aku… aku bisa bikinin!” ucapku tergagap, suaraku lebih kecil dari biasanya dan pandanganku serta merta tertunduk. “Aku bisa bikini ... lanjut baca
Nuri
Aku sedang berada di jalan pulang waktu itu. Aku lagi melamun tentang omongan-omongan Rani siangnya di sekolah. Dia menyuruh aku mencari naska ... lanjut baca
Inggita
Waktu di SMP, selama jam-jam sekolah, aku dan Alma selalu sama-sama. Makanya saat kami berdua menjadi murid SMA, aku kira aku sudah tahu se ... lanjut baca
Sebuah pesan tertulis dari seseorang yang belakangan diketahui menghilang:
Tak salah lagi. Apa yang kuperkirakan selama ini ternyata benar-benar ... lanjut baca
Sisi Depan - Pertama
Rumah di Kota di Kaki Sebuah Bukit
Semua dimulai dengan bunyi denting-denting logam yang tiba-tiba saja terdengar. Tak ... lanjut baca
***
Ada sebuah kota di kaki sebuah bukit, dikelilingi sebuah sungai sebagai tanda batasnya. Seluruh kota beserta bukit dan sungai yang menjadi batas ... lanjut baca
***
“Francooo! Franccoooo! Franco, di mana kamu?”
Teriakan-teriakan itu menggema dan menggema kembali seakan setiap suku kata yang digemakanny ... lanjut baca
Sebuah kota di dasar sebuah lembah bebatuan, di tepi tempat bertemunya sejumlah aliran mata air. Apa yang dulunya merupakan desa persinggahan kecil, b ... lanjut baca
[b][i]Buku Satu[/i]: Karta 413[/b]
[b]Kapal Hitam – Sang Pembawa Tombak[/b]
Sebuah kapal hitam melintasi awan. Bentuknya bagai tanjung berlapi ... lanjut baca
Dua jenis sinar berkilat di langit yang kelam. Satu keunguan gelap dan satu lagi hijau terang benderang. Lalu, seiring dengan angin tinggi yang turun ... lanjut baca
Dulshea – Sang Ratu Angin III
Semacam lolongan melengking. Sebuah guncangan bergemuruh. Beserta kedua hal itu, sosok Hamarut merah yang mengerika ... lanjut baca
Aku menatapmu. Lama. Berharap kau berpaling dan melihatku. Kupanggil namamu berulang-ulang. Dan kau pun menjawabnya. “Ya..” begitu katamu. Tapi ka ... lanjut baca
[b]semalam di tepi semesta[/b]
angin,
hanya angin tersisa
karena suara dan gerak talah lama lalu
gesek dahan, sepi
kecipak ombak, diam
menca ... lanjut baca
hari itu kita bertemu di tepi pinggulmu. rasanya terlalu nyata padahal kutahu aku sedang mimpi. dengan dengung angklung di debar jantung kau menyapa. ... lanjut baca
[b]NOL, sebuah jalan pulang[/b]
coba saja kau buka lembar terakhir dari buku catatanmu
pasti akan ada peta perjalananmu
untuk kembali pulang :
h ... lanjut baca
Sudah seminggu ini aku tidak melihat mukanya. Kangen terasa. Biasanya setiap hari dia berkeliaran terus di hadapanku. Entah untuk Cuma tersenyum atau ... lanjut baca
Begitu indah bila ku lukis,
liku-liku perjalanan cinta,
walau akhirnya sebuah perpisahan.
Tapi, masih tersisa keindahannya,
jalan perjuangan itu k ... lanjut baca
Sebuah cerita fantasi yang sangat bagus dan menarik. Sudah lama tidak membaca cerita kolaborasi manusia dan peri atau makhluk imajinasi lainnya. Dan Alfare menyajikan cerita ini dengan alur yang enak dibaca dengan pikiran yang berfantasi untuk menanti kelanjutan di kota industri falekenfa.
Kutunggu lanjutannya.
nih cerita fantasis, bikin penasaran, ada apa gerangan dibalik tapi konfliknya mana? kok gak ada seh! inih mah bukan cerpen namanya! tapi dongeng anak sebelum tidur! donT worry be happy! cerita kamu kern habis! di tunggu lagi karyanya ya!
walah... ternyata flash back ya? hmmm... oke, ini adalah adegan perkenalan mereka berdua. sekarang, cepat kasih aku lanjutan cerita utamanya! wakakakakak...
jadi Janis itu tetap sejenis pahlawan ya *grin*
aku tadinya berharap dia turunan hamarut atau sejenis hamarut manusia...
ha.ha.
ayo lanjutkan!
-------------------
cheers!
Huaaah!.. Menurut saya, seperti biasa, karya yang (menurut saya) tanpa cela, hanya bisa berharap cerita selanjutnya aja deh! >,<
Janis memang sepertinya akan menjadi pahlawan. Tapi, mungkin lebih baik jika Janis bukan seorang fighter (yang menaiki Prajurit Prana), tetapi memiliki keinginan yang tinggi untuk melindungi teman-temannya (eh, kok, jadi mirip Ueki?).
Aku menunggu sisi romantis cerita ini.
Mau menghibur diri karena terus memikirkan cerita yang penuh kekompleksan? Baca Maaf, Elena tak Tertolong. Dijamin menangis.
kenaaaaaaaaaapa!!!
kenaaaaaaaaaapa!!!
Kenapa cerita senior begitu keyeeeen
Nyaris bingung karena tiba-tiba saja flashback... atau justru ini permulaan ceritanya? Uwaah dan ternyata setelah dibaca tetap bingung... kemunculan hamarut di hutan? kukira makhluk itu mencari dan menyerang manusia? dan tokoh Ruru... kayaknya di bab sebelumnya gak ada.... ah entahlah