Aku bisa merasakan tenangnya bulan platinum dari hutan itu. Kemah kami hanya sebatas dua batang kayu besar yang ditidurkan untuk duduk. Tiga orang temanku juga masih asyik dengan obrolan dan perbincangan mereka yang hanya berbekalkan sebuah gitar kecil. Api unggun dengan asapnya yang membubung masih terasa menghangatkan bahkan ke punggungku sekalipun.
"Aaauuuuu...!"
Nah! Kalau tidak salah aku mendengar lolongan itu dari arah gunung, dekat dari sini. Aku terjaga seketika, padahal mataku mungkin sudah berkantung-kantung karena perjalanan dari Kota Asrija di arah utara selama hampir seharian penuh. Kusahutkan bisikan keras ke arah teman-temanku sambil aku sendiri bersiaga. Temanku yang dari tadi memainkan gitarnya juga langsung berhenti dan menaruhnya di sebelahnya. "Dax, kau juga mendengarnya?" tuturnya pelan kepadaku.
"Bagus kalau kau mendengarnya, Will," balasku. Kuseka mataku berkali-kali, tetapi rasa kantuk masih membebani kepalaku. "Benar kata Tuan Kara. Lolongan itu cukup menjadi bukti bahwa hutan ini menjadi lokasi si Dukun Serigala."
"Kok bisa memutuskan secepat itu?" tanya seseorang yang paling kekar di antara kami yang aku kenal sebagai Brunus. "Kita baru dengar lolongan serigala, dan itu agaknya wajar-wajar saja di daerah belantara seperti ini!" tambah seorang lagi. Dia Brand, yang dipercaya sebagai penunjuk arah di kelompok kami. "...Oh, pantas! Rasa kantukmu sudah berasa kabut di kepalamu. Benar?"
Rupanya dia tahu ada yang aneh di wajahku yang lesu.
"Hrrrr...!"
"Grrrr...!!"
"Bagus sekali!" seru Will menyeringai. "Ini baru yang namanya bahaya! Geramannya seperti tidak jauh dari sini!"
Jadi sejak awal para serigala itu memang ada di seluruh arah. Kami terpojok! Itu yang tadinya kupikirkan. Mungkin segalanya masih baik-baik saja kalau aku hanya menggunakan mataku yang lamur. Tetapi pasti. Pasti begitu batang hidung mereka kelihatan Gigi mereka sudah basah, lapar akan daging.
"Hunuskan pedang! Busur takkan begitu berguna menghadapi anjing-anjing i..."
"Rrrhawwrr!!"
"Waargh!"
Sesuatu mendorong bahuku begitu kuat dan mendadak dari sampingku. Hampir saja aku jatuh dan terbakar karena nyala api unggun. "Dax!" semuanya terkejut. Persis di depan hidungku, menapak kaki binatang berbulu. Ukurannya tak lebih dari genggaman tanganku sendiri. Lalu kurasakan sesuatu membasahi pipiku. Lengket.
Begitu kutengok mengikuti kaki yang menjulang pendek itu, kami berpapasan. Mata dengan sorot yang luar biasa tajam dan telinga segitiga. Telinga segitiga?
Oh, sial!!
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
prolog yang aduhai
ditunggu yach, terusannya
Kutunggu lanjutannyo...
Permasalahan yang saya tangkap (menurut saya) adalah "deskripsi"!! Kamu menampilkan sebuah "dunia baru" di sini (tipikal fantasi), entah itu bulan platinum, telinga segitiga, etc.
Tapi, menurut saya deskripsinya (baik setting, suasana, atau tokoh) sangat tipis untuk ukuran fantasi (yg notabene kaya deskripsi). Untuk mereka (pembaca) yang belum/tidak dekat dengan genre fantasi akan bingung membayangkan dunia fantasimu.
Sarannya; pertebal deskripsinya......
Setuju dengan Rijon, deskripsinya sudah bagus, tapi perlu lebih diperdetil lagi, jadi, menurut saya, kalau deskripsinya sudah ciamik, kayaknya nggak perlu menuluiskan suara-suara efek ,ya walau sejujurnya saya juga masih belajar banyak dalam hal ini juga.
dari ide.. saya salut.. salnya jarang... tapi bener kata rijon perlu dekripsi lebih detil lagi...
9 sebg tanda perkenalan dan juga tulisannya karena ini masih prolog jadi untuk deskripsi rasanya cukup membuat penasaran.
Seperti baca komik ^^
Hehehe
tentu saja para pembaca sekelas mereka (yang dibawah.red) mempersoalkan deskripsi. Hehehe
Mereka tuh ahli soal deskripsi.
Dan, saia juga suka deskripsi. Tapi, agar deskripsi menjadi sesuatu yang penting adalah dengan menempatkannya secukupnya.
Ini kan prolog yak! Saia juga baru baca. Kalo gitu, saia lanjut deh..
Hehehe
Nice
awal yang serem. cuma kira-kira apa selanjutnya? tapi oke buat tearser. salut.
Tegang banget nih awalan ceritanya. Tapi, ngomong2 kenapa si Dax itu mesti didorong sama temennya? Dia ga lagi diserang serigala kan?