Study of Fear - Missed Call

23
points
"

Dead man tell no tales...

"

DOR DOR DOR

Radit tersenyum puas ketika sosok di hadapannya roboh. Meskipun demikian sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Tangan dan kakinya bergetar. Meskipun ia seorang polisi ini adalah pertama kalinya ia membunuh seseorang.

"Ini semua salahnya hah... hah..."

Terengah-engah ia menyeret tubuh sang mayat masuk ke dalam hutan.

"Hah... hah.. Dasar pelacur... jangan kira kau bisa mengancamku terus menerus..."

***

"Aku bosan sekali!"

Aru mengeluh sambil menghela napas panjang. Di sampingnya Riru membereskan bekal makan siang yang baru saja mereka habiskan. Tak jauh dari tempat mereka berdua duduk, Varna tampak sedang gembira menghabiskan makan siangnya seorang diri.

Riru sedikit sedih melihat hal itu, ia sudah menawarkan pada Varna untuk makan bersama mereka tapi anak itu menolaknya. Kemungkinan besar ia khawatir kalau hal itu akan menyebabkan Riru menjadi objek gunjingan juga.

"Bagaimana kalau kau mencoba mengikuti suatu klub, mungkin akan menyenangkan?"

"Misalnya?"

"Aku ikut klub literatur, tidak ada pertemuan rutin tapi kami biasanya menggelar acara tiap ada festival sekolah. Kadang-kadang juga kami mengikuti berbagai seminar. Yah mungkin tidak terlalu menarik untukmu."

"Menurutmu aku dan Varna boleh ikut?"

"Uhh anggota yang lain akan dengan senang hati menerimamu, tapi Varna..."

Riru cukup tertekan dengan hal itu. Ia tak bisa melakukan apapun untuk mengubah pandangan teman-temannya tentang Varna. Ia berbeda dengan Aru yang akhir-akhir ini sama sekali tak membantah jika orang-orang bertanaya apakah ia bersahabat dengan Varna.

{"Begitukah."} hanya itu yang mereka katakan ketika Aru menganggukkan kepalanya. Dan setelah itu mereka tak pernah lagi menyinggungnya, mereka bahkan kadang menyapa Varna jika kebetulan Aru sedang bersamanya. Yang lebih luar biasa lagi, tak ada satupun yang terang-terangan mencibir sikap Aru tersebut.

"Begini saja... uhh... jika kau mendaftar bersama Varna, mungkin, err mungkin saja mereka, uhh anggota yang lain akan mempertimbangkannya."

Semoga saja begitu, setidaknya memiliki Aru sebagai anggota klub akan menjadi kebanggaan untuk klub yang bersangkutan.

Maka siang itu, Aru tanpa banyak bicara menyeret Varna ke ruang klub literatur. Sambil tersipu malu, Aru kemudian menanyakan pada anak-anak literatur yang ternyata kebanyakan (empat dari lima seluruhnya) adalah perempuan, apakah ia dan Varna bisa menjadi anggota disana.

Untuk sesaat anak-anak literatur ragu-ragu tapi setelah apa yang mereka sebut rapat tertutup dan sedikit dorongan dari Riru, pada akhirnya mereka menerima Aru dan Varna menjadi anggota klub.

Tapi tentu saja Aru tak bisa lama-lama berada di klub karena ia juga harus membantu di kedai pamannya. Meskipun demikian, popularitas klub literatur benar-benar terdongkrak sehingga tak lama setelah Aru masuk banyak siswa perempuan yang ikut-ikutan mendaftar ke klub itu. Sayangnya setelah mengetahui bahwa ada hal-hal lain yang harus mereka kerjakan selain mengejar-ngejar Aru hanya dua yang memutuskan tetap serius menjadi anggota klub itu.

***

Radit baru saja pulang dari pekerjaannya. Hari ini putranya yang baru berusia tiga tahun berulang tahun dan istrinya bilang ia akan mempersiapkan banyak hidangan lezat untuk mereka makan. Sambil bersenandung riang ia membuka pintu pagar rumahnya. Saat itulah telepon genggamnya berbunyi.

"Apa kabar Radit?"

Radit tersentak kaget, ia tak punya banyak teman wanita dan ia sama sekali tak ingat ia pernah mendengar suara ini sebelumnya.

"Siapa ini?"

"Aha ha ha... sungguh menakjubkan bagaimana waktu membuat seorang lupa."

"Jangan main-main, SIAPA INI?"

"Aha ha ha..."

Wanita di telpon itu tertawa kecil lalu menutup telpon itu begitu saja. Radit menggeram kesal. Ia sudah terlalu tua untuk lelucon semacam ini.

***

"A..apa aku harus melepas bajuku?"

"Tentu saja!"

Gemetaran, Varna mulai melepas bajunya, sementara lelaki di hadapannya mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak.

"Apa kalian benar-benar serius... aku tak yakin... apa aku sanggup..."

Varna ingin lari dari tempat itu.

"Kau tak bisa terus lari."

Lelaki itu benar, maka dengan ragu-ragu ia mengambil helm dan pedang yang disodorkan sang lelaki, lalu berjalan menuju arena.

Di sana Aru berdiri menantinya. Ia juga mengenakan helm yang sama. Dan melihat kedatangan Varna ia pun mengacungkan pedangnya sambil menyeringai.

"Hari ini kau mati!"

"Kyaaa kyaa kyaa"

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?"

Riru nyaris meledak ketika siswa perempuan lain yang entah sejak kapan berkumpul disana mulai berteriak.

Kepalanya sakit. Ia mulai tak yakin apakah menggelar drama adalah pilihan tepat untuk festival beberapa minggu lagi.

Tapi semua ini adalah ide Aru. Menurutnya tidak ada salahnya jika klub literatur sekali-sekali mencoba sesuatu yang berbeda. Tentu saja ia menolaknya, tapi siswi yang lain berdiri di belakang Aru. Suara Varna seperti biasa tidak masuk hitungan dan Dika sang ketua, yang ia harapkan dapat memberikan pencerahan hanya mengangkat bahu sambil berkata, "Terserah, aku mau meneruskan bacaanku."

Secara de jure, Dika, siswa kelas tiga sekaligus satu-satunya anggota laki-laki di klub literatur adalah ketua klub literatur walaupun secara de facto Rirulah yang selama ini biasa mengambil keputusan.

Dan sama seperti Varna saat ini, Dika bisa dibilang sekedar pajangan di ruangan klub, tipikal seorang kutu buku yang anti-sosial meskipun setidaknya ia juga termasuk sedikit orang yang memperlakukan Varna selayaknya. Ia tak terkejut ketika dua orang itu seringkali terlihat sedang berbincang-bincang tentang hal-hal aneh seperti apakah karena orang tak pernah melihat seekor gagak berwarna putih lantas bisa disimpulkan bahwa semua gagak berwarna hitam.

"Kya kya kya"

Siswi perempuan yang menonton latihan drama kembali berteriak-teriak. Kesabaran Riru sudah habis, ia memberi isyarat pada anggota klub yang lain, yang dengan patuh membubarkan kerumunan itu lalu mengunci pintu aula.

"Hei Aru... akhir-akhir ini kau tak pernah berbincang-bincang denganku..."

Dalam perjalanan pulang Varna memberanikan diri bertanya pada Aru, tapi yang bersangkutan hanya diam sambil terus mengayuh sepedanya.

"Apa aku membuatmu marah?"

Mungkin hanya perasaannya tapi kadang ia mendapati Aru menatapnya tajam ketika ia sedang berbincang-bincang dengan Dika.

"Sama sekali tidak."

"..."

***

Radit terduduk lesu, istrinya baru saja berteriak padanya. Dan ini semua karena wanita sialan yang semakin sering menelponnya tidak hanya melalui telepon seluler tapi juga telepon rumahnya dan malam ini istrinyalah yang mengangkat telepon itu.

Ia beberapa saat lalu meminta perusahaan telepon untk melacak darimana panggilan itu berasal, itu hal mudah mengingat statusnya sebagai seorang komisaris polisi. Dan ia sama sekali tak terkejut ketika mendapat kabar bahwa panngilan telepon itu dilakukan dari sebuah telepon umum. Suatu hal yang wajar untuk seorang penelpon usil. Ia bisa saja meminta anak buahnya melakukan sesuatu tapi hal itu pastinya menimbulkan skandal, dan ia tak ingin hal itu terjadi.

"Perempatan jalan di dekat bukit..."

Entah kenapa hal itu mengusiknya. Rasanya ia melupakan sesuatu yang penting, tapi ia sama sekali tak bisa mengingatnya.

Telepon rumahnya berbunyi. Cepat-cepat ia menangkatnya dan memang benar wanita sialan itu lagi-lagi menelponnya.

"Apa kabar Radit?"

"SUDAH CUKUP! Katakan apa maumu!!!"

"..."

Wanita itu terdiam sesat.

"Sepuluh tahun... adalah waktu yang sangat singkat..."

"Kau... kau..."

"Datanglah... aku selalu menunggumu..."

Wanita itu menutup teleponnya. Sementara Radit hanya berdiri mematung. Kenapa ia bisa melupakan hal itu.

"Dasar pelacur..."

Radit tak percaya pada hantu dan sejenisnya. Tapi fakta wanita ini mengetahui kejadian sepuluh tahun lalu sama sekali tak bisa dibiarkan. Mau mengancamnya? Jangan bercanda.

***

"Apa yang kau inginkan?"

"Apa maksudmu."

Aru sengaja memanggil Daka seorang diri ke bukit.

"Apa yang kau inginkan dari Varna?"

"Tidak ada."

"Keberatan jika kuminta kau bersikap sewajarnya padanya?"

"Aku selalu bersikap sewajarnya."

"Kuharap begitu, karena jika kudapati kau melakukan sesuatu padanya aku takkan segan-segan!"

"Aku mengerti..."

Aru tersenyum puas. Kini ia tahu bahwa Dika sama sekali tak bermaksud buruk pada Varna.

"Apa kau khawatir padanya?"

"Begitulah... anak itu terlalu mudah percaya pada orang lain, dan tentang rumor itu?"

"Aku sama sekali tak peduli."

"Terima kasih, tolong baik-baiklah padanya."

Dika berpamitan padanya. Satu urusan sudah beres, sekarang urusan berikutnya. Aru mengambil telepon genggamnya lalu menekan beberapa tombol.

"Kantor polisi?"

***

Radit berjalan terengah-engah. Untung saja malam ini bulan bersinar terang. Meskipun tak terlalu lebat berjalan dalam hutan di bukit akan cukup merepotkan tanpa penerangan.

"Dasar pelacur..."

Ia nyaris kembali pulang ketika tak menemukan seorangpun di telepon umum di perempatan dekat bukit. Sebaliknya ada selembar kertas bertuliskan:
TEMPAT YANG SAMA tergeletak di sana. Di tulis menggunakan lipstik, sama seperti yang biasa dilakukan wanita busuk yang pernah ia kenal sepuluh tahun yang lalu. Hingga akhirnya sampailah ia disana.

Tapi betapa terkejutnya ia ketika mendapati seorang pemuda disana.

"Siapa kau?"

"..."

Pemuda itu hanya memandangnya dengan tatapan dingin.

"Jadi kaulah pelakunya?"

"Apa maksudmu?"

Pemuda itu balik bertanya. Ia lalu menyalakan senter yang dinyalakannya lalu menyorotkannya ke suatu tempat.

"Ah..."

Radit terhenyak. Tergeletak disana, sesosok mayat yang telah lama membusuk. Pakaian yang dikenakannya, lalu kalung di lehernya. Tak salah lagi, itu mayat wanita busuk yang sepuluh tahun ia habisi.

"Kau mengenalnya?"

Pemuda itu kembali bertanya pada Radit.

"Tidak... tentu saja tidak..."

"Kami menerima telepon dari seorang anak. Katanya ia menemukan mayat ini saat sedang berjalan-jalan dengan kawannya."

"Uhh apa kau polisi?"

"Komisaris Radit bukan?"

Sudah pasti pemuda ini dari kepolisian, dan dari sikapnya tak salah lagi, orang ini dari kepolisian pusat.

"Apa kalian sudah menemukan pelakunya?"

"Seharusnya anda sudah tahu."

"Apa maksud anda?"

"Kami menemukan ini dari saku baju korban..."

Pemuda itu mengambil sesuatu dari saku bajunya lalu melemparkannya ke tanah. Dengan ragu-ragu Radit mengambilnya, sebuah kertas bertuliskan nomor telepon miliknya, ditulis dengan lipstik.

"Dasar pelacur..."

Radit mendesis, lupa kalau pemuda itu bisa mendengarnya.

"Jadi anda mengenalnya?"

Dengan ragu-ragu radit mengambil pistol miliknya dari balik jasnya.

"Sebaiknya jangan... apa menurutmu hanya aku yang tahu informasi ini?"

"Ha ha ha... jangan bercanda... aku sama sekali tak tahu apa maskud anda?"

"Sebaliknya justru aku yang tak tahu kenapa anda bisa berada disini malam ini."

Wanita sialan. Kenapa ia harus melakukan ini sekarang. Di saat ia menjadi seorang komisaris, saat ia sudah memiliki seorang anak. Apa sebegitu inginnya ia membuat dirinya menderita.

Samar-samar dari kejauhan terdengar raungan sirine polisi. Semuanya sudah berakhir.

"Apa yang akan anda lakukan sekarang?"

Tak disangka pemuda itu kembali bertanya. Radit dapat melihat tatapan jijik yang ditunjukkan sang pemuda padanya.

"..."

"Membunuhku? Jika anda beruntung anda hanya akan dijatuhi hukuman seumur hidup, jika tidak salah."

"..."

"Tragis bukan? Seorang komisaris berakhir di penjara. Oh ya, kudengar ibu anda sakit-sakitan ya. Malang sekali... lalu istri dan anak anda? Ah jangan khawatir, istri anda masih cukup cantik pasti banyak orang yang melamarnya setelah anda di penjara."

"Tutup mulutmu!"

"..."

Suara sirine terdengar makin nyaring.

"Hei.."

"..."

"Katakan padaku... apa kau tak punya harga diri?"

Pemuda itu benar.

Dasar pelacur sialan, kau takkan melihat aku hidup menderita.

"Ha ha ha..."

DORRRR

***

"Pertunjukannya bagus ya?"

"Umm lumayan"

"Eh kau sudah dengar kasus itu?"

"Maksudmu komisaris polisi yang bunuh diri di bukit? menurutmu apa sebabnya?"

"Entahlah kabarnya ia ditemukan seorang diri disana, dan satu-satunya benda lain yang ditemukan adalah sebuah potongan kertas bertuliskan nomor teleponnya."

"Menurutmu mana yang lebih keren Aru atau Dika?"

"Kya dua-duanya kereen"

"Err menurutku Varna juga bermain bagus."

"Iya, iya dia manis juga..."

"sstt jangan keras-keras, lagi pula apa kalian lupa rumor itu?"

"Tapi menurutku aneh juga..."

"Apanya?"

"Nama pemeran utama cerita ini Radit kan?"

"Memangnya kenapa?"

"Kalau tak salah nama komisaris yang mati juga Radit."

***

Riru tak tahu apa yang salah dengan dirinya. Pagi yang cerah pada hari minggu, dan ia berada bersama tiga orang laki-laki berpiknik di bukit yang beberapa hari lalu seseorang bunuh diri di sana.

"Hei Aru menurutmu apa ini?"

Varna memandangi sebuah patok yang sepertinya sengaja ditancapakan di sana.

"Mungkin sebuah kuburan."

Yang menjawab pertanyaan Varna adalah Dika yang oleh Aru diajak ikut serta untuk berpiknik bersamanya. Riru bertanya-tanya apakah Aru memang berbakat bersahabat dengan orang aneh, dan apa itu berarti dirinya juga termasuk orang aneh.

"Heeee!!! Jangan bercanda seperti itu!"

"Ia bewnar... nyam nyam iwtu mewmang kuburan."

Aru menanggapinya sambil terus mengunyah roti yang dibawa Riru. Sama sekali tak keren.

Riru terus bertanya-tanya tentang nasibnya, sampai ia mendengar sesuatu yang tidak asing lagi.

"Aku mencintaimu... Radit..."

Wajahnya seketika merah padam, sementara Aru sambil menyeringai memutar rekaman yang ia bawa.

"Kau tahu Riru, mungkin seharusnya aku tak memilih Radit sebagai nama tokoh yang aku perankan. Mungkin seharusnya aku tetap memakia nama asliku he he he..."

Jadi ini alasannya mengapa ia merekam semua dialog dalam drama yang mereka mainkan. Riru menyesal telah mempercayai alasan Aru bahwa rekaman itu akan berguna untuk memperbaiki penampilan mereka.

"Kembalikan!!!"

Your rating: None Average: 5.8 (4 votes)
dikirim 145 9 minggu 1 hari yang lalu
Tag: