Pengumuman seputar migrasi kemudian.com klik pengumuman. Bagi yang ingin melanjutkan chatting, silahkan klik chatting
----------
Aku terpejam. Namun, kini bukan karena pedih yang kurasakan akibat taring-taring yang menusuk leherku saat aku bersama mereka. Pohon-pohon yang sedemikian tinggi menyelimuti, bulan platinum yang tengah kunikmati dalam lamunan lelahku saat itu, api unggun menyala di antara bayang-bayang belantara yang menghangatkan...
Apa ya? Aku agak sedikit bingung saja dengan penggambaran kamu di bagian akhir. Kenapa tiba-tiba tokoh utamanya sudah berubah jadi manusia serigala? Setahuku manusia serigala mengalami semacam transformasi bentuk dari tubuh manusia normal menjadi tubuh manusia serigala. Jadi bagaimana si tokoh utama bisa melihat jasadnya yang sudah tewas? Lalu bagaimana wujudnya sebagai manusia serigala itu?
Ya, ditunggu lanjutanya.. ^^
ceritanya bagus, cuman aku bingung sama kakek tua itu.
pertama, seakan2 dia telah menguasai si manusia serigala, tapi selanjutnya dia malah ketakutan...
Tapi, aku suka ceritanya. Mungkin karena aku suka cerita2 fantasi ^ ^
Meski gaya bahasanya menurutku agak berantakan, bagiku isinya cukup seru. Mengingatkan akan episode-episode awal sebuah seri tokusatsu.
Sejujurnya, bab prolog yang sebelumnya menurutku sama sekali tak menarik. Soalnya, gimana bilangnya ya? Intinya cuma gitu doang. Kira-kira begitu. Tapi adegan di bagian ini benar-benar unik. Makanya cukup menarik perhatian buatku.
Saia menemui ketergesa-gesaan.
deskripsi mulai diperkuat, tetapi seperti yang saia katakan di prologna, kalo deskripsi digunakan secukupnya. Memang cerita fantasi itu membutuhkan deskripsi yang lumayan banyak. Tetapi, sudut pandang cerita ini adalah orang pertama. Setidakna itu menjadi acuan untuk memberikan deskripsi yang tepat guna.
Disini ada beberapa bagian yang semestinya lebih keakuan. Karena ini memang terjadi pada si aku dalam ceritanya.
Aku bisa merasakan tenangnya bulan platinum dari hutan itu. Kemah kami hanya sebatas dua batang kayu besar yang ditidurkan untuk duduk. Tiga orang tem ... lanjut baca
----------
Aku terpejam. Namun, kini bukan karena pedih yang kurasakan akibat taring-taring yang menusuk leherku saat aku bersama mereka. Pohon-poh ... lanjut baca
Seisi gua itu langsung kuobrak-abrik. Perlawanan mereka seakan tak berarti sedikitpun. Selain mayatku yang tergantung, aku rela menggebrak, mencabik-c ... lanjut baca
Bagus unik, rupa warna-warni...
Dari kode nomer sampe 'N' berseri...
Dari nelpon-sms sampe GPS-3G...
Dari ikan hiu sampe laptop mini...
Dari tul ... lanjut baca
----------
Tidak lega. Celakalah aku. Terik matahari siang jauh lebih menyiksaku dengan tubuh seperti ini. Bulu-bulu yang tadinya menghangatkanku k ... lanjut baca
"...Jadi namamu Brunus?"
Aku hanya terpikirkan itu untuk mengawali percakapan tanggung yang sama sekali di luar perkiraanku. Berhasilkah panggilank ... lanjut baca
Pengembaraannya adalah siksa.
Tubuhnya adalah kutukan.
Walaupun ribuan anugerah tersurat.
Dia bukan apa-apa tanpanya.
Puluhan matahari berlalu, ... lanjut baca
----------
Senja mau habis. Sebentar lagi malam, pikirku. Rutinitas kehidupan di sini masih berjalan seperti biasa, paling tidak dari yang kulihat ... lanjut baca
Sebutanmu untuk mereka...
Yang terpindahkan dari tubuh...
Terperangkap dalam raga palsu...
Sadarilah!
Ini bukan aku!
Mereka meneriakkannya berk ... lanjut baca
"Tahan tanganmu, Brunus!!"
Fyuh!
Ini yang aku takutkan. Inilah kenapa aku mengharapkan kalau-kalau dia agak lamban untuk mengambil pedang itu. T ... lanjut baca
----------
Tidak lega. Celakalah aku. Terik matahari siang jauh lebih menyiksaku dengan tubuh seperti ini. Bulu-bulu yang tadinya menghangatkanku k ... lanjut baca
Seisi gua itu langsung kuobrak-abrik. Perlawanan mereka seakan tak berarti sedikitpun. Selain mayatku yang tergantung, aku rela menggebrak, mencabik-c ... lanjut baca
"Uwaaaahk!!"
Burung-burung berhamburan. Mereka berterbangan keluar dari dedaunan pohon begitu aku mendengar pekikan itu. Perhatianku pecah. Rusa bu ... lanjut baca
Ia makhluk unik dan sulit ditebak
jiwanya selalu berubah menuruti gelombang emosi
yang kadang naik kadang turun
Ia dekat dengan hati
untuk dicin ... lanjut baca
"Tahan tanganmu, Brunus!!"
Fyuh!
Ini yang aku takutkan. Inilah kenapa aku mengharapkan kalau-kalau dia agak lamban untuk mengambil pedang itu. T ... lanjut baca
"...Jadi namamu Brunus?"
Aku hanya terpikirkan itu untuk mengawali percakapan tanggung yang sama sekali di luar perkiraanku. Berhasilkah panggilank ... lanjut baca
----------
Senja mau habis. Sebentar lagi malam, pikirku. Rutinitas kehidupan di sini masih berjalan seperti biasa, paling tidak dari yang kulihat ... lanjut baca
Sosok ular itu menengok malas. Tangannya membuka lebar, memperlihatkan telapaknya lantas dia membungkuk dengan menapakkan tangannya persis di tanah. S ... lanjut baca
---------------
Langit mulai jingga. Demikian mataku memberitahukannya padaku.
Entah apa yang membujukku hingga akhirnya aku baru tersadar dari ... lanjut baca
Aku undurkan langkah perlahan, menatap sosok itu melata di batang pohon yang digeluti ekor panjangnya. Sisiknya mengkilap kuning. Perunggu... Bukan! E ... lanjut baca
Apa ya? Aku agak sedikit bingung saja dengan penggambaran kamu di bagian akhir. Kenapa tiba-tiba tokoh utamanya sudah berubah jadi manusia serigala? Setahuku manusia serigala mengalami semacam transformasi bentuk dari tubuh manusia normal menjadi tubuh manusia serigala. Jadi bagaimana si tokoh utama bisa melihat jasadnya yang sudah tewas? Lalu bagaimana wujudnya sebagai manusia serigala itu?
Ya, ditunggu lanjutanya.. ^^
ceritanya bagus, cuman aku bingung sama kakek tua itu.
pertama, seakan2 dia telah menguasai si manusia serigala, tapi selanjutnya dia malah ketakutan...
Tapi, aku suka ceritanya. Mungkin karena aku suka cerita2 fantasi ^ ^
Meski gaya bahasanya menurutku agak berantakan, bagiku isinya cukup seru. Mengingatkan akan episode-episode awal sebuah seri tokusatsu.
Sejujurnya, bab prolog yang sebelumnya menurutku sama sekali tak menarik. Soalnya, gimana bilangnya ya? Intinya cuma gitu doang. Kira-kira begitu. Tapi adegan di bagian ini benar-benar unik. Makanya cukup menarik perhatian buatku.
Sebaiknya terus diedit lagi ya. Berjuanglah.
Hmmm...
Ceritanya mulai sedikit kurang logis. Tapi deskripsinya lumayan (dibanding ceritaku)
lanjuuut
Saia menemui ketergesa-gesaan.
deskripsi mulai diperkuat, tetapi seperti yang saia katakan di prologna, kalo deskripsi digunakan secukupnya. Memang cerita fantasi itu membutuhkan deskripsi yang lumayan banyak. Tetapi, sudut pandang cerita ini adalah orang pertama. Setidakna itu menjadi acuan untuk memberikan deskripsi yang tepat guna.
Disini ada beberapa bagian yang semestinya lebih keakuan. Karena ini memang terjadi pada si aku dalam ceritanya.
Lanjut yak!