Read more (501 words) Aku hidup di dalam sebuah istana dengan aku sebagai ratunya . . .semua yang aku butuhkan, akan segera terwujud dalam hitungan menit bahkan detik. Inilah hidup yang semua unsur di dalamnya serba sempurna !.
***
Aku mengenalnya pada suatu malam di sebuah meja tempat aku bekerja, tidak ada pertemuan yang istimewa, dia hanya seorang pelanggan biasa yang malam itu datang membawa cerita, dia membuatku terkesima dengan semua miliknya. Seperti biasa, kita melewatkan malam yang indah bersama, dalam sebuah kamar mewah yang ia pesan dengan uangnya. Bukan hanya dengan ketampanan rupa dan kecapakannya bicara, aku mengaguminya, tapi juga dengan kekayaan harta yang dimilikinya. Malam-malam selanjutnya dia selalu datang dengan setangkai bunga dan sebuah keranjang bertuliskan merk-merk terkenal yang isinya bisa beragam. Aku begitu dibutakannya, hingga tak pernah masuk kerja, dipecat sang nyonya dan mempercayakan hidup pada dia. Sejak saat itu aku hanya miliknya. Inilah cinta pertama yang melambungkan rasa, berulang kali aku mendengar kata cinta dari mulutnya, dan aku rela memberikan segala untuknya.
“ Sayang, kamu memang pantas menjadi segalanya !” ucapnya mesra yang disertai dengan sebuah ciuman tanda cinta
Dan akupun terbang dibuatnya !,aku kembali seperti anak SMA yang dimabuk asmara.
Hingga suatu malam aku harus melepas kepergiannya. Dan inilah bayaran kepergiannya, sebuah apartemen mewah, kartu kredit yang tak akan pernah lecet meski degesek berjuta kali, mobil mewah lengkap dengan supir (meski saya lebih senang mengendarainya sendiri) membuatku seperti hidup di dalam istana dedngan aku sebagai ratunya.
Sayangnya, dia tidak pergi menghilang dan tidak kembali. Pada malam-malam tertentu yang ia kira perlu, dia akan datang kesini, masuk kedalam istana yang ia buat untukku, melakukan semua semaunya, aku tentu menurut saja karena sama sekali tidak ingin kehilangan setitikpun kemewahan yang aku punya.
Malam ini, dia masuk ke dalam istana, seperti biasa, dia datang dengan setangkai bunga dan kali ini dengan sebuah gaun ungu cantik yang membuatku terpesona.
“ Hai sayang, kamu baik-baik saja bukan ? ” katanya sambil menciumi leher dan terus memelukku mesra, kemudian menjamah tubuhku semaunya, seolah aku sebuah boneka cantik yang telah ia beli dengan uangnya.
Paginya aku terbangun, dan menemukan dia tak lagi ada di tempatnya. Setengah berlari aku keluar dengan pakaian seadanya,mencoba mencarinya, usahaku tidak sia-sia, aku menemukannya di depan pintu istana, bermandikan darah. Seorang wanita setengah baya berdiri disebelahnya, ekspresinya masih tak terbaca. Rambutnya panjang lurus, wajahnya cantik persis sekali dengan wanita yang pernah dikenalkan dia sebagai istrinya. Aku terkejut bukan main, melihat sebuah pisau masih ada dalam genggamannya aku berlari sekuat tenaga.
***
Dan disinilah aku sekarang, dalam sebuah kamar yang tak kalah mewah, melayani seorang lelaki yang mungkin tengah ditunggu keluarganya di rumah.Aku bukan wanita yang tidak punya nurani untuk sedikit bersimpati pada istri dan anaknya, tapi aku tak punya pilihan. Aku begitu menyadari bahwa sekarang aku hanya sebuah boneka cantik yang terbuang, dan aku akan kembali memberikan segalanya demi segala kemewahan yang aku inginkan !.
Aku biarkan cerita tentang dia menjadi sebuah pelajaran berharga, untuk tetap menjadi boneka cantik yang terpajang dan diingikan, disentuh berkali-kali, tapi tak satupun dari mereka mampu memilikinya !.
Rating Views: 224 reads
Comments: 3
Rating:
Favorites You have to login to access this feature
click here Flag You have to login to access this feature
click here
Be the first person to continue this post
Bagus bu! Cuma mungkin, mungkin loh ya, keselip kalimat yang buat bingung. "Sayangnya, dia tidak pergi menghilang dan tidak kembali." ..... "Malam ini, dia masuk ke dalam istana...."
Ibu liat kontradiksi ga?
Siiiip, tetep blajar ya!
anak muda juga butuh kritikan!
Wah! ciratamu sarat makna. Kau mengangkat sisi kehidupan seorang wanita. Kau jeli bertutur.
Rapikan dikit tulisannya. Pasti akan banyak yang suka.