Sore hari dalam pandangan seorang penjual gorengan
Duduk terdiam di sepanjang trotoar
Sementara di depan lewat tuan-tuan bersafari ria
Diikuti lenggang-lengok nyonya bergaun Giani Versace
Sang penjual mendesah...
Tarik Nafas.....
Dan berkeluh...
Ada bayangan obsesi penuh harap sesaat
Dalam benak tinggi sang penjual gorengan
Berharap bertukar nasib dan peruntungan balik
Andai dia punya safari dan gaun giani versace
Tarik nafas lagi...
Mendengus...
Dan dia tersentak...
Dia berharap keringatnya mengalir bak minyak tanah
Ludahnya memancar bak minyak goreng
Ketombe di rambut berubah jadi terigu
Dan nafasnya berkondensasi menjadi gas LPG
Dia menutup mata...
Pasrah...
Dan dia tersentak lagi...
Di depannya tuan safari dan nyonya giani versace berdiri
Hanya berteduh sebentar
Tanpa berbasa basi panjang
Walaupun separuh badan mereka menutup ruang dagangannya
Hanya numpang berdiri
Menunggu penghambaan besar
Dari sopir jaguar mereka...
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
ekspresionis......
kembangkan yang lebih dapat bercerita 3 dimensi dan lebih apik
well done !! saya selalu bermimpi bisa membuat puisi bertema sosial seperti itu.
Memang saat mengharukan ketika memposisikan diri kita pada posisi orang yang tampak kurang beruntung. Puisi ini menyentuh perasaan itu.... meski belum tentu juga kehidupan nyonya giani versace lebih bahagia dari penjual gorengan....