Di setiap derap langkah Caroline adalah perhatian. Perhatian siapa saja yang melihat entah itu temannya, orang tua, anak-anak, bahkan Ayahnya pun sangat perhatian padanya, selain cantik berdarah indo Jawa-Australia Caroline juga pandai memanfatkan waktu dan keadaan, seperti Almarhum ibunya. Maka dari itu Ayahnya, Badrun begitu mencintainya sampai akhir hayatnya. Dalam pikiran Ayahnya anak adalah titipan Tuhan yang harus di jaga dan di bimbing, sampai dia mandiri dan bermanfaat bagi keluarga, teman, lingkungan, dan seluruh orang lain.
Read more (4478 words)
Sudah lama Caroline tidak jalan-jalan bersama teman-temannya, jalan-jalan keluar kota ke tempat yang biasanya penuh pepohonan yang rindang. Dan di mana hamparan gunung saling berpelukan mesra tak ingin berpisah. Ya layaknya seorang sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Air mengalir dari sungai-sungai yang bening nan indah bak surga. Kesibukannya membuat dia harus merelakan tempat favoritnya di simpan dalam memori rencananya.
gaimana tidak di simpan dalam rencana memori otaknya, ujian semester ke enam membuat dia harus serius dalam kuliahnya. Tak tanggung-tanggung ujian kuliahnya saat ini mata kuliah yang di ambil Psikologi. Benar-benar serius Caroline dalam menghadapi masa depannya. Bertumpuk-tumpuk buku psikologinya di kamar, ada yang berjudul cara-cara mengahadapi orang-orang, kiat-kiat tegas, berteman dengan kegagalan. Sepertinya Caroline sendiri sudah terjangkit yang namanya kutu buku. Dan buku-buku favoritnya dia simpan rapih di rak yang menempel di tembok, memang rak ini sudah di persiapkan oleh ayahnya semasa dia awal smp.
“Yah nanti kalau aku selesai ujian semester aku mau pergi ke daerah Cibodas, Jawa Barat boleh nggak Yah?” Sambil memijit-mijit bahu Ayahnya Caroline mencoba merayu agar bisa di ijinkan dan di perbolehkan “Boleh…dan memangnya kamu mau pergi sama siapa?” Ayahnya menanyakan dan mencari tahu anaknya ini pergi sama siapa sebenarnya. Karena di jaman ini seorang Ayah wajar menanyakan seorang anak perempuanya pergi jauh tanpanya.
“Sama teman-teman kuliah yah…” Meyakinkan Ayahnya supaya di ijinkan sekali lagi sambil memegang buku dan duduk di sofa sambil nonton tv
“Berapa orang? terus kapan perginya ?, siapa aja temanmu yang ikut?” Ayahnya mencoba cari tahu dan banyak mempertanyakan kegiatan liburannya yang di rencanakan sambil duduk dan merokok asap seruangan mengepul penuh bak kabut di puncak yang menutupi jalan.
“Enam orang yah…nanti desember tanggalnya belum di tentukan…” nunggu kesepakatan dari teman-teman kuliah.
“Terus si Sabrina dan Lorenzo juga ikut kok Yah…” Terus menyakinkan Ayahnya hanya yang bisa di lakukan Caroline, di saat dia membutuhkan restu untuk jalan-jalan bersama teman kuliahnya. kali ini Caroline santai nonton tv, dibiarkan saja bukunya berserakan di sofa. Dan di situlah ruangan tempat kumpul bicara dengan keluarga dan tamu, terutama orang tuanya.
“Oh Sabrina dan Lorenzo ikut …kemana dia? kok nggak pernah main kesini lagi ya Lin..” Ayahnya menanyakan teman-teman anaknya, sudah lama tidak terlihat dan menginjakan kaki di rumahnya. Dan teman-teman anaknya sudah seperti anak sendiri. Maklum Caroline anak semata wayang yang sangat berharga baginya, hingga apapun di lakukan orang tuanya dari perhatian, kebutuhan sehari-hari, dan hingga urusan-urusan yang mendetail seperti kuliahnya pun tak luput di perhatikan.
Tetapi walaupun di lakukan seperti itu tidak membuat Caroline manja dan besar kepala.
“Iya Yah mereka sibuk urusi kuliahnya masing-masing…nanti mungkin kalau Ujian semesternya sudah selesai mereka main kesini…”
Diambilnya bukunya lagi, sambil membaca, sambil berucap kepada Ayahnya yang sedari tadi mendengarkannya, dengan serius dan seksama.dan kemudian balas berbicara kepadanya.
“Oh ya… ya…kamu aja sibuk banget ya.. belajarnya nak, yang pasti temanmu juga begitu ya nak..”
“Besok kuliah bareng aja sama Ayah biar kamu lebih cepat dan awal datangnya…Ayah kan nggak mau lihat kamu terlambat…”
Tiba-tiba saja Ayahnya berganti topik pembicaraan, karena sudah di dapat informasi yang menurutnya akurat akan jadwal Anaknya untuk liburan ujian semester.ya semacam kelegaan, dan terpuaskan akan informasi dan jawaban anaknya.
“Iya yah, aku sih nggak pernah terlambat…kebetulan sih yah sebab ada ujian semester yang terakhir…dan sekarang sudah jam sebelas yah aku tidur duluan ya yah …”
Menguap dan mata sayu Caroline, semakin menandakan hari sudah larut, sepertinya tidak mau mentolelir keadaan bagaimanapun. Sekalipun keakraban keluarga itu begitu hangat.
Setelah Caroline masuk ke kamarnya untuk tidur, Ayahnya mematikan rokoknya, tak lupa tv pun di matikannya, karena ia begitu ingin segera memejamkan matanya juga, dan besok pagi tugas kantor menunggunya dan ia pun merebahkan badannya di atas kasur.
Pagi yang indah dan sejuk penuh kedamaian, matahari tampak perkasa di hadapan siapapun. Sinarnya menghangatkan tubuh dan jiwa, terangnya sampai ke pelosok-pelosok dunia, dan sampai ke rumah Badrun yang lumayan untuk seukuran dua orang, Ayah dan anak. Seratus kali delapan puluh meter luas rumahnya, di tambah sedikit halaman dan garasi. Untuk kerindangan ada beberapa macam tumbuhan menghiasi halamannya. Terlihat Ayah Caroline sibuk membuka garasinya untuk mengeluarkan mobil dan memanaskan mesinnya sambil membawa handuk.
Sepagi ini Caroline sibuk dengan memasak nasi goreng ati, kesukaan ia dan Ayahnya, di rumahnya tidak ada yang masak selain Caroline, karena perempuan satu-satunya yang ada di rumah Badrun, Ayahnya. Ibunya telah lama meningalkannya semasih dia umur dua tahun, kanker ganas di payudaranya penyebab akhir hayatnya. Membuat Caroline sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan di dapur, dan dia juga sangat mandiri, maka dari itu pagi-pagi betul dia sudah memasak.
“Yah ayo cepat mandinya! Kita makan nasi goreng ati Yah…” Berseloroh kepada Ayahnya di pagi itu memang biasa di kerjakannya.Sebab Ayahnya kalau mandi agak lama.
“Iya sebentar Ayah mandi dahulu biar wangi dan segar, sebab nanti ada bos besar mau datang ke kantor. Mau mengadakan rapat dan membicarakan defelover proferti yang baru di adakan di cikarang” suara air dan suara siulan Ayahnya begitu menambah serunya pagi yang di mulai dengan kehangatan keluarga ini.
“Tapi jangan terlalu lama Yah, nasi gorengnya keburu dingin, dan nanti kita berdua terlambat …” Caroline tampak khawatir dengan sikap kebiasaan Ayahnya yang terlalu lama mandi dan mengulut-ulur waktu di saat dia sendiri membutuhkan waktu yang begitu dia hargai selain dari Ayahnya sendiri.Caroline tidak ingin terlambat.
“iya nih sudah selesai…Ayah pakai baju dulu ya nak…sebentar juga selesai kok..” Ayahnya sibuk mengambil baju dan celana yang sedari tadi sudah di siapkan oleh anaknya, dan sudah disetrikanya pula.
Memang tidak salah, dan tidak berlebihan, bila Ayahnya sayang betul dengan Caroline. Selesai memakai baju dan celana serta tidak pula dasinya, Ayahnya langsung menuju ruang makan, dan Caroline sudah sedari tadi menunggu Ayahnya untuk sarapan pagi bersama dengannya.
“Ayo Yah makan nasi gorengnya…”
Ucap Caroline membuka pembicaran pada Ayahnya yang sedari tadi sibuk sendiri memakai baju, celana, dan dasi. Lalu Ayahnya mengambil piring dan sendok yang di sediakan oleh anaknya tercinta.
“Jangan lupa kamu berdo’a dahulu sebelum makan supaya rejeki yang di berikan pada Tuhan bertambah…dan kalau kita pandai bersyukur, Tuhan akan senang melihat kita”…
Dengan mengomandani pembacaan do’a Ayahnya lalu Caroline menyetujui tanda dia senang atas nasihat orang tuanya itu.
Setelah itu mereka berdua makan pagi dengan lahap dan nikmatnya nasi goreng ati plus teh hangat manis. Selesai makan mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil, untuk segera tancap gas menuju tempat tujuan ke jalan Sudirman.
Caroline tiba di tempat kampusnya, Atma jaya jam delapan kurang lima belas. Dan Ayahnya sampai di kantornya jam setengah sembilan.
Di kampus Caroline di sambut temannya yang setia menunggunya. Lorenzo duduk manis tersenyum menyambut kedatangan Caroline yang sedari tadi sepertinya ingin berjumpa dengannya.
“Masih ada waktu lima belas menit buat gue untuk bicara sama lo…oh ya ngomong-ngomong ujian udah siap nih…ujian mata kuliah lagi nih …”
“Udah belajar mati-matian ya…kok diam aja sih di tanya… sariawan ya…” Memang Lorenzo teman dekat Caroline pintar cari bahan pembicaraan buat narik perhatian Caroline, sebab hampir-hampir Caroline terpedaya, dengan omongan pembicaraan Lorenzo yang memikat. Dan sedikit merayu. Caroline terdiam entah mengapa Seperti terkena aliran listrik lima ribu Watt.
“Memangnya kenapa nanya-nanya belajar mau kasih gue nilai”
“Udah ya gue masuk ke ruangan ujian dulu udah tinggal lima menit lagi”
“nanti ngomongnya di terusin lagi, selesai ujian aja ..”
Sambil terburu-buru meninggalkan Lorenzo yang sedari tadi menunggunya hingga hampir-hampir di lalatin, dan Lorenzo melihatnya keheranan meninggalkannya begitu saja. Dan berkesan ingin berbicara panjang dan kalau perlu tidak perlu ujian biar seharian habisin waktu dengannya.
“Benar ya Lin gue tunggu di depan kampus …sehabis ujian..ya”. Teriakan Lorenzo yang keras hampir-hampir mengalahkan petir, karena sangat bahagianya mendapatkan sambutan jawaban caroline yang mengajaknya untuk bertemu dan pulang bareng dengannya. Dia pun segera masuk ke ruang ujian tidak berapa lama Caroline meninggalkannya. Waktu berjalan dan meninggalkan yang telah terlewati tanpa di sadari, hanyut dalam kesibukan yang entah berputar-putar dalam lingkaran yang menjemukan. Statis dan monotonnya membuat hilang logika siapapun hampir-hampir tak tersadarkan. Suasana di kampus pun tenang dan sunyi menandakan sedang berjalannya proses belajar-mengajar di tempat para calon cendikia-cendikia itu mencari Ilmu.
Kini tibalah saat yang di nanti, selesai dalam suatu tugas yang maha berat hampir lima jam bergelut dengan ketegangan soal-soal ujian, terhapuslah sudah. Keluar dari ruangan ujian tampak terlihat mahasiswa-mahasiswa itu, ada yang bertampang lusuh, ceria, dan was-was! ya bermacam-macam perasaan dan pikiran yang tergambar pada raut wajahnya masing-masing.
Menoleh kekanan-kekiri sedari tadi yang di lakukan Lorenzo ketika keluar dari ruangan ujian, “mana ya Caroline ?” Dalam hatinya Lorenzo bergumam. Lalu tak berapa lama keluar juga wanita indo Jawa-Australia dengan senyum, keanggunan paras, serta kulit putih yang mengkilat terkena matahari. Ramah kepada siapapun terlebih kepada Lorenzo.
“Kemana Zo…kita jalan …?” sambil menatap pujaan hatinya yang begitu mendalam, Caroline bertanya .
“Ke tempat makan di seberang melawai itu soto sapinya enak deh mau kan lo…lo belum makan siang kan…?”
“Dan sekalian kita ngomongin rencana liburan ke Cibodas …gimana…terus si Sabrina jadi ikut nggak ya?”
“Nanti lo telpon si Sabrina ya Lin…jadi ikut nggak tuh dia…dan gue telpon anan-anak yang lainnya yang mau ikut, ok?...dan kita bagi-bagi tugas aja biar besok nggak ribet…”
Mencoba menawarkan jasa baik dan merayu pujaan hati itu sudah jadi kewajiban Lorenzo di saat dia ingin mendapatkan yang di inginkannya meski dia harus menempuh dengan cara apapun, asalkan dia dapat meraihnya.Terpuaskan batinnya itu orientasi utamanya.
Ya sudah Zo…nanti aku telpon si Sabrina… kali ini aku ikut aja kemauan kamu kemana aja…” sambil berjalan dan menuju ke tempat yang di maksud, mereka berdua bergegas. Dan tanpa di sadari mereka saling menggenggam tangan, sepasang dua insani yang yang sedang di landa asmara di temani teriknya matahari yang kian sangar.
Merangas di tengah Kota yang pernah berganti-ganti nama, dari Jayakarta yang pangerannya begitu gigih berjuang demi agama dan negaranya. Dan Batavia dengan kehancurannya pernah juga menoreh di kota ini, lalu pergi ke negri asalnya, Belanda. Bermetamorfosis dan berganti-ganti nama inilah Jakarta sekarang yang secara simbolis lambang keangkuhan dan keangkaramurkaan terhadap yang lemah, miskin, sakit, tertindas.
Ya kota inilah yang sedang di tinggali sepasang kekasih itu yang pergi dan hilang terhapus oleh asap knalpot hiruk-pikuk kendaraan roda empat dan roda dua.
Keesokan harinya mereka berenam berangkat ke tempat yang mereka rencanakan Cibodas, Jawa-Barat.
Benar-benar perjalanan special yang mereka rencanakan. Bagaimana tidak special tiga pasang insani yang mempunyai tujuan yang sama berjalan dalam satu tujuan. Setelah berkumpul di rumah Caroline mereka bergegas untuk segera tinggalkan Jakarta yang sumpek dengan gedung-gedungnya yang angkuh.Tak lupa berpamitan kepada Ayahnya Caroline yang sedari tadi berat untuk melepaskan anaknya pergi, tapi demi kebahagian anaknya ia harus rela karena sebelumnya dia sudah minta ijin kepada Ayahnya.
“Yah Caroline pamit …pergi dulu ya …Yah…” dengan pakaian yang rapih dan membawa tas dan peralatannya. Caroline ijin dan pamit kepada ayahnya, di susul Lorenzo, Sabrina, dan kawannya yang lain.
“Ya Om kami pamit dulu…misi ya Om….” Suara ijin serempak dan kompak terdengar lantang di pagi jam sepuluh yang ceria itu di rumah Badrun, yang sederhana dan asri .
“hati-hati ya…jangan lupa sebelum berangkat kalian berdo’a dahulu…. dan Om do’ain semoga kalian semua selamat. Ayahnya menyarankan kepada Caroline dan teman-temanya berdo’a dan lebih hati-hati dalam pergi ke tempat atau daerah yang belum pernah di kunjungi.
“makasih Om…kami pamit ya Om…”segera mereka berenam pergi setelah minta ijin kepada ayah Caroline.
Dan setelah menempuh 5 jam perjalanan sampailah mereka di rumah yang pemandangannya pohon yang hijau nan rindang di kelilingi bukit dan hutan. Suara sungai kecil gemericik inilah alam yang indah yang di lukiskan oleh-NYA, bagai surga. Mereka beristirahat di vila, ada beberapa kamar di dalamnya. Ketika malam menampakan kepekatannya, di dalam kamar sepasang-sepasang insani merealisasikan cintanya yang begitu pekat, sepekat malam.
Aku akan bertanggung jawab …Lin atas apa yang aku lakukan denganmu. Karena kamu yang ada di hatiku…di cintaku… di setiap yang aku lakukan adalah utukmu semuanya tak akan ku sia-siakan segala apa yang telah ku perbuat kepadamu….”
Meyakinkan dan mengiming-imingi dengan janji yang super muluk itulah gaya khas Lorenzo di saat semua di raih, dan di balas lembut dan penuh cinta dan tak pernah ada penyesalan sama sekali pasangan lawan jenisnya.
“Benar ya Zo…aku nggak sanggup hidup tanpamu Zo…dan hanya bersama kamu ini aku lakukan….. Jangan sampai janin ini membesar kau …tinggalkan aku….aku berharap Zo kau jangan mempermainkan aku…”
Terdengar suara-suara sayup tangisan khawatir dan haru wanita ya! dialah Caroline, begitu menyayat hati siapapun, bercampur janji yang menyangkut di langit. Di dalam kamar masing-masing yang mereka inapi, terutama di dalam kamar yang di inapi sepasang kekasih, Lorenzo dan Caroline.
Penuh trik drama romantis di dalam kamar itu hingga tertidur dalam permasalahan yang sebenarnya itu tidak harus terjadi, tapi beribu Iblis terus membisiki dan mendorong sepasang kekasih ini untuk berbuat durja.
Menjelang pagi yang dingin, dan Matahari enggan menampakan wajahnya tertutup kabut yang tebal tiba-tiba handphone dengan suaranya yang berdering keras memekakan telinga penghuni kamar. Terdengar suara samar-samar dari Handphone itu:
“Bisa bicara dengan Caroline ini dari teman kantor Ayahnya?”
Suara yang menelpon ke Caroline rupanya seorang laki-laki dengan suara agak terbata-bata seperti ada yang mau di sampaikan tapi ragu-ragu dan khawatir. Dan Caroline pun jadi bertanya-tanya keheranan menjawabnya:
“Ya saya sendiri Caroline ada apa ya Pak ….” Dan lagi-lagi orang yang mengaku teman kantor Ayahnya itu masih ragu dan sedikit menutupi dan mencoba alihkan pembicaraan:
“Ehm…Caroline bisa tenangkan…mm… Caroline lagi di mana…mmm… kamu cepat pulang ya nak… Ayah kamu….Ayah kamu …mmm…kecelakaan… sabar ya nak….
Bagai di sambar petir di siang bolong Caroline sepertinya tak kuat berdiri dan mulutnya tak kuat lagi untuk bicara apa. Dan Lorenzo yang sedari tadi ada di sampingnya pun bingung dan ikut tanya kepada Caroline. “Ada apa yang… sepertinya kamu ada masalah…, siapa yang telpon kamu yang…..”
Caroline terdiam sejenak sambil mengeluarkan air mata dan mulut terkunci, darahnya membeku, otaknya melayang entah kemana bersama pikirannya yang entah berantah, setelah mendengar pembicaraan teman kantor Ayahnya, dari Handphonenya:
“Terus Ayah sekarang di mana pak…apa Ayah baik-baik saja …di rumah sakit mana pak…Ayah di rawat …uhuk..uhuk…uhuk…” kali ini tangisan Caroline benar-benar tak terbendung, tumpah ruah bersama kepasrahan dan tidak keberdayaan.
Lalu orang yang mengaku teman kantor Ayahnya memberi tahu juga walau berat perasaannya: “Tadi Bapak dari rumah sakit Fatmawati dan mengantar Ayahmu.., lukanya terlalu parah …banyak mengeluarkan darah…eeehm ..dan ikhlaskan ya nak….Ayahmu telah tiada ….dan sekarang masih di ruang jenazah rumah sakit Fatmawati…”
Tidak begitu lama pembicaran itu, langsung Caroline jatuh pingsan setelah tangisannya mereda, Handphonenya pun jatuh juga. Lalu tidak berapa lama ia sadar dari pingsannya, dan segera angkat kaki tinggalkan Vila Itu.
Tak lama enam jam sampai di rumah sakit Fatmawati bersama teman-temannya untuk mengecek keadaan Ayahnya. Benar saja di situ berkumpul Family-Family keluarga Ayahnya, Ibunya, dan kerabatnya. Semua yang ada di situ tak kuat menahan air mata, larut dalam suasana duka. Badrun Ayah Caroline terbujur kaku membiru kehabisan darah, mobilnya tertabrak Truk Container hingga hancur.
Satu tahun Caroline di tinggalkan Ayahnya tercinta yang merawatnya dengan penuh kasih sayang, hari-hari di lewatinya bersama bayinya. Bulan Desember, 2006 tahun yang penuh warna-warni dalam hidupnya, suka dan duka di lewatinya secara simultan. Cintanya dengan Lorenzo berbuah anak yang tak ternilai harganya, berbarengan dengan kepergian Ayahnya tercinta meninggalkan dunia yang penuh sesak dengan kepalsuan.
Tak tampak Lorenzo ada di sisinya, sudah setahun ini tepat awal Desember 2007 Lorenzo pergi ke Jerman untuk Study kerjanya, di bidang Psikologi kedokteran. Lorenzo pergi ke jerman meninggalkan caroline demi masa depan keluarganya yang baru di bina, tapi dia berjanji dengan istrinya akan pulang Agustus 2008, karena masa study kerjanya habis di jerman.
entu saja Caroline merasa kesepian karena suaminya tempat mengadu, jauh di negri orang. Terkadang bila kerinduan menusuk-nusuk jantung dan hatinya dia pandangi poto-poto yang ada di album berbentuk buku, dan juga yang terpampang di tembok ruangan kumpul keluarganya, sekitar 12 poto terpampang di situ.
Ada poto gambar Ayahnya, Ibunya, dan juga Caroline kecil, poto wisuda bareng Lorenzo fakultas Phsykologi kedokteran dan teman-teman kampusnya juga terpampang. Dan juga poto pernikahannya dengan Lorenzo yang terlihat sangat mesra penuh kebahagiaan, walaupun tanpa kedua orang tuanya itu juga menempel di tembok rumahnya.
“Dalam hati Caroline berkata, betapa bahagianya bila Ayah dan Ibu ada di saat pernikahanku dengan Lorenzo…” Tetapi ada sedikit rasa kebahagiaan Caroline di saat ia gundah gulana di terpa rasa kehilangan, janji suaminya yang akan pulang pada bulan Maret 2008, dan anaknya yang selalu di rawatnya.
Bila anaknya yang masih bayi itu tertawa mirip sekali Lorenzo, matanya pun mirip, bila menatap tajam. Kulitnya pun putih sama dengan suaminya, dan juga laki-laki pula.
Dan juga alat satu-satunya penghubung rasa rindu yang begitu mencabik-cabik hati dan pikiran di saat kesepiannya tanpa Lorenzo yang di cintainya adalah melalui handphone, terkadang dua hari sekali dia menelpon, kadang juga seminggu, kadang juga tiga hari, tergantung mood rindunya Caroline kepada suaminya tercinta.
Saat ini kerinduan Caroline kepada suaminya tercinta mengebu-ngebu, maklum sudah seminggu ini ia tidak menelpon Lorenzo yang berada di Jerman. Di pencetnya dua belas angka nomor handphone suaminya terdengar nada sambung, tak berapa lama terdengar suara yang tidak asing di dengarnya.
“Hallo…ya Mah… ada apa Mah… gimana kabarmu…dan anak kita?” Suara yang tidak asing itu adalah Lorenzo, ia langsung menanyakan kabar istri dan anaknya yang sudah lama tidak bertemu, karena jarak.
“Hallo juga Pah…nggak apa-apa..hanya ingin dengar suara Papah …aku baik.., dan juga anakmu baik Pah…, terus papah kabarnya gimana…aku kangen Pah sama kamu…oh ya Pah kirimi aku uang lagi ya Pah…persediaan untuk sebulan sudah mau habis…tinggal lima ratus ribu…untuk makan aku dan anak kita tidak cukup pah…transfer ya pah dua juta rupiah…ke rekeningku uangnya…dan Papah jangan lupa makan nanti maagnya kambuh…dan aku berharap kamu cepat pulang Pah…aku kangen sama kamu Pah…” Caroline berbicara dan menjelaskan secara terperinci keadaan yang sebenarnya, ia sangat rindu kepada suaminya dan membutuhkan uang untuk keperluan sehari-harinya yang sudah menipis dengan sedikit merayu.
“Iya Mah aku baik-baik saja… pasti aku kirim ke rekeningmu uangnya dua juta rupiah…aku belum bisa pulang Mah…study kerjaku belum habis…di jerman…nanti Insya Allah…mudah-mudahan awal Agustus aku pulang ke Jakarta untukmu dan anak kita....do’ain aku ya mah…” Kembali menjawab setelah mendengar penjelasan dari istrinya, Lorenzo langsung menjelaskan kesanggupannya untuk mengirim uang, tapi tidak untuk ke Jakarta, dan berharap istrinya banyak berdo’a untuknya agar bisa bertemu lagi di Jakarta.
“Ya sudah ya Pah nanti aku telpon lagi…dan aku temani anak kita yang sedang bobo…dia mirip sekali denganmu Pah. Aku do’ain Papah baik-baik saja di sana…semoga…dah Papa…” sambil menyudahi pembicaraan caroline mengucap kepada Suaminya, dan di balas oleh Lorenzo suami tercintanya.
“Oh ya… Carzo anak kita sudah tidur ya mah…oh ya siapa dulu dong Papahnya…makasih ya Mah do’anya…semoga Mamah juga baik-baik di Jakarta…dah juga Mah….”
Setelah nada pembicaraan selesai langsung caroline menemani tidur anaknya, ia pun tidur terlelap di antara mimpi-mimpi panjang pengharapan yang belum selesai, seperti malam yang tak lelah menemani bintang-bintang yang bergerombol di atas singasana awan, bersinar dan hadir di saat gelap gulita melanda seluruh jagat raya.
Dan esok adalah samar-samar tidak ada yang tahu bagaimana keadaan yang ada pada kita, Tuhanlah yang menentukannya untuk kita, walaupun perencanaan yang hebat itu sudah di persiapkan, perencanaan yang terstruktur, maupun yang tidak. Roda ban sepeda berputar, bila ada orang mengayuh, Bumi pun berputar pada porosnya bila Sang pemilik-NYA berkehendak, dan tak terasa waktu, hari, bulan, dan tahun sama berputar seperti roda dan Bumi, apapun kejadian baik-buruk itu kehendak-NYA.
soknya Caroline mengecek uang yang di transper suaminya di Bank yang dekat dengan rumahnya. Ternyata uangnya tertera dua juta rupiah, langsung Caroline menariknya melalui atm di Bank tersebut, dan berbelanja sesuai dengan kebutuhan nya sehari-hari. Dari belanja untuk makan sehari-hari, pakaian, kebutuhan alat-alat mandi, listrik, air pam, servis mobil dan ganti oli pun di kerjakannya sendiri.
Itulah Caroline Ibu rumah tangga yang bertype bila bisa di kerjakan sendiri mengapa tidak di kerjakan sendiri, bergantung pada orang lain hanya pada suaminya saja, itu pun karena memang kewajiban suami memberi nafkah istri.
Berminggu kegiatan baru Caroline sehari-hari merawat anak, belanja, ikut kegiatan arisan dan pengajian mingguan di lingkungan masyarakat Mampang-Prapatan, Jakarta-Selatan, tempat ia tinggal.
Ia sangat aktif dan sosialisi dengan lingkungan, banyak tetangganya yang menaruh salut dan haru kepadanya, tidak sombong seperti Ayahnya. Dan itu membantu Caroline untuk melupakan sejenak suaminya yang berada di Jerman. Dan walaupun kegiatan sebanyak apapun itu pun masih terkadang belum bisa memupus bayangan kerinduan akan kehadiran suaminya di sisi Caroline.
Ya itulah cinta, rindu selalu datang bila ada cinta, tapi tak wajar bila cinta tak melihat kenyataan. Karena cinta, rindu, dan logika adalah tiga serangkai yang tidak dapat di pisahkan. Bila di pisahkan akan hilang pungsi dan makna dari tiga serangkai yang menjadi satu kesatuan yang utuh itu.
Berbulan pun sama kegiatan yang di lakukan Caroline, tidak ada yang berubah, selalu itu-itu saja yang di kerjakan. Kalau tidak belanja, ya urus anak, urus anak selesai
pengajian mingguan menanti, bersih-bersih rumah pun tak luput dari perhatiannya, termasuk dekorasi ruangan rumahnya yang monoton di tata kembali agar tidak jenuh memandangnya, ada saja yang di kerjakan Caroline untuk mengusir rasa jenuh yang menghampiri dan mendekatinya.
Tak terasa tahun telah menghampiri Caroline, di Tahun 2008 ini adalah yang di tunggu-tunggunya, dan bulannya pun bulan Maret ini adalah kepulangan Suaminya tercinta ke rumahnya, ke pelukannya, dan caroline pun ingin bermanja-manja dan bermesra-mesraan seperti waktu ia pacaran dahulu.
Sambil menunggu kepulangan suaminya ia bersih-bersih rumah, menyiapkan bahan-bahan makanan kesukaan suaminya yaitu soto sapi, dan beberapa lauk-pauk yang lain, karena family-family suaminya akan datang juga, kerabat dekat pun pasti akan datang juga.
Semua persiapan untuk kedatangan suami dan tamunya sudah di persiapakan dengan matang oleh Caroline sebelum dua hari kepulangan suaminya ke Jakarta, dua hari yang menegangkan dan penuh penantian yang berdebar-debar, membuat rasa rindu Caroline menjadi- jadi dan segera ingin bertemu dengan suaminya tercinta.
Dan kini tibalah hari yang di tentukan, hari yang di mana suaminya tercinta pulang. Segera caroline menjemput suaminya tercinta di bandara International Soekarno-Hatta, dengan mengendarai mobil bersama anaknya, Caroline tancap gas meninggalkan rumahnya menuju bandara. Sampailah ia di bandara dan melihat daftar jadwal kepulangan pesawat terbang,
Satu jam caroline menunggu tak kunjung datang pesawat garuda yang di tumpangi suaminya, lalu ia menanyakan kapada penjaga daftar kepulangan pesawat yang di tumpangi suaminya.
“Pak mau tanya pesawat garuda jadwal kepulangan hari ini kok belum tiba ya Pak…? Padahal ini sudah waktunya untuk kepulangan pesawat garuda yang saya tunggu…dan saya lihat jadwal kepulangannya hari ini…memang hari ini ..”
Sambil menggendong anaknya Caroline bingung dengan ketidahadiran pesawat garuda yang belum kunjung tiba.
“Sabar ya Bu… memang hari ini jadwal kepulangan pesawat garuda …tiba …tapi sedikit ada gangguan cuaca …jadi mungkin keberangkatan dari bandara Frankfurt, Jerman di tunda…memang Ibu menunggu siapa ?”
Penjaga itu menerangkan secara detail keadaan permasalahan penundaan kepulangan pesawat garuda dari bandara Frankfurt, Jerman karena cuaca.
Saya menunggu Suami saya yang hari ini pulang dari Jerman…cuaca lagi buruk akhir-akhir ini ya Pak..aduh kok saya
Jadi cemas ya…” Semakin tidak menentu pikiran caroline dengan di tundanya jadwal kepulangan suaminya ke Jakarta.
“Ya mudah-mudahan nggak ada apa-apa Bu….berdo’a aja semoga selamat suami Ibu sampai di Jakarta…jadi Ibu sabar ya…mudah-mudahan nggak ada apa-apa…”
Meyakinkan sambil menghimbau kepada Caroline agar sabar dan berdo’a itu sudah jadi pekerjaan sehari-hari yang di lakukan penjaga daftar jadwal keberangkatan dan kepulangan bandara International Soekarno-Hatta.
Ya sudah terima kasih ya Pak..atas informasinya….tapi kira-kira kapan ya Pak jadwal kepulangan pesawat garuda dari Frankfurt, Jerman…ke Jakarta…?” Caroline menanyakan kembali jadwal kepulangan pesawat garuda yang berangkat dari bandara Frankfurt, Jerman ke Jakarta. Karena suaminya tercinta sangat ia sayangi dan rindukan.
“Mungkin satu hari, atau dua hari ini…akan tiba di sini itu pun kalau cuaca baik…ya sabar ya Bu.. Ibu tahukan nomor telpon bandara ini!, atau nomor Handphone Ibu saya simpan, nanti kalau jadawal kepulangan pesawat garuda dikabari dari pihak bandara Frankfurt, Jerman…akan saya kabari ke Ibu, biar nggak bolak-balik ke sini, kasihan Ibu dan anak Ibu capek… bagaimana…?” Coba menawarkan jasa baik penjaga itu kepada Caroline dan Caroline pun langsung mengangguk tanda setuju.
Dan tidak berapa lama setelah menerima penjelasan dari penjaga bandara International Soekarno-Hatta, langsung caroline pulang menuju rumahnya untuk memberi tahu family-family dari Suaminya, bahwa suaminya tidak pulang ke Jakarta karena pesawat yang di tumpanginya tidak bisa terbang. Akibat cuaca buruk yang melanda sebagian Eropa dan sekitarnya. Keesokan harinya Caroline menunggu telpon dari pihak bandara, karena sedikit putus asa menunggu kedatangan suaminya ke Jakarta, sambil menonton tv ia menunggu.
Putar channel cari acara tv yang seru tak sengaja ia melihat sepintas berita kecelakaan pesawat, dia ikuti berita kecelakan pesawat itu dengan seksama. Tampak gambar pesawat jatuh tersungkur, ya pesawat itu adalah pesawat garuda yang di tumpangi Lorenzo. Dengan jadwal keberangkatan dari Frankfurt, Jerman menuju Jakarta, jatuh di sekitar rumah penduduk di Wina, Austria. Banyak korban penduduk maupun penumpang, dan penumpang pesawat garuda yang naas itu tewas semua termasuk pilot dan awaknya. Pihak-pihak berwajib dan instansi terkait Austria masih menyelidiki sebab-sebab dan mengevakuasi korban-korban kecelakaan pesawat garuda dengan type boeing 737 yang berangkat dari Frankfurt, Jerman menuju bandara International Soekarno-Hatta, Jakarta.
Caroline tercengang bukan main, suaminya tercinta pergi dengan cepat meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Dan tidak ada tanda –tanda khusus, di saat sebelum suaminya pergi untuk selama-lamanya karena kecelakaan pesawat. Orang-orang yang di cintainya pergi dengan kejadian yang sama, sama-sama kecelakaan. Ayahnya kecelakaan di mobil dan Meninggal, sedangkan suaminya kecelakaan pesawat yang menyebabkan dia tewas di negri orang.
Caroline menangis sejadi-jadinya, rasanya tak percaya melihat kejadian kenyataan yang ada, ia pingsan lalu sadar, kemudian ia pingsan lagi bila teringat suaminya yang ia amat sayangi dan cintai. Bebannya teramat berat tertimpa kenyataan yang amat pahit, mimpi dan kerinduan hancur di hantam samurai nasib. Dan Tuhan telah menggariskan nasibnya seperti itu, kini Caroline harus menerimanya walaupun apa yang terjadi padanya.
Assalamualaikum?
Untuk alur Cerita sudah lumayan bagus, cuma harus banyak yang di edit tuch...
EYDnya di perhatikan ya....