Biasanya kalau cerita berdasarkan pengalaman pribadi, memang saat dibacanya agak "flat" dan biasanya dari segi pembaca kurang mendapat konfliknya. Namun cerita ini cukup runut dan rapi.
Sebuah cerpen tentang konflik sederhana dua orang remaja dalam sebuah keluarga. Ditulis awal 2007 silam berdasarkan kenyataan. Silakan saran dan kritiknya. Terima kasih.
Semua orang yang mengenalnya biasa memanggilnya Pak Mus. Konon nama panjangnya adalah Mustajab bin Mujarab. Mungkin dia keturunan tukang obat atau duk ... lanjut baca
Pak Mus pertama kali menikah sekitar 45 tahun silam yang merupakan hasil perjodohan. Setelah lima tahun menikah dan dikaruniai dua orang putri, Pak Mu ... lanjut baca
Sekitar sebulan yang lalu Gary patah hati. Pernyataan cintanya kepada Mutia, temannya seangkatan beda kelas ditolak karena ternyata Mutia sudah lebih ... lanjut baca
Sepasang orang tua yang telah berusia lanjut dan seluruh anaknya menjadi orang kaya pun ternyata tidak selalu hidup bahagia, bahkan ketika mereka mas ... lanjut baca
Hatiku gelisah bukan kepalang. Apa yang kulihat sepanjang aku berjalan kaki sekitar lima kilometer, sejak ring road selatan hingga menjelang rumah mer ... lanjut baca
Segala hasrat yang tak tercurah
Segenap harap yang tak sempat mengejawantah
Telah lama berlalu di alam nyata
Kala tak kausambut cintaku padamu jua ... lanjut baca
Sikap mayoritas anak Bapak dan Ibu Ndang Matyo kepada orang tuanya tak lepas dari perlakuan Pak Ndang berdua yang selama ini begitu memanjakan mereka ... lanjut baca
Di kala lelah tengah menyergap
Raga pun enggan berderap
Rindu hatiku bukan kepalang
Mengenangkan dinda kekasih sayang
Yang kini tengah jauh terp ... lanjut baca
Tadinya Modi cuek dan nggak pengen ngerti saat Boy atau Widya, anak-anak pintar di kelasnya ngobrolin soal email, milis atau website. Tapi lama-lama d ... lanjut baca
Suasana hari ini di Taman Kota sangat ramai, semua kelihatan berpasangan.. Para Adam dan Hawa yang saling bergandengan dengan senyuman yang menghiasi ... lanjut baca
Hari ini aku merasa binggung dengan keadaan yang sedang terjadi, mataku merah dan tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Walaupun telah kuseka berp ... lanjut baca
“Kamu percaya Sangkuriang?” Teman saya yang paling saya harapkan menghilang dari muka bumi itu bertanya sekali waktu, tanpa malu-malu dan sedikit ... lanjut baca
Aku mencium kerudungku. Bau kayu putih seketika menyengat hidungku. Aku terbatuk dan mencoba menghilangkan bau itu dengan mengibas-ngibaskan tang ... lanjut baca
Rumah kosong di ujung gang itu telah lama tidak ditempati, terlalu lama bahkan. Pemilik terakhir lebih memilih meninggalkannya, berpindah ke tempat ba ... lanjut baca
PART TIGA
“Sori lama! Abis gue mesti nunggu si petarung terakhir nyetor dulu!” LUCIfer baru datang tampangnya langsung kucel dan merengut. Oran ... lanjut baca
Cinta Itu Puitis
Hati yang tulus adalah taman.
Pikiran yang sehat adalah akar.
Perkataan baik adalah bunga.
Kebajikan adalah buah.
-- John Ru ... lanjut baca
Ary terus berlari dan berlari tanpa alas kaki. Menerjang menembus kepekatan air mata langit. Jerit kakinya meronta menahan perih sudah tak dihiraukann ... lanjut baca
di sini ada aku dan juga sahabat.....
*********
Diandra
Aku Diandra, lahir dari keluarga kalangan ‘biasa” , yang berharap kelak menjadi m ... lanjut baca
Sebuah boneka botak berada dalam dekapanku, aku memeluknya erat karena itulah hadiah ulang tahun ke-5 dari orang tuaku. Sebelum aku miliki boneka in ... lanjut baca
i can't imagine if i were lea.
oh no..
thanx Allah give me beautiful family..
pemaparan cerita ok, tapi terasa ada yang kurang ...
akhirnya kok biasa saja........
Aku pikir ntar-ntarnya si Hanung ini jatuh hati pada Lea.
Btw lanjutttttttttttttt
Biasanya kalau cerita berdasarkan pengalaman pribadi, memang saat dibacanya agak "flat" dan biasanya dari segi pembaca kurang mendapat konfliknya. Namun cerita ini cukup runut dan rapi.
tak pikir tali merah antara hanung dan Lea... ternyata beda...Ok kok...konfliknya banyak!
jempol sepuluh jare
*celingkukan kebingan jempol sepuluh jare berarti jarinya jempol semua ya?
heheheh
hmmmm, Hanung