Read more (2107 words)
Gadis muda empat belas tahun itu sedang duduk di ruang tunggu Kingsford Smith. Ia sedang menunggu keberangkatan pesawat terbang menuju Indonesia. Selvy, teman karibnya yang kuliah di University of Queensland (St. Lucia) sempat mengantarkannya sampai bandara, bahkan sempat bersama-sama berbelanja beberapa hal yang menarik di dalamnya. Namun, kini ia sendirian.
______Tak disadarinya dua pasang mata mengawasi tak jauh dari tempat ia duduk.
Gadis itu, yang tak lain adalah Cinta Laura, sedang membaca sebuah buku. Di sampul depannya tertuliskan judul dalam huruf besar ---AKU---. Cinta belajar Bahasa Indonesia dari Selvy semenjak dua tahun yang lalu. Dia memang selalu pergi ke Queensland untuk mengunjungi temannya itu setiap sempat. Sudah empat hari ia di situ, di penghujung kunjungan, Selvy memberikan PR buatnya untuk menghapal beberapa puisi di dalam buku, yang kini telah berada di genggamannya. Dan kini Cinta sedang menghapal puisi yang paling terkenal dari seorang Khairil Anwar…
Bibir Cinta mulai melakukan pemanasan, “Beycegh… Oyjegh… Beycegh… Oyjegh…” berulang-ulang hingga akhirnya ia mulai membaca.
---Akyu---
---Buwah karya: Haiyriel Anwarh---
(Penuh penghayatan dengan tangan yang sangat agresif)
Kalauw sampai wakchukyu
Kyumauh chak seorang kan meraiyu
Tiydhak juyja KAU!!! (Seorang bule Aussie yang kebetulan sedang lewat, langsung terkejut demi melihat Cinta berteriak seraya menunjuk ke arahnya. Namun Cinta tak menyadari, lanjut membaca)...
Chak pherlyu sedyu-sedhan ityu (Bule, yang ingin mencoba merayu Cinta, mengurungkan niatnya. Ternyata ia mengerti Bahasa Indonesia)...
Akyu ini binatangh jaylang
Dhari kyumpyulanyah cherbuangh
Bhiar peluryu menembyus kulitkyu
Akyu chechap meyradangh meynerjangh…… (Bule, yang ingin mencoba sekali lagi untuk berkenalan, kembali mengurungkan niat. Dalam hatinya ia berkata, “Cyantigh-cyantigh kogh jaydi teyroris.”)...
Belum sempat Cinta menghabiskan membaca puisi itu, terdengar panggilan dari speaker bandara, mempersilahkan para penumpang menuju Jakarta masuk ke dalam pesawat. Segera ia berberes, tak lupa dirapikan tanktop warna biru mudanya yang sempat acak-acakan selama ia membaca puisi dengan ekspresif.
“Hmm, I miss my mom baingeyt degh!” gumamnya, sementara dua pasang mata yang tadi mengawasi segera mengambil handphone dari saku celananya.
“She’ll be departing soon, in five minutes!” ucapnya kepada lawan bicara di seberang telepon.
_____Cinta sungguh tak tau apa yang akan menantinya di Jakarta.
@_@
Jakarta, 09.00 wib,
Balai Samudra, Kelapa Gading – Persiapan pembukaan Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2009
Seorang perempuan setengah baya sedang berbicara dengan seorang gadis muda. Sesekali gadis muda itu mencatat hasil pembicaraan mereka.
“Ibu Herdiana, apa kira-kira ada permintaan lain?”
Perempuan itu, yang ternyata adalah mama Cinta, menggelengkan kepalanya, “Itu saja dulu sekarang. Jangan lupa sushi dan puding strawberrynya ya! Cinta sangat suka itu,” jawabnya. Sang gadis mengangguk dan segera berlalu pergi. Sementara mamanya Cinta, segera berjalan keluar dari gedung menuju parkiran mobil. Namun sebelum ia sampai ke pintu masuk, handphone-nya berbunyi.
Uyjan... Mana beycegh... Ga ayda oyjegh...
Uyjan... Mana beycegh... Ga ayda oyjegh...
Begitulah nada dering yang keluar dari handphone itu.
“Hallow... Siapakah ini?” tegurnya merasa nomor tak dikenali.
“Halo...” suara berat lelaki menjawab.
“Ibu tak perlu tau siapa saya. Yang jelas saya tau siapa anak Ibu...” sambung lelaki itu.
“Maksudnya apa ya? Saya kok tidak mengerti.”
“Anak ibu, Cincha Louwra... akan kami culik, huahahaha!”
Klick...!!! Sambungan telepon terputus, mama Cinta terdiam, bingung atas apa yang didengarnya.
Uyjan... Mana beycegh... Ga ayda oyjegh...
Uyjan... Mana beycegh... Ga ayda oyjegh...
Berselang lima menit, Handphone-nya kembali berbunyi.
“Hallow... Terputus ya?”
“Iya, maaf, lupa isi pulsa!”
Gubraks... Mama Cinta agak terjungkal sedikit demi mendengar jawaban itu.
“Kembali ke lap... top...!”
“Ya, silahkan,” keterkejutan terkuasai.
“Cincha Louwra bakal kami culik hari ini, di sela persiapan acara pembukaan JFFF 2009, huahahaha...!!!”
Klick! Kali ini sambungan memang sengaja diputuskan. Mama Cinta mencoba menghela nafas panjang. Dia sangat terkejut atas ancaman itu. Bukan karena ancaman itu dia menjadi shock, tapi lebih karena pertanyaan yang hadir ke dalam benaknya,
“Kok, mau nyulik orang pake bilang-bilang ya???”
Namun akhirnya ia tak peduli atas kebodohan sang penculik. Langkahnya mantap kini.
“Pak supir, ke kantor polisi ya, cepat!!”
@_@
Di dalam pesawat.
Cinta Laura mendapatkan teman sebangku yang agak asik, seorang lelaki berumur 30 tahun dengan gaya seperti ABG. Cinta bisa saja memesan tiket sigle-sit. Namun, entah mengapa kali ini dia sangat ingin mempunyai teman bicara. Mungkin karena ia yakin bakalan dapat teman duduk berbangsa Indonesia, bisa sekalian mempraktikkan kemampuannya menghapal puisi.
“Hai, cewek. Perkenalkanlah, daku Amri Hidayat, perjaka beranak dua, satu masih in planning,” ucap lelaki itu.
“Hay cowwogh, akyu Chincha Louwra, perawan!” jawab Cinta dengan logatnya yang khas.
“Oww! Artis terkenal itu rupanya, pantas mirip.”
“Ya iyya lah... Chencyu sayja miyrip. Cincha gitchyu looo...” pikir Cinta dalam hati, bibirnya pun mengembang seksi.
“Mau kemanakah dirimu, Dek?” tanya lelaki itu.
“Iyni cowwogh a little bit giyla degh kaiyaknya. Wong kiyta in the same plane, kogh pakhe nanya sejaila mow kyemhana shiii,”
“Mauw kye Phaphua, Owm!” jawab Cinta.
“Oooh, baguslah. Saya cuman mau mastikan, kali aja dirimu salah naik pesawat,” ujar lelaki itu, yang segera mengalihkan pembicaraan.
“Cinta dah punya boyfriend, gak?”
“Mmmm... Beylumh. By the way akyu gak suka dengan ischilah boyfriend.. Aku lebih suka disebyut cheman dekat.. Cheman buwat punching, running, lari lari kecil.”
“Hmm… Teman dekat ya?”
“Ichu bechul.”
Lelaki itu kembali terlihat berpikir. Rambutnya yang agak panjang tersibak, nampaklah jidat selebar landasan pesawat terbang, yang tadinya tersembunyi di sana.
“Lebih enak punya boyfriend atau teman dekat yak?” pikirnya di dalam hati, sampai-sampai urat di jidatnya melesak keluar beberapa mili.
“Om, sakich ya?” tanya Cinta demi melihat urat yang keluar itu.
“Sedikit,” jawab lelaki itu singkat.
“Chincah engga tauh yah. Chapi… kacha mamah Chinca, kalow sakich, engga bolegh belyi obathh warungh gethu she. prefer beli di aphoteg aija degh.”
“Kalo Om sih, prefer minum jamu!”
“Jyanghan! Beli di aphoteg aija!” cegah Cinta.
“Gak ah! Yang jualan jamu di tempat Om, manis sih,” kali ini pikiran lelaki itu menerawang. Urat-urat yang tadinya muncul, kini sudah mengempis kembali, seiring dengan keluarnya angin di bagian yang lain.
“Igh! Om kenchut ya???” jerit Cinta, dan lelaki itu hanya bisa menyengir.
“Om! Mau dhengerin Cincha bachya pyuisi ga?” tawar gadis cantik itu.
“Oh, boleh. Gini-gini, Om juga penulis loooh. Di kemudian.com gituh! Cinta mau baca puisi siapa?” jawab lelaki itu memasang mimik penasaran.
“Bachya pyuisinya Haiyriel Anwarh!”
“Wew! Go ahead, girl!” dan lelaki itu pun menopang dagunya dengan kedua telapak tangan, bersiap menikmati pertunjukkan.
“Wah, multitalent banget nih artis!” pikir lelaki itu.
MHALAMh
Mhulai kyelamh
belumh byunchu mhalamh
kamiy mashih berchajia
--Thermopylae?-
- jajial chidhak dhikenal ? –
chapi nanchi
shebelyum shiangg membyenchangh
kamiy syudah chenggelam hilangh
Cinta membaca puisi itu sambil memejamkan matanya, menghayati. Terus dengan mata terpejam, menunggu tepuk tangan. Namun tidak ada, sepi... Dibukakannya mata, lelaki itu sudah tak ada di tempat.
“Duh, maaf ya Cinta. Tadi Om ke toilet bentar. Nah! Sekarang Om sudah siap mendengarkan, silahkan,” lelaki itu kembali dari pertapaan. Namun Cinta sudah ngambek, terlihat dari bibir seksinya yang kini mengembang. Dan lelaki itu hanya terpana, melihat fatamorgana bibir mengembang selayak metamorfosa ulat bulu menjadi ular naga.
@_@
Jakarta, 14.00 wib,
Di kantor polisi
Mama Cinta mengetuk-ngetuk meja dengan kukunya yang terawat, di depan seorang sersan. Berulang kali ia melirik ke arah jam. Selang beberapa menit ia mengulangi pertanyaan yang sama, “Gimana, Pak? Sudah berapa polisi dikerahkan?” dan Polisi itu kembali menjawab dengan perkataan yang juga sama, “Sabar, Bu. Segalanya dalam kendali!”
Mama Cinta tak serta-merta tenang. Dengan sabarnya ia menunggu di kantor polisi hingga keamanan benar-benar terjamin. Tak perlu diragukan betapa sayangnya dia kepada anaknya itu, begitu juga Cinta. Hal ini terbukti dengan segala perkataan Cinta yang bereferensikan darinya...
“Kacha mamah akyu, perfume ichu wanginya gak longlasting. Jadi mendingan
kasi bracelet from platina.”
Ini juga...
"Akyu chau Ahmad Jiani dhari mamah, he is very cool,"
Dan masih banyak contoh yang lain.
“Pokoknya... pengamanan di bandara, perjalanan menuju Balai Samudra, sampai ke tempat harus okay. Don’t miss apapun!” tegas Mama, dan polisi yang mendampinginya hanya mengangguk bijak.
@_@
Lokasi: Masih di udara
Waktu: Satu jam menuju Jakarta
Semenjak dirinya ngambek, headphone itu tak pernah lepas dari telinganya. Hanya sekali, ketika ia pergi ke toilet. Selebihnya, Cinta terus saja mendengarkan lagu yang diputar, lagu-lagu di dua album miliknya, ini salah satu lagu terbarunya...
Iiiiigh... Kyamuw mawu apha?
Iiiiigh... Jyanganh menggodha
Iiiiigh... Kyamuw maeu apha?
Iiiiigh... Akyu nggak syuka...
Iiiiigh...
Iiiiigh......
Iiiiigh.........!!!
Lagu itulah yang membuatnya semakin terkenal. Saingannya dalam dunia entertainment, Tukul Arwana, diajak serta menjadi model video klip. Sudah bisa dibayangkan bukan, kira-kira Mas Tukul berperan sebagai apa?
Lelaki tadi, yang bernama Amri, sudah kelihatan tertidur. Dengan hati-hati, Cinta melepas headphone itu dari telinganya.
“Hufff... Akirnya, I can free bherekspresion,” gumamnya. Namun, baru saja ia hendak mengambil buku diari dari tas gendong kecil miliknya, lelaki itu menggeliat, bangun dari tidur.
“Wah! Sudah habis dua album, Cin?”
Cinta, yang masih kesal, segera menjawab dengan nyanyian lagu tadi.
Iiiiigh... Kyamuw mawu apha?
Iiiiigh... Jyanganh menggodha
Iiiiigh... Kyamuw maeu apha?
Iiiiigh... Akyu nggak syuka...
Iiiiigh...
Iiiiigh......
Iiiiigh.........!!!
Alhasil, jeritan –iiiigh– terakhir, mampu membuat lelaki itu menggelepar, pingsan.
“Bos! Gempa bumi ya?” tanya asisten pilot di cockpit, pesawat agak bergetar.
“Kayaknya iya!” jawab sang pilot seraya mengecek peralatan pesawat terbang itu.
“Menara Jakarta, apakah ada gempa bumi? Di pesawat sampai terasa!” kali ini mereka mencoba menghubungi Jakarta.
Grrrrrtttt.... grrrrtttt... lama ditunggu, tidak ada jawaban. Mereka tak tahu bahwa di sana, kru menara pengawas sedang menertawakan kekonyolan mereka.
“Halo Jakarta... halloooow?”
“Eh... oh... iya... ada gempa bumi! Huahahaha!”
Dan kedua pilot itu hanya mampu terheran-heran.
“Dasar orang Indonesia, ada gempa bumi kok malah tertawa,” ucap mereka berdua, yang adalah pilot Australia, sambil terpingkal-pingkal, menertawakan tingkah kru menara pengawas di Jakarta.
@_@
Mama Cinta dan para polisi plus intel sudah berjaga-jaga, mereka berpakaian preman agar tidak membuat resah pengunjung. Pengamanan bandara diperketat, semua orang diperiksa. Namun, ada yang luput. Yaitu pada beberapa orang yang duduk terpisah, menggunakan bros berlambang cinta di lengan kemeja masing-masing. Mereka semua melirik jam dan sama-sama bergumam,
“Hmm. Lima belas menit lagi...!”
Mereka semua menanti, dengan tujuan masing-masing.
Pukul 16.45 tepat, pesawat itu mendarat. Mereka semua berkumpul di depan pintu kedatangan. Beberapa polisi masuk ke dalam ruang pengambilan bagasi bandara. Satu-persatu penumpang keluar, beberapa dari mereka mengeluarkan omelan,
“Sial! Bisa-bisanya bus bandara mogok!”
“Iya!! Payah!”
Lima belas menit berlalu, tidak ada tanda-tanda keberadaan Cinta Laura.
“Bagaimana, Pak? Adakah anak saya di sana?” Mama Cinta mulai sesenggukan, menahan tangis.
“Maaf, Bu,” hanya itu yang mampu dijawab polisi itu.
Polisi yang lain lewat di depan Mama Cinta, dan ia pun mengulangi pertanyaan yang sama. Namun, jawaban yang diterima pun hampir sama. Semua orang yang menanti kedatangan Cinta khawatir, termasuk pria-pria yang memakai bros berlambang cinta di lengan kemeja tadi.
“Sial! Kayaknya ada yang mendahului kita menculik Cincha Louwra nih!!”
“Iya!! Payah!”
Para polisi tak habis akal. Mereka menanyakan para penumpang satu-persatu sambil menunjukkan foto Cinta. Akhirnya ada titik terang.
“Pak! Bapak ada melihat gadis muda ini?” tanya seorang polisi kepada seorang lelaki berambut agak panjang, khususnya di bagian jidat.
“Oww! Cinta Laura ya?” jawab lelaki itu.
“Benar Pak! Ada?”
“Ya... ya... Dia tadi duduk bersebelahan denganku!” lelaki itu meletakkan tas ranselnya. Mama Cinta pun mendekat demi mendengar hal itu. Tak luput juga para pria yang memakai bros berlambang cinta di lengan kemeja tadi, mereka mencuri dengar.
“Dimanakah dia sekarang, Pak?” desak Mama Cinta.
“Sebentar, pakaianku basah semua, di luar sedang hujan. Mana bus bandara pada mogok!!” lelaki itu mengibas-ngibas pakaiannya.
“Cepetan dong, Pak! Anak saya itu diculik orang, kan?!” kali ini Mama tak bisa menahan tangisnya.
“Wah! Kalau itu aku tak tahu, Bu! Terakhir kulihat, dia sedang melongo di depan pintu pesawat!” jawab lelaki itu.
“Trus... trus...???”
“Dia bergumam lirih...!”
“Apa... apa...???”
di luar ujyaan,……
mana becyegh,…….
gak ada ojyegh………
di luar ujyaan,……
mana becyegh,…….
gak ada ojyegh………
Lelaki itu pergi berlalu sambil menggumamkan kata-kata itu di sepanjang jalannya, meninggalkan Mama Cinta, para polisi, dan pria-pria yang memakai bros berlambang cinta di lengan kemeja tadi, yang kini hanya dapat melongo...... kaku......
Ternyata Cinta bukan diculik, hanya takut kena beycegh... mana gak ada oyjegh... beycegh... oyjegh... beycegh... oyjegh... Dan kata-kata ini terngiang-ngiang di kepala mereka semua...
beycegh... oyjegh...
beycegh... oyjegh...
beycegh... oyjegh...
Mama Cinta tak menyadari... bahwa sebenarnya itu bukan kata yang terngiang-ngiang... melainkan bunyi ringtone di handphone-nya, Cinta mencoba menghubungi mamanya itu.
“Mamaaaaaaah, handphone-nya kogh gak dhiangkach sheeeee!”
@_@
:))
hahahaha...
kocak abis...
wah, puisi aku..
jadi inget pas SD/SMP (lupak) perna baca juga dskolahh..
hahaha..
gilaaaaaaaaaaaaaaa =)) =)) =)) =))
lucunya yang pas bagian cinta baca puisi AKU di bancadar. sumpeh aku ngakak bacanya hahahaha
cuma untuk setting tempat kayaknya kurang kena deh bang.
Gini nih kalo fans berat menulis, gak ada topik lain selain ... beycegh... ojegh .... huahaha. Sering2 nulis komedi gini yah :D
ini okey karena diberi background meski dikit, tentang cinta yang belajar bahasa Indonesia, jadinya lucunya sedikit bisa dicerna...tapi ini deh bang, entah mengapa dari tadi saya baca di K.com ini banya cerita yang dumping info..:))
bahkan pada sub judul, contohnya juga cerita ini, kalimat "pagi, jam 10,"
kenapa nggak jam 10 ajah..? double nggak seih..hihi
lalu,
"waktu australia, bandara international king..sidney" double?
kenapa ga..
"Bandara international Kingsfort Smith, 10:00"
kalo takut pembaca ga tahu itu di mana, entar disebut di cerita
okey ini usul saja, kalo ga setuju ga usah dihiaraukan lah ya..
salam
Super X tertekan!hahahaha....agak kurang nih bro klo utk komedi. Endingnya bagus.
Hp di pesawat kan bisa dipakai denger music dengan flight mode...logis kok.
Gempa di pesawat kan hanya utk men-dodol-kan pilot, betul bung? makanya org yg di menara pada ketawa.
hahaha....thx a lot! hariku yang kelabu jadi cerah dikit dah...
seep lah
benar2 ngefans sama cinta laura ya sampai2 segitu gilanya menggambarkan dirimu bisa duduk dekat cinta laura.
tapi ada beberapa hal yg gak masuk akal. seperti maen hp di pesawat, trus juga nyanyian cinta yg bikin pesawat bergetar sampee dikatakan gempa.
btw lucu juga
Wokeh, Amri, cukup... cukupp!!
Orang2 udah pada ngeliatin lantaran ngakak sendiri dari tadi. Bentar lagi aq dikirim ke rumah sakit jiwa, wahahaha!
pas itu kan lagi di udara, kok boleh maen hape??
trus, di udara, mana ada gempa bumi?
Selebihnya bikin saya ngakak total!! wuakakakakakakakaka, ini mau fanfic apa mau ngelawak?
sepertinya sedikit jayuz dan kepanjangan...hehe...tp tetaplah berkarya!^^fight!!!!(^0^)b