Yang Menyayangi Mentari

46
points
"

Dibuat sebelum Harmoni Kasat Mata.
Di sini memang dibuat untuk semacam perjalanan hidup Alice, saya tidak ingin mencoba menambah dengan dialog2 lepas yang menurut imajinasi saya akhirnya akan mengurangi faktor kekosongan di dalamnya. Masalah umur, saya sendiri kurang memikirknnya, yang pasti belum 15, umur saya saat membuat ini.

"

Kegelapan malam membalut diri Alice saat itu. Tubuhnya meringkuk menahan getaran tubuhnya, meskipun hal tersebut tidaklah begitu berguna untuk meredam ketakutannya.

Alice takut pada malam dan cahaya bulan, dan hal tersebut telah berlangsung sangat lama. Mungkin terlalu lama, sehingga pernah suatu saat Alice lupa apa yang membuatnya takut pada malam dan cahaya bulan. Hanya saja dia selalu takut, hingga kemudian dia kembali ingat saat dia benar-benar terekspos langsung pada cahaya bulan untuk waktu yang lama.

Rasa takutnya diawali ketika ayahnya menghilang dan ibunya dipaksa menikahi pria lain. Ayah tirinya suka menyiksanya setelah pulang dari pekerjaannya, hampir semuanya dengan serius. Sebagai pelepas stres, begitu katanya mudah. Di tubuh Alice sering terlihat memar-memar kebiruan, dan itu tidak kunjung berakhir. Ibunya perlahan-lahan sadar dan tahu mengenai apa yag sedang terjadi.

Alice sadar ibunya telah tahu, dan dia mulai meminta pertolongan darinya. Ibunya hanya bisa meminta Alice untuk bersabar, dan tidak lagi berkata apa-apa. Jika kebetulan ibunya tahu bahwa ayah tiri Alice sedang memukulinya, ibunya selalu mengunci diri di dalam kamarnya. Tidak enak badan, alasannya.

Suatu saat ibunya harus pergi untuk beberapa hari, dan saat tersebut menjadi titik di mana hidup Alice berputar arah 180°.

Beberapa hari Alice lalui dengan penyiksaan yang jauh lebih menyakitkan daripada biasanya. Alice mampu bertahan, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung begitu lama.

Klimaksnya datang ketika dia baru sadar di suatu pagi yang mendung berawan, di mana dia mendengar suara-suara di dekatnya walaupun kecil.

Aneh, seharusnya ibu belum pulang saat itu, pikir Alice sementara dia membuka matanya.

Alangkah kagetnya Alice ketika dia temukan ayah tirinya yang membuka pakaian di tubuhnya satu-persatu. Matanya terlihat buas, sama seperti hewan liar yang sedang mengintai mangsanya. Alice tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. Umur Alice telah cukup dewasa untuk tahu mengenai apa yang akan kemudian dilakukan laki-laki dengan mata seperti itu. Alice tidak bisa melawan, kekuatannya kalah dengan berat badan pria yang menindih dan menciuminya dengan liar tersebut. Alice berusaha terus bertahan, sementara ayah tirinya mencoba melepaskan pakaian Alice.

Alice, pada titik tersebut yakin sepenuhnya, hidupnya bisa saja berakhir jika dia tetap tidak melakukan apa-apa.

Alice melihat di meja di sebelah ranjangnya, sebuah gunting tergeletak tidak bergerak. Tangan Alice perlahan mencoba mencapai gunting tersebut. Nafas ayah tirinya terdengar memburu di telinga kirinya. Alice mengerahkan seluruh kemampuannya, dia genggam erat gunting tersebut di tangannya dan menusukkannya ke sisi kanan leher ayahnya. Sekali tusuk, kemudian dia kembali menusukkannya berkali-kali ke punggung ayahnya, menciptakan noda merah di mana-mana. Alice tahu noda apa itu. Ayahnya tidak lagi bergerak sejak saat itu.

Subuh tiba, bisa dia lihat dari dalam ruangan kecil dia tertahan, melalui jendela kecil berteralis yang menjadi satu-satunya jalan cahaya dapat masuk.

Alice bisa kembali melihat dunia, keberaniannya kembali muncul. Namun, siapa yang tahu apa yang akan terjadi kemudian? Bisa saja Alice tiba-tiba melupakan lagi apa yang ditakutinya dan kemudian tidak lagi mengingatnya untuk selamanya. Lagipula, kini sumber ketakutannya tidak lagi ada. Alice bisa saja benar-benar lupa, hanya saja dia perlu waktu. Lagi, dia juga bisa tetap dibalut oleh ketakutannya. Hidupnya memang seperti itu, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengubahnya, dia mencoba pasrah saja jika malam tiba.

Kini pagi menjelang, perempuan-perempuan lain di tempat itu juga sudah mulai bangun, mereka semua mengenakan pakaian yang sama, seragam kusam berwarna biru tua, yang membedakan mereka hanyalah nama dan nomor-nomor yang tertera di seragam mereka. Mungkin lebih baik Alice juga mulai bersiap, kareba dia hanya bisa benar-benar hidup ketika matahari masih terlihat, jadi ada baiknya dia menghidupi hidupnya sepenuhnya untuk setengah hari yang terberkati ini.

Dia tidak akan mengeluh pada yang lainnya, dia juga tidak akan merengek menceritakan masa lalunya. Alice akan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah adalah kesalahan dia dimasukkan ke tempat tersebut sehingga tidak akan ada yang takut dan menjauh darinya. Alice akan banyak berteman dan banyak belajar mengenai dunia, menggantikan segala waktu yang dihabiskannya dalam kekangan ayah tirinya. Dia akan menjadi luar biasa, Alice akan mencoba masuk dalam sejarah dunia. Itulah dia, itulah Alice.

Penjaga mengeluarkan teriakan yang bergaung ke segala arah, berarti mereka sudah harus berkumpul. Dengan serta-merta Alice berjalan keluar. Seringai kecil terpampang di wajahnya, sementara mentari pagi menyiraminya dengan kehangatan yang selalu Alice tunggu-tunggu setiap malamnya.

Your rating: None Average: 6.6 (7 votes)
dikirim Rasuk Sadewa 13 minggu 3 hari yang lalu
Tag: