Pada cerita yang lalu Rumah Pak Lurah Tedjo ribut dengan menghilangnya Hamidah. Noir istri Tedjo histeris karena putri kelimanya menghilang, belum juga pulang padahal biasanya hanya dengan tiupan peluit warisan My Bro anak-anaknya langsung berkumpul.
"Sabar mi..," Tedjo ternyata mulai panik juga, ia merasa bersalah dengan menghilangnya Hamidah.
"Pasukan!" Teriak Tedjo berkomando.
"Siap!" Jawab kesembilan anaknya serentak.
"Siaga" semangat Tedjo semakin berkobar bagai pemimpin upacara.
Grubuk..grubuk gemuruh ruangan bagai terserang gempa kesepuluh anak Tedjo menyebar menuju kamar masing-masing. Tidak lebih dari 5 menit mereka telah berkumpul kembali di ruang tamu, berbaris seperti pasukan paskibra. Mereka telah lengkap dengan pakaian mereka.
Shinici mengenakan pakaian selam lengkap dengan sepatu katak dan tabung oksigennya, sementara tujuh anak perempuanya masing masing membawa kentongan dan obor.
"Bagaimana siap?" tanya Tedjo pada pasukannya
"Si...Lom" seru anak-anaknya yang bertabrakan dengan suara Noir yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Noir muncul dengan pakaian premanya jaket kulit, celana jeans rombeng, kalung rantai mengantung di leher panjangnya.
"Mami!" sentak Tedjo pada istri tercintanya.
Noir yang mantan preman hanya mendengus kesal kearah suaminya. "What?" Noir cuek sambil membetulkan kancing jaketnya.
"Pasukan! berangkat." seru Noir pada pasukannya.
Tedjo memasang muka merah mengkerut karena kini ia mulai berfirasat, istrinya akan membuat onar.
Belum sempat mereka melangkah tiba-tiba angin kencang menyusup kedalam ruang tamu. Asap hitam mengepul hingga akhirnya muncul sosok tinggi besar berjubah hitam. siapakah dia?
Uhuk! uhuk! kesebelas orang di ruangan itu terbatuk oleh asap yang mengepul dari kelembak yang sedang di hisap oleh sosok yang tak asing bagi mereka siapakah dia?
Tunggu kelanjutannya yah...
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
haiiiyyyaahhh....
pendek amat!
mana niy lanjutanna?
saya bilangin noir lho, nanti kamu dicelurit
duuuuuh, pagipagi gini udah ketawaketawi