Sekolah Diliburkan

"

Long way to go...

"

Jika pagi ini Azzam tidak masuk sekolah, itu bukan karena ia sengaja membolos, bukan pula karena ia sedang sakit, tapi lebih karena kemarin gedung sekolah mereka sudah tidak lagi berdiri. Tentu saja itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan karena hal itu sudah sering kali terjadi mungkin besok atau lusa, guru-guru mereka akan menemukan gedung baru yang bisa mereka pergunakan, tapi sampai saat itu tiba mereka akan diliburkan dari sekolah. Jadi setelah menghabiskan sarapannya, Azzam kecil berpamitan pada ibunya lalu mengendarai sepedanya untuk melihat apa yang tersisa dari gedung sekolah lamanya.

"Fiuhh mereka benar-benar menghancurkannya!"

Saat Azzam tiba beberapa anak, teman sekelasnya, sudah lebih dahulu berada di sana. Dan yang baru saja mengekspresikan kekagumannya adalah Zauri, salah seorang yang tertua di antara mereka dan sesuai kesepakatan tidak langsung di antara mereka, jika kebetulan Ahmad tidak ada maka Zauri lah yang akan menjadi pemimpin mereka.

Setelah mengucapkan salam, Azzam menghampiri kawan-kawannya yang dengan gembira menjawab salamnya kemudian menyambutnya.

"Kau masih hidup rupanya!"

"Siapa yang mati?"

"Habil, ia kebetulan berada di sini saat ledakan itu terjadi. Kalau tidak salah ia dikuburkan kemarin malam."

"Baguslah kalau begitu..."

Dan semua anak mendadak sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Zauri yang pertama kali memulai mengais puing-puing, dan tanpa banyak bicara anak-anak yang lain mengikutinya. Ini seperti berburu harta karun, Azzam berharap ia bisa menemukan sesuatu yang menarik di sana, seperti selongsong peluru atau serpihan bom yang masih tersisa.

Di satu sisi, ia menemukan sebuah buku bergambar. Beberapa bagiannya sudah hangus terbakar tapi setengahnya masih bisa dibaca. Untuk beberapa saat, pencarian harta karun dihentikan dan anak-anak segera berkumpul mengelilingi Azzam bersama-sama mendengarkan Zauri yang di daulat membacakannya pada mereka semua.

Ceritanya menarik, tentang seorang raja yang mencoba mengahncurkan kota Tuhan dengan gajah-gajah yang ia miliki. Tak ada seorangpun dari mereka yang pernah melihat gajah secara langsung, tapi setidaknya ilustrasi di dalam buku itu cukup jelas menggambarkan bahwa gajah-gajah itu adalah makhluk yang sangat besar.

"Seperti tank!"

Seorang anak berseru sementara yang lain menganggukkan kepalanya menyetujui hal itu.

Zauri pun melanjutkan ceritanya. Pasukan gajah itu terus berjalan, dan ketika orang-orang mengira kota itu akan hancur berantakan, serombongan burung mendadak terbang menghampiri pasukan itu. Burung-burung itu bertubuh kecil dan satu-satunya senjata yang mereka bawa ialah batu-batu kecil.

Sang raja pun tergelak. Ia berpikir pastilah Tuhan bermaksud mengolok-olok dirinya maka dengan angkuh ia memerintahkan pasukannya untuk terus bergerak.

Dan alangkah terkejutnya sang raja. Burung-burung itu menjatuhkan batu-batu kecil yang mereka bawa, dan satu persatu pasukan yang dibawa sang raja jatuh berguguran termasuk gajah-gajah yang mereka naiki. Sang raja pun bermaskud melarikan diri, tapi pada akhirnya sebuah kerikil yang dilemparkan ke arahnya mengakhiri hidupnya. Pasukan bergajah pun akhirnya musnah dan kota Tuhan itu masih berdiri sampai saat ini.

cerita itu pun berakhir. Azzam dan yang lainnya hanya bisa berdecak kagum, bagaimana burung-burung kecil dengan batu-batu kerikil bisa menghancurkan seluruh pasukan beragajah.

Tak berapa lama pencarian harta karun kembali dilakukan. Salah seorang anak menemukan beberapa selongsong peluru tapi Zauri lah yang berhasil mendapatkan hadiah utama. Bongkahan besi kehitaman di tangannya, gambar bintang yang samar-samar masih terlihat, tak salah lagi itu adalah kepingan bom yang meluluhlantakkan gedung sekolah mereka. Tepat saat itu, terdengar seruan seorang anak.

"Mereka sudah datang!"

Yang berseru adalah Ahmad, maka Azzam, Zauri dan anak-anak yang lain bergegas mengambil sepeda mereka masing-masing lalu mengikuti pemimpin mereka. Pasukan bergajah telah tiba, kota Tuhan akan dihancurkan dan mereka adalah burung-burung kecil bersenjatakan kerikil-kerikil.

68.3333
Average: 6.8 (6 votes)
dikirim 145 7 weeks 3 days yang lalu
Tag: