Bersama waktu kan kutemui dirimu. Dalam lirih angin malam dan lelah yang tak berkesudahan. Diantara hingar bingar kehidupan yang tak pernah kumengerti dan membuatku muak.
Bersama getar langkahku kan kutemui dirimu. Dalam luka kaki yang perih menganga. Kan kutinggalkan bercak darah ini sebagai jejakku. Agar suatu hari aku bisa kembali lagi kesini. Menanggalkan penat. Membaca lagi kenangan.
Bersama mimpi kan kejejali lembaranmu dalam rangselku. Ada yang harus kubawa sebagai tanda. Bahwa ada kalanya aku mencipta rasa. Rasa yang bisa membawaku terbang tinggi. Membelah tabir imaji.
Bersama sepi yang mampu membuatku berpikir jernih kan kuukir namamu. Dengan tinta emasku. Dengan ukiran terbaikku. Kan kupahat disini. Di pohon favoritku. Tempatku mencari sekeping demi sekeping logam emas ilahi.
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
aku tidak mengukir
manis
dan berhasil terurai dari kepalamu yang...hehehe
Ndul! Ngupil dulu nyok! hehehe
Kakak menulis mendayu-ndayu. Pinter ngolah kata-katanya.
"namamu" <- siapa itu, hayo ngaku ?? siapa itu?
susunan kalimat yg menarik;kamu juga bisa menikmati/ambil hikmah dari sepi yang justru banyak orang coba jauhi. nice,writte some more..
siip bagus nech :
logam emas Ilahi, nice poem !
^-^