terkesan dipaksakan, untuk mengisi kekosongan berkarya dalam beberapa minggu ini. Apapun... inilah punyaku. maklumi ya...
"“Pak, sudah lihat motor baru Bu Tessy belum? Bagus pak, kaki ga usah injek-injek bisa jalan, alus lagi suaranya, ada bunyi ngiiing… kayak teko masak kalo air sudah mateng”, cerita Surti mengawali pembicaraan di sebuah dapur reot.
“Itu namanya motor metik Bu, emang kenapa…?”, tanggapan dingin dari sang suami, Parto, yang lagi sibuk membetulkan kandang ayam, tanpa memperhatikan lawan bicaranya.
Mereka berdua adalah pasangan suami istri, hidup serba pas-pasan, tanpa anak jauh dari sanak. Tanpa kerjaan tetap. Sudah bertahun-tahun mereka hidup bersama, dengan Parto yang sabar dan Surti yang sedikit kelewatan, tapi mereka tetap bertahan, perbedaan yang saling menyeimbangkan, begitu kata hukum alam.
“Kapan ya kita bisa punya motor, duduk di sadel empuk. Cepek Pak pake sepeda, boncengannya besi, pantat sering sakit kalo lewat pas kena lubang”, lanjut Bu surti menyerapahi keadaan hidupnya, seperti biasa.
“Hmm.. Bu, jangan ngomong yang nggak-nggak, sadar diri, bisa makan saja sudah bersyukur”, Pak Parto mencoba menasehati.
“Ah, bapak aja kurang giat kerjanya”.
“Mau giat yang bagaimana, segiat-giatnya buruh tani paling dapet tambahan makan aja, bu”
“Coba usaha lain kek…”
“Usaha apaan? Dagang? Kan butuh modal...”
“Masak ga ada usaha lain pak..pak…”
“Yang lain butuh keterampilan, ada juga pesugihan...!”, dengan nada kesal Parto ingin mengakhiri pembicaraan kali ini.
“Ya sana…, mungkin peruntungan kita di situ Pak..”, lanjut Surti tanpa di duga oleh Parto.
Parto terdiam, tak mau melanjutkan pembicaraan ini. Tapi dalam batinnya bergejolak, memikirkan perkataan istrinya. Di lain sisi dia juga putus asa dengan keadaan hidupnya. Tanpa sadar ia terpengaruh untuk melakukan hal yang tak pernah terpikirkan, yaitu mencari pesugihan. Tak ada lagi pikiran kemusyrikan bila ini benar-benar dilakukan.
Malam sudah menjelang, setelah makan Parto mengemasi beberapa pakaian.
“Mau kemana pak..?”, Tanya Surti. Tak tahu apa yang akan dilakukan suaminya.
“Mau ke hutan, nyari pesugihan,” Jawab Parto mantap.
“Bungkusin nasi sisa Bu kalau ada,” lanjutnya.
Tanpa sepatah kata lagi Surti menyiapkan apa yang diminta suaminya. Ada rasa bersalah telah memulai kejadian ini. Tapi apa dikata, jika suaminya sudah berkehendak maka sulit untuk di cegah, di sisi lain ia juga ingin perubahan hidupnya, dan mungkin ini adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh.
Masih dengan suasana diam, Parto keluar rumah diikuti sang istri mengantarkan hingga pintu.
“Hati-hati…, mau berapa hari Pak?”, Tanya Surti penuh kecemasan
“Seminggu paling lama, kalau sebelum seminggu sudah dapat ya aku langsung pulang”, Jawab Parto dan langsung melangkah pergi.
Jalan yang di tempuh ke hutan cukup jauh. Banyak cerita yang mengisahkan suatu tempat untuk bersemedi meminta sesuatu. Kesitulah Pak Parto akan menuju. Di hutan dengan perbukitan, masih cukup perawan diantara perbukitan lain yang sudah rusak karena pembalakan.
Tepat tengah malam Parto sampai di tempat tujuan. Sepi, sekeliling hanya pepohonan tua dan bekas sesajen. Tak ada orang lain yang melakukan aktifitas di situ dan Parto berharap dengan sepinya tempat itu akan mempercepat proses semedinya untuk meminta, Pesugihan!!
Sudah enam hari dilewati, tanpa ada tanda-tanda datangnya wangsit, hanya nyamuk yang tak bosan mengelilingi bersama dengungnya bercampur suara serangga yang lain, tapi tak lagi mengganggu karena sudah tebiasa selama enam hari. Tak makan dan minum, tak tidur apalagi mandi.
Hingga pada malam ke 7, pada tengah malam badan Parto merasakan hembusan hawa berbeda, bulu kuduk mulai berdiri, ketakutan menjadi-jadi dan berpikir mungkin inilah saatnya. Dengan mata terpejam semakin rapat tiba-tiba pundaknya ditepuk seseorang. Dibukanya mata pelan-pelan, begitu kagetnya sehingga ia tersentak dan tergeser dari tempat duduk semula. Dilihatnya seseorang dengan jubah serba putih, berjenggot lebat sudah memutih pula.
“Ma..maaf.., Mbah siapa?”, Tanya Parto terbata-bata.
“Aku Jambrong, yang punya tempat ini, sudah 7 hari kau menunggui tempatku ini, maumu apa, hah?”, Tanya kakek tua dengan suara berat dan menggelegar, dialah Mbah Jambrong.
“Begini Mbah, istri saya iri lihat tetangga yang sudah punya motor, tapi aku belum bisa memberi, aku orang miskin Mbah, jadi saya minta tolong sama Mbah supaya bisa kaya”, kata Parto menghiba.
“Huahahaha…. Oalah Le..Le.., ada-ada saja, arep sugih yo kerjo, ajari istrimu untuk belajar nrimo yo le…”, nasihat Mbah Jambrong. Parto tersenyum kecut, tidak menyangka kalo Mbah jambrong Wong Jowo juga.
“Yo wis, ini aku kasih kamu 3 batu. Nanti buang batu ini ke sumur, satu batu satu permintaan, terserah kamu! Ingat, setelah sampai di rumah jangan melakukan sesuatu yang lain sebelum melempar 3 batu ini ke sumur, dan jangan lupa mantranya, Ji Walang Kaji Kokok Beluk Bem Bem.. ” lanjut mbah jambrong.
“Nggih Mbah.. Matur suwun … matur suwun sanget, aku minta pamit…”, jawab Parto setelah menyambut 3 batu pemberian Mbah Jambrong.
“Yo, sana pulang dan jangan kesini lagi, kalo ketemu kamu lagi di sini, tak kethak ndasmu, huahahahaa..”, seiring suara tawa Mbah Jambrong yang semakin menghilang, menghilang pula penampakannya. Kemudian Parto cepat-cepat berkemas dan bergegas pergi pulang, tanpa menengok lagi kebelakang.
Dengan langkah tergopoh-gopoh Parto memasuki halaman rumah dan langsung menuju pintu, terlihat sudah sepi, sesepi malam yang sudah larut.
“Bu… Bu..”, suara Parto memanggil istrinya sambil menggedor-gedor pintu. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, di lihatnya wajah istri yang sudah kusut habis bangun tidur. Dan memandang pula Surti kepada suaminya dengan muka lusuh, penuh keletihan dan juga bau badan yang menyengat. Tapi tak dihiraukan karena bahagia sang suami pulang.
“Pak, gimana Pak? Bapak nggak papa kan? Dapat apa Pak?”, pertanyaan Surti langsung bertubi-tubi, antara kekhawatiran dan pengharapan.
“Sudahlah Bu, ayo kita ke sumur, nanti kuceritakan”, tegas Parto dan langsung menuju sumur belakang rumahnya, diikuti Surti.
Setelah sampai di sumur, Parto mencoba menenangkan diri, ditariknya Surti untuk bersama-sama berdiri menghadap bibir sumur.
“Bu, ini aku dikasih tiga batu, katanya satu batu satu permintaan, jadi jangan sia-siakan kesempatan ini untuk meminta apa yang kita inginkan. Gimana bu? Untuk yang pertama kamu minta apa?”, kata pak parto menerangkan.
“Mm… Pak, yang pertama kita minta motor saja…, seperti Bu Tessy”, pinta Surti, yang terobsesi sekali naik motor seperti yang dipunya Bu Tessy.
“Baik....”, tegas Parto penuh mantap bersiap siap melempar batu. Tangan kanan di rentangkan ke depan tepat di tengah lubang sumur dan bersiap menjatuhkan batu pertama, lalu…
“Ji Walang Kaji Kokok Beluk Bem Bem… aku minta Mo… Mata...!!”, ups… rupanya Parto salah menyebut, motor latah menjadi mata!
Plung! Terdengar batu jatuh di air sumur. Tapi sesuatu tak pernah terbayangkan terjadi.
“Astaga Pak.. seluruh badan Bapak penuh mata.., di wajah, bahkan di tangan dan tuh juga di kaki, mata semua, kenapa salah sebut Pak? Gimana ini..?”, Surti sanagt kaget begitu juga Parto. Dilihatnya seluruh badan Parto di penuhi mata.
“Tak tahu lah bu… di balik baju dan celana juga ada ni.. gimana dong Bu? Tadi aku salah sebut, habis sewaktu mau sebut motor mata bapak digigit semut..,” terang Parto.
Ternyata selain membawa 3 batu dari hutan, Parto tidak sadar kalau badannya juga banyak semutnya.
“Lalu gimana lagi ni Pak…?”, Tanya surti Penuh kekecewaan dan kesedihan.
“begini saja, masih ada 2 batu, yang satu untuk ngilangin mata dan satunya lagi untuk minta motor, gimana Bu..?”
“Terserah Bapak deh, lagian kan aneh kalo Bapak dalam keadaan begini”.
“Baik Bu..”
“Hati-hati pak, jangan salah sebut lagi..”, Surti mewanti-wanti.
Kemudian batu kedua ditangan direntangkan lagi ke sumur. Parto menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Kemudian..
“Ji Walang Kaji Kokok Beluk Bem Bem… Aku minta mata-mata ini dihilangkan!”
Plung..!! terdengar bunyi batu jatuh di air sumur. Slap. Sekejap saja terjadi sesuatu yang aneh lagi dalam diri pak parto. Semua mata ilang, termasuk mata normalnya!
“Bu.. kok gelap banget Bu…, Bu aku ga bisa lihat… gimana ini bu..!”, keluh Parto tanpa bisa menangis.
“Ealah.. Pak… mata Bapak ilang semua… piye iki…. Duh gusti, …”, Teriak Surti tak kalah kaget.
“Duh Bu, harus gimana lagi? Tinggal satu batu? Mau tetap minta motor apa aku balikin kedua mataku Bu..?”
“Mau motor gimana Pak…, kalau Bapak tidak bisa melihat siapa yang boncengin aku? Percuma Pak, batu terakhir untuk minta mata Bapak kembali normal saja ya..”, pinta Surti.
“Terima kasih Bu… tolong pandu tangan aku untuk melempar batu terakhir ini..”
Lalu Surti menarik dan mengarahkan tangan Parto ke lubang sumur.
“Sudah pas pak, langsung aja minta Pak..”, pinta Surti.
“Ji Walang Kaji Kokok Beluk Bem Bem…. Aku minta dikembalikan kedua mataku lagi..!”
Plung! Ketiga kalinya batu itu jatuh, dan ini yang terakhir. Ajaib, seketika itu pula mata Parto kembali normal.
“Alhamdulillah bu.. aku normal lagi.., aku bisa melihat lagi...”, kata Parto penuh kegirangan.
“Syukurlah Pak…, motor ga dapat tak apalah.. yang penting Bapak sudah kembali seperti semula”, Kata Surti penuh pengertian.
“Sudahlah Bu, kita tak usah memaksakan kehendak, keadaan hidup begini kita terima saja, tak usah ngiri sama tetangga, rejeki sudah ada yang ngatur, yang sabar ya bu..”, nasihat Parto.
“Ya Pak, aku juga minta maaf, aku nggak akan minta macem-macem lagi”, kata surti penuh penyesalan.
Kemudian Parto berdiri dan menarik Surti untuk segera beranjak masuk ke rumah. Pelan berjalan, seolah meresapi apa yang baru saja dialami. Satu pelajaran berharga.
“O iya bu.. tolong masakin air dong, aku kepingin mandi air hangat, sudah seminggu nih nggak mandi..”, kata Parto menghilangkan kekecewaan.
“Iya Pak, sekalian nanti aku beresin kamar tidur, dah seminggu juga ni… hi..hi..hi..”, Celetuk Surti di iringi senyuman Parto penuh pengertian. Ouh.… so sweeeeeeet…….
dikirim x_zombie 12 minggu 4 hari yang laluTag:













