Drama Ratusan Tahun

20
points
"

Cerpen pertama yang dimuat di sini dengan ada kata-kata yang diucapkan secara langsung...

"

Sekali lagi, Croix menaiki gunung batu yang sama dengan yang dinaikinya ratusan tahun yang lalu. Nafasnya tersengal-sengal, waktu ratusan tahun tampaknya telah membuat dirinya kembali lemah. Perlahan, peluh menutupi seluruh wajahnya.

Tidak, dia tidak boleh hanya menyerah di sana, sedikit lagi dia pasti sampai.

Croix meneguk sedikit air yang dibawanya, seraya kembali naik ke atas. Langit di sekitar tempat tersebut sangat gelap dan berkabut, hampir mustahil untuk dapat mengukur jauh dirinya dari puncak tebing tersebut, seingatnya hanya sedikit lagi maka dia akan sampai ke puncak tebing tersebut. Dengan berbekal sedikit semangat yang kembali muncul, tangannya mencoba mempercepat gerakannya dan kembali memanjat jauh ke atas.

Tangannya pada akhirnya mencapai apa yang dipastikan olehnya sebagai puncak tebing tersebut. Dia langsung saja memanjat naik, melihat ke sekitar. Awan di sekitar tempat tersebut berwarna ungu gelap dan ditambah dengan petir yang terkadang memperdengarkan dirinya. Dia masih ingat dengan ciri-ciri tersebut, yang dicarinya adalah satu hal lain yang berbeda dari saat sebelumnya dia melihat tempat tersebut. Seorang perempuan, berambut panjang berwarna kuning cerah, melayang-layang di atas tanah. Dia kelihatan seperti tidak sadarkan diri, akan tetapi Croix memandanginya dengan senyuman tersungging di wajahnya.

“Evangel... Lenneth...” ujar Croix tertahan. “… Pada akhirnya kita bisa bertemu lagi.”

Croix duduk di hadapan Evangel Lenneth, mengagumi keindahan diri Lenneth yang sama sekali belum pudar semenjak ratusan tahun yang lalu.

“Sadarkah engkau bahwa dirimu telah hilang dari hidupku selama ratusan tahun, Lenneth?” tanya Croix. “Ratusan tahun, engkau terpaksa terbelenggu di tempat ini karena kesalahan diriku. Aku tidak pernah memaafkan diriku sejak saat itu, Lenneth. Untuk itulah aku kembali, untuk dirimu.”

Evangel Lenneth tetap diam di posisinya.

“Sejak saat itu, kita berdua abadi, kita berdua tidak bisa mati, karena kita berdua telah menginjak tanah suci ini dengan diri yang dipenuhi dosa, Lenneth. Sejak saat itu kita dikutuk, dan untuk keselamatanku, engkau korbankan dirimu untuk menjadi penjaga tempat ini. Namun, aku terus memikirkanmu, kau tahu rasanya terpisah dari seorang yang sangat kau sayangi, kan?”

Perlahan tanah tersebut bergetar kecil. Croix tetap bertahan di tempatnya seakan tidak merasakan apa-apa.

“Aku telah menahan perasaan tersebut selama ratusan tahun, Lenneth, tidak seperti dirimu yang dibekukan oleh kuasa tanah ini. Aku tersiksa, ratusan tahun aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sampai hingga saat ini aku kembali berada di atas tempat ini, dan kembali melihatmu,” lanjut Croix lagi. “Bisakah kau bayangkan perasaan dalam diriku saat melihat dirimu yang masih seperti ini, Lenneth?”

Tanah tersebut bergetar semakin hebat. Dari matanya bisa Croix lihat perlahan Lenneth membuka matanya. Mata merah kelamnya, sekali lagi Croix bisa melihatnya. Lenneth tetap diam.

“Kau, masih dikuasai tempat ini?”

Tidak ada jawaban dari Evangel Lenneth, matanya hanya terbuka sedikit sambil menatap Croix resah.

“Tidak apa-apa, Lenneth,” ujar Croix seraya bangkit dan mendekati Lenneth. “Sudah terlalu lama aku jauh darimu, Lenneth. Aku tidak mau lagi terpisah dari dirimu, meski kau yang sekarang seperti ini.”

Croix memandangi Lenneth dari dekat, dan senyum sekali lagi tersungging di wajahnya, sebelum akhirnya memeluk tubuh Evangel Lenneth dengan kedua belah tangannya. Croix meninggikan dirinya sedikit, sampai dia kira sebuah bisikan bisa terdengar oleh telinga Lenneth.

“Kau tidak lagi sendirian, Lenneth.”

Your rating: None Average: 5 (4 votes)
dikirim Rasuk Sadewa 12 minggu 4 hari yang lalu
Tag: