Totum pro parte dari "Raindrop Blues Robot, I Wish I Wasn't
Prolog dari cerita yang sedang dibuat..
"Aku tidak pernah mengatakan hal ini pada orang lain, karena orang-orang akan menganggapku aneh. Aku sempurna."
Hampir sama seperti segala hal lain, aku mewujudkan hidup kotaku dengan detak jantung. Sebuah metafora biasa menurutku, karena manusia hanya hidup dengan jantung yang berdetak. Karenanya aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa detak jantung kota ini telah berhenti. Kota ini telah mati.
Kota ini memiliki segalanya, akan tetapi di dalam balutan ucapan mulut orang-orang tersebut sebenarnya kota ini tidak memiliki apapun. Tidak terlalu hiperbolis, karena sarana dan prasarana yang diperlukan manusia untuk hidup tersedia lengkap di dalamnya. Namun ada yang kurang di dalamnya, dan mungkin hanya aku yang memahaminya. Kota ini tidak lagi berjalan, tidak ada evolusi di dalamnya. Segalanya di dalam kota ini berlangsung tanpa pernah terjadi perubahan sedikitpun. Tidak ada lagi emosi yang dapat dirasakan. Semuanya dingin. Semuanya statis. Semuanya membuatku muak. Peradaban seakan berhenti.
"Kau pasti mengerti maksudku, Pepe. Bagaimanapun kau adalah bagian dari diriku," Aku mengangkat anjing liar yang menemaniku pulang. "Kau adalah aku."
Pepe menjilat pipiku. Dari matanya tampak dia tidak mengerti apa yang kuucapkan. Tentu saja dia tidak akan mengerti, dia hanya anjing liar biasa. Satu yang menurutku telah melalui zaman saat jantung kota ini masih berdetak. Satu yang masih tersisa dan kebetulan berpapasan denganku. Karenanya aku menyukainya, dia berbau masa lalu, saat di mana manusia masih dipenuhi rasa ingin tahu.
Kota ini tidak bergerak, di dalamnya tidak ada interaksi yang dilakukan secara tidak sengaja, seperti ada jadwal permanen yang menyebutkan apa yang harus dikerjakan semua orang. Bangun pagi, membereskan diri, berangkat ke luar, mengucapkan salam pada semua orang, bekerja, mengucapkan salam pada semua orang lagi, pulang ke dalam rumah, membereskan diri lagi, tidur. Tidak ada hal penting yang terjadi di dalam kota statis ini. Tidak pernah ada yang berbeda dari hari sebelumnya. Semua diam karenanya. Tidak ada gunanya mengobrol lebih dari mengucapkan salam, karena segalanya sudah teramat baik. Semua percaya kota ini sempurna seperti ini.
Apa memang harus seperti ini? Manusia bisa lebih baik dari ini, mereka bukan binatang yang setiap harinya hanya harus memikirkan untuk mencari makan dan membuat keturunan. Atau manusia sudah teramat baik, sehingga tidak ada lagi yang harus dicari?
Manusia telah sangat baik, sehingga tidak ada yang perlu dicari lebih lanjut. Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan. Mataku dibuatnya tenggelam dalam sungai air mata. Sebuah hiperbola yang cukup anggun sebagai reaksi dari ironi yang telah kusebutkan. Jika aku menangis, akankah aku masih sempurna? Apakah aku memang benar-benar sempurna? Atau itu hanya sebuah hiperbola lain yang kutujukan untuk diriku sendiri?
Ayahku memanggilku ke meja makan. Aku terpaksa menurunkan Pepe dari ranjangku dan berjalan bersamanya menuju ruang makan. Ayah tidak suka aku membawa Pepe masuk ruang makan, walaupun dia sepertinya senang aku punya teman di dalam rumah.
Aku berjalan keluar dan meminta Pepe untuk menunggu di sana. Aku tidak tahu dia mengerti atau tidak, akan tetapi dia duduk diam di sana sementara aku berjalan masuk lagi. Mengapa terkadang Pepe tampak mengerti apa yang kukatakan padanya?
dikirim Rasuk Sadewa 8 minggu 3 hari yang laluTag:







