(Seandainya) Dia Protes

52
points
"

bisa disebut ini kelanjutan dari cerita Dia Jengah, Dia Ingin Berhenti. mohon caci makinya yah ^^

"

“Bisa nggak sih kamu datang tepat waktu?” tanya gadis itu pada laki-laki yang baru saja masuk.
“Maaf, mbak, tadi saya…”
“Apa? Karena tadi kamu juga kerja di tempat lain? Itu resiko kalau kamu bekerja di dua tempat,” tukasnya dengan nada semakin meninggi.

Sepertinya dia mulai tak tahan dengan keterlambatan laki-laki yang menggantikan shiftnya. Setiap hari, selalu seperti itu, selalu terlambat. Semenjak hari pertama laki-laki itu bekerja di warnet ini. Dan asal tahu saja, baru kali ini laki-laki itu mengucapkan kata maaf atas keterlambatannya.

“Ada apa ini? Kenapa kalian ribut?” sebuah suara terdengar dari seorang laki-laki yang entah sejak kapan berdiri di pintu. Terkadang laki-laki ini yang menggantikan shift gadis itu.
“Maaf, Bos tapi Arif selalu datang terlambat dan akibatnya saya pulang kesorean,” jelasnya
“Tapi Mas kan tahu kalau pagi saya bekerja honorer di kantor KONI,” ujar Arif membela diri.
“Bukankah itu sudah menjadi konsekuensi kalau kita menjalani dua pekerjaan berbeda sekaligus?” Dia terus mencerca Arif tanpa henti.

Beberapa user yang tadinya berkutat dengan komputer di bilik berukuran 1x1,5 meter itu melongok mencari tahu apa yang terjadi. Suasana memanas diantara ketiganya seolah-olah mengalahkan dinginnya AC di ruangan 5x12 meter ini. Beberapa ekor cicak yang berlarian di langit-langit mulai menyelinap ke balik enternit menghindari panasya suasana.

“Bukankah dulu kamu juga sering pulang kesorean? Saat masih si Utu yang menggantikanmu?” ujar si Bos pada gadis itu.
“Dulu saya pulang kesorean karena ada yang mesti saya selesaikan di komputer dan Utu juga tak datang terlambat,” katanya membela diri.
“Berarti sama aja kan kamu juga pulang kesorean?” kata si Bos.
“Ya beda lah, Bos. Dulu alasan saya pulang kesorean datang dari diri saya sendiri, sedangkan sekarang saya pulang kesorean karena dia,” Tutur gadis itu menjelaskan.
“Lagi pula sekarang di rumah ada kerjaan yang menunggu,” Lanjutnya.
“Berarti hitungannya sama donk, Mbak. Saya juga ada kerjaan sebelum datang kemari. Itu konsekuensi juga kalau mengambil dua pekerjaan kan?” Sahut Arif.

Enak saja Arif menyamakan konsekuensinya dengan pekerjaan gadis itu. Sepulangnya dari bekerja, gadis itu mendapat tugas mengurus rumah. Wajar kan kalau seorang gadis mendapat tugas mengurus rumah? Lain halnya dengan Arif. Pagi hari dia bekerja honorer di kantor KONI. Jam kerja kantor kan hanya sampai pukul 14.00. Sedangkan jam kerjanya di warnet dimulai dari jam 15.00. Bukankah ada jeda waktu satu jam untuk istirahat dan menyiapkan segalanya sebelum dia berangkat ke warnet?

“Enak saja kamu bilang begitu. Yang punya dua pekerjaan itu kamu, yang nggak bisa membagi waktu itu kamu, dan saya nggak semestinya menerima imbas dari ketidak becusanmu mengatur waktu,” Tandas gadis itu.
“Apa saya nggak bisa meminta toleransi?” Ujar Arif merajuk pada si Bos
“Toleransi? Apa selama ini kamu pernah merasa bersalah atas keterlambatanmu?” Dia menukas sebelum si Bos menjawab
“ Bos, saya sudah tidak tahan lagi dengan kondisi kerja semacam ini,” Lanjutnya.
“Lalu, maumu?” Si Bos mulai bingung dengan keadaan karyawan-karyawannya.
“Ya, Bos akan membuatnya berjanji untuk tidak terlambat lagi, atau saya keluar,”

Penawaran yang cukup berat. Tidak mudah mencari karyawan seperti dia. Yang mudah belajar tapi tak banyak bicara. Dia sanggup mengurus dua counter sekaligus, counter warnet dan counter handphone. Jika ada yang menyadari, kondisi warnet sekarang sangat jauh berbeda jika dibandingkan saat-saat ketika dia belum bergabung, terlalu berantakan. Dia juga masih tetap bertahan ketika ada beberapa hal yang merugikan terjadi padanya. Mulai dari tersengat kalajengking saat bersih-bersih, tetap bertahan menjaga warnet saat ada pemadaman listrik dan si Bos lupa menyuruhnya tutup, hingga dia harus merelakan tas beserta isinya saat di tinggal bersih-bersih, untuk dibawa pergi pencuri.

“Semua bisa dibicarakan baik-baik bukan?” Tanya si Bos.
“Maaf, tapi keputusan saya bergantung bagaimana Arif akan bersikap selanjutnya Sekarang saya harus pulang, saya lelah,” Tutur gadis itu sembari keluar mwnyongsong kendaraan umum di depan warnet.

Your rating: None Average: 6.5 (8 votes)
dikirim dhewy_re 18 minggu 6 hari yang lalu
Tag: