bocah dan baliho di emperan toko

58
points
"

jika menulis puisi cuma satu keinginanku -jangan sampai menyamai apa yang termuat di Quran. itu yang membuatku ciut menulis puisi. jika punya keinginan menulis puisi sebaik yang termuat di Quran. mudah-mudahan saja tidak.

namun sungguh segala komentar akan sangat bermanfaat bautku. terima kasih. sekaligus kasih untuk Dewi dan Aura. sesekali janganlah melihat buku dari sampulnya.

"

Bocah itu bersimpuh di emperan
di depan toko yang tiga jam lalu tutup
ia menjulurkan kaki setelah seharian penuh
berkeliling kota naik turun bus
menjajakan suara - atau entahlah, "lagu tanpa nada"
diiringi musik bekas botol air mineral.

Bocah itu membaringkan tubuh setelah
menghitung dan mengamankan hasil seharian
hari ini cukup buat makan malam nanti
setelah habis sebatang rokok dihembuskan
yang dalam tidur sejenak pun
masih terlintas.

Gambar bapak tak dikenalnya menyapa:
Terseyum sebagaimana foto di baliho
di setiap perempatan mengepung kota
memberi harapan palsu kepada banyak orang
lewat janji pada tiap pemilihan.

Foto ibu yang ia lihat dengan mata terbelalak:
Tersenyum menggoda hanya bercawat
sebagaimana di setiap halaman majalah
menawarkan segala kepuasan
dan hidup yang harus dijalani.

Bocah itu menggeliatkan tubuhnya
ia bangkit dan mencari warung makan
mengisi perut belum pernah kenyang.

Bapak dan ibu di ujung jalan sana:
Masih saja penuh senyum menggoda.
Tak lagi peduli!

malang, 05.12.06

Your rating: None Average: 7.3 (8 votes)
dikirim avian dewanto 8 minggu 2 hari yang lalu
Tag: