Felgirth - Chain 1 - The Promise

51
points
"

EDIT 3: perubahan pada deskripsi menyangkut kelemahan Varlend yang tidak bisa menyakti makhluk hidup.

"

Chain 1 The Promise



Segalanya terlihat gelap, ruang hampa yang tidak ada isinya. Tak ada angin yang berhembus, tak ada air yang mengalir, tak ada sedikit pun tanda-tanda kehidupan kecuali seorang pria dan sebuah suara.

“Bangkitlah puteraku…”

“Siapa…? Siapakah kamu yang selalu menghampiri mimpiku?” jawab seorang pria.

“Bangkit dan hancurkanlah jantung dunia ini…” Suara yang sama kembali terdengar, nadanya seperti mendesah.

“Jantung? Apa maksudmu?”

“Dunia ini menyedihkan, puteraku… dunia ini akan segera hancur olehnya… oleh dia yang selalu membawa bencana bagi manusia. Dia takut rahasianya akan terkuak, oh tapi aku tahu… ya aku tahu rahasianya…” Suara itu terdengar percaya diri dan penuh kebencian.

“Rahasia? Siapakah yang kau maksud itu? Siapa kamu sebenarnya?!” sang pria semakin jengkel dan tak sabar. Setiap kali selalu seperti ini, kata-kata yang tak jelas, perintah-perintah yang harus dipatuhi, ia sudah tak tahan lagi.

“Siapa aku tidaklah penting… kau hanya perlu mendengarkan kata-kataku saja, puteraku… ya… kau adalah puteraku… maha karyaku yang paling sempurna… kalau saja gadis busuk itu tidak menghancurkan rencanaku dan membuatmu jadi begini…” Suara itu terdengar seperti menahan kepedihan yang mendalam. “Tapi tenanglah, segera… tak akan lama lagi… kekuatanmu akan kembali… dan jika saat itu tiba, puteraku, hancurkanlah jantung dunia ini… putuskan jaring takdir yang mengendalikan kita… hanya dengan begitu, dunia ini bisa lepas dari cengkraman tangannya…”

“Untuk apa aku harus menurutimu? Jangan libatkan aku dalam ambisi pribadimu! Enyahlah! Jangan ganggu aku lagi !!” teriak si pria.

“Bukan… ini bukan ambisi pribadi… ini semua demi umat manusia… kau tak mengerti puteraku… orang itu akan menghancurkan kita cepat atau lambat… sudah saatnya umat manusia menentukan takdirnya sendiri…” Suara itu terdengar semakin melemah dan kata-kata berikutnya semakin tidak jelas.

“Jan… a…da …i fel… irth…”

“He…hei tunggu dulu!!” Semuanya menjadi putih. Si pria merasakan kepalanya tiba-tiba sakit dan dunia terasa berputar. Hal berikutnya yang ia tahu adalah sebuah gelas melayang tepat ke arahnya. Ia memiringkan kepalanya tepat pada waktunya sehingga gelas berisi bliss itu menabrak tembok dan pecah dengan suara nyaring, diikuti dengan suara tawa yang keras dari sekumpulan pemabuk di seberang jalan.

Pria itu terbangun dari mimpi anehnya dan sedikit berkeringat. Pandangannya kosong sejenak dan selama beberapa saat dia merasa seperti tidak mengenali dunia ini. Sepertinya jiwanya yang habis melayang ke tempat lain harus menyesuaikan diri dulu ketika bergabung kembali dengan tubuhnya. Setelah beberapa detik seperti itu, wajahnya secara perlahan kembali menjadi lebih manusiawi, dengan mata yang hitam pekat, tak seperti tadi yang kosong dan berwarna putih.

Dia kemudian mulai melihat, atau lebih tepat kalau disebut ‘menganalisa’ keadaan di sekelilingnya. Ia berada di Cielgris, kota para nithlom – ksatria, serta benteng kekuatan utama kerajaan terbesar di Surfassia yang bernama Fallom Emvirea – kerajaan Fallom.

“Varlend” begitulah pria muda ini dipanggil oleh seorang anak kecil berpakaian lusuh yang kini menghampirinya.

Pria yang dipanggil Varlend itu pun menoleh dan menatap sang anak dengan dahi mengernyit, namun anak itu tetap berdiri di depannya tanpa rasa takut dan berbicara dengan nada yang polos, “ibuku melarangku untuk mendekati kak Varlend… katanya kakak orang yang berbahaya…”

Tanpa perlu dikatakan pun Varlend sudah bisa melihat dengan jelas sang ibu yang sekarang sedang berteriak-teriak dengan wajah cemas setengah mati, menyuruh sang anak agar kembali namun tetap menjaga jaraknya karena takut. Sementara itu sang anak tetap dengan polosnya berdiri disana dan berkata, “tetapi para ni’hlom disana mengatakan kalau kakak tidak pernah menyakiti orang lain sekali pun… apa kakak orang baik?” Si anak tampaknya kesulitan mengeja kata nithlom.

Ucapan sang anak langsung diikuti gelak tawa oleh para nithlom yang dimaksud tadi, yang ternyata sekumpulan pemabuk yang tadi telah melemparkan gelas bliss ke Varlend.

“Hei bocah!!” kata salah seorang nithlom berjenggot lebat sambil menahan tawa, “orang seperti dia itu, bukan orang baik, tapi lemah!!” Semua nithlom serentak tertawa terbahak-bahak, sementara seorang lagi yang bertubuh kurus menambahkan, ”dia itu penari, penari swavellow!!” dan semua pun tertawa semakin keras.

“Aku sudah melihatnya, dia dipukuli dan bahkan tidak melawan sama sekali!! dia memang cuma seorang penari! dan pedang besarnya itu pastilah hanya sekadar untuk atraksi saja!!” Nithlom yang berjenggot lebat tadi menambahkan lagi, seakan sedang berlomba dengan si kurus tentang siapa yang bisa menciptakan lelucon terkonyol tentang Varlend.

Anak kecil itu menoleh menatap wajah Varlend yang tampaknya tidak memperdulikan ucapan para pemabuk yang tampangnya sudah nyaris mau roboh akibat terlalu banyak menenggak bliss.

“Kalau kakak orang baik, maukah kakak Varlend menolong fulberr milikku yang terjebak diatas pohon…? kasihan sekali dia tidak bisa turun karena takut…” tanya anak itu dengan nada yang panjang dan perlahan.

Tanpa basa-basi, tinju Varlend tiba-tiba langsung melayang ke arah anak kecil itu namun berhenti dengan jarak setipis kertas dari wajah si anak. Sang anak hanya berkedip sedikit namun tidak berusaha melindungi dirinya, sementara itu sang ibu langsung berteriak histeris dan menerjang menyelamatkan anaknya dan membawanya pergi, diiringi suara siulan dari para pemabuk. Anak kecil yang digendong pergi ibunya itu terus menatap Varlend dengan tatapan polos setengah memohon namun tak lama sosoknya menghilang dibawa memasuki gang kecil.

“Hey, lelaki pesolek!! pukulanmu tadi boleh juga!! pasti kau sudah berlatih menari cukup lama ya!!” teriak nithlom berjenggot lebat dan disusul gelak tawa yang riuh ramai, namun tiba-tiba suara tawa itu mereda dibawah tatapan tajam mata Varlend. Mata Varlend seperti berkilat, sesekali menyala biru dan menatap mereka semua dengan keinginan membunuh yang sangat kuat hingga beberapa penduduk langsung mundur, bahkan salah satu pemabuk terjatuh dari bangkunya.

“A…apa?! kau mau ber… bertarung?!!” Si nithlom berjenggot lebat berdiri setengah gemetar.

Varlend menatap mereka selama beberapa saat dan kemudian dia berdiri, mengambil pedang besarnya yang dari tadi menyandar di sebelahnya, nithlom itu langsung bergerak mundur sedikit.

“A… aku tidak takut denganmu! ayo maju ka… kalau kau berani!!” teriaknya lagi walaupun wajahnya ketara sekali gentar dibawah tatapan membunuh Varlend. Para nithlom itu sudah sering berperang dan mereka tahu ketika seseorang itu berbahaya atau tidak dari tatapan matanya saja, dan tatapan Varlend dengan jelas memancarkan aura kematian.

Varlend maju selangkah ke depan perlahan, membuat semua nithlom serempak mundur selangkah, namun kemudian Varlend membelokkan jalannya ke arah pintu gerbang Cielgris yang sangat besar namun saat ini dalam keadaan terbuka.

Para nithlom sesaat kebingungan namun kemudian si jenggot lebat mengejek Varlend lagi dari belakang dan memaksakan diri untuk tertawa keras, “ha.. haha…. HAAHAHA!! kalian lihat?! si pengecut itu takut padaku!!” Para nithlom perlahan-lahan kembali berlagak sok melihat Varlend terus berjalan dan tidak menanggapi mereka. Berbagai makian dan hinaan keluar dari mulut mereka namun Varlend terus berjalan keluar kota Cielgris tanpa berkata apa-apa. Ia hanya bergumam pelan, “kota yang busuk…”

Kota Cielgris, begitu memang orang menyebutnya, walaupun begitu tempat ini lebih cocok dikatakan sebagai tempat kumuh daripada sebuah kota. Kota yang seharusnya menjadi benteng utama Fallom Emvirea kini usang, rusak dimana-mana, dan begitu kotor seperti pemukiman kumuh. Kemudian nithlom, meskipun tingkatan kastanya sangat rendah, tetapi mereka dulunya merupakan para ksatria kebanggaan Fallom Emvirea, namun kini mereka hanyalah sekumpulan pemabuk yang tidak ada perkerjaan dan hanya menenggak bliss setiap harinya. Perang sudah berlalu, perjanjian damai sudah ditanda tangani, dan sudah lebih dari tiga tahun negeri ini aman tentram. Hal baik memang, bagi sebagian orang, namun tidak bagi para nithlom yang hidup di medan pertempuran. Mereka yang sejak awal sudah memiliki tingkatan kasta terendah dalam ras Himmels – sebutan untuk manusia – semakin terpuruk karena mereka tidak dibutuhkan di masa damai. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain menenggak bliss beraroma kuat yang membawa mereka ke alam mimpi… mimpi ketika mereka masih menjadi prajurit kebanggaan Fallom Emvirea yang nama besarnya sampai ke pelosok negeri. Hal ini pula yang membuat bliss menjadi sangat populer di kalangan nithlom. Minuman yang cocok sekali bagi mereka yang menganggap dunia seperti ini busuk, tak pantas ditinggali, dan mungkin hanya itulah persamaan mereka dengan Varlend, walaupun alasannya sedikit berbeda.

“Silaunya… Galrea sudah diatas kepala yah…” keluh Varlend sambil membetulkan posisi tas kainnya yang di gantungkan di bahu kirinya. Hembusan angin segar meniup rambut hitam Varlend yang sedikit panjang dan berantakan.

Varlend meninggalkan tembok beton kota Cielgris menuju hamparan padang rumput hijau galnus planea, atau padang galnus. Kakinya yang tertutupi sepatu bot hitam setinggi lutut melangkah dengan tenang menyusuri daerah yang penuh pepohonan. Ia kemudian melihat ke atas, pohon dimana fulberr milik anak kecil tadi terjebak. Mudah sekali menemukannya, pikir Varlend. Daerah pepohonan di galnus planea hanya ada di tiga tempat dan dua diantaranya ditumbuhi tanaman kelvas yang baunya sangat dibenci oleh fulberr. Lagipula fulberr peliharaan biasanya tidak akan keluar jauh dari kota karena banyak bau hewan pemangsa, jadi ia hanya perlu mencari di bagian hutan yang dekat dari Cielgris dan tidak ditumbuhi tanaman kelvas.

Varlend pun meletakkan pedang dan tasnya di tanah kemudian mulai memanjat pohon colcotte yang tinggi ini. Pantas saja, pikir Varlend, buah colcotte di pohon ini sangat lebat dan sudah matang sehingga menyebarkan aroma yang kuat. Colcotte memang merupakan buah favorit fulberr, buahnya berisi air yang manis, dan dipinggiran kulit buah ada lapisan daging buah yang berwarna kuning dan lembut rasanya.

Tidak terlalu sulit bagi Varlend untuk memanjat pohon colcotte, bagian yang sulit hanya melompat untuk menggapai dahan setinggi delapan kaki, karena dahan pohon colcotte hanya banyak terdapat di bagian atas pohon sedangkan bagian bawahnya rata. Bagi orang biasa mungkin mustahil melompat setinggi itu, namun Varlend bisa melakukan banyak hal yang tidak biasa.

Sesampainya di atas pohon, Varlend mengulurkan tangan kanannya yang terbalut dengan perban putih setinggi sikut, dan dengan perlahan menggapai fulberr yang terjebak di ujung salah satu dahan. Ia kemudian berhasil menyelamatkannya tanpa kesulitan berarti. Varlend duduk santai di atas pohon colcotte itu sambil mengelus bulu fulberr yang masih sedikit ketakutan ini. Fulberr memang merupakan hewan peliharaan yang lucu, mirip kucing namun bertubuh bulat dan berbulu putih lebat. Meski lucu, keempat kakinya memiliki cakar yang cukup tajam dan kuat untuk memanjat pohon. Fulberr yang ini terlihat masih muda, pikir Varlend, mungkin ia memanjat naik namun kemudian terjebak dan tak bisa turun sendiri karena takut ketinggian.

Setelah bermain-main dengan fulberr itu selama beberapa saat, pandangan Varlend yang ramah tiba-tiba saja berubah serius seperti berpikir. Kemudian persis seperti tadi, tanpa peringatan Varlend mengarahkan tinju yang sangat cepat ke arah fulberr itu dan lagi-lagi berhenti di jarak setipis kertas.

Ia berpikir sejenak, kemudian bergumam, “ternyata memang tidak bisa.” Urat tangannya serasa mengejang dan seperti ada ribuan rantai yang tiba-tiba mengikat tangannya ketika mencoba memukul tadi. Begitu tersirat keinginan untuk melukai, dadanya langsung terasa sesak, bayangan penuh cipratan darah memenuhi kepalanya dan mencegahnya bertindak lebih jauh. Sesuatu yang gelap serasa mencoba menguasai dirinya, dan rasanya jika ia berusaha menyakiti orang, ia akan kehilangan dirinya, tenggelam dalam kegelapan tak berujung.

Varlend mengeluarkan sebuah liontin emas dengan hiasan berbentuk sayap yang sangat indah. Di dalam liontin itu ada wajah seorang gadis cantik berambut hitam, dengan tulisan ‘Seirra’ di atasnya. Ia tidak bisa mengingat apa pun tentang gadis ini, namun entah kenapa ketika melihat wajah cantiknya, hatinya terasa sakit dan pilu. Setiap kali ia berusaha mengingat siapa gadis dalam liontin ini, ada rasa rindu sekaligus takut yang mencegahnya mengingat lebih jauh lagi, semakin ia berusaha mengingat, semakin banyak teriakan memilukan dan cipratan darah yang terbayang di kepalanya.

Pada awalnya Varlend tidak begitu perduli dengan kelemahannya ini, namun seiring waktu ia melihat berbagai hal menyedihkan dari dunia ini, Surfassia. Semuanya begitu busuk, semakin lama ia menatap dunia ini, semakin ia ingin menghancurkannya. Entah kenapa ia memiliki perasaan benci yang mendalam terhadap manusia sejak pertama kali membuka matanya, padahal ia sendiri juga manusia… Ada dendam yang begitu mendalam terhadap dunia ini, namun ia tidak bisa mengingatnya. Ditambah lagi suara-suara yang terus menganggunya di dalam mimpi, terus menyuruhnya menghancurkan ‘jantung’ dunia ini—entah apa maksudnya. Apakah suara itu mempengaruhinya hingga jadi seperti ini… atau suara itu sebenarnya suara hatinya sendiri? Belakangan ini Varlend semakin tidak bisa membedakannya…

Varlend menghela nafas, karena tak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan ini, Varlend pun berusaha menerimanya. Inilah dirinya, seorang yang punya kemampuan lebih, berpenampilan layaknya seorang nithlom hebat, namun nyatanya tidak bisa menyakiti seekor fulberr. Ia hanya seorang pengecut lemah yang takut dengan darah.

Ia pun melompat turun sambil menggendong fulberr itu dengan lembut. Begitu sampai di tanah, fulberr itu langsung berlari dengan keempat kakinya dan masuk ke kota Cielgris. Ke tempat anak kecil itu berada pastinya, Varlend tersenyum, fulberr itu pasti bisa menemukan jalan pulang dan anak itu pasti gembira melihatnya kembali.

Varlend pun menatap padang rumput hijau sejauh mata memandang ini sambil meregangkan otot-otot tubuhnya. Udaranya begitu segar, dan pemandangan ini tidak pernah membuat Varlend bosan, setidaknya tidak ada wajah pemabuk menyebalkan di sini. Inilah padang rumput terluas di benua Kallgirth, benua terbesar di Surfassia ini, seperti yang tertulis di buku “Im Grette Falsus le Surfassia”. Buku ini ditulis oleh Vedgerlay Tinkley, ilmuwan jenius sekaligus penjelajah yang telah melakukan perjalanan mengelilingi Surfassia selama separuh hidupnya. Bahkan sampai kini pun perjalanannya masih berlanjut, berusaha mencatat tempat-tempat terhebat di Surfassia, di usianya yang sudah seratus tiga puluh tujuh tahun.

Varlend duduk santai dibawah rindangnya pohon colcotte dan mulai membaca satu buku lain yang juga di tulis oleh Vedgerlay. Buku itu berjudul “Dethun hel im Sollatia, Virtla hel im Tre Lunnamorfhel” yang kalau diterjemahkan ke bahasa daerah bangsa Himmels menjadi “Kematian Matahari, Kelahiran Tiga Lunnamorfhel.”

Buku itu merupakan buku sejarah sekaligus ilmu pengetahuan alam yang sangat terkenal karena menjelaskan secara detil teori mengenai tata surya Surfassia dan tiga bulan yang mengelilinginya. Varlend mulai melanjutkan dari halaman yang terakhir ia baca, halaman seratus enam belas.

…tiga buah benda yang bergerak mengitari Surfassia itu bukanlah matahari maupun bulan seperti yang ada dalam legenda Girth terdahulu. Dari ukurannya dan karakternya yang seperti bulan, mungkin paling tepat jika diberi nama Lunnamorfhel, yang memiliki definisi sebagai bulan yang telah berevolusi untuk menutupi kekosongan peranan matahari.

Ketiga Lunnamorfhel, diurutkan dari yang terdekat dari Surfassia yaitu; 1. Galrea, sang kapal penjelajah langit 2. Skiar, sang air mata langit 3. Zewall, sang permata langit

Setiap lunnamorfhel mengelilingi Surfassia dengan jarak, waktu, dan peranan yang berbeda.

Galrea berfungsi sebagai penunjuk waktu. Kita menentukan pergantian hari dan jam berapa saat ini dari memperhitungkan posisi Galrea. Walau tak ada yang dapat melihat wujud asli Galrea karena silaunya, tetapi banyak yang mengatakan kalau Galrea mirip kapal laut yang berlayar di angkasa, sehingga mereka namakan begitu.

Skiar berfungsi sebagai pembawa hujan. Skiar memiliki bentuk seperti buah colcotte, bulat, penuh air di dalamnya, namun memiliki lubang di satu sisi. Selain mengitari Surfassia, Skiar juga berputar pada porosnya sendiri, dan hal itu menyebabkan secara berkala ada saat dimana lubang pada Skiar menghadap ke bawah (dalam hal ini menghadap ke Surfassia) dan menuangkan air didalamnya ke Surfassia. Air yang dituangkan dalam jumlah besar itu tertarik oleh kekuatan lapisan mistess Surfassia, terpecah ketika menabrak lapisan variel, tersaring oleh awan dan pada akhirnya sampai ke permukaan Surfassia dalam bentuk rintik hujan. Lubang pada Skiar sangat besar, namun bisa dibilang sangat kecil bila dibandingkan dengan diameter Skiar sendiri. Karena itu biarpun Skiar secara berkala menuang-kan air ke Surfassia, butuh waktu ribuan tahun untuk mengosongkan air dalam Skiar.

Zewall berfungsi sebagai penyeimbang. Diberi nama Zewall atau permata langit karena bentuknya yang seperti kristal hexagonal. Zewall memancarkan radiasi sinar merah tua yang tidak bersifat merusak, hanya mengeringkan sebagian air di Surfassia dan menjaga permukaan tetap hangat. Air yang menguap akan bergabung dalam lapisan mistess warna biru.

Bukan teori yang mudah diterima masyarakat begitu saja pada awalnya, tetapi itu sudah beberapa puluh tahun yang lalu. Kabarnya Vedgerlay belajar berbagai macam ilmu perbintangan dari ras Obsurva yang terkenal pintar membaca perubahan langit serta meramalkan nasib. Ras Obsurva sendiri sebenarnya masih termasuk ras Himmels atau manusia, namun mereka mengasingkan diri karena merasa diri mereka berbeda dari manusia biasa. Mereka ras yang sombong dan kurang menyukai ras Himmels lain, namun tak jarang mereka keluar dari persembunyiannya dan mem-peringatkan berbagai bencana alam dari waktu ke waktu, seperti yang tak lama lagi akan mengubah takdir Varlend selamanya...

Your rating: None Average: 7.3 (7 votes)
dikirim serpentwitch 12 minggu 1 hari yang lalu
Tag: