C.I.N.T.A

17
points
"

masih berlanjut?

"mungkin..." jawab gundulku.

"

Lantunan suara Colbie dengan Bubblynya mengalun lembut di dalam earphone yang menancap lembut di dekat gendang telingaku. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan busway. Beberapa orang tampak mengobrol. Sebagian yang lain hanya duduk, diam dan melamun. Mataku masih terasa perih. Dugem semalam menghasilkan efek seperti ini. Kalau saja aku tidak dikejar deadline untuk membuat iklan Pak susanto secepatnya, tidak akan rela aku bangun pagi-pagi dengan kepala berdentam seperti ini dan berdesakan dengan sejumlah orang-orang di dalam busway yang baru kali ini kunaiki.

Tanpa sengaja pandangan kami bertemu. Seseorang dengan dandanan ala mahasiswa berdiri di sebelah pintu. Tangan kirinya memegang kamera LSR sedang tangan satunya bergelantung di pegangan bus. Kami saling pandang. Mulutnya menyunggingkan senyum.

Hmmm....

Aku pura-pura membetulkan letak earphone untuk menghalau wajahku dari pandangannya. Sepertinya sedari tadi dia melihatku. Kulirik Taq Hauer di tangan kiriku.

Hmmm...

Kapan tepatnya bus ini sampai di kantor? Batinku. Kuedarkan pandanganku sekali lagi. Melihat sepasang siswa lengkap dengan atributnya sedang bercengkrama di deretan pojok. Sepasang kakek nenek tepat di depan mereka. Juga asyik bercengkrama.

Hmm...usia, menjadi natural, cinta, cantik, being natural…natural..

Bus berhenti. Satu persatu penumpang yang duduk di sebelahku semakin berkurang. Beberapa pria paroh baya yang berdiri di depanku dan setiap detik berusaha mencuri pandang kea rah dengkulku yang terbuka sudah menyingkir. Sempat kutangkap kedipan nakal dari matanya. Sialan!

Hmm...

Hari ini entah kenapa aku kehilangan mood. Terbangun dengan kepala berdenyut membuatku kehilangan semangat kerja. Dentam lagu-lagu yang mengalir dari ipod ku tidak cukup membantu memunculkan ide. Harus menjawab apa untuk presentasi ke Pak Sasanto besok. Produk kecantikan yang sedang kutangani memangkas waktu deadlineku yang seharusnya satu minggu lagi. Sial! Sudah tahu ada rencana akan melakukan hunting hari ini masih juga nekat dugem semalaman. Aku gemas dengan diriku. Berapa kali aku mencoba untuk konsisten dengan jadwalku yang lumayan padat masih juga tidak tahan dengan godaan. Toleransi menjadi kata kunci rusaknya kekonsistenan.

Hari ini aku sudah merencanakan untuk berangkat memakai jasa busway. Walau pertama kali aku menaiki angkutan umum, aku berusaha untuk tidak canggung. Kecanggungan akan menimbulkan kecurigaan! Pesan Ryan, pacarku tempo hari ketika aku bercerita akan naik busway. Bukannya dia menawarkan jasa untuk menemaniku. Dia malah memberi petuah nggak penting. Dasar laki-laki nggak sensi!

Rencananya, aku ingin mencari inspirasi disini. Aku sudah desperate. Puluhan kali membuka majalah bekas. Mencoba melihat sejumlah iklan luar negeri tidak membantuku untuk memunculkan ide-ide yang pas untuk iklanku. Ya Tuhan! Kalau sampai Nadia memenangkan ide ini, bisa gawat! Sebagai pegawai yang lumayan baru, aku harus bisa memberikan kontribusi bagus. Belum juga aku bisa mengaktualisasikan diri, muncul pegawai baru yang membuatku harus terpacu layaknya kuda pacuan.

Beberapa orang yang tadinya berdiri bergelantungan di tengah bus kini mengisi tempat duduk yang mulai kosong. Sebagian besar yang berjubel di depan pintu bergegas mengisi bangku-bangku kosong.

”Maaf mas....” celetuk suara seseorang seraya menghempaskan tubuhnya tepat di sebelahku. Mas-mas yang dimintai maaf tampak sedikit kesal dan memilih bangku di dekat pintu.

Aku menoleh pada penumpang di sebelahku. Untuk kedua kalinya kami berpandangan. Ternyata anak mahasiswa yang tadi berdiri di dekat pintu. Lagi-lagi dengan senyum dikulum.

”Kerja dimana mbak?” tanyanya membuka percakapan. Aku terpana. Belum pernah ada mahasiswa yang bertanya seperti itu padaku. Tapi, hmmm...mungkin karena baru kali ini aku naik busway ya?

”Di daerah kuningan” jawabku santai. Tiba-tiba saja sebuah ide berkelebat.

Mahasiswa, siswa, umur 30 an, terpesona...

Mataku menangkap kamera yang sekarang bergelantung pasrah di tangan kiri pemuda itu. Tele yang tidak terlalu panjang. Sepertinya kamera pro. Bukan kamera standard mahasiswa.

Mahasiswa, kamera, siswa, pekerja, terpesona...

Tidak terasa ide itu membuat sudut-sudut mulutku melebar. Membentuk senyuman. Kupandangi wajah mahasiswa di sebelahku ini. Wajah dikisaran umur 20 sampai 23. dengan T-shirt hitam bergambar pemain polo di samping kiri. Jacket abu-abu dan celana jeans belel yang lobang sedikit di bagian dengkul. Celana belel bolong masih musim ya? Tanyaku dalam hati. Senyum di wajah cowok itu berubah seringai. Mungkin senang karena pertanyaannya kutimpali? Entahlah.

”Hmmm...saya jarang sih lihat cewek-cewek kayak embak”

”Cewek-cewek kayak saya maksudnya?” tanyaku.

”Yeah...yang pekerja dan necis kayak embak” jawabnya santai.

”Lho, mang biasanya ketemu ama cewek-cewek yang kayak gimana?” tanyaku.

”Yah, yang reguler! Stelan jas dan tas. Kalo enggak ya wanita-wanita berpakaian pekerja biasa” jawabnya. Aku tersenyum.

Terlintas dalam angan apa yang akan aku rencanakan nanti sesampai di kantor. Tak terasa, wajah gedungku sudah terlihat. Busway ini akan melintasinya. Tapi, tidak terlalu jauh bagiku. Aku cukup berjalan kaki. Kumasukkan semua perlengkapan ngantorku yang tadi sempat kukeluarkan. Binder. Ipod. Dan tangan..lho?

”Sebelum berpisah, kenalan dulu” ucap pemuda itu sembari mengulurkan tangannya. Jam tangan army melingkar manis. Ragu aku menyambutnya.

”Saya Icang, kuliah di UI jurusan fotografi” jelasnya tidak perlu. Aku tersenyum.

”Inge, hmmm...karyawati” ucapku sekenanya. Bus mendadak berhenti. Membuatku terhuyung ke arah tubuh Icang. Dengan sigap Icang menahan bahuku untuk tidak berpelukan dengannya. Aku mengucapkan terima kasih nggak jelas dan segera berdiri. Pengalaman yang aneh. Bertemu dengan pemuda ingusan di dalam busway yang baru kunaiki pertama kali. Aku tersenyum. Bukan karena pemuda itu. Tapi karena aku menemukan ide sesuai harapanku. Yes!!

Your rating: None Average: 5.7 (3 votes)
dikirim thinkers 8 minggu 3 jam yang lalu
Tag: