Ilmu Menaklukkan TOEFL dan GMAT

Ini salah kamar, mungkin!!! Tapi tidak ada yang tidak bermakna.

Bersama ini saya turunkan edisi terbaru "kitab pusaka" ilmu menaklukkan TOEFL dan GMAT susunan saya sendiri. Mohon maaf, kitab pusaka ini - yang saya tulis bertahap sejak di tanah Jawa – disusun dengan gaya bahasa seenaknya. Saya susun terutama untuk mereka yang mendapatkan undergraduate di Indonesia dan berminat untuk melanjutkan sekolah ke salah satu program MBA di USA. Jika Anda tidak bermaksud mengambil GMAT tapi GRE, pembahasan mengenai GMAT pun tetap bermanfaat bagi Anda karena ada kemiripannya. Selain itu, penerbit yang bukunya saya sarankan untuk dibeli guna menghadapi GMAT, juga menerbitkan buku yang baik untuk menghadapi GRE pula. Seandainyapun Anda hanya bermaksud untuk mengambil TOEFL saja tanpa mengambil GMAT ataupun GRE, saya tetap berharap agar bagian GMAT dari kitab pusaka ini bermanfaat bagi orang lain. Dilain pihak, keseluruhan bab mengenai TOEFL dan beberapa penjelasan lainnya barangkali tidak relevan bagi yang telah mendapatkan undergraduate di USA.

Kritik dan saran asalkan bukan makian akan diterima dengan senang hati. Lain waktu akan saya edit kembali. Alamat lengkap saya dapat dilihat pada halaman ....

I. TOEFL

Buku pelajaran TOEFL yang paling luas pemakaiannya di Indonesia adalah dari Barron: How to Prepare for TOEFL. Seorang rekan dari lulusan sebuah sekolah di Bandung yang bekerja di Bappenas mampu mencapai nilai 620 dengan memakai buku ini. Bagaimana cara dia belajar? Ia menghafal mati pola-pola strucure yang terdapat pada buku ini! Buku itu sebetulnya disusun untuk orang yang sudah rada canggih Bahasa Inggris nya. Untuk jelasnya, silahkan Anda baca sendiri kata pengantarnya.

Buku Barron mengajar para pembacanya dengan memberikan puluhan pola-pola structure yang harus diketahui para pembaca. Dilanjutkan dengan contoh kalimat yang benar serta contoh kalimat yang salah tanpa penjelasan yang mendalam. Seandainya Anda sudah mempunyai dasar bahasa Inggris yang cukup bagus, buku dari Barron (dan juga beberapa buku TOEFL lainnya yang menggunakan pola pengajaran yang sama) cukup baik Anda pelajari karena pola-pola ini akan mengingatkan kembali pada hal-hal "remeh" yang Anda lupakan.

Sebaliknya, jika Anda tidak mempunyai dasar bahasa Inggris yang baik, ketika Anda membaca buku ini, kepala Anda akan terangguk-angguk: betapa mudahnya balajar TOEFL, kita hanya disuguhi pola-pola structure belaka. Akan tetapi, ketika Anda menginjak pola yang ke 30, kemungkinan besar Anda sudah melupakan pola 1 sampai dengan 10! Buku ini, menurut saya, bersifat mengingatkan tapi kurang memberikan pengertian pada para pembacanya.

Jika Anda mempunyai TOEFL awal (tanpa belajar) sekitar 500, sebaiknya Anda memakai buku dari Cliffs: TOEFL Preparation Guide. Saya sendiri memakai buku Cliffs. Seorang karyawati BDN tamatan sebuah perguruan tinggi Bandung, mampu mencapai nilai 643 dengan buku Cliffs ini. Ketika saya tanya apa rahasianya, jawabnya: "Saya suka dan terbiasa membaca novel berbahasa Inggris sejak lama!" Seorang lulusan STAN mampu mendapatkan nilai 667 (!) ... karena ketika ia masih kecil ia sudah dibiasakan berbahasa Inggris. Hal yang sama juga terjadi pada seorang mahasiswa undergraduate bidang political science di University of Houston.

Jika dasar pengetahuan bahasa Inggris Anda kurang bagus (nilai TOEFL sekitar 400-an), sebaiknya Anda memakai buku berjudul Building Skill for TOEFL terbitan Nelson atau Bina Rupa Aksara (khusus hak edar Indonesia). Di Indonesia, belilah sekaligus dengan kaset dan kunci bahasannya. Jika Anda membeli bukunya terlebih dahulu, belum tentu Anda dapat membeli kasetnya secara terpisah di kemudian hari.

Buku Preparation Course for the TOEFL terbitan Longman dengan pengarang Deborah Phillips cukup bagus juga untuk dipertimbangkan membelinya. Susunan buku ini mirip sekali dengan buku terbitan Binarupa Aksara. Sayangnya, buku Longman ini cukup sulit Anda temui di Indonesia.

Omong-omong, kenapa sih saya menulis kitab pusaka ini? Saya melihat beberapa orang yang sudah belajar keras menghadapi TOEFL, akan tetapi TOEFL nya nggak bisa naik. Hal yang sama pernah terjadi
pada saya! Saya pernah kursus TOEFL dan saya tidak mendapatkan hasil dari tempat kursus tersebut. Tempat kursus tersebut, seperti lazimnya tempat kursus di Indonesia, memakai buku Barron sebagai buku pegangan utamanya. Bukannya nilai saya naik, tapi nilai saya turun. Padahal, menurut saya, sayalah peserta kursus yang paling rajin sedunia!

Kalau murid sudah rajin, tapi tidak bisa juga, satu atau beberapa kemungkinan dibawah ini dapat terjadi:
1. Muridnya bloon.
2. Gurunya kurang cerdas.
3. Metoda pengajaran sang guru tidak tepat.
4. Metoda belajar sang murid nggak benar.

Untuk kasus saya, saya menganggap no. 1 dan 2 tidak mungkin terjadi. Kemungkinannya adalah 3 & 4. Saya nggak mungkin mengubah no. 3 secara revolusioner demi kepentingan saya ... siapa sih saya ini? He, he, he ... Karena itulah, saya berusaha menemukan sendiri no. 4: metoda belajar yang cepat dan cocok untuk saya. Seorang guru pernah menjadi seorang murid. Akan tetapi, ketika ia menjadi guru, ia lupa melupakan cara berpikir seorang murid. Jadi, jangan heran jika banyak guru pintar yang tidak bias mengajar.

Saya mempunyai banyak buku TOEFL. Setelah membandingkan isinya, akhirnya saya memutuskan untuk memakai buku Cliffs. Saya memakai buku Cliffs karena buku inilah yang memberikan pelajaran mengenai structure secara mendetail. Saya tidak memakai buku dari Nelson/Binarupa Aksara karena, menurut saya, kita harus mengerjakan latihan bagian per bagian jika kita ingin menguasai structure melalui buku ini. Di lain pihak, kita tidak perlu mengerjakan latihan bagian per bagian jika kita ingin menguasai structure melalui buku Cliffs. Walaupun demikian, bukan berarti latihan soal tidak penting... seorang pemain basket yang mahir, tidak cukup hanya dengan membaca buku teori saja. Metoda latihan saya akan Anda jumpai juga dalam kitab pusaka ini.

Cara saya belajar dengan memakai buku Cliffs mudah-mudahan pas pula buat Anda. Di halaman muka dari buku Cliffs, Anda dapat menemukan petunjuk pemakaian / cara belajar dengan memakai buku Cliffs. Akan tetapi, saya tidak memakainya karena metodanya nggak pas buat saya, ... kurang cepat.

Metoda belajar saya didasari atas tiga pemikiran:
1. Bagaimana menguasai structure/grammar secara cepat.
2. Bagaimana kita belajar dari kesalahan yang kita buat.
3. Berusaha mengerti daripada sekedar menghafal.

Nomer 3 penting buat saya karena:

1. Saya percaya, kita mempunyai daya ingat yang terbatas.

Misalnya saat ini otak kita menyimpan 1.000 data (baca: 1.000 hafalan). Kita masukkan lagi 500 data. Belum tentu otak kita kemudian menyimpan 1.500 data. Kenapa? Ada kemungkinan 200 atau 300 data yang sebelumnya kita simpan akan hilang. Jadi total data yang baru adalah 1.300 atau 1.200 saja.

2. Kalau kita berusaha mengerti, jika kita terlupa, dengan mudah kita akan dapat menggali pengertian/informasi yang sudah kita pelajari sebelumnya hanya dengan melihat kembali informasi tersebut sekilas saja. Lebih lanjut lagi, kita dapat menggali informasi yang kita lupakan dengan melihat dan mengorelasikannya dengan informasi lain.

Ada satu hal lagi yang perlu Anda catat : janganlah Anda minder ketika menghadapi seseorang yang mempunyai oral ability yang tinggi. Belum tentu ia mampu mencapai nilai TOEFL yang tinggi. Kenapa demikian? Karena ia belum tentu mempergunakan kaidah bahasa Inggris yang baku. Sebaliknya, orang yang memiliki writing ability yang baik, kemungkinan besar ia mampu mendapatkan nilai TOEFL yang tinggi.

I.A. STRUCTURE AND WRITTEN EXPRESSION

Saya menekankan struktur (Section II dari TOEFL) sebagai bagian yang paling penting dari dua bagian lainnya. Section I, II, dan III berturut-turut terdiri dari 50, 40, dan 60 soal untuk short version. Karena nilai maksimum per section hampir sama (berturut-turut: 68, 67, dan 67 menurut Cliffs), mudah dimengerti bahwa kesalahan pada satu soal pada Section II akan lebih besar pengaruhnya terhadap total nilai dibandingkan kesalahan pada section yang lain.

Mengenai pentingnya penguasaan grammar / structure, dapat juga diilustrasikan sbb: Jika Anda tidak mengerti macam-macam bentuk conditional (if), Anda tidak akan dapat memberikan interpretasi yang benar ketika soal jenis ini muncul pada Section I atau Section III. Bagaimana cara belajar struktur?

Pertama, pelajari teori struktur bagian perbagian secara berurutan hingga mengerti. Tandai seluruh kata yang tidak Anda ketahui artinya. Terjemahkanlah setelah selesai per bab, jangan menerjemahkan per kata setiap saat Anda menjumpai kata yang sulit.

Mohon dibedakan antara membaca untuk sekedar tahu dan membaca untuk belajar. Jika Anda membaca hanya sekedar untuk tahu, tentunya Anda tidak perlu tahu arti seluruh kata yang tidak Anda ketahui. Manfaat kerajinan Anda dalam menerjemahkan juga akan Anda rasakan ketika menghadapi Section III. Exercise perbagian bisa ditinggalkan terlebih dahulu.

Misalkan saja sekarang Anda sudah belajar mengenai noun sampai mengerti, kemudian melanjutkan ke bab selanjutnya, misalnya mengenai pronoun. Waktu Anda belajar pronoun, ternyata pelajaran mengenai noun Anda lupa lagi: Cuek saja. Yang penting, sewaktu membaca bagian noun tersebut, Anda sudah mengerti. Dengan cara ini, Anda hanya membutuhkan waktu 5 hari untuk mempelajari stuktur.

Kalau lebih ngebut lagi, barangkali hanya butuh waktu 3 hari. Selanjutnya, kerjakan TOEFL Model Test I Section II saja. Setelah selesai, janganlah melihat explanatory answer terlebih dahulu. Tapi, ceklah hanya dengan kunci jawabannya saja. Tandai jawaban mana yang benar dan mana yang salah. Periksa kembali pekerjaan Anda. Usahakan mengerti sendiri kenapa jawaban tersebut salah. Jika belum mengerti juga, cobalah membuka kembali teori struktur yang telah Anda pelajari di muka. Disinilah enaknya kita memakai buku Cliffs: Pada setiap kunci jawabannya, terdapat juga angka yang merujuk pada nomer halaman dimana kita dapat menemukan teori untuk mengatasi soal yang bersangkutan.

Jika Anda membaca ulang teori dari problem yang bersangkutan, tapi Anda belum mengerti juga, barulah Anda dengan terpaksa mempelajari bagian explanatory answer. Kalau sudah menyelesaikan Model Test I Section II, janganlah tergesa-gesa untuk berpindah ke bagian Listening (Section I) atau Vocabulary and Reading Comprehension (Section III), akan tetapi kerjakan segera TOEFL Model Test II Section II. Rasakan kemudahan dalam menjawabnya dibandingkan ketika pertama kali berlatih.

I.B. LISTENING

Biasanya, orang yang nilainya jatuh pada bagian ini (Section I) memberikan alasan sebagai berikut: " Saya tidak mengetahui arti kata yang diucapkan ". Menurut saya, alasan ini adalah tidak tepat. Yang terjadi adalah: "Saya tidak tahu bunyi kata yang diucapkan". Dengan kata lain: " Saya gagal mengidentifikasi kata apa yang diucapkan. " Kenapa demikian? Jika Anda membaca (bukan mendengar) listening script dari Section I, maka saya yakin Anda akan mengetahui arti kata atau kalimat tersebut sekitar 95 - 100%. Masalahnya adalah: Anda tidak terbiasa mendengarkan orang bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.

Buku yang paling baik untuk mempelajari bagian ini adalah Building Skill for TOEFL terbitan Nelson/Bina Rupa Aksara ataupun Preparation Course for TOEFL dari Longman. Pada dua buah buku tersebut, Anda dilatih setahap demi setahap, khususnya mengenai identifikasi suara. Buku dari Barron cukup jelas pula dalam memberikan kemungkinan tipe soal yang muncul pada section ini, walaupun hanya secara tertulis. Pada akhirnya, buku apapun asalkan disertai kaset, tidak akan menjadi masalah asalkan Anda mengetahui cara belajarnya.

Kalau Anda sudah di USA, bermanfaatkah televisi berbahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan listening kita? Ya! Akan tetapi, berlatih dengan kaset TOEFL akan jauh terasa manfaatnya. Kemampuan Anda dalam mengidentifikasi kalimat di televisi sebetulnya dibantu oleh gambar di televisi ataupun gerakan mulut pembicara. Dengan kata lain, "tidak murni" listening. Tambahan lagi, kaset TOEFL selalu memberikan rangsangan berupa pertanyaan yang harus dijawab. Tidak demikian halnya dengan televisi.

Usahakan mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya dari bagian A dan B karena bagian C cukup panjang dan cukup sulit untuk dimengerti. Sewaktu Anda mendengarkan cerita di bagian C, usahakan untuk memikirkan struktur cerita. Hal ini sangat membantu Anda untuk mengerti cerita secara keseluruhan.

Selain itu juga, saya sama sekali tidak menyarankan Anda mempergunakan head phone dalam belajar. Kenapa demikian ? Di Indonesia, sewaktu ujian Anda tidak akan menemukan head phone barang satu biji pun!

Beginilah cara mempelajari Section I. Pertama, putar kaset berisi TOEFL Model Test I Section I. Kerjakan soal-soal pada Section I seperti lazimnya kita ujian TOEFL biasa. Setelah selesai, cocokkan dengan kuncinya. Jika salah, tandai jawaban mana yang benar. Kemudian, dengar kembali kaset tadi dari awal per nomer soal tanpa melihat bagian Listening Script terlebih dahulu. Ulangi kembali mendengarkannya jika Anda belum dapat mengidentifikasi suara-suara yang diucapkan dan belum mengetahui jawaban mana yang benar.

Pada tahap awal, di soal yang sulit, barangkali Anda perlu mengulanginya hingga 6 kali per nomer soal sebelum dapat mengidentifikasikannya secara tepat. Jadi, Anda tidak mengulanginya sekaligus, tapi pernomer soal. Tentunya, lebih baik jika Anda memiliki tape player yang memungkinkan Anda untuk me rewind tanpa harus menyetop kasetnya terlebih dahulu. Kemudian, jawablah pertanyaan yang diajukan. Setelah itu, ceklah kalimat yang Anda anggap tepat berdasarkan "pendengaran" Anda tadi dengan kalimat pada Listening Script.

Jika sudah mendengarkan berulang-ulang tetapi Anda belum juga mampu mengidentifikasi suara-suara yang diucapkan ataupun belum mengetahui jawaban mana yang benar, barulah Anda dengan terpaksa membuka Listening Script dan memperhatikan hanya pada nomer soal itu saja. Buka kamus jika perlu. Lakukan hal ini hingga seluruh soal selesai.

Waktu pertama kali melakukannya, Anda bisa menghabiskan waktu tidak kurang dari 3 jam untuk mengulang-ulang satu sisi kaset saja. Setelah itu akan berkurang drastis hingga 1 jam saja karena kemampuan Anda sudah meningkat. Kalau Anda sudah melakukannya petunjuk diatas untuk TOEFL Model Test I Section I, lanjutkan segera dengan mengerjakan TOEFL Model Test II Section I. Rasakan kemudahannya dibanding ketika mengerjakan Test I dan nikmatilah subscore yang lebih tinggi !

I.C. VOCABULARY AND READING COMPREHENSION

Jika saya menekankan Section II (Structure and Written Expression) sebagai konsentrasi belajar saya, maka saya menekankan Section III (Vocabulary and Reading Comprehension) sebagai tempat saya mencari nilai. Untuk bagian ini, terus terang saya tidak menemui kesulitan sama sekali. Dua kali berturut-turut, nilai TOEFL saya untuk section ini adalah 67. Cara belajarnya nggak aneh-aneh. Sering seringlah membuka kamus ketika membaca bacaan berbahasa Inggris. Kalau Anda mengetahui arti dari seluruh kata yang terdapat pada buku Barron atau Cliffs, Hal itu sudah Lebih dari pada cukup.

Akan tetapi, ada juga orang yang lebih suka menghafal sederet atau sekumpulan kata-kata yang tidak ketahuan ujung pangkalnya. Menurut saya, cara ini tidak efektif. Dengan cepat kita akan melupakannya lagi karena kita tidak mengetahui konteks pemakaian kalimat ini. Lagipula, saya merasa kasihan pada diri saya jika saya harus banyak menghafal.

Bagi saya, tulisan dalam artikel majalah, apalagi novel, lebih sulit untuk mengartikan kosa katanya jika dibandingkan dengan text book. Beberapa orang malahan berpendapat sebaliknya. Bagaimana menurut Anda sendiri?

Seorang teman menambah perbendaharaan kata dengan menulis kata-kata yang tidak diketahuinya dalam sepucuk kertas. Satu kertas untuk satu kata yang tidak diketahui. Selain menulis padanan kata, ia juga menulis turunan kata tersebut, misalnya bentuk adjective-nya. Ia menghafal kata-kata tersebut diwaktu senggang. Setiap orang memiliki metodanya sendiri-sendiri. Kalau Anda ingin meningkatkan vocabulary Anda secara sistimatis, buku yang terbaik adalah buku yang berjudul Word Smart dari Princeton Review.

I.D. BEBERAPA KIAT DALAM BELAJAR TOEFL

I.D.1. Kaset TOEFL yang sudah pernah Anda jawab soal-soalnya, jangan lupa untuk sering memutarnya; misalnya waktu Anda lagi membereskan kamar, menjelang tidur, ngelamunin pacar, dsb. Cara belajar ini adalah cara belajar paling malas yang pernah saya temukan! Pokoknya, Anda hanya mendengar untuk membiasakan saraf telinga Anda saja. Terserah Anda hendak berpikir atau tidak. Kalau Anda ingin bepikir sedikit, coba pulalah untuk mengulang kalimat tersebut atau menjawab dalam hati. Jadi, yang namanya belajar itu nggak cuma di meja belajar saja.

Cukup menyedihkan melihat kenyataan bahwa teman-teman yang meminta kitab pusaka ini jarang sekali yang berniat untuk mempraktekkan cara belajar termalas ini. Padahal cara belajar ini sama sekali tidak memerlukan waktu khusus. Jadi, masalahnya bukan gurunya yang salah, tetapi muridnya yang salah.

I.D.2. Usahakanlah untuk sering mengarang dalam bahasa Inggris.
Cukup yang sederhana saja, misalnya: kegiatan Anda sehari-hari, cita-cita, riwayat hidup, dsb. Hal ini sangat membantu untuk menguasai TOEFL, apalagi jika ada TWE (Test of Written English).

I.D.3. Walaupun Anda memiliki banyak buku TOEFL, untuk menghadapi Section II sebaiknya Anda hanya mempelajari 1 buah buku sebagai buku pegangan utama. Buku lain boleh Anda pakai, tapi hanya sebagai buku pendamping saja. Kenapa demikian? Dalam kasus ini, bagi saya pribadi, mendalami seluruh isi suatu buku secara tidak sadar berarti juga mendalami: urutan penyajian buku itu, hal apa saja yang yang menjadi penekanan dari penulis, cara berpikir sang penulis, dan sebagainya. Jika saya mempelajari seluruh isi buku lainnya secara bersamaan, dapat dibayangkan betapa berat beban untuk meramunya.

I.D.4. Jangan pula dilupakan, buku Cliffs ataupun buku TOEFL lain edisi terbaru sudah ada bagian TWE -nya. Di Shopping Centre kota Yogya, harga buku Cliffs hanya Rp 11.000 saja termasuk kaset - kasetnya. Di Toko Buku Gramedia Bandung harganya mencapai Rp. 23.000. Di TB Gunung Agung di Jln. Kwitang (dekat Proyek Senen), harganya mencapai Rp.28.000. Di perpustakaan yang besar, buku ini juga tersedia.

I.D.5. Saya juga punya buku + kaset TOEFL dari ETS. Cukup bermanfaat sebagai latihan, tapi tidak bermanfaat sebagai buku pedoman, karena teori-teori nggak diberikan disini, langsung soal dan penjelasan jawaban. Dari jawaban dan penjelasan tersebut, khususnya pada bagian Understanding TOEFL kita bisa tahu filosofi para pembuat soal TOEFL. Cek, cek, cek, ... (Filosofi itu apa sih ?!)

I.E. KIAT MEMILIH TEMPAT UJIAN TOEFL.

Selain letak dan jarak, satu faktor mutlak yang harus Anda pertimbangkan, dalam memilih tempat ujian TOEFL adalah: seberapa baik sound system tempat itu. Tempat test terbaik di Jakarta yang pernah saya ketahui dari seorang teman adalah Jakarta International School dekat Pondok Indah. Sound system yang apik dan ruangan yang cukup kecil (ukuran satu ruang kelas sekolah), membuat suara cukup jelas di dengar.

Saya sendiri pernah tes di Gedung Manggala Wana Bakti (Departemen Kehutanan), Slipi, Jakarta. Ruangan sangat besar (muat untuk 400 orang), demikian pula dengan speaker yang sebesar gajah; hasilnya membuat suara bergema. Jika Anda terlanjur mendapat tempat tes ini, janganlah kuatir ! Agar Anda terbiasa dengan kondisi sound system disana, ketika Anda belajar Section I, keraskan nada bas tape Anda !

Jika Anda tes di Uninus Bandung, konon kabarnya, supaya terbiasa, Anda harus belajar TOEFL dalam suasana yang ribut ! Jika Anda tes di PPIA Jakarta, siapkanlah pakaian hangat. AC - nya nggak bisa dikecilkan ! Karena itu, jika Anda ingin mendapatkan tempat tes yang baik, bergegaslah mendaftar !

II. GMAT (GRADUATE MANAGEMENT ADMISSION TEST)

Buku GMAT yang harus dimiliki adalah sbb:

1. Offical Book for GMAT Review dari ETS (Educational Testing Service), penyelenggara GMAT yang berlokasi di kota Princeton, New Jersey, USA.

2. Cracking the System: The GMAT dari Princeton Review (tidak ada hubungannya dengan ETS).

Gunakan buku no. 1 sebagai sumber latihan soal dan buku no.2 sebagai sumber strategi. Buku no. 2 adalah buku terbaik mengenai strategi menghadapi GMAT. Pengarangnya adalah Geoff Martz, dkk. Seluruh pengarangnya berasal dari lulusan universitas ngetop:
Princeton, Columbia, Oxford, Wharton (University of Pennsylvania), Dartmouth, dsb. Di USA, silahkan Anda mencari buku ini di Walden Book Store. Sayang sekali, buku "sakti" Cracking the System sulit didapatkan di Indonesia. Jika tidak memiliki buku nomer 2, buku dibawah ini sebaiknya Anda miliki:

Supercourse for GMAT, Thomas H. Martinson, ARCO.

Ada 2 buku GMAT terbitan ARCO yang dikarang oleh Thomas. H. Martinson (lulusan Harvard Law School). Tapi, hanya satu yang berlabel Supercourse; dan itulah buku paling komplit mengenai GMAT walaupun agak bertele-tele. Di Toko Buku (TB) Gramedia Blok M Anda dapat menjumpai buku GMAT dari Arco ini. Verbal dan Mathematics Review diberikan disini. Harganya sekitar Rp 50.000. Saat ini, buku ini sudah mencapai edisi ke 3.

Sudah punya Official Guide for GMAT Review atau belum? Buku ini memberikan mathematics review yang cukup bagus, walaupun untuk bagian verbal hanya diberikan soal dan penjelasan saja. Buku ini wajib Anda miliki. Dahulu, harganya $ 12. Silahkan beli melalui IIE (Institute of International Education) di Lippo Centre, Jln. Gatot Subroto (dekat Gedung Patra) atau ETS di Princeton (New Jersey) jika Anda di Amerika. Kalau habis, silahkan fotokopi dari saya.

Buku GMAT dari Cliffs (yang kurang menyeluruh dalam memberikan teori) tersedia di TB Triad, Jln. Purnawarman Bandung. Di TB Triad Jakarta juga ada. TB Triad dan beberapa toko buku lainnya di kota Bandung (misalnya Insulinde, Intervarsity, dll.) sanggup mencarikan buku dari penerbit asalnya, jika Anda tidak mampu menjumpainya di Indonesia. Dibandingkan dengan toko buku di kota-kota lainnya, toko buku di kota Bandung yang saya sebutkan di atas jauh lebih lengkap koleksinya untuk buku-buku serius. Perhatikan juga ciri buku GMAT edisi baru: bagian critical reasoning harus ada, karena analysis of situation tidak keluar lagi pada GMAT akhir-akhir ini.

Buku GMAT dari Barron banyak sekali kesalahannya terutama pada bagian sentence correction. Lagi pula, bagian matematikanya terlalu mudah dikerjakan. Buku GMAT dari Barron sudah dicetak hingga edisi ke 8. Akan tetapi, saya lebih suka menyebutnya sebagai cetakan ke 8 karena perubahan dari satu edisi ke edisi berikutnya minim sekali. Anda tidak perlu membeli buku ini, begitu juga buku dari penerbit lainnya yang bersemboyan "duit mau, mutu nanti dulu". Untuk latihan soal, sebaiknya Anda tetap memakai buku dari ETS sebagai buku utama.

Di toko buku di USA, Anda dapat menemukan berbagai software GMAT. Anda bisa juga membelinya dari ETS di USA atau IIE di Indonesia. Saya pernah mencobanya. Hasilnya, saya meragukan manfaat latihan GMAT dengan menggunakan komputer. Sebagai contoh, Anda tetap memerlukan kertas untuk coret mencoret sewaktu mengerjakan bagian kuantitatif. Untuk bagian verbal Anda tetap perlu untuk memberi tanda pada bacaan untuk mempermudah menemukan kata kunci, dsb. Hal-hal tersebut di atas belum dapat dilakukan oleh software yang ada di pasaran saat ini. Terkecuali jika Anda terlalu banyak uang, Anda tidak perlu membeli software semacam itu.

Booklet dari ETS menyatakan bahwa nilai GMAT itu mempunyai plus minus 20. Jadi, jika Anda sudah berusaha keras tapi nilai GMAT Anda hanya 400 saja, hal ini berarti lampu merah buat Anda. Dengan kemampuan yang sama, jika Anda mengambil GMAT lagi dan 400 adalah angka tengah, nilai Anda hanya bisa naik menjadi 420 atau atau malahan turun menjadi 380. Lebih sial lagi jika 400 adalah batas atas nilai Anda. Nilai Anda berikutnya bisa menjadi 360. Artinya, jika Anda ingin mendapatkan kenaikan nilai GMAT drastis, metoda belajar Anda harus dirubah total. Dengan merubah metoda belajar, seorang teman saya mampu menaikkan nilainya sebanyak 130.

Orang yang sanggup menaklukkan bagian verbal dari GMAT, pasti sanggup menaklukkan TOEFL. Kebalikannya tidak berlaku. Amat sangat jarang sekali saya melihat seseorang yang memiliki nilai GMAT diatas nilai TOEFL. Jadi, jika Anda mendapat nilai TOEFL hanya 500, ini berarti tanda bahaya buat Anda. Kemungkinan besar nilai GMAT Anda tidak akan mencapai 400! Berapakah nilai yang Anda dapatkan jika Anda hanya duduk saja, tanpa mengerjakan soal, sewaktu ujian GMAT? 200!

Walaupun Anda merencanakan untuk memasuki program MBA 2 tahun lagi, ada baiknya jika anda mengambil GMAT ketika masih di undergraduate atau selang tidak berapa lama setelah lulus dari sekolah. Nilai GMAT toh berlaku hingga 5 tahun. Data yang saya miliki menunjukkan bahwa nilai peserta GMAT yang mengambil test lebih dari 2 tahun setelah lulus dari undergradute, rata-rata 20 hingga 30 angka lebih rendah dari mereka yang masih bersekolah di undergraduate ataupun baru saja lulus. Saya yakin Anda bias memperkirakan penyebabnya.

Nilai total GMAT Anda selalu merupakan kelipatan 10, tapi nilai rata-rata seluruh peserta GMAT mungkin saja berakhir dengan bilangan 0 hingga 9. Nilai rata-rata peserta GMAT, khususnya bagian kuantitative, dari tahun ke tahun ke tahun mengalami kenaikan. Sebagai contoh, rata-rata nilai adalah 462 pada tahun 1976-1979; 486 pada tahun 1985-1988; dan tiga tahun belakangan ini telah menjadi 494. Artinya, untuk mendapatkan percentile rank yang sama, nilai Anda harus lebih tinggi dari para peserta tes sebelumnya.

Dari 200.000 lebih peserta GMAT per tahun, rata-rata 8 orang diantaranya mendapatkan nilai sempuran atau 800! Sama halnya dengan GRE, nilai GMAT Anda dari tiga test terakhir akan muncul di score report. Biasanya, perguruan tinggi di USA memakai nilai yang tertinggi, bukan nilai rata-rata.

Sebelum Anda mempelajari buku Princeton Review dan strategi dibawah ini, sebaiknya Anda berlatih mengerjakan seluruh bagian GMAT minimal satu kali terlebih dahulu. Tulisan dibawah ini tidak bermaksud untuk mengajarkan GMAT mulai dari awal. Saya hanya bermaksud memperbaiki kesalahan Anda, jika ada. Kalau Anda sudah berlatih, silahkan Anda baca pembahasan quantitative section dan selanjutnya verbal section seperti di bawah ini.

2.1. QUANTITATIVE SECTION

Banyak orang yang mengatakan bahwa bagian kuantitatif (matematika) dari GMAT adalah gampang. Pernyataan ini adalah benar tapi kurang komplit sehingga menyesatkan! Pertama, anda harus ingat bahwa nilai Anda adalah nilai relatif terhadap nilai peserta lainnya. Jadi, jika Anda menganggap bagian kuantitatif adalah gampang dan banyak orang berpikiran sama, nilai relatif Anda adalah rendah. Jika Anda hanya bisa mendapatkan nilai 60% saja untuk bagian itu, Anda harus belajar lebih keras lagi.

Kedua, karena bagian verbal tidak sulit - tapi sangat sulit-untuk dikerjakan, maka bagian kuantitatif adalah sarana untuk mengkatrol nilai total Anda. Dengan kata lain, kata "mudah" belumlah cukup. Beberapa teman saya ada yang mendapat nilai 98% untuk bagian kuantitatif. Artinya, 98% peserta GMAT di seluruh dunia mendapatkan nilai kuantitatif di bawah mereka. Merekalah yang berhak menyebut soal kuantitatif pada GMAT adalah "benar-benar mudah."

Sebelum berlatih mengerjakan soal-soal, hendaknya mathematics review berikut istilah-istilahnya (misalnya isosceles, quadrilateral, dsb.) serta petunjuk soal Anda pelajari benar-benar. Mathematics review pada buku terbitan ETS sudah cukup memadai.

Diluar dugaan saya, masih banyak rekan-rekan yang tidak mengerti maksud soal data sufficiency. Anda harus familiar dengan bentuk soal. Dalam ujian, Anda tidak boleh lagi bertanya- tanya: maksud soal ini apa sih?

Ketika Anda meneliti jawaban latihan Anda dengan mencocokkan dengan kunci jawaban, cobalah untuk mengerti sendiri kenapa Anda berbuat kesalahan. Janganlah tergesa-gesa untuk membuka pembahasan soal. Seperti pada TOEFL, cobalah kaji kembali teori di halaman muka. Jika ini tidak membantu juga, barulah dengan terpaksa Anda membuka pembahasan soal. Penjelasan quantitative section yang terdiri dari macam, yaitu problem solving dan data sufficiency, secara mendalam akan Anda temukan dibawah ini.

2.1.A. PROBLEM SOLVING

Usahakan untuk tidak kehilangan angka pada soal-soal awal, sebab soal-soal awal ini biasanya lebih mudah dibandingkan soal-soal yang ditengah/akhir. Berdasarkan data yang saya miliki, persentase peserta di seluruh dunia yang menjawab soal dengan benar pada 5 soal yang terakhir berturut-turut adalah sebagai berikut: 19%, 36%, 26%, 15%, dan 11%.

Artinya, soal soal tersebut secara kasar dipakai untuk membedakan peserta tes yang mendapatkan nilai kuantitatif diatas atau dibawah 80%. Dengan kata lain, prioritaskan waktu Anda untuk mengerjakan soal-soal sebelumnya. Kemampuan pertama yang dibutuhkan dalam mengerjakan problem solving adalah membentuk soal kalimat menjadi rumusan matematik dan selanjutnya memasukkan variabel-variabel yang diketahui untuk menemukan jawaban. Kalau Anda tidak mampu menjawabnya dengan rumusan tersebut, cobalah mencari jawaban yang benar dengan memasukkan salah satu jawaban pada multiple choice ke rumus yang Anda susun. Princeton Review menganjurkan untuk memilih jawaban dengan nilai tengah terlebih dahulu. Sebagai contoh, suatu soal mempunyai pilihan jawaban sebagai berikut:

(A) 50 (B) 40 (C) 30 (D) 20 (E)10

Pilihlah jawaban (C) terlebih dahulu. Masukkan angka 30 ini pada persamaan yang telah Anda susun. Misalkan hasil perhitungan Anda menunjukkan bahwa angka 30 terlalu besar, selanjutnya pilih angka 20. Selanjutnya ada dua kemungkinan: pilihan Anda sudah benar atau angka 20 masih terlalu besar. Jika angka 20 masih terlalu besar.

Anda tidak perlu untuk memasukkan angka 10, sebab jawabannya pasti 10. Dengan strategi di atas, Anda hanya memerlukan dua kali perhitungan saja. Jika Anda mulai dengan memasukkan angka 50, Anda harus melakukan perhitungan sebanyak 4 kali untuk menemukan jawaban yang benar di (E).

Kalau Anda tidak tahu dari mana dan mau kemana maksud soal, janganlah berputus asa, tapi, tulislah rumus dasar terlebih dahulu. Sebagai contoh, jika soal tersebut membicarakan masalah kecepatan, tulislah persamaan dasar terlebih dahulu yaitu;

Jarak = Kecepatan X Waktu.

Kemudian, masukkan variabel yang Anda ketahui. Berangkat dari situ, Anda akan terheran-heran melihat betapa mudahnya soal tersebut diselesaikan.

Seperti pada TOEFL, dalam belajar GMAT usahakan untuk tidak meloncat- loncat. Misalkan saja saat ini Anda latihan mengerjakan bagian problem solving. Setelah selesai dikerjakan dan diteliti, hendaknya Anda jangan melompat ke bagian lainnya, misalnya data sufficiency. Tapi, kerjakanlah kembali kumpulan soal problem solving yang lainnya. Kemudahan dalam mengerjakan problem solving yang kedua dibandingkan yang pertama akan segera Anda rasakan.

Perhatikan juga alokasi waktu. Bagi yang sama sekali belum pernah mengerjakan latihan soal pada GMAT, barangkali 30 menit belum cukup untuk mengerjakan satu section. Cara berlatihnya seperti di bawah ini.

Kerjakan satu section dalam waktu yang lama, misalnya 1.5 jam atau sampai selesai. Setelah Anda teliti lagi, kerjakan lagi jenis soal yang sama (misalnya Problem Solving pada halaman yang berbeda) tapi kurangkan waktunya, misalnya 1 1/4 jam. Demikian seterusnya sehingga Anda dapat menjawabnya dalam waktu 30 menit untuk satu section.

2.1.B. DATA SUFFICIENCY

Sebelum mempelajari bagian data sufficiency, Anda harus mahir mengerjakan bagian problem solving terlebih dahulu. Untuk bagian data sufficiency, agar cepat mengingat jawaban apa yang harus diberikan untuk kondisi tertentu, ingatlah susunan kata/huruf ini (dari buku terbitan Cliffs):

1 (First statement is sufficient to solve the problem, so choose A),
2 (Second, choose B),
T (Together, choose C),
E (Either, choose D),
N (Neither, choose E)

-------- 1 2 T E N

Biasanya, seseorang mengerjakan data sufficiency dengan cara sebagai berikut:

1. Baca soal
2. Baca statement no.1
3. Baca statement no.2
4. Koq bingung ya?
5. Menjawab soal (dan salah!)

Kalau Anda membaca statement 2 setelah statement 1, tanpa membaca soal kembali, kemungkinan besar Anda akan mengalami kerancuan karena pikiran Anda menganggap informasi pada statement 1 sebagai bagian dari soal. Karena itu, saya menyusun strategi sebagai berikut:

1. Baca soal.
Rubah soal kedalam persamaan matematik (jika perlu)

2. Baca statement no.2 (bukan no.1).
Rubah statement 2 kedalam persamaan matematik (jika perlu).
Beri tanda (misalnya Y atau N, T atau F): apakah statement 2 cukup untuk menjawab soal atau tidak.

3. Baca soal kembali.

4. Baca statement no.1.
Rubah statement 1 kedalam persamaan matematik (jika perlu).
Beri tanda (misalnya Y atau N, T atau F): apakah statement 1
cukup untuk menjawab soal atau tidak.

5. Menjawab soal (A/B/C/D/E).

Pada Problem Solving, Anda boleh memperkirakan besar suatu sudut dan besaran-besaran lainnya hanya dengan melihat perbandingan dimensi dari gambarnya saja. Berlainan dengan Problem Solving, Data Sufficiency biasanya menggunakan gambar yang tidak sesuai dengan skala. Selain itu pula, janganlah Anda menggunakan asumsi dan interpretasi Anda sendiri terkecuali dinyatakan dalam soal.

Misalkan Anda melihat kurva berbentuk setengah lingkaran, janganlah Anda mengasumsikan bahwa kurva tersebut pasti berbentuk setengah lingkaran, terkecuali dijelaskan bahwa kurva tersebut memang berbentuk setengah lingkaran. Sebaliknya, jika sudah jelas dinyatakan dalam suatu soal bahwa suatu segi tiga adalah siku-siku, tanpa ragu-ragu, gunakan teorema Phytagoras untuk menyelesaikan soal tersebut.

2.B. VERBAL SECTION

Menurut saya, untuk mendapatkan nilai verbal yang tinggi, dibutuhkan kemampuan dengan urutan sebagai berikut ini:

1. Vocabulary yang baik
2. Logika
3. Grammar
4. Kecepatan membaca yang tinggi
5. Strategi

Analisa saya menunjukkan bahwa urut-urutan belajar yang benar adalah sbb:
1. Sentence Correction
2. Reading Comprehension
3. Critical Reasoning

Dari ketiga jenis soal pada bagian verbal, bagian sentence correction adalah bagian termudah untuk dikerjakan jika Anda tahu dasar strategi belajarnya. Kalau grammar yang telah Anda pelajari pada sentence correction sudah benar dan vocabulary Anda sudah lumayan jago, reading comprehension bukan lagi suatu masalah.

Setelah syarat-syarat dasar itu terpenuhi, Anda tinggal menggunakan logika Anda untuk menaklukkan bagian critical reasoning.

Bagaimana cara mempelajari bagian verbal GMAT dan dimanakah letak perbedaannya dengan TOEFL? Mudah-mudahan penjelasan dibawah ini mampu menolong Anda.

2.B.1. SENTENCE CORRECTION

Padanan bagian ini di TOEFL adalah Section II: Structure and Written Expression. Untuk TOEFL, Anda perlu menguasai grammar secara menyeluruh. Untuk GMAT, tidak seperti yang diduga orang selama ini, grammar yang sering muncul pada sentence correction hanya terdiri dari 6 saja. Menurut Princeton Review, 6 masalah yang mendominasi sentence correction adalah:

1. Pronoun-reference errors.
2. Misplaced modifier / dangling modifier.
3. Parallel construction errors.
4. Idiom / diction errors.
5. Subject-verb agreement errors.
6. Comparison errors.

Sekitar setengah dari keseluruhan soal pada sentence correction berkaitan dengan idiom / diction errors, baik berdiri sendiri ataupun dikombinasikan dengan error lainnya. Idiom atau diction (pilihan kata yang tepat) mudah diingat jika Anda sering membaca dan menghafalkannya dari buku grammar. Sayang sekali saya belum menemukan cara lainnya.

Karena kitab pusaka ini bukan kitab pusaka grammar, silahkan merujuk ke buku grammar/TOEFL Anda untuk penjelasan ke 6 hal tersebut di atas selengkapnya. Walaupun hanya 6 masalah, kenapa sentence correction di GMAT jauh lebih sulit dari pada padanannya di TOEFL?

Vocabulary di GMAT jauh lebih canggih dari pada di TOEFL. Selain itu juga, kalimat yang dipakai pada TOEFL adalah kalimat yang pendek-pendek. Sebaliknya, pembuat soal GMAT senang sekali dengan kalimat yang panjang - panjang dengan menambahinya dengan phrase atau clause. Dengan mengetahui punctuation dan grammar, Anda dapat memecah kalimat tersebut menjadi bagian - bagian kecil yang lebih sederhana. Misalnya, mengganti subject kalimat yang aduhai panjangnya dengan satu kata: they.

Selanjutnya, prinsip mengerjakannya adalah dengan mengetahui terlebih dahulu kategori kesalahan (dari 6 jenis kesalahan) pada kalimat aslinya. Caranya yaitu dengan:

1. Mengetahui kunci kata.
Contoh:

a. Jika Anda menemukan kata ... more ... than ..., berarti masalah yang Anda hadapi adalah comparison error. Perhatikan apakah yang dibandingkan kata yang sejenis atau tidak, misalnya noun dengan noun, dsb.

b. Jika Anda menemukan kata ... not only ..., berarti harus diikuti dengan ... but also ... Jika hanya diikuti oleh ... but ... atau ... and also... berarti jawabannya pasti salah. Ini adalah masalah idiomatic expression yang tidak bias diganggu gugat. Soal ini biasanya muncul pada setiap ujian GMAT.

c. Jika Anda menemukan kata Hopefully ... di awal kalimat, kalimat ini pasti salah. Unidiomatic, kata ETS. Pilihan kata yang benar adalah I hope that ... Soal ini juga biasa muncul di GMAT.

2. Jika resep no. 1 tidak mempan, Anda tetap bisa menemukan kategori kesalahan dengan membandingkan jawaban B, C, D, dan E. Misalkan pada jawaban-jawaban tersebut Anda menemukan pronoun (misalnya she, he, they, it, dsb) berulang-ulang. Pastikan bahwa pronoun tersebut (misalkan it) merujuk pada satu kata yang pasti (misalnya the root) dan tidak menimbulkan keraguan, misalnya (misalnya the root atau the tree ?) Ini adalah masalah pronoun-reference error.

Setelah Anda menemukan kategori kesalahannya, dengan mudah Anda akan menemukan jawaban yang benar. Walaupun Anda sudah mendapatkan kalimat dengan grammar yang benar, Anda tetap harus hati-hati: Pastikan bahwa kalimat tersebut tidak merubah makna kalimat asalnya. Jika kalimat dengan grammar yang betul itu merubah makna kalimat asalnya, berarti Anda harus mencari pilihan lainnya.

Biasanya, seperlima jawaban soal pada sentence correction adalah A. Artinya, kalimat asli sudah benar. Jadi, jika Anda sudah menjawab 21 dari 27 soal (yang sangat sulit untuk dicapai), sementara Anda belum pernah memberikan jawaban A, Anda boleh langsung tembak: 6 buah jawaban soal lainnya adalah A. Boleh jadi tidak semua jawaban pada 6 soal tersebut adalah A. Akan tetapi, total nilai yang Anda dapatkan pasti melebihi pengurangan nilai jika jawaban Anda salah.

2.B.2. READING COMPREHENSION

Kalau Anda tidak mempunyai vocabulary yang cangging, tampaknya, sulit sekali Anda mendapatkan nilai yang tinggi di bagian ini. Setelah vocabulary Anda cangging, Anda perlu meningkatkan kecepatan membaca Anda. Berusahalah untuk sedikit mungkin membaca ulang kata atau kalimat secara berlebih-lebihan dalam reading comprehension.

Buku yang berjudul Speed Reading karangan Tony Buzan terbitan Plume/Penguin Group merupakan buku favorit saya untuk meningkatkan kecepatan membaca. Kalau vocabulary dan kecepatan membaca Anda tidak memadai, mengerjakan seluruh soal berarti bunuh diri, karena Anda akan mendapatkan pengurangan nilai untuk setiap kesalahan Anda. Dalam kasus ini, lebih baik sukses sebagian daripada hancur total! Untuk bagian reading comprehension, dari 2 atau 3 bacaan pada satu section, sebaiknya hanya 1 atau 2 bacaan saja yang dikerjakan tapi kerjakanlah dengan sungguh-sungguh. Pilihlah bacaan yang akrab dengan dunia Anda, misalnya masalah iptek atau sosial atau yang lainnya.

Orang-orang yang mendapatkan gelar undergraduate di USA, sangat diuntungkan pada bagian ini. Mereka mendapatkan pelajaran-pelajaran baik sosial maupun eksakta di dua tahun pertama mereka berkuliah di USA. Jadi, mereka lebih akrab dengan variasi topik yang muncul pada bagian reading comprehension dari pada mahasiswa lulusan Indonesia.

Princeton Review menganjurkan untuk memilih bacaan dengan tema minoritas (misalnya wanita, Black American, Hispanic, dsb). Jawaban yang benar dari bacaan dengan tema sejenis ini selalu positif (memuji) golongan tersebut. Jadi jika Anda menemukan pilihan jawaban yang mengecam golongan Black American, tanpa melihat paragraf bacaan yang bersangkutan, Anda bisa memastikan bahwa jawaban itu adalah salah. ETS selalu menghormati golongan minoritas dan profesional (dokter, pengacara, dsb)!

Pilihan jawaban dengan pilihan kata yang sangat emosional juga pasti salah. Selain itu juga, pilihan jawaban yang menggunakan kata always, the most dan kata-kata "pasti" lainnya yang mudah didebat, biasanya pasti salah. Contohnya, Anda menemukan salah satu pilihan jawaban sebagai berikut:

(A) Leonardo da Vinci is the greatest painter in that century.

Tanpa menengok bacaan, Anda bisa memastikan bahwa jawaban tersebut pasti salah. Akan tetapi, pilihan jawaban dengan "nada memuji tapi datar" semacam ini ada kemungkinan benar:

(C) Leonardi da Vinci is a great painter.

Kenapa demikian? ETS tidak ingin didebat oleh pihak-pihak lain yang menganggap bahwa ada pelukis lain yang lebih ngetop di bandingkan dengan Leonardo da Vinci. Demikian penjelasan Princeton Review.

Sewaktu Anda membaca bacaan, tandailah kata-kata kunci, misalnya: however, yet, but, dsb. Pada multiple choice, jawaban-jawaban salah sering merujuk pada kalimat sebelum however, but, yet, dsb. Jawaban benar yang menanyakan pendapat pengarang sebenarnya adalah merujuk pada kalimat setelah however, but, yet, dsb.; karena setelah kata kunci ini, penulis bacaan menuliskan pendapat yang sebenarnya.

Di TOEFL, jawaban pertanyaan dapat Anda temukan langsung dari bacaan, karena jawaban yang benar pada multiple choiche biasanya hampir mirip susunan katanya dengan kalimat pada bacaan yang bersangkutan. Akan tetapi, untuk GMAT, yang berlaku adalah kebalikannya. Jika salah satu jawaban pada multiple choiche mirip dengan susunan kata pada bacaan yang bersangkutan, 99% kemungkinan bahwa jawaban tersebut salah!

Kenapa demikian? Pembuat soal amat pintar: dengan memberikan satu kata tambahan atau mengurangi satu kata atau mengubah satu kata, maka arti kalimat jadi sangat berbeda dengan asalnya. Di GMAT jawaban yang benar adalah:

1. Selalu merujuk pada bacaan. Hanya 0.05% kemungkinan bahwa jawaban tersebut menggunakan pengetahuan tambahan mengenai masalah yang sedang dibicarakan.

2. Tidak pernah menggunakan susunan kata yang sama atau mirip dengan bacaan. Akan tetapi, kalimat/kata yang digunakan mempunyai makna yang sama dengan kalimat asli pada bacaaan yang bersangkutan.

Salah satu soal pada GMAT, misalnya nomer pertama, pasti ada yang menyangkut isi keseluruhan bacaan. Contohnya adalah urutan penyajian penulis. Untuk soal jenis ini, saya anjurkan Anda untuk menjawab paling belakang. Soal-soal lainnya biasanya merujuk pada satu spesifik paragraf. Artinya Anda terpaksa membaca bacaan paragraf per paragraf. Setelah Anda sering membaca bacaan tersebut, Anda tidak akan kesulitan lagi untuk menjawab jenis soal yang menyangkut keseluruhan isi bacaan. Jika Anda mencoba untuk menjawab soal jenis tadi terlebih dahulu, Anda harus membaca bacaan tersebut berulang-ulang tanpa menjawab soal yang lain. Artinya, Anda membuang waktu Anda secara sia-sia.

Prioritaskan waktu untuk menjawab pertanyaan yang merujuk suatu kalimat atau baris tertentu secara spesifik. Biasanya, pertanyaannya mudah untuk dijawab dan jawaban dapat ditemukan pada beberapa kalimat sebelum atau setelah kalimat yang termaksud. Soal yang sering menghabiskan waktu adalah soal dengan jawaban seperti ini:

(A) I dan II benar
(B) I, II, III benar
dst.

Selesaikan soal jenis ini paling akhir saja. Perlu juga Anda ketahui, cara tercepat mengatasi masalah sejenis itu adalah dengan menghilangkan jawaban yang salah, bukan mencari jawaban yang benar.

2.B.3. CRITICAL REASONING

Bagian ini mengetes kemampuan Anda dalam berargumentasi dan berlogika. Padanannya pada TOEFL: Tidak ada! Bagi bangsa Jawa, Sunda dan pemakan nasi lainnya yang mengambil GMAT, masalahnya bukan logika yang tumpul atau ketidakmampuan berargumentasi sehingga tidak pernah sukses mengerjakan bagian ini. Masalahnya adalah: Bagaimana mungkin berargumentasi dan berlogika jika makna soal atau kalimatnya saja tidak tahu? Karena itu, tambahlah vocabulary Anda.

Jika Anda sudah mempunyai vocabulary dan logika yang baik dari sononya, tanpa mempelajari teori logika, saya yakin Anda akan mampu mengerjakan bagian ini dengan baik. Lebih baik lagi jika Anda juga
mempelajari logika, misalnya:

- cara berpikir secara induktif atau deduktif
- silogisme
- argumentasi berdasarkan data statistik
- argumentasi berdasarkan analogi, dsb.

Silahkan Anda membaca buku mengenai logika atau dari Princeton Review (buku favorit saya) atau dari buku GMAT lainnya.

2.C. ANALYTICAL WRITING

Bagian ini sedang disusun .........

2.D. PENUTUP UNTUK BAGIAN GMAT

Dari penjelasan saya mengenai bagian verbal, jelas sekali terlihat bahwa saya mengunggulkan vocabulary untuk mengatasi bagian verbal. Dalam belajar, seorang cucu Adam melalui beberapa tahapan.

Dua tahap pertama adalah:

1. Mengerti untuk diri sendiri.
2. Mampu memberikan pengertian kepada orang lain.

Untuk mengatasi TOEFL, jika Anda sudah mahir membaca bacaan berbahasa Inggris atau text book dan mampu memperkirakan arti suatu kata dari konteks kalimatnya, itu sudah cukup. Artinya, Anda sudah mencapai tahap pertama. Jika Anda menyangka bahwa kemampuan Anda tersebut sudah cukup untuk mengatasi GMAT, Anda salah besar!

Barangkali juga, Anda menyangka bahwa jika Anda lama tinggal di Amerika, otomatis nilai verbal Anda naik. Sekali lagi, sebaiknya Anda mengubur dugaan tersebut. Diluar dugaan, banyak teman-teman yang mendapatkan gelar undergraduate di USA (artinya telah tinggal di USA selama 4 tahun), hanya mendapatkan nilai verbal sekitar 25% atau kurang. Mereka memang mahir membaca Fortune, Business Week dsb. Mereka sudah mampu memperkirakan arti kata dari konteks kalimat. Bagi saya, mereka baru mencapai tahap pertama dalam belajar. Kesalahan mereka: mereka sudah tidak merasa perlu lagi untuk sering membuka kamus. Banyak diantara mereka yang tidak mengetahui arti suatu kata di soal bagian verbal GMAT.

Anda akan terheran-heran menyaksikan mahasiswa-mahasiswa Amerika yang tetap menggunakan kamus Inggris-Inggris jika mereka menulis tidak dengan komputer. Kalau orang Amerika saja tetap menggunakan kamus, kenapa kita tidak perlu menggunakan kamus?

Resep saya untuk mendapatkan nilai verbal GMAT yang tinggi adalah dengan sering menerjemahkan (bukan hanya sekedar membaca) koran The Wall Street Journal (WSJ) atau majalah Fortune, Business Week, Time, Newsweek, dsb. Anda dengan mudah menemukan majalah-majalah yang tersebut di Indonesia. Anda tidak perlu membeli majalah yang baru, yang bekaspun sudah memadai.

Bagi saya, menerjemahkan bukan saja berarti saya mengetahui secara pasti arti suatu kata, akan tetapi, saya juga berusaha untuk menyusunnya menjadi suatu kalimat Indonesia yang baik dan benar (bukan seperti kitab pusaka yang Anda baca saat ini). Saya berusaha agar orang lain mengerti apa yang saya maksudkan. Tentunya saya harus sering membuka kamus dan mengorbankan waktu yang tidak sedikit untuk ini.

Sekitar tiga minggu sebelum ujian GMAT Oktober yang lalu, saya mencoba menerjemahkan dua buah kolom berita ringkas "What's News" di WSJ setiap hari. Saya menerjemahkan di malam hari dan di pagi harinya saya baca kembali. Apakah saya berusaha untuk mengingat arti kata yang saya terjemahkan? Tidak! Kalau lupa bagaimana? Seperti TOEFL: cuek saja! Tiga hari atau seminggu kemudian, kata yang saya lupakan tadi toh akan muncul lagi di WSJ.

Dengan demikian, sebelum ujian GMAT, saya menambah ratusan kata baru dalam perbendaharaan kata saya. Pertama-pertama menerjemahkan WSJ memang betul-betul mengesalkan. Saya harus menerjemahkan sekitar 50 kata per hari untuk betul-betul mengetahui 2 kolom berita tersebut. Ingat lho, saya tidak menggunakan kamus Inggris-Indonesia, tapi Inggris-Inggris. Jadi, seringkali saya harus menerjemahkan dengan "berputar". Sebagai contoh, acapkali saya mencari terjemahan suatu kata pada kamus itu sendiri untuk mengetahui secara pasti arti suatu kata yang tidak saya mengerti pada WSJ. Karena perbendaharaan kata saya makin banyak, lama-lama berkurang hingga sekitar 5-10 kata perhari. Memulai yang pertama memang sulit, lama-lama akan semakin mudah.

Kenapa saya menempuh jalan itu? Sebelumnya, saya sudah cukup kenyang belajar grammar, strategi, teori logika, dsb. Nilai verbal saya memang naik, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dari kegagalan-kegagalan tersebut, saya berpendapat bahwa bukan metoda belajar saya yang salah, akan tetapi, prioritas belajar saya yang salah. Saya harus menemukan cara baru untuk mengatasi bagian verbal. Saya coba menambah vocabulary dengan menerjemahkan bacaan berbahasa Inggris. Hasilnya terbukti menggembirakan.

Kalimat-kalimat pada WSJ, Fortune, Business Week, dsb. seringkali bukan merupakan kalimat yang lengkap dan bahasanya adalah bahasa koran, bukan bahasa baku yang Anda pelajari di buku grammar atau TOEFL. Jika Anda sudah sanggup menerjemahkan WSJ, dsb. yang bahasanya susah untuk dimengerti (bagi orang non-bule), maka jika kita membaca bacaan pada GMAT, akan terasa sekali betapa mudah untuk dimengerti.

Kalau Anda lebih suka memilih untuk membaca buku dari pada membaca koran atau majalah untuk menambah vocabulary Anda, silahkan baca Word Smart dari Princeton Review. Kalau Anda sudah mulai menerjemahkan kata setiap hari, berusahalah mempertahankan kerajinan Anda. Jangan rajin hanya di awal saja. Bagi orang bule sendiri, mereka menganggap bagian verbal dari GMAT terlalu panjang atau terlalu banyak soalnya. Dengan kata lain, mereka merasa kecepatan membaca mereka tidak memadai.

Dari analisa nilai bagian verbal teman-teman saya yang rendah, saya berpendapat bahwa banyak diantara mereka terlalu sembrono atau terlalu berani menjawab. Artinya, mereka menjawab tapi lebih banyak salahnya. Menebak jawaban boleh-boleh saja asal jangan ngawur. Setiap kesalahan berarti pengurangan nilai. Kalau mereka bias mengurangi kesalahan tersebut, walaupun tidak menambah jawaban yang benar, saya yakin mereka akan mampu menaikkan nilai GMAT-nya. Silahkan pelajari intelligent guessing dan process of elimination (POE) di Princeton Review.

Kalau Anda bermaksud untuk tidak menjawab suatu soal yang sulit, putuskan dengan segera. Ingat, waktu Anda sangat terbatas. Banyak teman-teman yang memutuskan untuk tidak menjawab soal yang sulit setelah berusaha setengah mati untuk menjawabnya. Akibatnya, ia kekurangan waktu untuk menjawab soal yang mudah. Sewaktu ujian GMAT, saya sarankan Anda untuk tidak perlu menghabiskan seluruh waktu yang dialokasikan, yaitu 30 menit per section untuk berusaha mengerjakan soal semuanya. Lebih baik Anda meninggalkan satu soal yang sulit tapi sempat memeriksa kembali soal lainnya yang telah Anda kerjakan. Sisakan juga 15 detik terakhir untuk tidak melakukan apa-apa guna menenangkan pikiran Anda sebelum mengerjakan section berikutnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat wawancara televisi tentang dua peserta (dari 1,4 juta peserta) yang mendapat nilai sempurna pada SAT (Scholastic Aptitude Test, semacam Sipenmaru buat bangsa penggemar Mc Donald). Yang menarik adalah, ketika ditanya apa hobinya, keduanya mempunyai hobi yang sama: komputer dan membaca novel science fiction! Saya pernah bertemu dengan orang bule yang mendapatkan nilai GMAT 770. Pekerjaannya: guru kursus TOEFL dan GMAT. You bet!

Rudy, seorang mahasiswa Indonesia mendapatkan nilai GMAT 710. Ia mendapatkan undergraduate nya dalam bidang mechanical engineering di University of Michigan (Ann Arbor). Undergraduate GPA nya adalah 3,9 (A=4). Setahu saya, ada dua orang Indonesia lainnya yang memiliki nilai GMAT di atas 700.

Seorang Indonesia yang bernama XYZ mendapatkan nilai GMAT 660. Lulus dari University of Texas at Austin bidang chemical engineering sebelum melanjutkan MBA diperguruan tinggi yang sama.

Seorang teman Indonesia saya yang lainnya ada yang mendapatkan nilai GMAT 610. Ia lulus dari University of California (Riverside) sebelum melanjutkan ke California State University (Fullerton). Ia memilih untuk ke Cal Sate karena UC Riverside waktu itu belum di akreditasi AACSB (American Assembly of Collegiate School of Business). Ketika saya tanya apa resepnya, jawabnya adalah:
mengerjakan latihan, minimal satu bagian (section) tiap hari. Bukti lagi: kerja keras dilandasi dengan kemampuan, Insya Allah, akan membuahkan hasil.

Memang benar bahwa beberapa orang Indonesia yang saya sebutkan diatas mempunyai keuntungan karena telah lama tinggal di USA. Akan tetapi, tengoklah kembali paragraf-paragraf saya dimuka mengenai teman-teman saya lainnya yang mendapatkan undergraduate di USA tapi tidak mampu mendapatkan GMAT yang tinggi. Saya tetap percaya bahwa orang-orang yang saya sebutkan di atas memang orang yang pintar.

Seorang mahasiswa Indonesia yang mendapatkan undergraduatenya di Indonesia mampu mendapatkan nilai GMAT 620, dan TOEFL 630; walaupun GPA nya hanya 2,3. Ia adalah seorang mahasiswa lulusan Universitas Tarumanegara dan mengambil kuliah di program MBA University of Tennessee (Knoxville).

Seorang tamatan Jurusan Teknik Industri ITB mampu mendapatkan nilai GMAT 610. Ia bekerja di Bank Indonesia. Saat ini bersekolah di The Wharton School (University of Pennsylvania).

Sedikit sekali orang Indonesia yang memiliki GMAT diatas 600 atau GRE yang tinggi. Tidak demikian halnya dengan orang India dan Cina. Sebagai contoh, seorang teman saya dari India yang belajar di University of Houston untuk mendapatkan gelar doktor di bidang management information system ada yang mendapatkan nilai GRE 2250 (dari maksimum 2400 untuk 3 section). Mereka sanggup mendapatkan nilai yang tinggi karena mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk mendapatkan GMAT/GRE yang tinggi, kemudian berangkat ke Amerika, lalu mencari bea siswa dan kerja apa saja, selanjutnya ... tidak pulang lagi (karena keadaan tanah airnya yang lumayan kacau)!

Motivasi akan sanggup menggerakkan kita untuk mendapatkan nilai GMAT/GRE yang tinggi. Tentunya, bukan motivasi seperti contoh di atas yang saya maksudkan. Sama halnya dengan GMAT, saya yakin bahwa orang yang mampu mencapai nilai GRE yang tinggi juga memiliki vocabulary yang cangging dan tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakan TOEFL.

III. EPILOG

Sebagian besar kitab pusaka ini berisi metoda belajar. Belum tentu Anda cocok dengan metoda saya. Bagus atau tidaknya nilai TOEFL dan GMAT Anda berpulang pada diri Anda sendiri, bukan saya. Lebih baik Anda menggali sendiri metoda yang pas untuk Anda. Anda tentunya pernah mendengar ungkapan... Work smarter not harder. Menurut saya, ungkapan yang benar adalah... Work smarter not harder; but if you cannot work smarter, you should work harder.

Jadi, Anda harus belajar keras. Saya percaya bahwa Anda belum mengeluarkan seluruh kemampuan Anda. Anda mampu memaksa diri Anda. Akan tetapi, jika Anda sudah belajar keras tapi tidak bisa, berarti ada sesuatu yang salah dengan cara belajar Anda. Bermula dari sinilah Anda bisa bereksperimen untuk menemukan metoda yang pas buat Anda.

Walaupun demikian, kalau Anda tidak mampu menggali potensi diri Anda sendiri, belajarlah melalui buku atau bertanya pada orang lain. Tepat sekali dugaan Anda! Memang benar kitab pusaka ini saya maksudkan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Banyak teman-teman yang menghabiskan waktu untuk mengerjakan latihan-latihan TOEFL dan GMAT berulang-ulang tanpa hasil yang nyata. Menurut saya, bukan porsi latihannya yang kurang, akan tetapi, bisakah mereka mengambil manfaat dari latihan tersebut?

Belajarlah dari kesalahan Anda. Sewaktu mengoreksi latihan Anda, sediakan waktu yang cukup untuk menganalisa kesalahan Anda. Jika jawaban Anda salah, Anda tidak hanya perlu mengetahui jawaban mana yang benar, tapi Anda perlu mengetahui dan memperbaiki jalan pikiran Anda yang salah. Jika jawaban Anda sudah benar, Anda tetap perlu untuk memperhatikan bagian explanatory answer untuk melihat kemungkian bahwa Anda bisa menjawab soal tersebut lebih cepat lagi.

Perhatikan juga antara gejala (symptom) dengan penyebab utamanya. Sebagai contoh, seorang teman saya mengeluh karena ia kerap kali mengganti jawaban yang sudah benar dengan jawaban yang salah pada TOEFL. Ia menganggap dirinya kurang percaya diri. Saya mencoba belajar bersama dia. Pengamatan saya menunjukkan bahwa ia memberikan jawaban salah atas dasar teori salah yang diyakini sebagai kebenaran. Jadi, rasa kurang percaya diri bukan merupakan penyebab utama, akan tetapi kelemahan pada dasar teori grammar lah yang merupakan penyebab utamanya. Selain itu juga, keengganannya untuk menerima hal-hal yang baru dari orang lain juga memperlambat proses belajarnya.

Saya sering terheran-heran melihat teman-teman yang menganggap nilai TOEFL dan GMAT nya sudah cukup. Mereka membandingkan nilai mereka dengan orang-orang ynag mendapatkan nilai lebih rendah dari mereka! Kalau sikap mental ini terus berlangsung, bagaimana mungkin kita termotivasi untuk meraih nilai yang lebih tinggi?

Jangan lupa, sebelum Anda menempuh ujian TOEFL atau GMAT, berlatihlah mengerjakan seluruh soal (3 section untuk TOEFL atau 7 section untuk GMAT) tanpa putus. Hal ini penting untuk mengecek stamina dan menambah kesiapan mental Anda.

Dalam ujian, jika Anda menghapus dan mengganti jawaban Anda, lakukanlah dengan sebersih-bersihnya. Hand-scoring biasanya lebih tinggi dari computer- scoring karena scanner ETS terlalu peka sehingga menghitung jawaban Anda dua kali pada satu nomer yang sudah Anda perbaiki dan menganggap dua jawaban sebagai kesalahan. Pengalaman ini sering terjadi pada rekan-rekan yang meminta hand-scoring dari ETS.

Wassalam.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Ilmu Menaklukkan TOEFL dan GMAT (5 years 39 weeks ago)
90