Felgirth - Chain 2 - Weird Obsuva, Part 1

35
points

CHAIN 2 Weird Obsurva

Salah satu dari tiga daerah pepohonan di Galnus planea yang dibicarakan sebelumnya adalah hutan yang sangat sepi, jauh dari aktifitas manusia. Tak ada yang mau mendekati apalagi memasuki hutan angker,Dethii Feres, hutan kematian yang menjadi saksi bisu pembantaian lebih dari seratus pasukan nithlom Fallom Emvirea hanya oleh satu orang yang tak dikenal beberapa tahun yang lalu. Hanya satu orang,begitulah satu-satunya pesan yang sempat disampai-kan salah satu nithlom kepada orang yang lewat sebelum akhirnya dia menghela nafas terakhirnya. Karena alasan itu, tak mungkin ada orang yang akan mengganggu latihannya di hutan ini, setidaknya begitulah pikir Shadelva Ausley.

Ausley seorang pemuda luar biasa tampan yang berambut hitam panjang. Matanya hitam kecoklatan, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dan senyumnya menawan. Ia mengenakan baju tunic putih yang dihiasi bulu burung hitam di sekeliling kerah bajunya. Postur tubuhnya tinggi dan langsing, postur tubuh yang akan cocok sebagai seorang aktor. Dia membawa Ellongia, pedang legendaris yang panjangnya mencapai satu koma tujuh meter, sebuah pedang jenis samurai yang lebih panjang dari pedang pada umumnya.

Galrea masih bersinar terang menembus rimbunnya pepohonan ketika Ausley melatih ilmu pedangnya. Ia mengangkat Ellongia lurus ke depan dan menarik arus kekuatan mistess dengan konsentrasi yang luar biasa ke ujung pedang selama beberapa menit. Arus kekuatan mistess itu tidak berwarna namun bisa terlihat seperti gas yang tertarik masuk ke pedang Ausley. Kemudian dengan satu tarikan mantap ia mengangkat Ellongia tinggi ke atas dengan posisi ujung pedang menghadap ke bawah. Ia pun meneriakkan kata-kata yang kedengarannya mirip seperti sebuah mantra.

Anasi mistess!!

Duruth elventalus!!

Kemudian ia menusukkan Ellongia ke tanah.

Anavett ilshadun!!!

Sebuah bayangan hitam pekat tiba-tiba meluncur di atas tanah dengan cepat—bayangan yang memanjang dari bayangan tubuhnya sendiri secara tidak normal. Begitu bayangan itu meluncur, Ausley tak lagi melihat dengan matanya, melainkan dengan bayangannya. Mata Ausley seakan meluncur bersama bayangannya dan pandangannya tertuju pada sebuah pohon besar yang berada kurang lebih lima puluh meter di hadapannya. Tampaknya ia sedang berusaha melampaui rekornya sendiri yaitu empat puluh delapan meter.

Empat puluh…

Empat puluh satu…

Empat puluh dua meter terlampaui dan kemudian Ausley memejamkan matanya untuk berkonsentrasi pada tubuh yang ditinggalkannya, ia mengubah posisi kuda-kudanya. Ellongia tetap tertancap di tanah sementara Ausley mulai mengangkat kedua lengannya lurus ke depan secara perlahan seakan dia sedang mengangkat batu yang sangat besar seraya meneriakkan kata-kata mantra lanjutan,

Resshe, Gung hel Wrathii, Veres hel im Grette Sith!!

Kemudian tanahnya mulai bergetar, dan secara perlahan, dari sungai hitam pekat yang terbentuk dari bayangan itu, muncul sesuatu yang tajam mengkilap dan melengkung. Itu adalah sebuah sabit luar biasa besar yang menjulang tinggi ke angkasa dengan panjang nyaris tiga meter dan dipegang oleh sosok yang tak kalah mengejutkan. Ketika Ausley membuka matanya lagi, ia melihat melalui mata sosok tersebut, Wrathii, yaitu arwah orang mati yang bertubuh hitam besar dengan diselubungi jubah dan kerudung hitam dari atas ke bawah. Wrathii itu meluncur di atas bayangan hitam sambil mengangkat tinggi-tinggi sabitnya, siap untuk menebas apapun yang ada di hadapannya.

Empat puluh enam…

Empat puluh tujuh…

Empat puluh delapan meter pun terlampaui, dan Ausley tersenyum penuh kemenangan. Ia begitu fokus pada target yang sedikit lagi ia capai sehingga membuat ruang pandangnya menyempit. Ia tidak menyadari kalau ada seorang lelaki dan wanita sedang berjalan santai dari arah kiri—memasuki area serangan wrathii tanpa tahu bahwa beberapa detik lagi mereka akan terbelah dua, bersama dengan pohon besar di belakang mereka.

Kemudian si pria yang berambut putih menoleh, tepat pada waktunya untuk melihat pemandangan menakjubkan sosok hitam setinggi dua meter siap mengayunkan sabit yang bahkan lebih besar lagi ukurannya. Namun bukan hanya dia saja yang terkejut, Ausley juga sama terkejutnya atau bahkan lebih parah. Jantungnya serasa berhenti ketika dilihatnya wajah si pria berambut putih melalui mata Wrathii, wajah yang sudah lama dikenalnya, Elvaladin Dillend, teman baiknya sendiri.

Matanya terbelalak, Ausley berusaha keras mencoba membatalkan jurusnya atau paling tidak menggeser arah serangannya namun sia-sia, sudah terlambat.

Mulut Ausley terbuka ingin meneriakkan peringatan namun suaranya tak jadi keluar karena kejadian menakjubkan yang terjadi di depan matanya. Kejadiannya hanya berlangsung sepersekian detik ketika si pria bernama Dillend itu menunjuk ke angkasa dengan tangan kanannya untuk mengalihkan perhatian gadis di sebelahnya. Bersamaan dengan itu tangan kirinya mengayun dari belakang tubuhnya dan — entah dari mana kejadiannya begitu cepat — sebuah sabit megah yang tak kalah besar muncul begitu saja dari tangannya dan menebas Wrathii itu hingga hilang menjadi debu, tertiup angin. Sabit itu hilang kembali sama cepatnya seperti kemunculannya. Dillend pun meneruskan percakapannya dengan si gadis seperti tak terjadi apa-apa.

Pandangan Ausley gelap sejenak sebelum akhirnya kembali ke tubuh aslinya, namun begitu ia membuka matanya, ada sebuah pisau yang melesat ke arahnya dari Dillend. Ausley menjatuhkan dirinya ke belakang untuk menghindarinya, dan pisau itu menancap di pohon di belakang Ausley, dengan posisi tepat di atas kepalanya.

Ausley berkeringat dan jantungnya berdebar keras karena berbagai kejutan beruntun itu. Dengan susah payah ia bangkit dan terduduk lemas.

“Dia benar-benar mau membunuhku ya!? Aku kan tidak sengaja melakukannya, siapa suruh mereka kencan di hutan angker seperti ini!!” omel Ausley sambil menyeka keringat di dahinya. Sosok Dillend dan gadisnya sudah tidak terlihat lagi dari sini karena terhalang pepohonan.

Setelah puas mengomel, wajah konyolnya berubah serius. Ada perasaan kesal lain yang muncul, serangan wrathii-nya dapat ditangkis dengan begitu mudah oleh Dillend. Ausley memukul pohon disebelahnya dengan perasaan yang bercampur aduk, menolak untuk mengakui bahwa ia lebih lemah dari Dillend, teman baiknya sekaligus rival yang merupakan nithlom terkuat di seluruh Cielgris. Dillend bahkan mendapat gelar Elvaladin atau ksatria suci ketika baru berusia delapan belas tahun. Ausley sendiri disebut-sebut sebagai nithlom kedua terhebat setelah Dillend. Tahun lalu Ausley berhasil mendapat gelar Shadelva atau ksatria bayangan. Namun hal itu justru membuatnya tambah kesal, karena sekali pun nomor dua, perbedaan kekuatan mereka berdua begitu jauh. Ausley pun meninggalkan hutan itu dan berjalan menuju Cielgris sambil bergumam tentang tak ada gunanya berlatih.

Ia berjalan menyusuri galnus planea sambil melihat warna-warni pelangi di udara dan jumlahnya ada ribuan mungkin jutaan di kejauhan, di arah sekitar kota. Warna-warni tersebut semuanya berbentuk seperti aliran gas yang menuju ke bawah, dan dari kejauhan tampak seperti jutaan benang tipis yang turun dari langit, kemudian masuk ke berbagai peralatan di seluruh Surfassia ini. Itulah yang namanya aliran mistess, berasal dari lapisan mistess yang berada di antara lapisan awan dan lapisan variel. Lapisan mistess tersebut telah menjadi sumber energi yang begitu vital bagi kehidupan dan peradaban di atas Surfassia ini. Warnanya beragam sesuai warna elemennya dan berbeda pula kegunaan serta cara memprosesnya.

Kekuatan mistess tidak hanya digunakan dalam peralatan rumah tangga sehari-hari namun juga untuk memperkuat diri. Jenis mistess yang ini tidak berwarna dan merupakan energi senyawa makhluk hidup. Ketika seseorang makan dan minum, gizinya akan menjadi energi dalam tubuh kita untuk beraktifitas sehari-hari, namun secara perlahan energi tersebut menguap keluar dari tubuh dan menjadi lapisan mistess tak berwarna. Orang yang belajar ilmu bela diri akan berusaha menahan energi senyawa itu agar tidak menguap keluar dari tubuh dan dengan demikian menjadikan tubuhnya lebih kuat dan sehat. Namun beberapa orang memiliki kemampuan lebih, dan seperti halnya Ausley, mereka tidak hanya mencegah energi senyawa mereka menguap tetapi malah menarik kekuatan dari lapisan mistess tak berwarna itu, menjadikan tubuh mereka berkali lipat lebih kuat.

Ada banyak lagi kegunaan sampingan dari mistess ini, dan salah satunya adalah sebagai penunjuk arah. Arus warna-warni yang terlihat di udara itu sering digunakan oleh para pengembara yang tersesat untuk mencari kota terdekat, karena dimana ada arus mistess berkumpul, di sana pasti ada kehidupan yang menggunakan berbagai macam peralatan bertenaga mistess. Hal itulah yang sedang dilakukan Ausley, berjalan menuju sekumpulan besar arus mistess yang masuk ke dalam kota Cielgris.

Setelah berjalan lima belas menit, Ausley dapat melihat pintu gerbang kota Cielgris, namun kemudian ia melihat teman baiknya yang satu lagi, tertidur di bawah pohon colcotte besar, persis seperti di dalam ingatannya ketika mereka pertama kali bertemu tiga tahun yang lalu.

Your rating: None Average: 7 (5 votes)
dikirim serpentwitch 12 minggu 20 jam yang lalu
Tag: