updated ! mohon kritik yang pedas karena sedang belajar. mohon ajari teknik-teknik yang baik . trims .
"Model papan atas. Begitu gelarnya sekarang.
“Beliau sedang ada meeting dengan kliennya.”
Tut, tut, tut.
Dulu dia adalah balita yang akan selalu minta kugendong untuk menghindari suapan bubur dari bibi pengasuhnya dan kini dia adalah orang dewasa yang selalu meminta uluran tenggat waktu untuk kutemui.
--
“Siapa orang tuaku?”
“Apa aku anak hasil di luar nikah? Hasil perbuatan haram Mama?”
Aku terpaku pada posisiku, ikut menitikan beberapa butir air mata yang akhirnya membeku di pelupuk mataku.
“Kenapa akte kelahiranku berbeda?”
“Dinda, dengar Mama!” tanteku meraung.
“Apa lagi, Ma? Kalian tidak boleh mengaturku lagi.” Dinda membanting kopernya ke lantai kemudian diseretnya menuju garasi.
“Apa yang berbeda dari sebuah akte kelahiran? Kalau bukan kami, siapa lagi orang tuamu?” tanteku mengikutinya dari belakang.
“Aku tidak butuh orang tua yang selalu mengekangku!” Dinda lalu memasukkan kopernya ke mobilnya, setelah beberapa saat, dia telah memegang kemudi.
“Kami tidak mengekangmu!” Tanteku menahan Dinda melajukan mobilnya.
“Dan biarkan aku mengejar cita-citaku menjadi model!” Tanteku menghempaskan tubuhnya dari mobil pribadi Dinda.
Begitulah, saat itu adalah awal karirnya menjadi model, saat dia melepaskan keluarganya untuk mengejar mimpi-mimpinya.
--
“Sulit sekali melakukan janji temu denganmu.” Tuturku kala itu, sementara dia dengan anggun memesan coklat panas dan cake stroberi sebagai santapan siang kami kepada pelayan kafe yang kami kunjungi.
Dia tersenyum kemudian menyibakkan rambutnya yang panjang tergerai.
“Ada apa, Dhi?” suaranya lembut dan mengalun indah di telingaku.
“Ibumu sedang sakit. Apa kau tak berniat menjenguknya?”
“Apa aku harus melakukan itu?”
“....., hm.. Beliau selalu bertanya padaku, apa karirmu lancar?” tanyaku padanya.
“Seperti yang kau lihat. Aku masih baik-baik saja.”
Dia berubah, maksudku, penampilannya berubah, menjadi makin mewah tiap kali kami bertemu. Dia menjadi semakin istimewa pada tiap kabar berita yang bermunculan.
“Kau terlalu sibuk, bahkan untuk datang ke pesta pertunanganku.”
Dia tergelak kemudian menggeleng, “Aku lupa bahwa itu hari pertunanganmu.”
“Sewaktu kamu kecil, kamu sering bermain selendang di depan cermin.”
“Apa masa lalu selalu manis untuk diceritakan kembali?” begitu caranya menolak tegas niatku bernostalgia.
Lantunan musik Maywood menari-nari di udara, sebelum lirik-liriknya sempat bergaung dan memenuhi ruangan, Dinda mengangkat ponselnya.
Segera setelahnya, dia meminggirkan cangkir coklat panas yang tak disentuhnya sejak tadi. Lalu dia sibuk mengobrak-abrik tas merah jambunya yang berukuran mini, secarik kertas dan sebuah pena dia keluarkan, kemudian dia menuliskan sebuah nama dan beberapa digit angka.
“Oke, bilang padanya, sebentar lagi saya akan menghubunginya.” Satu kalimat mahal darinya, kuyakin dia tidak akan banyak bicara dengan lawan bicaranya di telepon. Sebagai saudara sepupunya yang mengenalnya sejak kecil, aku tahu betul sikap dinginnya itu.
“Maaf Dhi, aku harus segera pergi.” Setelah itu dia merapikan dompetnya, sebuah note mini, dan beberapa ponsel yang sempat dihamburkannya di kursinya.
“Lain kali kita bertemu lagi. Ingat bikin janji saja dengan Ana.”
“Ingat juga kunjungi Ibumu.” Sahutku cepat.
“Aku sibuk.” Dan dia kemudian pergi meninggalkanku.
--
“Beliau sedang keluar kota dengan kliennya.”
Tut, tut, tut.
Aku bahkan tidak menitip pesan untuknya bahwa hari itu Ibunya telah meninggalkan dunia untuk selamanya. Bukan hanya dia, asistennya pun terlalu sibuk untuk mendengar lanjutan kalimatku.
Dan begitulah, Ibunya dimakamkan tanpa kehadirannya.
Hari duka itu berakhir dengan satu pesan di ponselku, Ada apa Dhi? Aku sedang sibuk. Aku lupa bahwa aku masih menyimpan nomornya di ponselku saking jarangnya kami berhubungan.
--
Pagi harinya, ketika kucoba menghubungi balik ke nomornya, hanya sebuah nada sambung pribadi yang menjawab niatku.
Aku menghempaskan tubuhku di atas ranjang, memikirkan keputusan-keputusan bodoh yang telah diambilnya.
Siswa berprestasi yang tak melanjutkan kuliahnya hanya karena niatnya berkarir di dunia model. Gadis kecil nakal yang selalu suka becermin, berdansa di pekarangan rumah, dan mengumpulkan cerita tentang pria-pria yang mengidolakannya untuk dibagikan setiap pagi. Gadis kecil lugu. Dan gadis itu ternyata telah pergi digantikan sosok berbeda.
--
Sebuah panggilan mengejutkan aku dan lamunanku, “Hallo.. ada apa, sayang?”
“Hallo, sayang.. Aku senang kau baik-baik saja. Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu. Apa kabarmu? Ke mana kau selama ini?” Sahut Anita.
“Ada apa?” tanyaku parau, rasa kantuk masih menyergapku.
“Coba ambil koran pagimu.”
Aku turun dari ranjangku, mengusap mataku, kemudian berlarian menuju pintu gerbang rumahku.
Tiga koran, dua koran lokal dan satu koran nasional.
Sebuah berita utama mengejutkanku, ditambah empat buah foto berukuran besar.
“Hallo, sayang? Hallo?”
Aku tidak menyahut.
“Hallo, sayang? Kau masih di sana? Hallo..?”
“Baru tadi malam aku menerima pesan singkat darinya, Anita.”
“Hallo, sayang? Apa aku perlu ke tempatmu?”
“Beberapa minggu sebelumnya aku sempat bertemu dengannya di kafe.”
“Iya, Sayang, aku tahu. Aku ke tempatmu saja, ya?”
“Dia selalu sibuk karena ini?”
Aku lalu membanting ponselku. Aku mengumpulkan koran-koran yang tak pernah kubaca beberapa hari belakangan, aku berteriak memanggil pelayanku.
“Iya, ada apa, Tuan?”
“Di mana koran-koran minggu-minggu sebelumnya?”
“Di gudang, Tuan. Sudah saya rapikan, akan saya jual ke tukang kiloan.”
“Bawa ke sini, bantu saya.”
--
Semuanya seperti fragmen-fragmen buruk yang memilukan. Semuanya seperti absurditas dunia yang melayang-layang bersamaku. Aku seperti bermimpi.
Tunanganku datang, sementara aku dan pelayanku sibuk menggunting dan menyatukan artikel-artikel berbeda.
“Sayang, kau ke mana saja selama ini?”
Aku menoleh, menatap matanya yang bening. Aku ke mana saja selama ini?
“Aku selalu meneleponmu, aku mengirimimu pesan singkat, email-email tanpa balasan, aku mencarimu kemari, tapi Bi Riri bilang kau tak ada di rumah. Sudah berbulan-bulan.” Dia lalu memelukku.
Aku menatap bingung ke arah pelayanku yang membalasnya dengan tatapan yang sama. Apa aku baru saja mendengar bahwa selama ini aku menghilang tanpa jejak?
“Sayang, ada apa denganmu? Kau seperti kurang tidur..” dia lalu mengusap wajahku.
Dia lalu mendekapku, kepalaku perih, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Anita, sebenarnya apa yang baru saja terjadi?”
--
“Dinda sudah meninggal sebulan yang lalu.” Aku menatap kosong ketika dia memulai bercerita. Ingatanku tak menyimpan kejadian itu.
“Dia dibunuh.”, “Kemarin polisi menemukan identitas pembunuhnya. Maka aku suruh kau baca koran pagi ini, polisi masih merahasiakan identitas pelakunya. Mungkin saja kau masih peduli.” Lanjutnya sambil menggenggam tanganku.
“Aku masih peduli?” pikiranku menerawang jauh, aku tak memiliki ingatan apapun.
“Kau tidak pernah bisa kuhubungi selama beberapa minggu terakhir, kau menghilang setelah kematian Dinda. Sementara itu aku merawat Tantemu, dia juga rindu padamu.”
“Tante masih hidup?” tanyaku heran, karena kurasa baru kemarin aku menghadiri upacara pemakamannya.
Anita mengangguk sekenanya.
“Dinda meninggal?” tanyaku, aku hanya bisa mengulang kalimat yang dia sebutkan sebelumnya. Dia menatapku cemas, “Maksudku, bagaimana bisa dia meninggal? Bagaimana caranya meninggal?” lanjutku.
“Kecelakaan. Tabrak lari.” Jawabnya, “Bagaimana kau bisa lupa? Kudengar kau bahkan menyaksikan kematiannya.” Lanjutnya.
“Anita, ajak aku ke makamnya.”
“Adhi, Apa kau benar-benar lupa? Jenazah Adinda bahkan belum dimakamkan, jenazahnya masih diotopsi.” Jawab Anita dan seketika itu juga, duniaku berubah.
--
“Kau lama sekali. Kau membuatku menunggu, Dhi.”
Aku duduk di hadapannya, dia mengenakan gaun merah jambu yang kuberikan padanya di hari ulang tahunnya yang ketujuh belas.
“Maaf kalau begitu. Ada perlu apa? Tidak biasa-biasanya kau yang membuat langsung janji pertemuan denganku.” Ucapku heran.
“Aku akan meninggal, Dhi. Sebentar lagi.” Senyumnya nakal dan dia sempat mengedipkan kedua bola matanya seolah dia sedang bercanda.
“Kau bercanda.”
“Aku serius. Aku sudah memilih bagaimana caraku mati.” Jawabnya seolah dia berniat bercerita tentang kronologis prosesnya.
“Bagaimana caranya?”
“Kau tidak akan menyadarinya.” Jawabnya, kali ini nadanya begitu misterius.
“Bagaimana bisa?”
“Karena aku tidak akan mati dalam ingatanmu.”
“Kenapa hanya dalam ingatanku?” tanyaku penasaran.
“Karena aku mencintaimu. Kita akan mati bersama-sama.”
“Tapi aku sudah bertunangan...” jawabku, dan tubuhnya mengabur, hilang.
Hanya mimpi.
--
Jenazahnya beku di dalam freezer, ketika dikeluarkan, aku tidak menyangka itu dia. Seorang model berkelas yang selalu mengenakan desain busana teranyar.
Aku tidak mengingat apapun. Ketika aku dipanggil untuk menjadi saksi, aku hanya bisa beku di tempatku.
--
Beberapa minggu kemudian, sebuah nama beredar di koran-koran nasional, majalah-majalah infotaiment, hingga mulut-mulut penggosip di tiap acara arisan.
Aryo, nama itu. Seseorang yang dikejar untuk menjadi saksi utama.
Sebuah nama yang dituliskannya di secarik kertas, dengan beberapa digit angka terangkai dan dapat dikenali sebagai nomor ponsel.
Polisi sibuk mencari tempat keberadaan pria itu sama seperti aku begitu sibuk mencari secarik kertas yang mungkin tertinggal di dalam tas mini merah jambu milik Dinda.
--
Aku mendapatkan nomornya dari secarik kertas yang lusuh dan terlipat sembarangan.
“Hallo, Dhi? Ada apa?” sahut pemilik dari nomor yang kuhubungi.
“Siapa anda? Bagaimana saya bisa mengenal anda? Anda Aryo, kan?” tanyaku.
“Kamu sudah lupa siapa aku? Padahal kalian pinjam jasaku, Dhi?”
“Jasa apa?” tanyaku tak mengerti.
“Membunuh kalian, tapi ternyata hanya Dinda yang mati.” Jawabnya tak tanggung-tanggung. Kemudian, segalanya berakhir, aku tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
--
Aku mendekam di sebuah tempat, tanpa ingatan akan apa yang baru saja terjadi. Baru kemarin aku dikunjungi oleh Anita. Beberapa minggu sebelumnya Tanteku datang membawakan sebuah parsel buah segar.
Katanya tidak ada kejadian apapun yang terjadi padaku selain aku tertidur di sebuah ranjang tanpa bisa bergerak, tanpa bisa bicara, selain aku diceritakan tentang kejadian-kejadian di luar sana. Selain aku menerima bahwa aku memang telah mati bersama Dinda.
dikirim panah hujan 7 minggu 6 hari yang laluTag:







