Task Force : Stradivarius ( Episode Sembilan-Dua)

8
points
"

Bingung dengan istilah yang ada??.. ?_?

Mungkin wikipedia bisa membantu!.. ^_^

"

“Apa?!.. Latihan fisik dua jam?!.. Memangnya apa kita?.. Taruna?!” protes Oist kesal.

“Aaah!.. Setidaknya kita bisa menikmati masa nostalgia ketika kita masih daun muda.” Seloroh Ames santai.

“Kalian lihat tidak, ketika si Wilkinson dan keenam pelatih lainnya memandangi kita seperti memandangi seorang kadet yang baru saja masuk pendidikan!” gerutu Oist.

“Tutup mulutmu dan segera tidur, besok pagi-pagi sekali kita harus lari pagi.” Ujar Ames sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang felbed-nya dan mulai memejamkan matanya.

“Hey, Ames!.. Salahsatu ciri dari komandan unit yang baik adalah mendengar keluhan rekan-rekannya!”

“Untukmu itu pengecualian.” Jawab Ames singkat.

Oist hanya bisa mendengus kesal, dan mengganti seragamnya dengan pakaian tidur.


PRIIIIIIIITTTTTT!!!!

Suara peluit yang memekakkan telinga membangunkan Stradivarius yang sedang asyik-asyiknya tertidur lelap.

“Bangun! Bangun! Dasar kalian kumpulan prajurit tidak berguna!!” bentak Kolonel Wilkinson dengan seragam trainingnya.

Ia terus meniupkan peluitnya sampai seluruh Stradivarius benar-benar bangun, Ames dan yang lainnya langsung bergegas bangkit dari tidurnya, merapihkan tempat tidur mereka, dan berdiri tegap di depan lorong barak.

Kolonel Wilkinson memperhatikan wajah-wajah anakbuah Komandan Piccard yang masih bermuka bantal.

Kusut, bermata kemerahan, dan masih terkantuk-kantuk dalam berdirinya karena nyawa mereka yang masih asyik terbang kemana-mana.

“Prajurit, bersiaplah untuk latihan fisik!” umum Kolonel Wilkinson.

“Tapi ini masih jam empat pagi...” jawab Ames yang masih mengantuk itu.

Kolonel Wilkinson mendelik tajam ke arah Ames.

“Beraninya kau melawan komandanmu. Push-up tujuh puluh kali!” suruh Kolonel Wilkinson kepada Ames yang mencoba melawan perintahnya.

Ames langsung melakukan push-up sesuai dengan perintah dengan menggerutu.

“Push-up delapan puluh kali, karena kau menggerutu!”

Mimpi terburuk Ames dimulai pagi itu juga, ia melakukan push-up sembari menghitung jumlah push-up-nya.

Namun, pada hitungan ke limapuluh, Ames mulai kehabisan napas. Kolonel Wilkinson bisa mendengar Ames mulai kepayahan menghitung.

“Apakah ini yang disebut komandan unit, heh??” tanya Kolonel Wilkinson.
Ames tak menjawab pertanyaan sang kolonel, ia tetap terus push-up, “Lima-satu.. Lima-dua... Li—lima-tiga!..”

“Berdiri!”

Ames langsung berdiri, sembari berusaha mengatur napasnya yang sudah sampai di pangkal tenggorokannya, keringat bercucuran.

Kolonel Wilkinson tersenyum puas, puas akhirnya ada yang bisa ia kerjai pagi-pagi buta ini.

“Cuaca cerah, bagus untuk lari pagi! Kalian Cuma punya waktu lima menit untuk berganti pakaian training, kita bertemu di lapangan upacara tadi sore!” ujar Kolonel Wilson yang mulai berlalu meninggalkan barak.

“Keparat..” kutuk Ames yang masih berusaha mengatur napas.

“Apa-apaan ini?!.. Kalian benar-benar seperti kumpulan manula!!.. Ayo, lari!”

Keempat Stradivarius itu mulai kepayahan ketika mereka harus lari pagi sepanjang duapuluh kilometer, sedangkan Kolonel Wilkinson begitu semangat menyumpahi mereka dengan sumpah-serapah paling menyayat hati mereka sembari lari-lari kecil disamping mereka.

“Matahari sudah mulai di atas kepala kalian masih belum bisa sampai di ujung jalan! Tentara macam apa kalian?! Komandan kalian memang punya selera rendah dalam memilih prajurit!”

Collosus jatuh terduduk di tengah lapangan dengan napas tersengal-sengal, sedangkan Lamoreux tergeletak di atas rerumputan, sembari berusaha mengatur napasnya dan mengelap wajahnya yang merah padam dan penuh keringat itu dengan lengan baju training-nya.

“E—empat puluh kilometer!.. Me—mengerikan!” ujar Lamoreux dengan suara terpatah-patah.

“Kolonel keparat itu benar-benar keparat!.. Dia punya stamina sebesar itu!” seloroh Ames sembari mengusap wajahnya yang jadi genangan air keringat itu.

“Dia bukan orang biasa, tadi malam aku sama sekali tidak merasakan kehadirannya.” Ujar Collosus.

“Ayo, kita harus cepat-cepat mandi, kita Cuma punya waktu lima belas menit untuk mandi dan sarapan!” desak Oist yang masih berusaha mati-matian untuk berdiri dengan kedua kakinya yang hancur-lebur.

Seorang Sersan Pelatih datang menghampiri mereka dengan membawa pesan, “Prajurit Ames, anda diperintahkan untuk menghadap Kolonel Wilkinson.” Ujar sang Sersan Pelatih.

Ames hanya bisa terdiam dan memandangi ketiga rekannya dengan benak penuh dengan tanya.

“Setelah melihat kemampuan fisikmu tadi dan juga mengingat standar kemampuan fisik seorang komandan unit yang menjadi pakem Area-49, saya simpulkan bahwa kemampuan fisikmu benar-benar payah!.. Apalagi ditambah dengan kebiasaan buruk merokok yang tak pernah ada habisnya seperti asap lokomotif!

Saya memutuskan untuk memberikan latihan fisik tambahan untuk mengembangkan kembali paru-parumu yang sudah diracun dengan nikotin sialan itu, sampai standar kemampuan fisik berhasil diraih olehmu!” cecar Kolonel Wilkinson.

Ames hanya bisa memejamkan matanya sejenak ketika ia mendapatkan siksaan tambahan dari Kolonel Wilkinson.

“Saya akan memberikanmu latihan fisik tambahan setelah materi terakhir nanti malam! Waktu efektif adalah setelah materi terakhir hari ini juga!”

“Pak, ijin untuk berbicara, Pak.” potong Ames.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan, apalagi kompromi mengenai hal seperti ini! Mengerti?!” tolak Kolonel Wilkinson.

“Siap, Kolonel, Pak!” jawab Ames terpaksa.

Jam menunjukkan pukul 2100, dimana ketiga anakbuahnya sudah bersiap-siap untuk beristirahat, sedangkan Ames sedang sibuk memacu energinya untuk mengikuti kursus tambahan sang kolonel.

“Seorang komandan unit harus bisa lebih baik dan lebih tangguh dari anakbuahnya! Kau adalah seorang komandan unit, tapi kau belum pantas menjadi seorang komandan unit, dan saya akan membuatmu menjadi orang yang pantas disebut sebagai seorang komandan unit!” cecar Kolonel Wilkinson.

Sedangkan Ames terus menghitung jumlah push-up yang sudah ia lakukan, walaupun napas terakhir sudah berada di pangkal tenggorokannya untuk meraih standar sang kolonel—seratus kali push-up!

“Four-man-patrol, adalah konsep terdasar dan terkecil dari rantai komando yang pernah dikembangkan dalam pasukan khusus.

Four-man-patrol biasanya dipakai pada misi pengintaian, penyusupan ke belakang garis pertahanan musuh, black-ops, dan lain sebagainya.” Papar Sersan Pelatih Isaac Mendez, Instruktur Konsep Four-Man-Patrol Dasar.

Ia pun dengan gesit menggambarkan konsep four-man-patrol di atas papan tulis dengan spidol hitam, menggambar empat lingkaran dan tak lupa untuk menggambarkan arah panah di setiap lingkaran tersebut.

“Four-man-patrol memiliki taktik pertahanan empat arah, yaitu ke depan, kiri-kanan,dan belakang.

Pada konsep di lapangan, biasanya yang barisan yang mengarah ke depan dan ke kiri adalah rifleman, sedangkan yang ke kanan adalah operator senapan mesin atau grenadier, dan yang ke belakang adalah bisa rifleman bisa DM..”

Ketiga Stradivarius menyimak pelajaran dari Sersan Mendez dengan penuh perhatian, sedangkan sang komandan unit, sedang asyik mendengkur di barisan belakang.

Spidol sang sersan mendarat tepat di kepala Ames, sehingga membuat Ames terkesiap dari tidurnya.

“Prajurit Ames, jangan berani-beraninya anda tidur pada saat saya mengajar!” tegur Sersan Mendez dengan mata melotot.

“Si—siap!” jawab Ames gagap.

Oist dan Lamoreux tertawa cekikikan ketika melihat sang komandan unit ketiban apes.

“Mampus!..” bisik Oist kepada Ames sembari menyunggingkan senyuman nenek sihirnya.

Ames hanya bisa kembali menyimak pelajaran dengan wajah ditekuk, walau tubuhnya masih kelelahan karena tadi malam harus menjalani kursus tambahan Kolonel Wilkinson.

Suara letusan senjata api terdengar membahana dan bersahut-sahutan di lapangan tembak terbuka Area-49 yang keluar dari senapan-senapan M4RIS dan M16A2 yang dipegang oleh Stradivarius.

Sersan Pelatih Peter Johanson, Instruktur Menembak Beregu Dasar, dengan teliti memperhatikan setiap tembakan yang dilepaskan oleh setiap anggota Stradivarius.

“Titik vital, titik vital!.. Jangan membuang amunisi dengan tembakan tidak akurat!.. Kecuali sedang melindungi kawan atau menekan musuh, dalam dua hal itu juga kalian juga harus bisa menghemat amunisi, apalagi ketika kalian sedang tipis persediaan!..” ujar Sersan Pelatih Johanson kepada keempat anak didiknya yang sedang asyik menembak.

Sersan Pelatih Johanson terpukau dengan kemampuan menembak Lamoreux, setiap peluru-peluru yang keluar dari laras senapan M16A2-nya, semuanya mengarah di dada, leher, dan kepala.

“Luar biasa tembakanmu, prajurit!.. Sniper?” puji Sersan Pelatih Johanson.

“Terima kasih, Pak. Betul, saya seorang sniper.” Jawab Lamoreux sopan.

“Posisi menembakmu benar-benar kokoh, benar-benar ciri-ciri seorang sniper. Biasakan menggunakan senapan semi-otomatis, karena disini anda belajar menjadi seorang DM.” Ujar Sersan Pelatih Johanson.

“Siap, Sersan Pelatih, Pak!” jawab Lamoreux.

Your rating: None Average: 4 (2 votes)
dikirim AkangYamato 18 minggu 3 hari yang lalu
Tag: