Seisi gua itu langsung kuobrak-abrik. Perlawanan mereka seakan tak berarti sedikitpun. Selain mayatku yang tergantung, aku rela menggebrak, mencabik-cabik, bahkan menggerogoti apapun termasuk Leaf si serigala penjaga kepercayaan kakek dukun keparat itu sempat kupatahkan kaki belakangnya. Perabotan dan bahan mentah untuk keperluan mistiknya kupecahkan. Obor sampai kulempar ke arahnya sampai janggutnya terbakar membuatnya kocar-kacir. "Ampun! Ampun! Apapun asalkan jangan kausakiti aku!" pekik si kakek dalam jambakan cakarku.
Read more (651 words)
"Kalau begitu, kembalikan aku ke dalam tubuhku yang kaupasung di sana!" balasku menyeringai menggoyangkan kepalanya agar dia bisa melihat mayat lemas di tembok yang di dadanya bertandakan bulan sabit.
"Ampun! Aku tak bisa!" balasnya.
"Grrrr...!!" Seringaiku kupertegas. Kulebarkan pipiku lalu kubuka mulutku perlahan-lahan menunjukkan gigiku yang kalau kupikirkan berarti dengan tubuh begitu, aku pasti punya banyak taring. Menjuntailah air liurku, menetes dari gusi dan lidahku. Aku senang itu membuatnya ciut. Tetapi jawabannya tetap sama. Dia hanya mengatakan alasannya dan itupun aku tidak begitu mengerti.
"A... Akan kukatakan! Tubuh yang kautempati ini adalah Lycan hasil percobaanku yang pertama yang beberapa waktu lalu diburu dan dibunuh oleh petualang yang lewat!" tuturnya panik. "Aku hanya hendak membangkitkannya kembali dengan menggunakanmu sebagai tumbal, karena dia adalah peliharaanku yang paling kusayangi. Tapi yang terjadi malah kau yang terkurung di dalam tubuh itu..."
"Apa kau pikir itu bisa menghiburku?" tanyaku meremat jubahnya. "Kalau kau tak bisa melakukan apa-apa, maka akupun takkan merasa rugi untuk membunuhmu dengan taring-taring ini!"
"Hiyaaa!!" kakek itu menjerit.
Kubuka mulutku lebar untuk membocorkan lehernya. Tetapi mataku tak sempat membaca kalau dia telah menikamkan sebuah pisau yang dibuat dari tanduk masuk ke dalam perutku di sebelah kanan. Aku terdiam, masih mencekiknya. Kakek itu terkekeh senang melihat reaksiku. Padahal aku justru takjub karena pisau itu hanya berasa sengatan seekor semut. Dia lepaskan begitu saja pisaunya. Sungguh bodoh! "Tarik nafas terakhirmu, Tua bangka!!" seruku.
Kubenamkan kuku-kukuku ke dadanya. Di dalam badannya, terasa organ dalamnya begitu lunak dalam genggamanku. Baru sebentar kutatap matanya membelalak, kutarik tanganku lalu membantingnya hingga dia terkapar di sudut gua. Kulirik tiap-tiap jemariku serasa lengket karena darah si dukun. Hasrat yang aneh menguasaiku. Sepertinya ingin tersenyum begitu melihat cairan merah gelap itu keluar dari perut si dukun.
"Hrrgh!!" aku menggeram. Tentu. Aku pernah membaca di sebuah buku. Memang Lycan adalah makhluk haus darah dan begitulah yang kurasakan ini. Tetapi seumur hidupku -- paling tidak sampai aku berpindah ke dalam tubuh ini, aku seorang manusia yang masih tahu bahwa itu adalah darah segar dari manusia. Aku beruntung masih punya kesadaran, sehingga aku tak sampai terbayang bagaimana rasanya mencicip daging bangkai si kakek di lidahku ini. Ajaib, memang. Untukku dulu, aku sudah merasa mual mencium bau darah. Dan dalam wujud ini, aku jadi bisa menahan jijik.
Kuamati gerak-gerikku pada saat mengamuk, membuat seisi gua porak poranda. Lebih kacau dari sejak kubuka mataku pertama kali di tempat itu! Jauh lebih berantakan! Bau-bau yang bertebaran di udara ternyata memang tidak hanya darah. Ramuan beraroma tengik, dan potongan-potongan bagian-bagian tubuh binatang dan serangga ikut bercampur karena bahan-bahan itu tak lagi ada di tempatnya karena terbawa amukanku. Setelah sebentar kutatap tempat itu nanar, aku baru jelas. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku mencari adakah lorong yang bisa menuntunku sampai jalan keluar nampak?
Eh! Tunggu dulu! Kalau hanya sebatas keluar mungkin mudah mencarinya. Apalagi kini aku adalah Lycan. Bukan masalah untuk mengeruk sendiri dinding gua hingga terbentuk lorong baru untukku lewat.
"Iya juga..." gumamku menatap tubuhku sendiri. "Cih! Semua gara-gara ulah jahil seorang penyihir!"
Aku mondar-mandir mencari-cari sesuatu yang bisa menutup wujud mengerikan ini. Tak ada semacam baju ataupun kain. Kubongkar setiap perlengkapan si dukun, hanya ada alat meracik yang sudah busuk yang terdiri dari mangkuk pengulek. "Aku tak harus menguliti serigala ini, bukan? Aku tidak pandai menenun!" keluhku mengangkat mayat Leaf dengan bingung lalu membuangnya ke dekat racikan yang tumpah becek di lantai.
Aku terus mencari. Tak sadar aku juga mengendus-endus seperti anjing. Tak apa-apa. Anggap saja gaya hidup baru dari hidup yang baru juga.
Aku kembali memperhatikan bangkai si dukun. Akhirnya kuputuskan untuk menjarah pakaiannya. Bernodakan darah, tetapi ternyata pada jubah itu ada tudung yang bisa membantu menyamarkan wajahku yang bermoncong. Kusembunyikan saja ekorku ke dalam jubah itu secara paksa. "Aaiee..." Tetapi aku selalu merasa tak tahan mau mengerakkannya kembali tiap kali berhasil kukekang di belakangku.
Mulailah aku berangkat mencari jalan keluar.
deskripsinya oke bung. imajinasimu kena dan nyampe ke penbaca. cuma aku masih belum bisa membayangkan exactly bentuk serigala itu, dia bisa berdiri juga kah, seluruh tubuhnya penuh bulu kah..
but, bikin penasaran :D seep =D>
Wow. cerita yang hebat. Rasanya jadi kayak ngeliat si manusia serigala ngobrak ngabrik kamar didepan mata sendiri.
Yang terasa kurang mungkin adegan pembunuhan si dukun aja. Tadinya aku kira dia masih hidup ato agak sekarat gitu. Ternyata langsung mati ya?
Ato mungkin kamu cuma ga pengen jadi terlalu sadis aja ya? hehehe
Sisi keanehan pada diri si aku itu kurang diperdalam.
Gimana coba yang terasa saat kamu bangun dan menjadi orang lain?
emosi, biologis dan pandangan ke sekitar
lanjut!
Hoo. Adegan di sini sangat menarik perhatian. Lalu apa selanjutnya sekarang? Untuk sejauh ini segalanya cukup seru.
Berjuanglah! Ayo!
Luar biasa deskripsi kekerasan dan kesadisannya, but jangan terlalu obral violence n selalu inget alur cerita, hehe.. :)
hehe... cerita singkat yang brutal dan berdarah. Mungkin ada beberapa struktur kalimat yang perlu dibenahi agar lebih enak dibaca.
Yowez, ditunggu lanjutannya, n kl sempet silakan mampir dan baca novel fantasy ku yg berjudul Felgirth ^^.
Oh, ternyata begitu ya. Deskripsi keganasan dan kebrutalan yang cukup bagus. Ditunggu lanjutannya ...^^