Anima - At The End of World

Untuk kesekian kalinya Fana menemukan lelaki itu duduk di tepi pagar pembatas di atas gedung. Rambutnya yang kelabu bergerak tertiup angin begitu juga jubahnya yang hitam. Dengan tatapan kosong lelaki itu memandangi sisa-sisa reruntuhan kota yang terlihat dari tempatnya duduk.

"Uh Pagi!"

Lelaki itu menoleh, memandangi Fana lekat-lekat lalu kembali berbalik seakan-akan ia tak tertarik dengan keberadaan Fana.

"Aku sudah mendengar tentangmu... Anima."

"Lalu apa?"

Lama Fana terdiam tanpa menjawab pertanyaan Anima. Ia kemudian berjalan mendekati pagar pembatas lalu berdiri di samping Anima memandangi sisa-sisa apa yang dulu adalah sebuah kota.

"Menyedihkan bukan?"

Anima menganggukkan kepalanya.

***

Walaupun kegelapan tiba
Tak akan ku berduka
Karna tak kan pernah ada
Malam yang slamanya

Pagi kan menjelang
Surya kan menjulang
Maka truslah bernyanyi riang
Menyambut hari yang kan datang

***

Fana mengakhiri lagunya sambil menarik nafas panjang. Angin sepoi bertiup menerbangkan topi yang dikenakan Fana, namun sebelum ia terbang jauh, Anima mengulurkan tangannya menangkapnya.

"Ah terima kasih..."

"Topi itu milikmu?"

Fana tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Ia lalu mengenakannya kembali.

"Unik bukan? Mirip topi penyihir hanya saja memiliki dua puncak. Aku menemukannya ketika berkunjung ke rumah nenekku... dulu... sebelum makhluk-makhluk itu datang. Ia bilang benda ini milik neneknya--nenek buyutku, namun ia memberikannya padaku."

"Begitukah?"

Wajah Anima tiba-tiba saja berubah lembut dan Fana nyaris berpikir ia melihat senyuman di sana.

"Apa kau masih memburu makhluk-makhluk itu? World Eater?"

Anima menggelengkan kepalanya.

"Begitukah? jadi kurasa kami harus berusaha sendiri kali ini."

Fana kembali terdiam.

Bermula dari sepuluh tahun yang lalu, secara tiba-tiba sebuah kota menghilang ditelan kegelapan. Lalu dari sana bermunculan ribuan makhluk besar kecil yang pada akhirnya di kenal dengan nama World Eater. Berwujud bagaikan monster dalam komik dan cerita-cerita fiksi para World Eater memakan setiap manusia yang mereka temui.

Dalam waktu empat tahun, populasi manusia di benua tempat kota yang ditelan kegelapan berada berkurang sampai tinggal setengahnya, namun dalam jangka waktu itu, dengan bantuan dari 'Icognito' manusia mulai bisa melakukan perlawanan.

Kemenangan. Itulah yang dipikirkan setiap orang ketika akhirnya mereka berhasil menekan laju para World Eater kembali ke Null City (sebutan untuk kota yang ditelan kegelapan), ketika dari dalam kota itu tiba-tiba saja bermunculan sosok-sosok raksasa kelabu.

Bagaikan para Jotun dalam legenda Ragnarok, sosok-sosok raksasa itu (Celestial World Eater) dengan mudah membalik arus pertempuran. Dalam waktu satu tahun, benua tempat Null City berada telah kosong sama sekali dari keberadaan manusia.

Lalu selama dua tahun tak ada tanda-tanda para World eater akan meninggalkan benua itu. Manusia kembali berusaha mengembangkan cara untuk mengalahkan para World Eater. Mereka berhasil tentu saja namun di saat yang sama, kegelapan yang tadinya hanya menyelimuti Null City telah tumbuh sampai seluruh benua tenggelam di dalamnya.

Fana tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar nyayian riang burung-burung kecil. Ketika ia menolehkan kepalanya, tampak olehnya beberapa ekor sedang bertengger di kepala dan pundak Anima. Fana kembali tersenyum.

Tiba-tiba terdengar ledakan di kejauhan. Burung-burung kecil itu terbang ketakutan. Sementara wajah Fana berubah tegang, Anima kembali memandangi reruntuhan kota di hadapannya.

"Maaf tapi aku harus segera pergi."

Fana berbalik, namun baru saja ia melangkahkan kakinya sebilah pedang menyentuh lehernya. Pedang itu milik Anima.

"..."

"A-Anima... tolong singkirkan benda itu dari leherku."

"Untuk apa?"

"Eh?"

"Untuk apa kalian melawan?"

"Apa maksudmu Anima?"

"Pejamkan matamu..."

Fana memejamkan kedua matanya dan ketika ia kembali membukanya, ia sudah tidak berada di tempat ia sebelumnya berada. Saat ini ia seakan berada di sebuah ruangan tanpa batas yang seluruhnya di liputi kegelapan. Di belakangnya Anima berdiri sambil memegangi pundaknya (pundak Fana).

"Kau lihat itu?"

Tentu saja Fana bisa melihatnya. Di hadapannya sesosok raksasa berwujud seorang gadis berdiri dengan sebuah sabit di tangannya. Di hadapan sosok itu tampak sebuah kerangka bola dunia raksasa. Setiap beberapa saat entah darimana sebuah kepingan kecil kristal muncul kemudian menempel pada kerangka bola dunia rakasa tersebut. Saat itulah Fana menyadari apa yang di lihatnya.

"Ini tidak mungkin..."

Sebuah cahaya terang menyilaukan mata Fana, mengembalikannya ke tempat ia berada sebelumnya. Nafas Fana terengah-engah, keringat membasahi seluruh tubuhnya, kedua kakinya bergetar hebat sehingga tanpa sadar ia jatuh terduduk. Anima yang berdiri di hadapannya memandanginya dengan tatapan kasihan.

"Kau sudah mengerti..."

Fana tahu tak ada yang bisa ia lakukan. Ia juga tahu tak ada yang bisa dilakukan bahkan oleh seluruh manusia untuk menghentikan apa yang akan terjadi. Keputusasaan perlahan merayap memasuki hatinya.

Tapi tiba-tiba ingatan-ingatannya akan apa yang telah ia alami selama ini bermunculan dalam benaknya. Pertempuaran-pertempuran yang telah ia lalui, orang-orang yang ia temui, orang-orang yang meninggalkannya, lalu orang-orang yang ia kasihi, semuanya bermunculan seakan-akan ia kembali mengulangi semua masa-masa itu.

Hingga pada akhirnya muncul di benaknya ingatan akan seorang gadis. Fana yakin ia sama sekali tak pernah bertemu dengan gadis itu, tapi entah kenapa rasanya ia sangat mengenalnya. Gadis itu memandanginya dengan penuh kasih sayang, sebuah senyuman tampak di wajahnya samar-samar ia bisa mendengar apa yang di ucapkan gadis itu. Lalu entah bagaimana sebuah kalimat meluncur dari mulut Fana.

"Aku takkan menyerah..."

Anima terdiam mendengar kata-kata tersebut. Fana kembali menguasai dirinya maka ia pun berdiri lalu tersenyum. Sebuah semangat muncul di dadanya dan ia pun mengulangi apa yang tadi ia ucapkan, kali ini lebih tegas.

"Meskipun demikian, Aku takkan pernah menyerah! Bukan untuk siapapun tapi untukku sendiri."

Tanpa di sangka-sangka Anima tersenyum. Fana hampir mengira ia bisa melihat sepasang sayap muncul di kedua pundak Anima ketika tubuh Anima perlahan melayang di udara.

"Kalian benar-benar makhluk yang dicintai Tuhan."

"Apa maksudmu?"

"Kau benar. Ini bukanlah akhir dari dunia. Kejadian ini telah berulang beberapa kali, namun selalu saja ada orang-orang yang berhasil melewatinya."

Perlahan-lahan tubuh Anima memudar tapi wajahnya masih saja terus tersenyum. Anima melayang menghampiri Fana lalu sebelum tubuhnya benar-benar menghilang diciumnya kening Fana lalu dengan lembut ia berbisik.

"Berjuanglah... dan hiduplah..."

"Jangan... kumohon... jangan pergi..."

Tubuh Anima menghilang. Hanya jubahnya yang melayang tertiup angin. Di hadapan Fana kini seorang gadis tergeletak tak sadarkan diri. Di samping gadis itu tertancap pedang yang tadi di bawa oleh Anima.

Baru saja Fana menghampirinya, sang gadis membuka kedua matanya. Melihat wajah Fana, gadis itu tersenyum lemah.

"Kenapa kau menangis?"

"Debu..."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer mailindra
mailindra at Anima - At The End of World (10 years 36 weeks ago)
80

Ceritanya lumayan. Tapi endingnya aneh. Beneran prolog? Btw deskripsi monsternya kurang jelas.

Writer hirokakkuen
hirokakkuen at Anima - At The End of World (11 years 5 weeks ago)
80

ceritanya tentang apa neh? lanjutin dong kayaknya menarik, emosinya statis yah. jadi ingat cerita kingdom hearts...

Writer neko-man
neko-man at Anima - At The End of World (11 years 5 weeks ago)
80

ini prolog ya..?

Writer Alfare
Alfare at Anima - At The End of World (11 years 6 weeks ago)
80

Um... uh, ada lompatan cerita ya? Tapi seru kok. Singkat dan seru.

Hooo, adegan akhir dunia ya? Yang pertama terbayang di kepala saya entah kenapa Kingdom Hearts. Hmm, apa kaitan Fana dengan semua tokoh yang lain?

Yang kurang cuma bahan-bahan editan yang biasa.