KRITIKAN

44
points

KRITIKAN

Paung, mahasiswa UI yang menolak setengah mati penyaluran dana Bantuan Langsung Tunai (BLT). Kali ini ia sedang liburan di desanya, lalu menyempatkan diri bertamu ke kediaman salah satu pejabat pemerintahan daerah. Pertanyaan berseliweran dibenaknya yang tak lagi logis, siap memojokkan pejabat tersebut. Fakta-fakta telah dikumpulkannya secara swadaya, katanya aspirasi kaum bawah yang tertindas.

“Bapak yakin dana BLT telah sampai ke tangan yang berhak?” tanya Paung tegas. Ia meletakkan gelas kopi yang baru dicecap isinya.

“Tentu saja saya yakin sekali,” Jawab Pejabat itu bangga. Ia menyulut sebatang rokok yang tadi dipegangnya. Kemudian, ia menenggak kopi dari gelas keramiknya sambil menatap Paung angkuh. “data yang saya miliki tidak pernah salah, Dik!”

Dua hari lalu, dana BLT sudah dicairkan dan langsung dibagikan di Kantor Kelurahan. Besarnya dana BLT sesuai dengan imbauan pemerintah pusat, 300 ribu rupiah, jadi tak ada pemotongan sepihak oleh kelurahan.Hal itu diketahui Paung, setelah mengecek berkas laporan di ‘lapangan’.

Paung menyalakan korek apinya, terpercik terang bersambut sebatang rokok ‘A Mild’. Asap mengepul, membentuk kabut putih kecoklatan setipis sutera, tepat dihadapan wajah dingin Paung. Ia mengeluarkan secarik kertas dari tas ranselnya, lalu diletakkan telungkup di atas meja. Ia tersenyum. Filter rokok kembali bertemu lipatan bibirnya, menuntaskan cita rasa arabika kental yang bermain di lidahnya.

“Saya hargai kerja keras Bapak,” Paung kembali menghisap rokoknya dengan satu tarikan panjang. “hanya perlu beberapa perbaikan saja.”

“Maksud Adik… ada beberapa kesalahan, begitu?!” Tanya Pejabat itu dengan nada protes. Alisnya terangkat. Matanya nyalang. Bibirnya tertutup kepulan asap rokok yang menyerupai wedus gembel.

“Maafkan saya, Pak. Saya tak bermaksud mengoreksi pekerjaan Bapak,” Paung menetakkan abu rokoknya ke dalam asbak. “tapi berusaha memberikan masukan pada Bapak selaku pamong desa.”

Pejabat itu membekukan diri mendengar perkataan Paung. Tak ada sepatah katapun yang terburai, pejabat itu merasa dialah yang bertanggung jawab, hingga dia harus berhati-hati dengan jawabannya. Pejabat itu hanya menarik lembaran-lembaran alis tipisnya, seakan menantang Paung untuk membuktikan perkataannya.

“Mari kita lihat lembaran ini, Pak. Ini saya dapat dari Parjan, juru tulis kelurahan.” Imbuh Paung, tangannya menyodorkan kertas yang tadi diletakkan di atas meja.

Pejabat itu tak berkomentar apapun, membuat kharisma yang terpancar makin menggidikan Paung. Dia menyambut kertas yang disodorkan Paung, dengan tangan kanannya. Lalu mengambil kaca mata yang setia membantunya membaca, maklum mata sudah mulai rusak kalau sudah dimakan usia.

“Tolong Bapak lihat 50 urutan pertama,” Paung meniupkan asap rokoknya pelan. “Apakah bapak mengenalnya?!”

“Ya, saya kenal!”

“Apa maksud Bapak dan pamong-pamong lainnya?!” tanya Paung memburu.

“Tidak ada maksud apa-apa?”

Paung terperanjat.

Dengan santainya Pejabat itu mematikan rokok kreteknya. Tak ada sedikitpun ekspresi diwajahnya. Tak ada riak emosi dalam bahasa tubuhnya. Tak ada gelombang ketakutan dalam napasnya. Semuanya serba tenang tanpa rasa bersalah.

“Yang pasti, dana itu sudah tersalurkan.” Imbuh Pejabat itu.

Paung langsung dirundung kekecewaan.

“Tapi, kenapa keluarga Bapak dan pamong-pamong yang lain selalu di dahulukan.?!” Paung mengangkat kedua tangannya, tanda ketidak setujuan. “Bukankah ada orang-orang yang lebih berhak? Seperti: Mbah Paijo, Pak Untoro, Pak Darsikin, atau Bu Aminah.”

“Tapi mereka belum terdaftar?!”

“Tidak terdaftar? Bukankah mereka penduduk pribumi desa ini? Lalu, daftar mana lagi yang Bapak gunakan?!” Paung melempar salinan KTP keempat orang tersebut, tepat kehadapan pejabat itu. Nafasnya memburu penuh kegeraman.

Pejabat itu tak menjawab, dia hanya terdiam.

“Apakah mereka kurang miskin jika dibandingkan keluarga bapak yang ada di daftar itu?” Paung kembali bertanya, kali ini lebih bernada sindiran.

“Bukan…bukan itu maksud saya.”

“Sesungguhnya seorang pemimpin yang baik, tidak dilihat dari hartanya, tidak dilihat dari titelnya, tidak dilihat dari pangkatnya. Tapi, dilihat dari dedikasinya kepada rakyat kecil, kepedulian pada rakyatnya, dan ketetapan hatinya memperjuangkan nasib warganya.”

Pejabat itu tertunduk lemas, tubuhnya bergetar-getar kecil, air matanya menitik, seperti anak kecil yang merasa bersalah. Paung telah berada diluar rumah, ketika Pejabat itu sadar akan kesalahannya. Ia berusaha mengejar Paung, tapi Paung sudah menghilang bersama angin yang berhembus sepoi-sepoi.

----------SELESAI--------

Your rating: None Average: 7.3 (6 votes)
dikirim nataryasena 11 minggu 5 hari yang lalu
Tag: