Bwahahahahahhahahahaha
ini cerita yang aku buat dengan agak kesulitan. Jadi maaf kalau ada yang kurang dari segi apapun.
Maklumlah, aku baru belajar menulis first person view (alah, sok pake bahasa inggris segala)
Mohon omentar senior semua
(^~^)V
Pizzz, Love, n Ngawur
Chapter 2: A Girl
18 Januari 3504
“Ugh… ngotot amat sih!”
Aku terus berlari menghindari tembakan siege kit aneh di belakangku sembari sesekali menembakkan Shock gun. Sudah hampir 12 jam kedua siege kit itu terus mengejarku.
BLARRR!!! Batu besar di hadapanku meledak akibat tembakan salah satu siege kit yang hampir saja menghancurkan kepalaku. Hover bike yang mungkin merupakan satu-satunya jalan untuk kabur telah mereka hancurkan dari tadi.
Kulihat dari bentuknya, sepertinya siege kit itu mengetahui posisi dengan menggunakan infra merah. Jadi, satu-satunya cara bersembunyi adalah dengan menghilangkan panas.
Aku terus berlari sambil mencari-cari cara untuk bersembunyi dari siege kit ‘gila’ yang terus mengejarku. Dan, sepertinya Dewi Fortuna mendukungku. Tepat didepanku, terhampar cara untuk bersembunyi. Kubangan lumpur.
Langsung saja aku menceburkan diri. Benar saja, siege kit itu sepertinya kebingungan. Beberapa saat kemudian, siege kit itu berbalik pergi.
Kumanfaatkan kesempatan itu dengan melemparkan sebuah bom foton . Cahaya menyilaukan terpancar untuk beberapa saat. Begitu yakin siege kit itu sudah tidak bisa bergerak, aku bangkit dan mengamati siege kit itu.
Siege kit yang aneh. Sebagai orang yang bergelut dalam bidang mesin dan elektonik, baru pertama kali ini aku melihat siege kit seperti ini. Bentuknya silinder kecil dengan roda berantai. Lebih mirip tabung gas bersenjata. Di bagian belakang siege kit itu terpampang tulisan dalam bahasa yang tidak aku mengerti.
Aku menghela nafas panjang lalu mengganti armor yang kukenakan. Armor berlumuran lumpur itu kulemparkan dalam kolam lumpur yang baru saja menyelamatkanku.
“Oke. Saatnya mencari tahu tempat apa ini.”
Aku pun berlari menembus hutan. Berpacu dengan waktu. Armor yang kukenakan sedikit banyak membantu usahaku. Bagaimana tidak, ternyata dalam hutan itu ada lebih banyak siege kit yang telah menunggu.
Yah, sejak awal aku sudah merasa ada yang aneh di tempat ini. Rumput hijau, hutan, siege kit, serta hembusan angin dan sinar matahari yang hangat.
***
19 Januari 3504
Masih di tempat yang sama. Sudah sehari aku terus bertempur melawan siege kit yang Jumlahnya terus bertambah. Dan aku makin yakin kalau ada yang aneh pada tempat ini.
Penunjuk waktu di armorku menunjukkan bahwa aku telah bertarung lebih dari 24 jam tapi matahari tak kunjung terbenam. Jelaslah sudah. Tempat ini buatan seseorang atau tidak terbentuk secara alami. Pertanyaannya, siapa yang membuat tempat seperti ini? Dan untuk tujuan apa?
Sebuah tembakan memaksaku untuk kembali berlari. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Bagaimana bisa aku melawan siege kit sebanyak itu hanya dengan armor tipe b dan sebuah Shockgun.
Setelah lama berlari, aku berhenti di belakang sebuah batu besar. Aku duduk melepas lelah. Sehari penuh berlari pastinya melelahkan.
“Hosh…hosh…hosh…” dengan nafas terengah-engah aku menekan beberapa tombol di lengan armorku. “Mungkin lebih baik kalau aku menggunakan scouting mode ”
Aku bangkir lalu berjalan pelan ke arah kumpulan siege kit itu. Kuhitung jumlah mereka. Ada 25 unit. Shockgun yang kugenggam pun energinya tinggal setengah. Hanya cukup untuk menghancurkan paling banyak 20 unit dari mereka.
Aku pun bersiap-siap untuk menyerang ketika tiba-tiba sebuah bayangan menghentikan gerakanku. Bayangan sesosok tubuh. Seorang gadis. Apa yang dia lakukan ditempat ini?
Sepertinya bukan hanya aku saja yang menyadari kedatangannya. Siege kit bangsat itu juga menyadari kehadirannya. Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke arah gadis itu. Hati nuraniku menolak untuk melihat tubuh cantik itu dikoyak misil.
Nasib sepertinya tidak berniat untuk kembali berpihak padaku. Gerakan tiba-tiba yang kulakukan membuat siege kit itu menyadari kehadiranku. Tidak perduli, aku berlari cepat ke arah gadis itu dan menerjangnya. Bersamaan dengan hantaman tiga buah misil di punggungku.
Sempat kurasakan sakit yang mendera punggungku. Mungkinkah aku mati karena serangan itu…
Perlahan-lahan kesadaranku menghilang. Sempat kulihat wajah gadis itu. Wajah yang cantik. Sepertinya tidak sia-sia jika aku harus mati melindungi bunga secantik dirinya.
***
Kudapati tubuhku terbaring dalam sebuah kamar putih. Penuh dengan alat-alat aneh dan monitor raksasa. Ugh… kepalaku masih sakit. Sukurlah, sepertinya siege kit sialan itu rupanya gagal menghabisiku.
‘Ctik…Ctak…Ctik…’
Aku menoleh mendengar suara ketikan keyboard. Di sudut kamar, seorang gadis berambut merah muda sedang memainkan keyboard di hadapan ratusan monitor raksasa. Melihatku terbangun, gadis itu mendekatiku lalu tersenyum.
Sepertinya dia mengatakan sesuatu tapi bukan dalam bahasa manusia. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan. Tapi sepertinya dia senang melihat keadaanku yang membaik.
“Siapa kamu?” Kataku dengan suara agak serak.
Dia sepertinya tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. Akhirnya aku lebih memilih diam. Buat apa susah-susah bicara kalau dia sama sekali tidak mengerti.
***
Entah sudah berapa jam aku terbaring di sini. Dihitung sejak aku terdampar, mungkin sudah tiga hari aku berada di tempat aneh ini. Entah apa yang sedang dilakukan rekan satu armadaku. Mungkinkah mereka melakukan pencarian. Tapi… sepertinya mereka telah menganggapku mati.
Gadis itu juga sepertinya masih belum bisa mengerti apa yang aku katakan. Begitu juga denganku. Entah apa yang dia lakukan di tempat ini. Mungkinkah dia juga terdampar sepertiku.
“Hai…”
Sebuah suara mengejutkanku. Aku berbalik mencari-cari sumber suara. Tapi dalam kamar itu sama sekali tidak ada orang.
“Siapa kamu?”
Sekali lagi suara itu terdengar. Aku makin bingung. Siapa gerangan suara itu. Suaranya begitu halus dan sepertinya familiar.
“Siapa itu? Apa ada orang di sini?” Teriakku mencoba mencari-cari asal suara itu.
“ha…ha…ha…” suara itu tertawa halus. “Tidak perlu berteriak seperti itu. Aku berbicara melalui pikiranmu.”
“Eh, pikiran? Memangnya ada yang seperti itu?” Pikirku dalam hati. Agak sangsi dengan pernyataan suara aneh itu.
“Iya. Aku berbicara lewat telepati.” Kata suara itu seolah menjawab pikiranku. “Kamu tidak perlu berteriak keras-keras. Cukup dengan berkata dalam hati, aku akan tahu.”
“Eh…?”
“Ada apa?”
“Ah… tidak. Aku hanya sedikit heran.”
“Heran…?”
“Aku tidak menyangka kalau di dunia ini ada yang namanya telepati.”
“Sekarang kamu percaya bukan.”
“Yah…”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan gadis berambut merah muda itu masuk membawa makanan. Dia berbicara dalam bahasa aneh itu lagi lalu beranjak pergi.
Aku kembali mencoba untuk berbicara dengan suara yang ada barusan. Nihil, sepertinya koneksi terputus. Sudahlah. Mungkin dia akan menghubungiku lagi.
Dan dugaanku tepat. Beberapa jam kemudian suaranya kembali terdengar di kepalaku.
***
“Apa kamu ada di tempat yang sama denganku?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Jadi kamu tahu tempat apa ini?”
“Ya…”
“Jadi, tempat apa ini?”
“Ini kapal penyelamat Kerajaan Sora.”
“Kerajaan Sora?”
“Ya… Kerajaan Sora dari Galaksi Hyorga.”
“Kamu sendiri siapa?”
“Ehm…”
“Ada apa?”
“Ah… tidak.”
“Jadi, namamu siapa?”
“Putri Aura Twakin. Putri Kerajaan Sora generasi ke-9.”
“Wow… kamu seorang putri?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Apa yang seorang putri lakukan di tempat ini?”
“Kamu sudah tahu bukan. Ini adalah kapal penyelamat.”
“Oh… Terjadi kudeta di kerajaanmu?”
“Bisa dibilang begitu, meski tidak tepat begitu.”
“Hmmm…”
“Aku harus pergi.”
“Eh, tunggu dulu!”
“Ada apa?”
“Satu pertanyaan terakhir.”
“Apa itu?”
“Siapa gadis berambut merah muda yang mengantarkan makanan padaku?”
“Ha…ha…ha… Kamu akan tahu. Cepat atau lambat.”
“Apa maksudmu…?”
“Waktu yang akan menjawabnya.”
“Tunggu…tunggu… Ugh… Kenapa kamu selalu pergi seperti itu. Menyebalkan.”
***
21 Januari 3504
Gadis berambut merah muda itu masuk dengan membawa makanan. Perkataan Aura masih terus membekas diingatanku. Apa maksudnya dengan Perkataan itu? Siapa sebenarnya gadis ini?
“Selamat makan.” Kata gadis itu dalam bahasa manusia.
Eh… Dalam bahasa manusia? Bagaimana bisa. Bukankah beberapa hari yang lalu kami masih belum bisa saling mengerti. Kenapa sekarang dia bisa berbicara dalam bahasa manusia?
Kutatap gadis itu penuh selidik. Sepertinya ada yang aneh. Ya… Aku merasa ada yang aneh.
“Ada apa?” Tanyanya dengan suara halus.
“Bagaimana bisa?”
“Apanya?”
“Bagaimana bisa kamu berbicara dalam bahasaku dengan begitu lancar?”
“Ha…ha…ha…” Dia tertawa halus. Tawa yang sering kudengar beberapa hari terakhir ini. “Dua hari sudah cukup untuk memahami bahasamu.”
“Jangan-jangan?” Aku mulai beramsumsi.
“Kau Aura, bukan?” Kataku dalam hati. Mencoba untuk membuktikan teoriku.
“Ha…Ha…Ha…” Suara Aura terdengar dalam kepalaku. “Tepat sekali.”
“Huh…” Aku mengeluh. “Kenapa tidak kau katakan sejak dulu?”
“Maaf. Aku hanya ingin memberi kejutan.”
“Kejutan?”
“Ya... Kau orang pertama yang kutemui dalam dua tahun ini.” Aura tersenyum manis.
“Dua tahun?” Kataku dengan ekspresi terkejut. “Kamu berada di tempat ini sendirian selama dua tahun!?”
“Tidak juga… Aku ditemani oleh siege kit penjaga.”
“Jadi, siege kit milikmu?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Huh…” Aku menghela nafas. “Sepertinya aku rugi, terluka untuk melindungimu.”
“Kamu marah?”
Aku baru berniat menjawab pertanyaan itu ketika sebuah ledakan mengejutkan kami. Aura bangkit lalu menekan beberapa tombol di monitor raksasa. Gambar sebuah robot hitam dengan dua kaki dan persenjataan berat langsung muncul di layar itu. Aconite!
Ugh… Kucoba untuk bangkit. Luka-lukaku memang masih sakit tapi aku bisa bertarung. Kulihat armorku tergeletak di sudut ruangan. Cih… Kondisinya tidak memungkinkan untuk dipakai. Yang tersisa hanya Shockgun dengan energi hanya setengah.
“Kamu mau apa?” Tanya Aura khawatir begitu melihatku mengambil Shockgun.
“Melawan benda itu tentunya.” Aku berjalan sempoyongan ke arah pintu.
“Tapi… Kamu sedang terluka parah.” Aura mencoba menghalangiku.
“He…he…he…” Aku tertawa sambil menatap Aura. “Tenang saja. Aku bisa mengalahkan robot itu dengan tangan terikat.”
***









