Seorang ibu yang memiliki dua anak lelaki berusia delapan dan sepuluh tahun pusing tujuh keliling. Semua tetangga di kompleks perumahan mengeluhkan kelakuan kedua anaknya. Keduanya selalu mengambil apa pun milik tetangganya yang berada di beranda atau halaman rumah. Barang yang diambil itu memang tak dijual oleh kedua anak itu. Tapi, disembunyikan.
Ibu itu tak tahu lagi apa yang yang harus dilakukan. Ia telah meminta bantuan suaminya untuk mkenasehati kedua anaknya. Tapi hasilnya sama saja. Sudah beberapa kali ayah anak-anak itu memberikan hukuman. Tapi tetap saja kelakuan kedua anak mereka tak berubah. Ibu itu lalu meminta bantuan kepala satpam perumahan. Sebab, kepala satpam ini sudah dikenal mampu mendisiplinkan anak-anak muda di kompleks perumahan itu. Selain dengan ketegasannya juga dengan siraman rohani.
Kepala satpam ini seorang berperwakan tinggi besar dengan suara menggelegar. Sungguh menakutkan pendengarnya jika bicara. Namun, sesungguhnya ia baik hati dan agamis. Satpam itu setuju membantu. Ia meminta ibu anak itu agar membawa anaknya satu per satu menemui di kantor satpam yang berdekatan dengan rumah ibu itu.
“Duduk di situ!“ gelegar suara satpam. Ia pun lantas mengajukan pertanyaan, “Kamu tahu Tuhan di mana?”
Anak delapan tahun itu melongo mendengar pertanyaan satpam. Ia terdiam.
“Ayo jawab!,” gelegar suara satpam, “Tuhan di mana?”
Anak delapan tahun itu tambah melongo dan bungkam.
“Hei, Tuhan di mana?” Suara satpam itu tambah menggelegar.
Tiba-tiba anak delapan tahun itu bangkit dari kursinya. Ia keluar ruangan satpam dan berlari menuju rumahnya.
“Kak, kita ada masalah nih,” ujar anak delapan tahun itu kepada kakaknya yang berusia sepuluh tahun yang juga sedang menunggu panggilan satpam itu.
“Tuhan hilang,” lanjut anak delapan tahun itu, “mereka mengira kita yang menyembunyikannya. Tuhan di mana, sih, Kak?”
Kedua anak lelaki berusia delapan dan sepuluh tahun itu pun saling pandang. Mereka lalu mengingat-ingat kapan kira-kira mereka berhasil menyembunyikan Tuhan.
Seorang ibu yang memiliki dua anak lelaki berusia delapan dan sepuluh tahun pusing tujuh keliling. Semua tetangga di kompleks perumahan mengeluhkan kelakuan kedua anaknya. Keduanya selalu mengambil apa pun milik tetangganya yang berada di beranda atau halaman rumah. Barang yang diambil itu memang tak dijual oleh kedua anak itu. Tapi, disembunyikan.
Ibu itu tak tahu lagi apa yang yang harus dilakukan. Ia telah meminta bantuan suaminya untuk mkenasehati kedua anaknya. Tapi hasilnya sama saja. Sudah beberapa kali ayah anak-anak itu memberikan hukuman. Tapi tetap saja kelakuan kedua anak mereka tak berubah. Ibu itu lalu meminta bantuan kepala satpam perumahan. Sebab, kepala satpam ini sudah dikenal mampu mendisiplinkan anak-anak muda di kompleks perumahan itu. Selain dengan ketegasannya juga dengan siraman rohani.
Kepala satpam ini seorang berperwakan tinggi besar dengan suara menggelegar. Sungguh menakutkan pendengarnya jika bicara. Namun, sesungguhnya ia baik hati dan agamis. Satpam itu setuju membantu. Ia meminta ibu anak itu agar membawa anaknya satu per satu menemui di kantor satpam yang berdekatan dengan rumah ibu itu.
“Duduk di situ!“ gelegar suara satpam. Ia pun lantas mengajukan pertanyaan, “Kamu tahu Tuhan di mana?”
Anak delapan tahun itu melongo mendengar pertanyaan satpam. Ia terdiam.
“Ayo jawab!,” gelegar suara satpam, “Tuhan di mana?”
Anak delapan tahun itu tambah melongo dan bungkam.
“Hei, Tuhan di mana?” Suara satpam itu tambah menggelegar.
Tiba-tiba anak delapan tahun itu bangkit dari kursinya. Ia keluar ruangan satpam dan berlari menuju rumahnya.
“Kak, kita ada masalah nih,” ujar anak delapan tahun itu kepada kakaknya yang berusia sepuluh tahun yang juga sedang menunggu panggilan satpam itu.
“Tuhan hilang,” lanjut anak delapan tahun itu, “mereka mengira kita yang menyembunyikannya. Tuhan di mana, sih, Kak?”
Kedua anak lelaki berusia delapan dan sepuluh tahun itu pun saling pandang. Mereka lalu mengingat-ingat kapan kira-kira mereka berhasil menyembunyikan Tuhan.
Tag:










