Blatta

52
points
"

FEAR ME NOT ... (you have been warned!!!)

"

Alin hanya bisa membelalakkan matanya saat tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan Rida, teman baiknya sekaligus salah satu penghuni rumah kontrakan yang ia huni, masuk dengan hanya mengenakan piyamanya. Bukan karena ia tidak biasa akan hal itu, tapi lebih karena saat itu sudah pukul setengah dua belas malam, dan dia sudah nyaris tertidur. Dan meskipun dia sendiri seorang wanita, didatangi seorang gadis berpiyama di tengah malam hampir menggoyahkan imannya.

"Aku melihatnya!"

Jika ada sesuatu yang bisa membuat Rida mendobrak kamar orang di tengah malam, maka hanya ada satu kemungkinan.

"Makhluk itu?"

Rida menganggukkan kepalanya cepat-cepat.

"Waktu aku mau buang air kecil, makhluk itu muncul dari kamar paling ujung kemudian masuk ke kamar..."

HYAAAAAAAAAAAAA

Belum sempat Rida menyelesaikan kalimatnya. Terdengar suara jeritan dari salah satu kamar di kontrakan itu. Dan jika menilik suaranya yang cempreng tak salah lagi, orang itu adalah Kamira.

"Astaga, itu suara Kamira!! Bagiamana ini?"

"Tunggu dulu Rida! Jika memang ini ulah makhluk itu, maka tak ada gunanya kita menuju kesana, apalagi tanpa persiapan matang. Lagipula saat ini pasti makhluk itu sudah menghilang."

Rida terduduk di lantai. Tubuhnya gemetaran, dengan mata berkaca-kaca ia memohon pada Alin.

"Tolong izinkan aku tidur disini... Aku takut... hik... hik..."

Alin menggigit bibirnya sambil berpikir keras. Jika ia membiarkan Rida tidur bersamanya ia malah khawatir dirinyalah yang akan lepas kendali. Sayang di saat seperti ini Diva sedang tidak ada bersama mereka.

"Pertama Leia, lalu Tita, dan sekarang Kamira... mengapa kita harus menghadapi hal semacam ini... hik... hik..."

"Sudahlah Rida... hal yang sudah terjadi tak bisa diubah lagi. Nah sekarang dengarkan aku, kita harus menyelesaikan masalah ini malam ini."

Wajah Rida langsung berubah tegang mendengar kata-kata Alin.

"A-apa m-maksudmu?"

"Cepat atau lambat makhluk itu akan menghampiri kita, jadi saat ini pilihan yang tersisa adalah kabur dari kontrakan ini atau membunuh makhluk itu."

Rida nyaris tak mempercayai pendengarannya. Lama ia pandangi wajah sahabatnya itu sampai akhirnya ia yakin bahwa saat ini Alin benar-benar serius.

"Lebih baik kita keluar dari tempat terkutuk ini?"

"Eh? Apa maksudmu Rida? Kau tak ingat bagaimana susahnya kita berjuang agar bisa tinggal disini?"

"Tapi... tapi..."

"Seratus Ribu perbulan sudah termasuk listrik dan air, kau kira di mana lagi kita bisa menemukan tempat seperti ini?"

"Apa uang lebih penting daripada diriku?"

Oh tidak. Alin mengalihkan pandangannya, ia tahu ia takkan menang jika Rida sudah mengeluarkan jurus andalannya itu, sorot mata memelas berkaca-kaca. Tapi kali ini ia sudah memutuskan untuk mempertahankan eksistensinya di kontrakan itu. Jadi sambil menguatkan hatinya ia pun memegang pundak Rida lalu dengan tegas meyakinkan teman baiknya.

"Percayalah padaku... malam ini makhluk itu akan mati!"

"Baiklah... tapi bagaimana caranya..."

Alin tersenyum lega lalu mengambil sekotak kecil kapur dari dalam laci meja belajarnya.

"Aku sudah tahu benda ini akan berguna suatu saat."

Rida terbelalak tak percaya melihat benda di tangan Alin. Ia sudah sering mendengar tentang teknik yang akan dipergunakan Alin itu.

"Kau bercandakan? Banyak korban tak bersalah yang akan jatuh jika kau menggunakan cara itu! Bagaimana kalau menggunakan buku itu saja?"

"Sayang sekali aku bukan Diva... aku sama sekali tak punya kapabilitas menggunakan buku itu. Dan ingat saat ini kita sedang bertempur. Dalam pertempuran selalu saja ada korban yang akan jatuh."

Dalam waktu singkat semua persiapan sudah dilakukan. Sementara Rida memindahkan meja kecil di tengah kamar, Alin mulai menggambar sebuah lingkaran besar di lantai. Di dalam lingkaran itu Alin menggambar sekali lagi lingkaran kecil.

"Keluarkan benda itu!"

"Kumohon Alin, kita masih bisa mengurungkan rencana ini."

Alin hanya tersenyum sinis lalu mengambil bungkusan di tangan Rida lalu mulai menaburkan isi bungkusan itu ke ruang di antara lingkaran pertama dan kedua.

"Tunggu di dalam lingkaran! Aku akan mematikan lampu, tenang saja... rencana ini akan berhasil."

Rida menelan ludahnya lalu dengan ragu-ragu menganggukkan kepalanya kemudian duduk di tengah lingkaran itu.

Lampu utama dimatikan. Kini hanya lampu kecil di meja belajar Alin yang menyala sehingga seluruh kamar berubah remang-remang.

Waktu berlalu.

Rida merapatkan tubuhnya dengan Alin yang duduk di sampingnya. Ia tak tahu sudah berapa lama ia menunggu dan ia berharap agar makhluk itu tidak mendatangi mereka. Bagaimanapun makhluk yang akan mereka lawan sudah lama dikenal sangat tangguh. Makhluk yang sudah ada bahkan sebelum peradaban Mesopotamia kuno muncul.

"Itu dia."

Rida menahan napasnya. Entah darimana makhluk itu sudah melewati pintu kamar Alin yang tertutup. Kali ini ia benar-benar berharap rencana Alin benar-benar berjalan lancar.

"Sstt tenanglah Rida, tinggal beberapa langkah lagi dan kita akan berhasil membunuh makhluk jahanam itu."

Alin menyeringai lebar, yang disisi lain malah mambuat Rida semakin ketakutan.

Dua meter...

Satu meter...

Setengah meter...

Dan...

"Astaga Alin, Makhluk itu terbang!"

"Cih... Rida selamatkan dirimu!!!"

Hal ini benar-benar di luar perkiraan Alin. Cepat-cepat ia mendorong Rida ke samping. Semua ini terjadi karena kecerobohannya maka ia pulalah yang harus menanggung akibatnya.

"Selamat tinggal... Rida..."

"A~lin!!! TIDAAKKK !!!"

ZAAAPPPP

Rida membuka kedua matanya. Lampu utama kamar Alin telah kembali menyala. Dilihatnya Alin masih berada di tengah lingkaran, duduk terengah-engah dengan sekujur tubuh basah oleh keringat. Di hadapan Alin tampak sebuah buku besar bertuliskan "Linear Algebra", di dekat pintu Diva menggelengkan kepalanya.

"Apa yang kalian berdua lakukan malam-malam seperti ini?"

"Syukurlah kau sudah kembali Diva! hik... hik... kukira makhluk itu akan menodai Alin! hik.. hik.."

Rida mulai menangis sesenggukan.

"HWAAA APA INI???"

Diva tampak gusar melihat lingkaran yang tadi digambar Alin.

"Bukannya sudah kubilang jangan menggunakan kapur semut? Apa kalian tak kasihan pada semut-semut disini?"

"Ini semua salah makhluk itu..."

Alin tampak gentar melihat Diva, namun ia memberanikan dirinya membela dirinya.

"I-iya... tolong jangan marahi Alin... kami terpaksa menggunakan cara ini."

"Sudahlah... tapi kumohon jangan ulangi lain waktu, bukannya kalian bisa menggunakan buku atau sepatu atau apalah?"

Diva kembali menghela napasnya. Ia lalu berjalan menghampiri Alin lalu mengambil buku yang tadi ia lempar. Di saat yang sama Alin dan Rida menjerit jijik melihat bangkai kecoa yang menempel disana.

Your rating: None Average: 6.5 (8 votes)
dikirim 145 11 minggu 5 hari yang lalu
Tag: