Dreams Chapter 6 part 1

13
points
"

Bwahahahahahahahahahahahha

Ini cerita lama. Karena aku lagi bosan dan ingin buang-buang poin, aku posting aja... anyway, karena kelewat panjang aku pisah jadi dua bagian dan aku posting bersamaan. Mohon komentar dari senior-senior semua. Dan juga, maaf kalau ceritanya kacau. Susah sekali melihat dunia melalui kacamata wanita T_T

^~^V
pizz, love, n ngawur

Bwahahahahahahahahaha

"

Aku sedang bermimpi… sebuah mimpi tentang dua orang bersaudara yang berangkat dan kembali dari sekolah bersama-sama. Sebuah mimpi yang menyedihkan, di mana kebahagiaan itu terus berulang tanpa henti, selamanya....

Andaikan aku punya sayap, aku ingin terbang ke angkasa… aku benci hidup ini. Mama Cuma bisa menangis, memikirkan isu perselingkuhan Papa. Kenapa juga Papa jarang pulang ke tumah? Haruskah mereka bercerai?
Ah… rasanya aku ingin menangis , tapi air mataku sudah kering. Dan akhirnya kuputuskan, aku akan bersekolah di SMU Nusa. Sebagai sekolah elit, memang sulit masuk kesana. Dan tempatnya juga sengaja di jauhkan dari pusat keramaian. Tapi, di sana aku bisa jauh dari masalah di rumah ini.
Kutatap langit. Luas tak terbatas. Andaikan aku punya sayap…

***

Hari itu aku bangun lebih pagi dari keempat teman sekamarku. Turun dari tempat tidur, aku langsung membuka jendela. Angin pagi mempermainkan rambut sebahuku.
Sudah Seminggu sejak semester satu di mulai. Dan hari ini adalah hari minggu. Mungkin karena itu perasaanku lebih enak. Apa yang sedang dilakukan Papa? Bagaimana mama sekarang? Aku tertawa sinis, untuk apa aku memikirkan dia?.lagi pula aku sudah tidak peduli pada papa. Bukankah minat dan perasaanku sudah lama mati?
“Ah, pagi! Pagi sekali kamu bangun.” Sapa Eva. “Eh… mau Kemana?”
“Perpus.” Jawabku sambil mengambil tas.
Tak sekalipun aku berusaha akrab dengan orang lain. Rasanya memang menyakitkan. Terserah orang mau bilang apa. Meski dibilang aku anak yang dingin, aku tak peduli.
Aku pergi meninggalkan Eva. Tapi, perpustakaan belum buka.
“Lebih baik aku jalan-jalan dulu.”
Aku mulai berjalan mengikuti angin, lalu masuk ke taman. Aku duduk di ayunan, mulai mengayun. Rantai ayunan berderit mengeluarkan suara ciiit…ciit… ah, rasanya aku ingin terbang. Aku terus berayun dambil bernyanyi…
“Andaikan aku punya sayap
Aku akan terbang
Mengelilingi angkasa”

Saking asyiknya, aku tak sadar ada orang yang sedari tadi memperhatikanku.
“Suara kakak manis juga.”
Orang itu berdiri di depanku. Dari tingginya, kutaksir dia masih SMP kelas satu. Tapi, apa yang anak SMP lakukan di kompleks SMU Nusa.
“Ada perlu apa?”
Tanpa peduli aku yang merasa terganggu, anak itu berbicara dengan heran.
“Aku kebetulan lewat sini. Terus aku dengar suara kakak. Boleh aku duduk?”
Anak itu duduk di ayunan lain.
“Kakak bernama Tary bukan?” tanyanya tanpa peduli kalau aku tak memperhatikan. “Salah ya?”
“Benar sih, tapi…”
“Namaku Kasmir.”
“Apa kita pernah ketemu?”
“Pernah… Tapi mungkin kakak tidak ingat aku.”
“Iya, aku tidak ingat.”
“Tidak apa-apa kok.”
Ugh… apa-apaan sih anak ini… aneh. Melihatku memandangnya dengan curiga, dia berkata, “Kakak kelihatan jelek kalau begitu.”
“Cerewet! Anak kecil seperti kamu tahu apa!!?”
“Terlalu… masa aku dibilang anak kecil! Gini-gini akukan sudah SMA.”
Apa!? SMA?
“Dasar anak kecil.”
“Hmmmm… kakak cantik-cantik kok kejam.”
“Kurang ajar!”
“Kak…”
“Aku bukan kakakmu!”
“Kak Tary…”
“Kubilang jangan panggil aku kakak!”
“‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’.”
“Dasar anak kecil gak sopan!”
“Kak…”
“Apaan sih?”
“Aku mau balik ke asrama dulu ya ‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’. Bye.”
“Eh? Tunggu!”
Aku mengejarnya keluar taman. Tapi, larinya kencang sekali. Anak aneh…

***

“Pagi ‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’.”
“Heh…! Kenapa kamu ada di sini?”
“Lho, inikan kelasku. Ketua kelas kok tidak tahu warganya sendiri.”
“Terserah.”
“Ehm… ‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’.”
“Apa!!! Jangan panggil aku seperti itu!”
“Maaf deh Kak. Aku mau tanya, pernah liat bukuku gak?”
“Buku apaan?”
“Buku sejarah.”
“Warna?”
“Biru. Terus ada gambar Itachi Uchiha di depannya.”
“Gak…”
“Hmmm… siapa yang ambil yah.”

***

Di depan kelas berdiri dua anak laki-laki yang bertindak seolah penguasa. Gilang dan Bambang. Gilang, orang yang usil dan berlagakseolah pemimpin kelas. Dia membawa sesuatu di tangannya.
Aku memandangnya dengan sebal. Dia menyuruhku ikut menginjak. Tidak salah lagi, itu buku yang kemarin dicari-cari Kasmir. Tapi setengah hancur karena diinjak.
“Ini punya Kasmir, kan?”
“Yup, tepat sekali. Cepat injak!”
“Keterlaluan.”
Mereka malah tertawa. Huh, buang-buang waktu mengurusi mereka.
“Ogah!”
“Oh… ketua kelas yang baik. Melindungi anak itu yah.”
“Bodoh! Siapa peduli.”
“Dasar.”
Pada saat hampir bersamaan, Kasmir masuk.
“Hei, tadi aku menemukan ini. Simpannya hati-hati dong.” Gilang menyerahkan buku itu.
“Oh, kamu yang ambil yah. Trims.”
“Kamu nuduh aku ngambil!”
Gilang memukul perut Kasmir pelan. Kasmir Berlutut menahan sakit. Dia terbatuk-batuk sambil mengeluarkan darah dari mulutnya. Gilang terkejut setengah mati, tidak disangkanya akan jadi seperti itu.
Wali kelas masuk. Kasmir memperlihatkan surat izin lalu berlari keluar. Ada apa?

***

Beberapa hari kemudian baru aku tahu kalau ternyata dia itu sering sakit-sakitan. Makanya dia diberi izin khusus untuk istirahat kapan saja dia mau. Dunia memang aneh. Seandainya dia melawan, mungkin dia tidak akan ditindas seperti itu. Lagi pula, teman sekelas yang lain sepertinya tidak peduli. Entah mereka takut atau bagaimana. Dunia memang aneh.

***

SMU Nusa memang luas. Dalam kompleks sekolah ada asrama, taman, kolam, danau buatan, bahkan gunung juga ada. Aku memandang kemilau air danau sambil menggerutu dalam hati. Oh, ingin rasanya menikmati pemandangan indah ini bersama keluarga.
Aku duduk di atas rumput. Sekarang, aku bahkan tak bisa membayangkan seperti apa keluarga yang harmonis itu. Sejak Papa sibuk dengan pekerjaannya, semua berubah.
“Lho, ‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’ sedang apa di sini?”
“Hah?”
“Wah, kebetulan sekali.”
Di belakangku berdiri Kasmir yang membawa kamera. Sambil tersenyum seperti biasa, ia duduk di sampingku.
“Ada apa?”
“Ah, gak ada yang khusus.”
“Benarkah?”
“Oke, sebenarnya…”
“Apa.”
“Aku mau dengar ‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’ menyanyi.”
“Bisa gak kamu berhenti manggil aku seperti itu! Geli tahu.”
“Wakakakak.”
“Kenapa tertawa.”
“Tidak, aku… uhuk….”
Dengan cepat tangannya menutup mulut. Kalau hanya begitu sih lumayan, tapi yang keluar dari mulutnya malah darah. Dia sendiri rupanya kaget, tergesa-gesa dia membersihkan mulutnya dan meminum obat.
“Aku mau pulang.”
“Eh… Kakak?”

***

“Lho, Kasmir gak masuk lagi?”
Sejak ‘insiden kecil’ di danau, sudah tiga hari dia tidak masuk. Kabarnya sih dia pergi berobat.
“Ha…ha…ha… Cuman gara-gara dipukul segitu dia masuk rumah sakit.”
“Pengecut!”
“Kamu bilang apa sih? Dasar aneh.”
“Justru kamu yang aneh.”
“Kamu kenapa sih? Membela banci itu terus.”
“Tidak ada apa-apa.”
Seisi kelas memandangi kami dan Gilang menyadari hal itu.
“Kita pindah tempat!”
“Mau lari?” aku tertawa mengejek.
“Kurang ajar!!!”
“Apa kamu pernah berpikir? Dia itu bukan mainan kalian!”
Gilang hanya diam memandangku.
“Memalukan!” aku menghela nafas lalu bergegas duduk.

***

Lega rasanya mendengar bel berbunyi. Aku ingin segera kembali ke kamar. Aku lelah. Aku ingin tempat yang bisa membuatku merasa damai. Tapi aku tak punya tempat seperti itu. Rasanya benar-benar putus asa. Saat itu kudengar suara langkah kaki. Ternyata Gilang.
“Tunggu, Tary!”
Aku terus berjalan, tak berniat berbalik. Namun, dia berhasil mengejarku di taman dan memegang bahuku.
“Jangan sentuh aku!!!” Teriakku ganas. Mataku menatap tajam. “Kamu ini kenapa sih!!?”
“Tidak apa-apa.”
“Tidak apa-apa bagaimana? Kamu ini gak punya nurani ya.”
“Kenapa sih kamu begitu peduli sama makhluk menggelikan itu.” Gilang berkata marah.
Aku cuek mendengarnya.
“Mau kemana?”
Aku sudah tidak tahan lagi.
“Gak ada hbungannya dengan kamu.”
“Ada!”
“Apa!?”
“Karena aku suka kamu!”
Langkahku terhenti dan tercengang.
“Selain cantik,… kamu juga beda sama cewek-cewek lain.”
“Suka? Jangan bercanda! Aku benci sama kamu!!!”
Sekonyong-konyong lenganku dipegang seseorang. Gilang! Kuat sekali dia.
“Sakit! Lepaskan!”
“Tidak!”
“Kamu udah gila!”
“Kenapa kamu gak suka aku?”
Aku tahu, dia tipe orang yang selalu mendapatkan apa yang dia mau. Orang yang terlalu menjunjung tinggi harga diri. Tidak rela keinginannya ditolak.
“Semua!” Teriakku. “Aku benci tiap senti dirimu.” Keringatku mengucur deras.
“Apa!!?”
Gilang mengepalkan tangan bersiap memukul. Aku menutup mata. Tapi ternyata rasa sakit itu tak kunjung datang. Sewaktu membuka mata, kulihat tinju Gilang berhenti di udara. Ditahan oleh tangan yang lebih kecil.
“Aaaa!” Aku berteriak kecil… Kasmir!

***

“Lepaskan tanganmu darinya!”
Berbeda dengan Gilang yang tegang. Kasmir tersenyum. Gilang mengendurkan kepalan tangan dan melepaskan cengkramannya dari bahuku.
“‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’, lama gak ketemu.” Sapanya sambil tersenyum.
Aku tak mengerti. Mulutku terkunci. Dia yang kelihatan tidak bisa diandalkan, tetap seperti itu. Tidak boleh, dia bisa dihabisi oleh gilang.
“Ho… berani juga kamu.”
“Bisa dibilang begitu.”
“Kasmir! Kamu pergi saja! Kamu bisa dihajar habis-habisan.”
Aku berteriak khawatir. Baru kali ini aku khawatir seperti ini. Tapi, tiba-tiba aku mendengar suara lain. Dua suara lain.
“Tenang saja nona manis. Itu tidak akan terjadi.”
“He…he…he… Kasmir memang pintar cari sarana olah raga.”
“‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’, Perkenalkan. Mereka ini temanku sejak kecil. Yos dan Adhy.”
“Heh…?”
Gilang bergantian memandang kami lalu mendengus.
“Tary…”
“Apa?”
“Maaf.” Katanya kasar.
Tapi, baru aku merasa lega. Cowok menjengkelkan itu berkata sambil tertawa mengejek. “Sampai besok di sekolah.” Lalu ia berlari pergi. Firasat buruk.
“Oh iya… Temanku nanya, kakak sudah punya pacar belum?”
“Eh…?”

***

Firasatku benar. Begitu selesai jam olah raga keesokan harinya, dari dalam sepatu kutemukan paku. Cara kuno tapi mengagumkan. Tapi aku memilih bertahan. Pengalaman sekali seumur hidup.
Anak-anak perempuan sekelasku pun menjauh bila aku mendekat. Satu-satunya orang yang tidak menjauh di kelasku hanya Kasmir. Aku masuk ke kelas dan bertemu dengan sumber masalah… Gilang.
“Lho… Bukuku.”
Karena pelajaran jam ketiga akan dimulai, aku bermaksud mengambil buku pelajaran. Tapi kini buku itu hilang.
“Sial!!!” Aku mengatupkan bibir.
“Pelajaran dimulai. Keluarkan buku Sejarah kalian.”
Semua murid mengeluarkan buku catatan mereka. Hanya aku yang tidak.
“Bukumu mana?” Tanya pak guru sambil mendekatiku.
Aku mengangkat wajah dan bersiap menjawab… Meski tahu kalau hasilnya pasti dimarahi.
“Ini bukumu. Terima kasih…” kata Kasmir tiba-tiba sambil menyerahkan buku.
“Eh…?”
“Maaf Pak. Untuk mengejar ketertinggalan selama sakit, aku pinjam bukunya. Lebih baik begitu dari pada ketinggalan pelajaran yang saya sukai.”
“Oh… Ya sudah.” Pak Guru pergi.
“Kasmir, kamu dapat buku dari mana?”
“Wakakakakak…. Aku minta tolong sama Adhy ambil punya gilang ama bambang. Wakakakakak.”
Benar saja… Tak berselang lama, Gilang dan bambang diusir keluar kelas.

***

Your rating: None Average: 4.3 (3 votes)
dikirim addang13 11 minggu 4 hari yang lalu
Tag: