SAMPAI KINI

59
points
"

Betapa sulit menyelami hatimu. Aku tahu kau terluka. Aku terlalu tahu. Tapi mengapa begitu sulit?

"

Sore itu cerah. Semburat merah jingga menghiasi turunnya tahta sang raja siang. Awan-awan sirrus yang menghiasi angkasa layaknya serat-serat kapas tipis yang dibiarkan berserakan tak beraturan di langit membuat wajah sore itu makin cantik. Kamu kembali merajuk padaku. Tak sadarkah kau aku sedang menikmati sapaan langit sore yang hanya bisa kunikmati sesekali melalui jendela ini?

Wajah cantikmu menekuk. Hiasan wajahmu begitu dramatis diterpa sisa-sisa sinar mentari, yang menyeruak melalui satu-satunya jendela di kamar. Kamu selalu merajuk. Meminta hal yang sama. Yang selalu kuberi namun tak pernah kau terima.

Kali ini kau memainkan rambut keriting panjangmu yang hitam berkilau. Sebuah tiara kecil kau sematkan agar miring, namun bertahta indah di puncak kepalamu. Kau masih merajuk. Aku bingung.

Kau bangkit berdiri dengan kaki yang mengejat tanda kesal. Kesal karena tak puas akan jawabanku. Atau memang bukan itu yang kau cari? Kau lari. Lari pada cermin setinggi badan yang tertempel manis di salah satu sisi kamar ini. Tanganmu lincah memainkan rambutmu. Sedang mata besarmu yang berbalut kontak lensa biru lekat memandang riasan wajah.

“Kenapa?” Tanyamu menggugat.

Aku diam.

“Aku pengen kembali, Ken.”

“Aku Cuma bisa mengingatkan, tak bisa membawamu kemana-mana kalau kamu sendiri yang tak mau melangkah.” Kataku lirih diantara putus asa dan harapan.

Kamu berbalik menghadapiku. Giliranku yang mengarah pada cermin. Aku mematut sebentar. Hanya mengecek apakah kerudungku rapi atau tidak. Lalu menghadapnya lagi.

“Aku pengen jadi orang bener.” Pintamu yang ke seribu kali.

Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya menatapmu lekat. Bukahkah sejak sekian lama sudah kuajak kau kembali ke jalan yang benar? Bukankah sejak awal sudah kucoba tunjukkan padamu jalan yang lurus itu? Bukankah sudah sejak dulu kuberitahu cara-cara untuk mendapatkan inginmu? Mengapa kau selalu berakhir dengan pinta yang sama?

“Aku pengen tobat!” Pekikmu dengan senyuman yang patah. Ada sakit di sana.

Dan aku menatapmu nanar. Jangan hanya ingin, buktikan dengan tindakan. Pekikku dalam hati. Tapi tak bisa kuungkapkan padamu sahabatku yang kini sedang kebingungan mencari jalan pulang. Tak bisakah aku jadi cahaya penerangmu untuk kembali ke jalan yang benar itu?

Beeep! Beeep!

Kamu membaca pesan yang masuk.

“Aku ada janji di Ciwalk!” Katamu lalu berlalu tak mempedulikan laranganku.

Dan hari ini, sekali lagi aku gagal.

Your rating: None Average: 7.4 (8 votes)
dikirim kenary 11 minggu 4 hari yang lalu
Tag: