Felgirth - Chain 2 - Weird Obsurva, Part 2

26
points

Setelah berjalan lima belas menit, Ausley dapat melihat pintu gerbang kota Cielgris, namun kemudian ia melihat teman baiknya yang satu lagi—tertidur di bawah pohon colcotte besar—persis seperti di dalam ingatannya ketika mereka pertama kali bertemu tiga tahun yang lalu.

“Varlend?” panggil Ausley, mencoba membangunkan sahabatnya itu.

Varlend membuka matanya dan melihat pria berambut panjang di depannya dengan bola mata yang putih kosong dan tidak fokus. Ausley sedikit terkejut dan mengira-ngira apakah ingatan Varlend hilang lagi, atau justru karena sudah mengingat masa lalunya, Varlend melupakan kejadian selama tiga tahun ini.

“Hey—Varlend! Kau sudah lupa dengan ku?” tanya Ausley yang kini mulai panik melihat tatapan Varlend yang tanpa ekspresi. Setelah beberapa saat, mata Varlend kembali berwarna hitam normal dan kemudian menyadari siapa pria di hadapannya itu.

“Ausley?” tanya Varlend, tatapannya sekarang lebih manusiawi.

Ausley menghela napas lega dan berkata, “yup, satu-satunya Shadelva Ausley. Kau ini mengagetkanku saja, kenapa lama sekali baru mengenaliku? Sepertinya tak ada pemuda setampan aku disini,” Ausley tersenyum.

“Entahlah, tadi sepertinya aku sedang berjalan di dunia yang tidak kukenal dan aku...” Varlend berhenti menjelaskan begitu tertangkap olehnya ekspresi wajah Ausley yang dengan jelas menganggapnya membual atau mungkin sinting.

Ausley yang menyadari suasana tidak enak itu dengan cepat mengalihkan pembicaraan, ia tampaknya sudah terlatih untuk membaca perubahan hati Varlend. “Oh iya, si Dillend itu… masih sering bersama Lumina?”

“Begitulah, pekerjaan yang biasa” Varlend menghela napas.

“Hmm… sulit juga. Setinggi apapun gelar Dillend, statusnya tetap lah seorang nithlom biasa, sedangkan Lumina itu putri bangsawan. Sampai kapan pun mereka tidak akan bisa bersatu.” Ausley mengerutkan keningnya.

“Entahlah… menurutku sejak awal Dillend tidak berharap bisa menikahi Lumina. Ia hanya ingin berada di dekat Lumina sekalipun hanya sebagai pengawal pribadi saja. Kurasa satu-satunya pria bergelar Elvaladin di Cielgris ini pun akan berubah menjadi orang paling bodoh sedunia di hadapan seorang gadis” kata Varlend.

“Seenaknya saja kau bicara—dasar otak warghul!!” kata sebuah sosok yang tiba-tiba muncul dengan nada yang marah dan mengancam.

“Astaga Dillend—kau mengagetkanku!” Varlend terlonjak kaget. Ausley sampai terbatuk melihat sang Elvaladin—Dillend, pria berambut putih dan berkacamata yang tadi ia temui di hutan. Sekalipun seluruh rambutnya berwarna putih, wajahnya masih terlihat muda, ia baru berusia sekitar tiga puluh tahun dan dalam beberapa hal, terutama bila menyangkut wanita, sifatnya kadang polos dan sedikit kekanak-kanakan.

“Ce—cepat sekali kau kembali? Mana Lumina?” tanya Ausley setengah tersedak.

“Oh, kami bertemu pengawal, sepertinya suruhan ayah Lumina. Lalu mereka menjemput Lumina pulang dengan kereta kuda. Ia bilang ayahnya ingin bicara hal penting, jadi kami terpaksa berpisah di sana,” kata Dillend dengan wajah kesal sambil membetulkan posisi kacamatanya.

Ausley tertawa lepas. “Dillend yang malang—sepertinya kau harus bersaing untuk mendapatkan posisi pengawal pribadi tuan putri itu ya? Sudah kubilang kau harus lebih pintar memilih gadis sepertiku” ejek Ausley.

“Kamu kan tidak pernah serius dengan gadis-gadis itu, lagipula aku—ah sudahlah—daripada membicarakan hal tidak berguna begini, bagaimana dengan pekerjaanmu di Aelgris?” Dillend terlihat lebih serius sekarang.

“Sejujurnya, tidak terlalu baik.” Ausley pun memasang wajah serius. “Berita kematian Valmer sudah menyebar ke pelosok dunia dan menyebabkan rasa gundah. Konflik mulai terjadi dimana-mana, dan yang di Aelgris kemarin cukup parah.”

“Valmer?” tanya Varlend bingung.

Dillend dan Ausley bertukar pandang kesal. Pembicaraan mereka tidak pernah lancar dengan Varlend yang tidak tahu apa-apa berada di dekat mereka. “Astaga Varlend, yang hilang itu kan ingatanmu, bukan pengetahuanmu! Aku jadi semakin curiga kalau kau ini warghul yang menyamar, oh tunggu—kasian warghul-nya kalau disamakan denganmu,” ejek Ausley.

“Sudahlah Ausley, sudah tiga tahun dan dia masih tidak bisa mengingat apapun—kecuali namanya yang aneh itu.” Dillend tertawa kemudian menyadari sesuatu tergeletak di atas rumput dan wajahnya langsung berubah marah. “AH! Varlend! Sudah kubilang itu buku mahal dan koleksi yang sangat berharga nilai sejarahnya! Aku pinjamkan ke kamu supaya kau bisa belajar tentang sejarah Surfassia, seenaknya saja diletakkan sembarangan! Kau pasti ketiduran lagi kan ketika membaca?!”

“Baik—baik! Aku simpan! Sekarang ayo katakan, Valmer itu siapa, kesannya penting sekali,” kata Varlend kesal sambil memasukkan buku itu ke dalam tas kainnya.

Dillend sudah mau mengomel lagi namun di potong oleh Ausley, “Cukup Dillend, kau ini seperti ayahnya saja. Ehm, soal Valmer, bukannya penting lagi—dia itu pahlawan Surfassia, nithlom paling dihormati yang pernah ada,” jelas Ausley yang sekarang duduk santai di atas rumput, diikuti Dillend.

“Sigguria Valmer lengkapnya, ia pria yang sangat mengagumkan, Varlend, tidak kurang dari tujuh ratus ribu pasukan berperang di bawah komandonya. Ras Nithmarr, Snellia, bahkan Warghul, kau sebut saja, seluruh Filthus dan Himmels bisa ia gabungkan dalam satu panji aliansi penghuni Surfassia. Perang melawan ras Oskurell dan indethus dari dunia bawah—Felgirth, berhasil kita menangkan semua berkat dirinya. Ia begitu melegenda hingga perang di masa itu disebut sebagai perang Sigguria.” Wajah Dillend berseri-seri ketika menceritakan tentang semua itu, tampak sekali ia begitu mengidolakan Valmer.

“Kemudian perang usai tiga tahun lalu—bayangkan, belum genap tiga tahun kita memenangkan perang, dan pahlawan terbesar dalam sejarah itu mati terbunuh!” tambah Ausley.

“Tidak mengherankan kalau banyak yang mendendam atau iri dengan reputasinya.” kata Varlend.

“Begini masalahnya, Varlend,” sambung Dillend sambil menghela nafas. “Aku hanya pernah beberapa kali berperang bersama Valmer, ketika itu aku baru saja menerima gelar Elvaladin dan bergabung dengan jajaran sepuluh Elvaladin lainnya yang dikomandani langsung oleh Valmer. Aku bisa mengatakan, sebutan yang terkuat diseluruh Surfassia dan Felgirth itu sama sekali tidak berlebihan. Kalau pun kesepuluh Elvaladin bergabung, belum tentu bisa mengalahkan Valmer. Aku bahkan terkejut ada yang berani menantangnya bertarung, apalagi sampai sanggup membunuh Valmer satu lawan satu. Tak ada yang ingin membayangkan monster menyeramkan seperti apa yang bahkan lebih kuat dari Valmer.”

“Dan yang lebih parahnya lagi,” tambah Ausley, “kematian Valmer berpengaruh besar pada ikatan aliansi penghuni Surfassia. Soalnya dulu aliansi dibentuk di bawah kepemimpinan Valmer, entah karena hormat atau takut, yang pasti tanpa Valmer tidak akan ada aliansi. Jika ia sudah tak ada, berarti tak ada lagi alasan bagi anggota aliansi untuk tetap berdamai, apalagi antara Himmels dengan ras Warghul sudah memiliki sejarah panjang penuh darah.”

“Lihat disana,” tambah Ausley menunjuk ke arah warghul yang sedang berjalan di kejauhan. Warghul itu terlihat seperti primata atau mungkin manusia purba, namun jauh lebih menyeramkan—dengan rambut yang lebat memanjang hingga ke punggung, dan taring besar yang mencuat keluar dari mulutnya. Tingginya sekitar enam kaki, warna kulitnya kemerahan dan hanya memakai balutan kain kasar seadanya. Kesannya benar-benar… liar.

“Ketika Valmer masih hidup, tidak ada warghul yang berani mendekati kota kita—mereka takut pada Valmer. Tapi sejak kematian Valmer delapan bulan lalu, makhluk tak berotak itu terlihat senang dan semakin lama semakin berani memasuki daerah kekuasaan kita, aku rasa mereka sudah sangat haus akan darah dan pertempuran. Di Aelgris sendiri sudah ada tujuh kasus pembunuhan Himmels oleh Warghul, dan masih banyak lagi di tempat lain. Aliansi ini tidak akan bertahan lama menurutku.”

“Sejak awal kita memang berbeda dari mereka kan? Makhluk-makhluk bukan manusia dan setengah manusia itu? Karena itu kita memanggil mereka dengan sebutan filthus— makhluk kotor. Aku sendiri pun tidak bisa membayangkan kalau harus tinggal bersama mereka.”

“Pikiran seperti itu lah yang akan menyebabkan perang, Varlend. Tidak ada yang menyukai perang, baik para filthus, ataupun kita para Himmels—ehh—kecuali warghul kurasa. Tetapi manusia atau bukan, itu tidak bisa dijadikan patokan, semua berhak hidup di Surfassia ini. Ada banyak filthus selain ras warghul, dan beberapa di antaranya merupakan ras yang jauh lebih bijak dan berpengetahuan lebih tinggi dibanding kita. Bisa dibilang kita—para Himmels berada di posisi kedua setelah warghul dalam hal kebijakan dan pengetahuan.”

Varlend terbatuk mendengar dirinya hanya setingkat lebih tinggi dibanding warghul.

Ausley tertawa. “Yah di mata ras Snellia misalnya, kita tidak lebih baik dari para warghul—hanya tahu cara berperang dan memperluas kekuasaan. Tapi memang salah kita sih mengeksploitasi hutan mereka terlalu ja…”

“Siapa itu?!” Dillend menoleh ketika tiba-tiba terdengar suara di dekat mereka, ia melihat ada sosok seseorang yang berlari menjauh ke arah hutan kematian. Dillend melesat mengejar orang itu diikuti oleh Ausley dan Varlend, namun tak lama kemudian Dillend berhenti mengejar.

“Cih, larinya cepat sekali…” keluh Dillend.

“Mau apa dia? Dari pakaiannya… tidak salah lagi, dia pasti dari klan Obsurva.” kata Ausley.

“Obsurva? klan peramal yang kalian sering ceritakan itu? Jangan-jangan ia datang ingin memperingatkan bencana kepada kita?” tanya Varlend.

“Entahlah… dia… sepertinya mengincarmu, Varlend.” Dillend menoleh dengan wajah serius. “Hanya sekilas, namun tadi ia melihatmu dengan tajam.”

“Ya ampun—kau punya penggemar rahasia tuh Varlend, tapi seorang pria.” Ausley tertawa.

“Serius lah sedikit Ausley. Hey, Dillend—apa menurutmu ia ingin aku mengikutinya?” Varlend melangkah menuju hutan kematian namun Dillend menarik tangannya.

“Jangan bodoh, tatapannya tadi bukan tatapan yang ramah. Walaupun samar, aku bisa merasakan hawa membunuhnya. Mungkin ia membatalkan niatnya karena ada aku dan Ausley di sini. Untuk sementara lebih baik kau tidak keluar sendirian, Varlend.” kata Dillend serius.

Varlend ingin membantah namun kemudian membatalkan niatnya. Dillend menyarankan untuk menyelidiki hal ini esok hari, karena sekarang sudah gelap dan bisa berbahaya. Mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke penginapan di Cielgris dan beristirahat. Dalam hati Varlend bertanya-tanya alasan mengapa seorang Obsurva mengincar nyawanya, sama sekali tidak masuk akal melihat seorang peramal bertindak sejauh ini.

***

Di hari berikutnya mereka bertiga menyusuri hutan kematian untuk mencari Obsurva yang kemarin, namun tidak membuahkan hasil. Hutan kematian begitu sunyi seperti biasa, tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia disana. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke kota.

“Payah, kukira akhirnya akan ada hal seru yang terjadi disini, tapi mungkin Obsurva itu hanya bosan.”

“Aku masih penasaran… ras Obsurva terkenal senang mengasingkan diri dari keramaian, mustahil mereka bergerak sampai sedekat itu dengan kota tanpa alasan penting.” Dillend mengelap kacamatanya dengan selembar kain kecil.

“Sudahlah, tidak ada gunanya dipikirkan sekarang. Ausley kan baru pulang dari Aelgris setelah tujuh bulan, sudah lama kita tidak berkumpul bertiga. Sekarang, lupakan saja tentang Obsurva itu dan bagaimana kalau kita minum segelas besar bli—oh astaga Dillend, satu gelas saja tidak apa-apa kan?!” kata Varlend ketika Dillend menatapnya dengan pandangan mencela, namun toh pada akhirnya mereka berjalan bersama ke kedai minum di ujung jalan sambil tertawa.

Varlend berjalan di belakang Ausley dan Dillend, memperhatikan pemandangan sehari-hari yang entah kenapa hingga kini terasa ganjil baginya. Setiap bangunan Himmels di Surfassia memiliki lubang seperti cerobong asap, namun alih-alih mengeluarkan asap hitam, cerobong itu justru menarik arus mistess yang beraneka warna dari langit.

“Apa pembunuh Valmer sudah diketahui?” tanya Varlend ketika memasuki kedai minum yang papan namanya bertuliskan “Bliss Velesii Nei” – Bliss Memberkatimu.

“Tidak ada jejaknya sama sekali.” Dillend menggelengkan kepalanya. “Fallom Emvirea tidak bisa mengerahkan terlalu banyak orang untuk memburu pelakunya, karena lengah sedikit saja, kita bisa diserang Warghul dan Nithmarr yang daerahnya berbatasan dengan kita.”

“Bukan cuma para filthus saja kan yang mereka khawatirkan—eh, Dillend?” Ausley melirik ke Dillend.

“Ya… tentu saja masih ada ancaman Oskurell dan indethus dari Felgirth…” Dillend berjalan ke sebuah meja kosong di pojok ruangan, diikuti Ausley dan Varlend.

“Tunggu dulu, bukankah kalian bilang perang melawan mayat hidup dari Felgirth itu sudah kita menangkan? Harusnya mereka tidak punya kekuatan lagi untuk menantang seluruh Surfassia kan?” kata Varlend sambil menduduki kursinya.

“Memang seharusnya begitu, tetapi… entah kenapa aku tidak bisa tenang. Kematian Valmer… sepertinya pasti ada hubungannya dengan makhluk dari neraka dunia itu… ah—tiga gelas besar bliss, Lilleta—cepat ya.” Ausley tersenyum pada gadis pelayan yang baru datang.

“Ok, aku akan kembali sebelum kau berkedip.” kata Lilleta sembari pergi menyiapkan pesanan Ausley.

Setelah Lilleta menjauh Dillend pun melanjutkan kembali, “kemungkinannya sangat besar—jika kau tanya aku. Aku berani bertaruh orang yang membunuh Valmer pasti salah satu dari Oskurell yang tersisa, yah… lagipula… aku tidak yakin kita benar-benar sudah menghabisi mereka. Maksudku, mereka kan mayat hidup?”

“Yeah… tetapi seperti yang kita sudah tahu, kemampuan regenerasi mereka ada batasnya. Kita sudah membuktikan hal itu dengan membunuh ratusan ribu indethus di perang Sigguria dulu kan?”

“Yang membuatku cemas adalah hilangnya semua tubuh mayat korban perang hanya selang sehari setelah perang usai. Mayat sebanyak itu—tidak hanya mayat Oskurell dan indethus—melainkan juga mayat penghuni Surfassia, semuanya hilang bagai ditelan Felgirth. Kalau itu benar… mereka bisa kembali dengan jumlah berkali lipat dari sebelumnya… dan kali ini aku ragu Surfassia bisa bertahan, tidak tanpa Valmer.” Dillend tampak cemas.

“Jadi… langkah pertama mereka adalah menghabisi penghalang terbesar bagi Felgirth, yaitu Valmer, dan mereka sudah berhasil. Sekarang tinggal menunggu waktu hingga mereka mulai bergerak?”

“Aku cuma berharap tebakan kita ini salah Varlend… ah—trims” kata Dillend sambil mengambil segelas besar bliss yang disodorkan Lilleta. Mereka bertiga pun berbincang-bincang sambil meminum bliss, lebih dari yang mereka rencanakan, hingga akhirnya mereka tertidur di atas meja.

Your rating: None Average: 6.5 (4 votes)
dikirim serpentwitch 7 minggu 2 hari yang lalu
Tag: